Wanita Sang CEO

Wanita Sang CEO
Ch 145 ~ Malam Penuh Rasa


__ADS_3

Sinar matahari mulai dengan tidak sabarnya menelusup dari celah jendela. Padahal gorden masih belum disibak, masih tertata seperti ketika malam tadi yaitu masih tergantung rapi. Namun ciptaan tuhan satu itu, sudah menampakkan kuasa, menyinari seluruh bumi secara perlahan.


Angel mulai terusik dari tidurnya, bibirnya terasa dicium berkali-kali. Setiap ia merasa terganggu dan ingin berbalik, sebuah tangan mengelus punggungnya membuatnya kembali terlelap. Lalu kembali lagi dicium, kali ini bukan hanya ciuman namun juga sedikit *******. 


Angel masih belum tersadar sepenuhnya. Ia melenguh, ketika merasakan kali ini sebuah gigitan dirasa di bagian lehernya. Membuatnya segera bangun begitu terkejut. 


“Hans!” Matanya membulat penuh, sudah kehilangan rasa kantuk. Jantungnya berdebar, ia pikir ia digigit hewan kecil atau semacamnya. Membuatnya kehilangan rasa kantuk beralih pada ketakutan.


“Kenapa baru bangun?” Ekspresi Hans yang begitu santainya sontak saja membuat Angel memberikan cubitan kecil. 


“Auu, kau sekarang suka sekali ya mencubitku.” Suara Hans terdengar renyah tanpa beban. Raut wajah dibuat seperti teraniaya.


Angel mendengus.


“Aku mau tidur, kenapa sih mengganggu.” Angel begitu kesal. Ingin kembali tidur namun tubuhnya diangkat hingga berada di posisi atas tubuh Hans. 


“Hans!” Menepuk pelan dada Hans.


Tangan Hans menjelajahi menyentuh dengan lembut dengan tatapan senang. Melihat hasil karya yang berhasil ia buat di leher sang istri begitu banyak terutama di bagian dada. 


“Senang sekali melihat tanda ini.” Bibirnya mengulas senyum, lalu manik mata saling terpaku. 


Angel belum bisa memahami perkataan Hans. Namun kemudian matanya membulat, bangun dari tempat tidur. Menatap cermin, lagi-lagi matanya membesar begitu penuh maksimal. 


“Kenapa kau membuat tanda disini?! Bagaimana jika ada yang melihat! Astaga aku harus menutupinya menggunakan apa?” Raut wajah Angel terkejut, malu melihat setiap bagian tubuhnya yang sudah dibubuhi tanda kepemilikan. 


“Kau menggodaku ya?” Mata Hans menjelajahi tubuh Angel yang berdiri di hadapannya.


“Ha?” 


“Kau lupa sayang, kau tidak memakai baju saat ini.” Angel segera menatap bagian bawah tubuhnya, tubuhnya polos. 


Angel menjerit kecil, seketika ingatan malam tadi berkelebat.


Flashback Onn


Suara nafas yang berhembus pelan terdengar samar, ruangan itu sudah gelap hanya satu lampu kecil di bagian nakas yang menjadi penerang. 


Angel merasa terusik dengan tidurnya, tenggorokan terasa kering. Matanya kemudian dipaksa bangun. Perlahan demi perlahan mulai terbuka. Semakin terasa tercekat saja tenggorakan ini, melihat sang suami tidur dengan damai, dengan raut wajah tanpa guratan. Raut wajah polos tanpa ekspresi. 


Ia terkejut, namun perlahan matanya berubah sendu. Diam sejenak mantap lama. Sebelum kemudian berbicara lirih.


“Ini bukan Hans yang kukenal. Biasanya Hans yang kukenal akan langsung menyelesaikan masalah dengan sesegera mungkin. Hans, mari akhiri aksi diam ini.” Angel menghela nafas kasar suaranya tertelan. 


Ada dua kemungkinan yang bisa Angel tebak dalam sikap diam Hans. Pertama laki-laki itu sedang menahan diri sebab mereka sedang di tengah-tengah keluarga besar. Kedua Hans sedang memikirkan dan memahami situasi. Angel harap Hans berada pada kemungkinan kedua.


Matanya menatap lekat, di tengah remangnya malam.


Kenapa kau setampan ini sayang. Alismu tebal, matamu menarik bibirimu menarik. Kamu begitu tampan penuh dengan kemampuan.


  

__ADS_1


Kamu tau aku sering merasa posesif jika itu terkait kamu. 


“Aku juga sering merasa cemburu ketika kamu bersama wanita lain. Namun aku percaya dengan kamu.” Angel menyibak sedikit rambut Hans yang menutupi keningnya. Rambut suaminya mulai panjang kembali ternyata. Yang di pandangi masih terlelap.


Angel tau sikap cemburu Hans bukan karena tidak percaya dengannya, namun karena laki-laki itu terlalu mencintainya.


