Wanita Sang CEO

Wanita Sang CEO
Ch 141~Kehebohan Liburan


__ADS_3

Liburan kali ini bukan hanya memboyong 3 keluarga sekaligus. Tapi para pelayan di rumah juga ikut diboyong. Tentu saja para pelayan itu diperlukan agar bisa membantu mereka.


“Wow, pulau ini bener milik Papa mertua sayang?” Hana menatap takjub menilik dari balik jendela. Bram mencium gemas pipi sang istri.


“Kayaknya gitu, kalau bukan milik papa artinya kita tersesat.” Candaan Bram mendapat cubitan dengan raut cemberut dari sang istri.


“Candaanya ngeri mas.”


Bram kembali dibuat tergelak.


“Kamu juga sih. Udah tau, punya papa.”


“Ya mastiin aja mas. Banyak banget pulau keluarga kamu. Yang kita honnymond kemarin juga kan milik papa. Aku jadi penasaran... Berapa sih pulau milik papa kamu.” Menatap atas seperti berpikir juga tangannya yang mulai memunculkan jari.


Bram menciumi semua permukaan wajah sang istri dengan kecupan.


“Ih mas kok cium-cium sih. Geli ah.” Mencoba menjauhkan wajah Bram. Namun satu kecupan di bibir berhasil Bram curi.


“Kamu itu gemesin banget sih, Yank.”


Hana menatap horor.


“Dari mana gemasinnya sih mas. Aku nggak lagi coba bersikap imut ya. Aku serius lo.” Hana terlihat bereskpresi begitu polos. Tadi Hana benar-benar serius begitu penasaran berapa pulau yang dimiliki keluarga Winata.


“Ya seriusnya kamu itu bikin gemes.” Balas Bram. Halah, Hana memutar bola mata. Suaminya ini memang seringkali mengatakam dia menggemaskan.


“Pa aku gemesin nggak?” Mama yang tepat berada di bangku belakang Pasangan Hana dan Bram mau ikut-ikutan. Memasang wajah berkedip ke arah sang suami.


Papa terpelongo, lalu memasukkan mama ke delapan tepatnya di apit di dekat ketiak.


“Ih pah, jorok banget sih. Lepas!” Mama kesal bukan main.


“Gemes banget mah, sampai papa kasih aroma tubuh papa saking gemasnya.” Papa memasang wajah super mengesalkan.


“Lepas!! Aroma bau ketek banget!” Papa tergelak melepaskan sang istri. Masih memandangnya dengan tatapan kesal.


“Dasar nggak ada romantisnya sama sekali.” Mama mendengus. Mau menduplikat adegan Hana dan Bram malah jadi kesal.


***


Koper bawaan para majikan di angkut oleh para pelayan.


“Ya Gusti, gini nih kalo kerja sama orang kaya. Diajak liburan terus.” Seru salah satu pelayan perempuan yang terlihat masih muda.


“Makanya udah bibik bilang kan, jadi pembantu orang kaya itu banyak untungnya. Bisa jadi pelayan dapat liburan sekaligus.” Balas si bibik yang tersirat memang menggoda di gadis untuk ikut bekerja. Mereka pelayan dari rumah keluarga Prasetyo. Yang dibawa saat ini pelayan keluarga Prasetyo. Sebab memang rumah keluarga Winata tidak banyak pelayan. Papa Ren merasa tidak perlu banyak-banyak pelayan. Di villa juga ada beberapa pelayan yang ada.

__ADS_1


Mereka sudah sampai di pulau keluarga Winata. Saat menilik dari balik jendela di udara saja mereka bisa melihat. Sebuah Villa menjulang tinggi di dekat pesisir pantai.


“Daddy mau turun. Mau turun.” Si kecil Nara berusaha menurunkan diri.


“Sabar sayang.” Hans berdecak lalu menurunkan si putri. Langkah si putri segera berlari.


“Jangan lari-lari Nara.” Ayah Yoto merasa cemas ikut berlari. Padahal gerakan larinya tidak cepat sama sekali.


“Kejar Nara kakek, kejar Nara.” Wah si kecil nagajak bermain tenyata. Tawa cekikikan ya terdengar menyengakan.


“Hayo kalo kakek tangkap harus cium ya.”


“Haha.”


Kakek dan cucu itu saling mengejar. Sementara yang dibelakang gelang-gelang kepala melihat itu.


“Jangan ngaco ya sayang. Kamu lagi hamil.” Bram memberi peringatan pada istrinya, paham ada siratan keinginan juga di diri sang istri yang ingin jahil.


“Iya mas.” Hana menjawab pasrah. Hah masa kehamilannya dijaga ketat oleh sang suami. Dia sudah menduga dirinya liburan ke sini hanya untuk ikut jalan-jalan dan potret ceria.


Hans dan Angel berjalan beriringan. Sementara putra mereka satu lagi si Ken. Sudah asyik dengan kamera mahalnya. Memotret setiap hal, bahkan Hans tadi juga sempat melihat anaknya mendekat ke sebuah tumbuhan. Memotret dengan serius.


