
Hans sedang bersiap didalam kamarnya.
Ia selalu berlama-lama berdiri di depan kaca besar yang menampilkan tubuhnya, sambil memuji diri sendiri. Selesai acara mengagumi diri sendiri ia kemudian melangkah keluar dari dalam kamarnya.
"Selamat pagi pak" Bram menyapa. Sepagi ini ia sudah berada di pekarangan rumah keluarga Prasetyo.
"Hmm"
Wah sepertinya mood boss lagi baik ini
Masuk kedalam mobil. Bram mengambil alih kemudi.Hari ini pak Yanto tidak menjadi supir sesuai instruksi Hans . Mereka harus melakukan perjalanan ke daerah pedesaan, karena itu Hans mempertimbangkan kondisi fisik sopirnya yang sudah tua.
Walaupun terlihat dingin diluar, namun jika kalian mengenal lebih dekat seorang Hans, kalian akan jatuh-sejatuh jatuhnya dalam persona Hans .
“Semua yang diperlukan sudah kau bawa?” Tanya Hans pada Bram saat mobil baru keluar dari gerbang utama kediamannya.
“Sudah pak,” Jawab Bram.
“Baguslah.” Lagi-lagi Bram dapat menangkap senyum yang tersemat di bibir Hans.
Hans melihat ke arah luar jendela mobil.
Sambil memejamkan matanya ia sesekali menghirup udara yang terasa segar.
***
Bram membunyikan klakson mobil saat sudah sampai didepan rumah seseorang.
Membuka bagasi mobil sebelum keluar dari mobil.
Yang ditunggu-tunggu tidak seberapa lama datang dengan koper mungilnya, ya sebenarnya dia harusnya tidak perlu menyiapkan ini, namun mengingat pengalamannya maka ia harus menyiapkannya. Takut saja jika nanti ada kendala.
"Selamat pagi pak"
"Selamat pagi Angel."
Ya benar sekali mereka sedang berada didepan rumah Angel.
Bram baru keluar dari mobil tidak menyadari bahwa, sang atasan sudah lebih dulu keluar.
"Biar saya bawakan."
Bram mendekat dan mengambil koper Angel.
"Terima kasih ...."
"Mari pak" Mempersilahkan sang atasan terlebih dahulu masuk ke dalam mobil
"Ladies first " Sikap Hans yang seperti ini yang membuat jantung Angel berdegup tak beraturan, namun yang si empunya berusaha membantah hal tersebut.
"Terima kasih pak" Sebelum memasuki mobil
__ADS_1
Disisi lain mobil Bram Sudah membukakan mobil untuk sang atasan .
Ia kemudian juga beranjak untuk masuk ke dalam kursi kemudi.
Bram melanjutkan kendaraan sambil sesekali melihat ke arah GPS, sebenarnya ia juga sibuk melirik ke arah belakang bangku penumpang . Ia seperti menjadi jomblo sekarang. Merenungi nasibnya yang belum mempunyai pasangan.
Apa yang sedang dilakukan oleh dua orang dibangku belakang .
Sebenarnya hanya hal yang biasa.
Hans hanya menunjukan foto lokasi pedesaan yang akan mereka datangi . Walaupun awalnya sedikit ragu-ragu Angel mendekat ke arah sang atasan.
Bagian tubuhnya sangat dekat dengan Hans .
"Wah bagus ya pak tempatnya "
Masih tersenyum sambil menggeser satu persatu foto yang ada di tablet Hans
"Tentu saja, ,kalau tidak untuk apa klien meminta bertemu ditempat ini"
"Ah iya anda benar...apakah akan ada waktu jalan-jalan nantinya pak" Menunjukan wajah penuh permohonan, dengan ekspresi lucu
Wajah Hans bersemu merah melihat tingkah sang sekertaris
"Lihat nanti" Walaupun sangat ingin mengiyakan permintaan Angel,namun Hans belum bisa menduga nantinya
"oh iya pak"
Apa ini tadi mereka sangat lengket,apakah mereka bertengkar
Menduga-duga melalui penglihatannya
"Hei"
Sepertinya Hans sudah sangat nyaman dengan Angel ,ia bahkan sudah sering menggunakan bahasa tidak formal ketika berbicara dengan Angel
Hampir saja Angel membelalakan matanya karena ulah Hans yang memanggilnya seperti itu, ia mencuri-curi pandang ke arah Bram , semoga Bram tidak mendengar hal tersebut.
"Iya pak" Mengertakkan gigi dibalik senyumnya
"Kenapa menjauh." Alis Hans teihat saling bertautan.
"ehh ,ada apa pak? apa ada yang bisa saya bantu? apa anda gerah atau badan anda pegal linu?"
"Pegal linu?"
Angel apakah kamu sedang bercanda mengunakan bahasa seperti itu.
"Eh itu yang di tipi tipi itu loh pak,
(Pegal linu minum oskaden sp)"
__ADS_1
Angel memperagaka iklan televisi
Kenapa tingkahnya sangat imut,lihat cara dia memperagakan
Batin Hans
Bram yang didepan kemudi hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah atasnya dan sekretaris itu.
"Pegal Linu itu apa?"
"oh gini ,itu artinya ...intinya aja ya pak,kalo menurut saya otot otot terasa tidak nyaman,ya kaya gitu lah sejenisnya "
Hans manggut-manggut mendengar penjelasan Angel. Menyodorkan tangannya,ke depan Angel. Padahal angel tadi hanya ingin sedikit memberikan candaan mengalihkan perhatian Hans yang raut wajahnya marah.
lihat angel bahkan sudah sangat paham dengan nada bicara Hans .
"Pijat"
"Baik pak " Bibir Angel sudah hampir keluar dari tempatnya, seperti ingin menggigit orang
"Sudah lebih baik pak...kenapa tangan Anda pak" Ingin mengorek informasi, karena tau betul bahwa Hans sedang berlaku seenaknya
"Kemarin malam ada seseorang yang merengek ingin mendapat hadi..emmm."
"Berhenti pak,saya paham"
Membekap mulut Hans ,dari bekapan Angel ,masih dapat terlihat bahwa Hans sedang tersenyum terbukti dari sudut mata Hans yang sedikit berkerut dan matanya menyipit
Bram ingin melarikan diri saja,ia tidak ingin melihat dua makhluk dibelakangnya itu
"Anda sepertinya sangat bekerja keras untuk itu ya pak "
Kembali memijit tangan Hans namun dengan setengah hati
"Tentu saja...aku selalu bekerja keras dalam hidupku ...kamu akan melihat hasil kerja kerasku nanti"
Memberikan senyum menggoda
Dari perkataan Hans angel dapat menangkap bahwa ia menjadi salah satu dalam kerja keras yang dimaksud hans.
Mendengar hal itu,ada sedikit rasa menggelitik dihatinya ,apakah benar ini rasa tidak nyaman,atau perasan apa ini,angel masih belum memahaminya.
"A-apakah Anda menerima kegagalan?"
Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut angel, apa yang sedang ia lakukan apakah ia ingin Hans mengatakan dengan jelas bahwa Hans akan berjuang untuk mendapatkan hatinya dan tidak menyerah
"Mungkin...tapi untuk saat ini tidak "
Hans seperti mengerti arah pembicaraan angel
Mereka saling bertatapan satu sama lain,tangan angel masih memegang tangan hans,namun tidak lagi memijat.
__ADS_1