Angel mendesah, membebaskan diri secara perlahan dari kukungan Hans yang begitu membelit. Kakinya dengan perlahan melangkah tidak ingin membuat Hans terusik dan bangun, jujur saja ia belum siap berbicara dengan Hans. 


“Haus sekali.” Angel meneguk salivanya, sudah sampai di lantai dasar segera menuju dapur. Ruangan sudah begitu gelap, namun Angel masih bisa mendapat cahaya dari sinar bulan yang begitu terang. 


Bunyi dispenser terdengar, lalu satu gelas berisi air putih segera ia teguk. Meneguk dengan sangat banyak.


Matanya menatap kosong setelah meletakan gelas. Bibinya mengulas senyum miris. Matanya terasa berkaca. Kebiasaan dirinya adalah minum air di tengah malam. Itu tampaknya bukan hal yang oleh ditangisi namun ada kebiasaan sang suami disana yang membuat matanya berkaca.


“Baru beberapa jam kita saling diam, tapi aku sudah merasa rindu dengan perhatianmu.” Sudut mata Angel mulai digenangi, rasanya menyesakkan. Hans itu perhatian, Hans tau bahwa ia suka merasa haus di tengah malam. Di rumah sebelum tidur Hans selalu membawakan satu gelas air putih. Hingga saat ini Angel merasa tergantung, namun sekarang… kebiasaan itu tidak ia temukan sebab pertengkaran mereka.


“Mungkin Hans merasa tidak perlu lagi memperhatikanku.” Dugaan penuh pikiran negatif itu malah menyentaknya membuatnya membuat dadanya terasa diremas.


Lalu jika terus diam begini, apa yang akan terjadi? Apa kebiasaan mereka akan menjadi semakin kacau? Apa semuanya berubah karena pertengkaran?


“Aku tidak mau semuanya berubah. Aku hanya ingin Hans bisa sedikit memahami … aku tidak mau perubahan lain.” Langkahnya menuju sofa.


Membayangkan harus mandiri tanpa tanpa perhatian Hans membuatnya merasa kelu. Dirinya meringkuk mengumpulkan kaki hingga naik ke atas sofa lalu memeluknya. 


Aku ingin Hansku, aku tidak suka berdiam begini. Rasanya begitu menyesakkan. 


“Sayang.” Suara Hans terdengar dari arah belakang. Dapat segera Angel temukan nada kecemasan di sana. Tampilan Hans begitu acak-acakan, rambutnya berantakan baju tak terpasang sementara celana yang membalut tubuhnya sudah mulai mengendur.


Ini lah sosok yang ia diamkan. Ia ingin memberikan efek pemahaman pada Hans namun nyatanya ia juga mendapatkan efek itu. 


“Sayang.” Hans segera mendekat. Dilihanya sang istri yang sedang meringkuk dan mata yang sebab. 


“Aku tidak suka begini.” Lirih Angel. Mendongak menatap Hans.


Sejenak Hans terpaku tidak bisa melihat wajah sang istri, namun getaran suara Angel segera membuatnya mengambil langkah lebih cepat.


Hans segera memeluk sang istri. Angel menangis, memeluk Hans erat. Namun juga tak nyaring ia menekan tangis takut jika penghuni villa terbangun. 


“Kau sudah bisa kan memahami ku Hans. Kau harus bisa … aku tidak suka dengan keadaan ini. Aku takut kalau kita terus saling diam, maka akan semakin banyak perselisihan. Aku tidak mau...tidak mau.” Angel menangis tersedu, rasanya begitu sesak. 


Hans melonggarkan pelukan Angel yang begitu erat menghapus jejak air mata. Manik mata mereka saling terkunci. Sakit melihat sang istri menangis begini.


Dicium Hans perlahan kening Angel dengan penuh cinta, rasa hangatnya masih tertinggal mata Angel terbuka menatap Hans.


“Aku sudah memahaminya sayang.” Suara Hans terdengar tenang dan dalam mengusap perlahan pipi sang istri.


“Mulai sekarang aku akan mulai berubah, aku akan mentolerir ketika kau sedang bersama ayah Juna ataupun papa. Aku akan berusaha mentolerir kebersamaan istriku dengan para keluarga.” Angel merasa lega hingga kembali menangis. Hans sudah sadar bahwa tidak bisa terus merasa cemburu dengan laki-laki dari kekuatan mereka. Hans akan menekan rasa cemburunya itu. Namun jika itu bukan dari keluarga maka Hans tidak akan bisa mentolerir, ia perlu mencerna dan memahami situasi nantinya.


“Hiks… jadi kita baikan sekarang.” Mata Angel mengerjap lucu. Kenapa ia langsung percaya dengan ucapan Hans. Ia yang paling mengenal sang suami. Hans selalu mengeluarkan kata yang dapat dipertanggungjawabkan. Jadi ketika Hans tidak bisa adu argumen dengannya maka Angel tau bahwa laki-laki ini sedang menganalisis.