“Ken, ayo. Nanti aja motretnya, kamu ketinggalan nanti.” Suara sang mommy saat itu membuatnya bergegas. Ken melepas kamera tadi hingga bergantung apik di lehernya menggapai tangan sang mommy.


“Tadi aku potret kumbang mommy.” Ceritanya.


“Siapa dulu Daddy nya.” Yang di samping membanggakan diri.


“Perasaan kamu tidak punya bakat dalam fotografi deh sayang.” Kebanggan Hans luntur tidak diakui sang istri.


“Memang tapi karena aku daddy nya makanya dia punya kecerdasan di atas rata-rata.” Balas Hans.


“Tapi kan...” Tidak menyelesaikan bicaranya sebab Hans menyela.


“Ck, mau membuat kesal ya.” Hans menarik Angel mencium pipi dan mengigit kecil telinga Angel. Angel tergelak lepas memang mau menggoda Hans.


“Iya, iya semuanya mengakui kok sayang.” Segera mengakui sebab sang suami kesal. Hans mendengus merapatkan tubuh sang istri kembali.


Dasar Daddy. Ken membatin memilih berjalan cepat.


“Semua barang tolong di urus ya Bik.” Mama memberi perintah. Sudah berada di undakan tangga villa. Bibik Mirna mengangguk, sebab ia kepala pelayan. Segala kebutuhan majiakanya ia yang melayani. Mengatur para pembantu lain yang dan membagi kerja.


“Selamat datang tuan. Semua kamar sudah siap.” Seorang laki-laki paruh baya menyambut mereka, dengan begitu sopan. Tampaknya itu penjaga villa ini.


“Terima kasih pak.” Papa Ren mengucap terima kasih. Memang ia minta semua hal di siapkan. Karena mereka akan berlibur di villa ini.

__ADS_1


Mereka semua masuk ke dalam dengan digiring Papa Ren. Sementara Kakak Bram yang dulu pernah di salahpamahi Hana sekarang mendekat ke arah pria paruh baya tadi. Memberikan pelukan.


“Selamaat datang non.”


“Nggak usah formal gitu pak.” Revina berdecak, disambut si penjaga villa dengan malu. Memang putri majikannya ini begitu ramah.


“Ini pak bawa hadiah dari kota.” Revina memberikan dua buah Paper Bang.


“Duh, terima kasih banyak non.” Ucapan si penjaga villa tulus sekali. Revina menngangguk tersenyum ikut juga masuk ke dalam.


***


Mereka selesai memilih kamar. Hans dan Angel memilih kamar lantai atas di sebelah kiri. Di samping mereka lagi dihuni oleh kedua putri mereka. Sampingnya lagi dihuni Oleh Bram dan Hana.


Sedang Para orang tua memilih kamar di bawah saja lebih nyaman katanya dari pada baik-baik ke atas. Si anggun Revina putri Papa Ren juga memilih kamar di bawah. Jangan tanyakan perihal Gina, sebab Gina sudah tidak lagi berurusan dengan mereka. Mama tiri Mereka sudah mendapat ganjaran atas kesalahan yang dibuat.


***


“Selfie-selfie bu, ayok!” Mama menggeret Ibu. Semua para wanita mendekat ke arah pinggir pantai. Ingin foto-foto indah dulu. Tenyata ada juga ayunan di dekat pesisir. Matahari juga mau tenggelam. Sungguh indah sekali pemandangnnya.


Di lain sisi Hans sudah mengikuti istrinya. istrinya duduk di atas ayunan, sedang ia berada di samping, minta difoto sama Revina.


Ini dia pasangan yang membuat adikku kelimpungan. Revina berusaha mengambil gambar terjelek tapi kenapa hasilnya adalah bagus sih. Duh, sudahlah.


“Yang dekat Opa.” Ken menjadi fotografer dadakan. Memotret para pria itu.


“Iya- iya.” Satu potret berhasil oleh si handal Kenan Prasetyo. Hasilnya sungguh bagus mendapat pujian. Menurun sekali dengan Hans jika dipuji semakin melambung.


Akhirnya lelah juga mengambil gambar para pria menyisihkan diri memilih duduk berjejer di undukan pasir. Sementara Para wanita tercinta mereka di sana dengan cerianya berfoto dan berjoget ria.


“Romatisnya.” Gumam mereka. Seperti ada musik romantis yang mengalun sekarang.


Berbeda di sisi para wanita yang heboh tertawa sebab begitu banyak energi mendengar lagu fire yang diputar oleh Revina.


Mama sudah menggila berjoget asal. Mereka heboh tertawa semua tertawa.


Tampaknya para pria harus mengubah cara onadnag mereka menjadi mengeryit kening.


.


.


.


Happy reading

__ADS_1


😅


Hayo liburannnn😅


__ADS_2