Wanita Sang CEO

Wanita Sang CEO
Ch 42~ Kehilangan Jejak


__ADS_3

Ken tak lagi dapat mengejar Ayana, hanya deru mobil taksi yang bisa ia tangkap. Denyut rasa kecewa melanda. Tubuhnya seakan tak bisa beranjak kemana-mana. Dia menjadi linglung.


Ken berdiri di depan halaman perusahaan. Hatinya kacau.


“Tadi itu bukan akhir. Iya bukan akhir.” Dia berusaha menabahkan hati.


“Ayana hanya sedang merasa tertekan tadi, makanya dia pergi. Dia tidak berpikir dengan benar, pasti begitu. Pasti...pas...ti bukan?”


Dia bahkan tidak bisa menyakinkan dirinya sendiri. Entah kenapa, rasa kosong menelusup di hatinya. Ayana mengakhiri hubungan mereka. Mereka berkahir.


Ken melangkah lebar-lebar menuju parkiran mobil dia perlu menyusul Ayana. Langkahnya cepat dan berlari di tengah hati yang penuh kecamuk.


Dengan cara yang sangat kasar Ken membuka pintu mobil dan menutupnya dengan kasar pula. Dia harus segera mengejar Ayana. Dia mencoba menghidupkan mobilnya. Namun tidak bisa. Mencoba lagi...tidak bisa. Mencoba lagi...masih tidak bisa!


“Sialan!!!” Tangannya menampar kemudi dengan amarah. Nafasnya berderu, tiba-tiba hatinya serasa tidak lagi kerasa dan kokoh. Sejak Ayana datang. Hatinya sudah luluh.


Namun yang meluluhkan malah ingin mengakhiri hubungan.


Keheningan...


Disertai sekelebat bayangan kebersamaan. Tawa Ayana, cemberut Ayana, manis Ayana. Dan ciuman Ayana. Berkelebat dengan cepat.


“Ini belum berakhir sayang. Belum.” Tidak tau kapan, saat Ken mengusap wajahnya. Suara seraknya berubah menjadi isak berat. Kali ini, untuk Pratama kalinya, dia tidak menjadi pria yang kuat.

__ADS_1


Dia menangis karena wanita yang dia cintai. Membayangkan tidak ada Ayana saja di sisinya membuatnya patah hati.


Ken, dia sudah jatuh terlalu dalam. Mencintai dengan sepenuh hati, pasa gadis itu.


Ayana Humaira..


***


Hari sudah beranjak sangat malam sekali, ini sudah hampir pukul sembilan malam dan sang putra belum pulang.


Angel menatap cemas dari balik jendela. Menunggu putranya itu. Dia tidak tau kemana gerangan sang putra pergi. Dia hanya tau bahwa sang putra pergi mengejar Ayana. Hans sang suami menyuruhnya untuk tidak mengejar. Maka dari itu mereka menunggu di dalam kantor. Namun yang ditunggu ternyata tak sesuai harapan.


Mereka tidak kembali saling berpegangan tangan. Malah dua sejoli itu tidak kembali sama sekali.


Angel menghela nafas. “Aku tidak bisa tenang sayang. Ini bukan masalah dia sudah besar atau belum. Aku hanya sedang mencemaskan putraku.”


Hans berdecak membawa tubuh mungil sang istri kedalam pelukannya.


“Baiklah, aku memang tidak bisa melarang mu kalau begini. Lebih baik kamu berbaring saja di ranjang. Biar aku yang menunggu Ken.”


Hans memutuskan akan menggantikan posisi sang istri. Namun Angel yang keras kepala ingin menolak.


“Berbaringlah sayang, jangan membuatku marah.” Sekarang melihat raut wajah serius sang suami. Angel tak bisa membantah. Hans tersenyum membawa istrinya berbaring.

__ADS_1


Tidak seberapa lama Hans sudah melihat istrinya yang tertidur tenang. Hans menggeleng.


“Sudah tau mengantuk kenapa malah menyiksa diri.” Istri kesayangannya ini memang benar-benar membuatnya berdecak.


Ketika Hans mendengar suara deru mobil dari arah luar. Secepat itu juga ia mendekat ke arah jendela.


Dan dia memastikan bahwa itu sang putra. Kenan Prasetyo. Hans melangkah menuju pintu dan menutupnya dengan perlahan tidak mau membangunkan sang istri. Memang sejak awal dia tidak ada niatan akan membangunkan Angel kalau tertidur.


Ken datang dari balik pintu, melepaskan sepatu yang membalut kakinya.


Kening Hans berkerut dalam mengamati tampilan sang putra yang sangat acak-acakan. Rambut kusut, kacing kemeja terbuka, lalu bagian kerah tak lagi sampai ke bagian pergelangan tangan, sudah tergelung asal.


“Dari mana saja kamu Ken? Kenapa tampilan kamu acak-acakan sekali?” Tanya Hans segera.


Mereka berhadapan Ken masih di dekat pintu sedang Hans berada di ruang tengah.


Ken menatap dalam sang Daddy. Dalam keheningan yang mencekam. Dan Hans terkesiap ketika sang putra menarik rambutnya, lalu mengusap wajahnya secara kasar. Di berengi bulir air mata yang jatuh.


“Apa Daddy, bisa membantuku mencari kekasihku?” Suaranya berat. Cahaya lampu yang berpendar terang bisa membaut Hans jelas sekali menangkap raut wajah penuh derita dari sang anak.


“A, aku tidak...” Suaranya tercekat di tenggorokan. “Aku tidak bisa menemukannya...Aku mohon bantu aku mencari Ayana’ku daddy.” Mata Ken berkaca.


Ken memenuhi ruangan dengan suara berat permohonan putus asa. Sampai tubuh Hans menegang. Menatap tidak percaya pada putranya yang selalu percaya diri dan menyelesaikan segala sesuatu dengan tangannya.

__ADS_1


__ADS_2