Hans tidak menjawab memilih mencium semua permukaan wajah Angel. Dari sentuhan itu Angel paham. Bahwa mereka tidak lagi dalam aksi diam. 

__ADS_1


“Maaf membuatmu sulit makan dengan benar.” Lirih Angel.


“Iya aku tidak berselera makan karena kau mendiamkan ku.” Hans memasang wajah cemberut. Membuat Angel merasa bersalah.


“Sebagai gantinya aku ingin makan sekarang.” Mata Angel membuat penuh, menatap terkejut air matanya sudah tak lagi keluar sekarang. 


“ini sudah sangat malam. Mana ada lagi makanan yang tersedia.” Angel langsung cemas Hans sedang lapar pastinya. ia mengetahui betul sebab Hans saat makan malam tadi menyisakan banyak makanan dan memilih segera menyusulnya duduk di sofa. 


Di tengah mata angel yang berusaha berkeliling dan otaknya yang berkeliling mencari solusi untuk Hans. Tiba-tiba saja Hans menyergap dan memberikan ciuman dadakan padanya. Membuat matanya membulat penuh. Lidah Hans menelusup dalam memaksa Angel menerimanya, berakhir dengan gigi Hans  yang menarik bibir bawah Angel. 


Mata Hans penuh damba.


“Tidak perlu mencari makanan. Karena aku hanya ingin memakanmu sekarang.” Tubuh Angel ditarik hingga masuk semakin dalam pelukan Hans. Sementara Angel belum bisa mengimbangi Hans, masih dalam mode terkejut. Perlahan matanya kemudian ikut hanyut saat Hans semakin lihai menciumnya. Angel lalu melingkarkan tangannya di leher Hans. Segera Hans membawa tubuh Angel naik ke atas pengakuannya. Mereka berciuman dengan sangat panas, saling menyesap. Saling menyapukan bibir mereka. 


Tangan Hans dengan nakalnya mulai mengusap pinggang Angel. Naik ke atas dan segera membuka yang ia incar tadi. Nafas mereka saling terengah. Bibir Angel mulai bengkak, tautan bibir terlepas.


“Ha-hans.” Angel begitu gugup saat Hans memaksa membuka bajunya. Dengan detak jantung yang begitu kencang. Hans pun sama. 


“Buka sayang.” Suara Hans terdengar parau. Angel memejamkan matanya lalu mengangkat tangan membuat kaos yang membalut tubuhnya segera terlempar asal. Bra yang ia kenakan Hans naikan dengan asal. Segera Hans menikmati hal yang ia incar, membuat Angel mendesis. Menggigit bibir bawahnya dan mencengkram kepala Hans hingga semakin tenggelam di sana. Merasakan sapuan bibir Hans yang begitu lihai. 


“Aku mau kamu sayang disini.” Nafas Hans terengah mengucapkan itu, Angel yang sudah sama merasa dilanda gairah pun hanya bisa pasrah ketika Hans mulai melucuti pakaiannya.


Bibir Hans menyesap kuat bagian lehernya. Sementara tubuhnya terasa lunglai saat Hans bermain di bawah sana. Perlahan namun pasti Hans sudah menyatukan tubuh mereka. Membuat Angel menjerit kecil, menahan teriakan kurang ajarnya. Kalau tidak maka semua penghuni villa akan terbangun.


“Aku ti-tidak mau disini. Nanti ada yang melihat.” Angel berusaha memulihkan kesadaran, ditengah penyatuan tubuh mereka. 


Hans tidak mendengarkan malah membuat Angel semakin menjerit.


“pi-pindah.” Suara Angel bergetar. Hans mengulas senyum lalu memberi ******* basah di bibir Angel. Mengangkat Angel, tubuh Angel melingkar masih saling menyatu dengan Hans. Ia merasa malu memilih memejamkan mata. 


Hans malah dengan kurang ajarnya berhenti sejenak menghimpitnya di dekat dinding undakan tangga.


“Biarkan aku bermain disini.” Angel tak bisa menolak memilih memagut bibir Hans dengan liarnya. 


Flashback off


Itulah awal dari pertengkaran suami istri itu. Dan sekarang Angel harus hati-hati karena mata Hans sedang menjalani tubuhnya.


“Aku mau mandi!” Angel berlari terbirit-birit, membuat Shan tergelak lapas. 


“Mandi bersama sayang.” 


Gelak tawa memenuhi pagi yang cerah. Tak lagi dalam aksi diam. Lega sudah mendera. Senyum terus mengembang. Sementara dibawah pelayan terkejut melihat pakaian yang berserakan di sofa. Bra, baju celana semua. Dan mungkin dua suami istri itu akan segera merasa malu yang luar biasa.


.


.


.


Malu 🙈🙈🙈

__ADS_1


Kabur, kalau terlalu panas bioang akan di edit ya🙏🏻🙏🏻🙏🏻


Jangan lupa vote dong men temen 🤗🤗🤗


__ADS_2