Wanita Sang CEO

Wanita Sang CEO
Ch 36~ Ada tetangga baru di depan!


__ADS_3

Ketika deru mobil terdengar dari arah luar dan sudah dipastikan berhenti di depan rumah minimalis miliknya. Ayana segera keluar.


Dia akan membuat Ken urung untuk membantunya membersihkan rumah dan berkata sejujurnya. Bahwa dia tadi hanya sedang bercanda. Namun suaranya tertelan oleh keterkejutan yang nyata. Melihat apa yang ada di depannya.


“A-apa semua ini Ken?”


Dia terkejut bukan main. Ken dan Alex dengan santainya menurunkan barang-barang.


Ayana melihat ada berkaleng-kaleng cat yang diturunkan. Belum lagi ada alat pembersih debu yang biasa Ayana lihat di layar televisi.


Jangan bilang ini semua hendak Ken berikan padanya!


Ken menatap Ayana. Lalu berucap santai.


“Aku membeli alat untuk membersihkan ruangan dengan lebih efisien. Oh aku juga membeli cat tadi. Pilih saja yang mana yang kau sukai. Semua warna ada disana.” Ken menjelaskan dengan enteng. Dia mendekati Ayana lalu mengusap dahi Ayana yang tampak berkeringat.


“Kamu menyuruhku memlilih mana yang kusukai?” Bertanya memastikan. Ken mengangguk, membuat mata Ayana rasanya semakin terbelalak.


Ini semakin diluar kendalinya.


Padahal tadi aku hanya berniat jahil saja. Tapi lihatlah sekarang...Akhhh salah! Seharusnya aku tidak memintanya untuk ikut bersih-bersih rumah.


Tapi aku juga tidak menyangka dia akan menerimanya. Dan malahan sampai membawa alat khusus bahkan membeli cat juga. Ayana mengerang dalam hati.


“Hei kenapa termenung?” Mata Ayana menatap lurus Ken.


“Apa kau sudah mulai bersih-bersih tadi? Bukannya sudah kubilang jangan melakukannya dulu.” Mata Ken menyipit sementara sapu tangan sudah mengusap pelan kening Ayana. Menyusutkan keringat yang ada.


“A-aku belum bersih-bersih. Begini Ken...” Meneguk ludah dan hendak memakai cara imut agar Ken tidak terlalu memarahinya.


Oke bilang saja yang sebenarnya, sembari berekspresi imut. Para pria kan lemah dengan keimutan wanita.


Mulai mengerucutkan bibir dan mata berkedip.


“Maaf ya, aku hanya bercanda tadi. Aku tidak benar-benar ingin membersihkan rumah. Aku...aku bersalah...” Berani pasang wajah paling imut dengan mata berkedip.


Tidak ada tanggapan...


Hening...


Jeda yang membuat Ayana merasa malu sekali!


Sialan! Kenapa dia malah menengang begitu. Apa ekspresiku kaku ya? Ayana membatin mengerang malu.


Namun beberapa saat kemudian Ayana mendengar bentakan Ken. Bukan ditujukan padanya namun pada Alex.


“Lihat apa kau Lex!” Ken membentak Alex. Menyadarkan Alex yang tadi berhenti menurunkan barang dan malah memusatkan perhatian pada Ayana.


Apa? Dia marah! Ah caraku tidak berhasil. Merengut.


Alex gelagapan tau nada gusar itu.


Kuping Ken terlihat memerah membuat Ayana heran. Ken sungguh tidak menduga ini. Ayana akan bersikap begini di depannya. Gadis pemalu ini sudah dua kali membuatnya gemas.


“Kenapa kupingmu menjadi kemerahan begitu?” Bertanya polos sekali. Membuat Ken semakin dilingkupi hawa panas.


Panas sebab merasa efek dari tingkah Ayana.


Tingkahnya benar-benar gawat! Dia bahkan bersikap manis begitu tanpa melihat tempat! Sialan Alex! Dia malah ikut mencuri-curi pandang juga! Lihat saja akan kupaksa dia menghapus jejak ingatan betapa imutnya kekasihku...


Wajah Ken memerah. Alex menjadi gugup dan memilih mengusap kaca mobil. Sebab barang sudah diturunkan semua dis tidak lagi memiliki pekerjaan. Dari pada menerima tatapan menghunus tuan mudanya. Lebih baik dia menghindar saja.


Baiklah aku salah! Seharunya aku tidak menegang tadi dan malah menyoroti kekasih tuan muda. Akhh! Padahal kalau dihitung nona Ayana baru hadir hampir satu bulan. Tapi tuan muda sudah begitu posesif. Alex sudah merasakannya. Keposesifan yang erat dan tak mengendur. Bahaya! Di harus lebih berhati-hati lagi!


“Jangan melakukan itu.” Membawa tubuh Ayana agar terlindungi dari pandangan Alex. Tidak mau kalau sampai Alex lihat hal lain dari Ayana.


“Melakukan apa?” Bingung.


“Jangan bertingkah imut begitu! Jangan!” Ah! Ayana malu! Jadi Ken tidak suka tingkahnya. Ah mungkin juga ekspresinya yang kaku. Tidak berhasil! Bagaimana ini? Padahal sudah begitu jujur tadi. Apa dia akan mendapat kemarahan Ken. Ayana menjadi mengkerut waspada.


Namun dia tidak mendapat luapan kekesalan itu.


“Jangan lakukan itu di lingkup umum. Lakukan saat kita berdua saja.” Seru Ken. Matanya mengunci Ayana. Ayana terkejut dengan hal itu.


“Eh?” Memandang wajah Ken yang semakin memerah.


“Jangan melakukan itu Ayana! Jangan bertingkah imut diluar! jangan tunjukkan itu pada laki-laki lain. Hanya aku...Ka-kau hanya boleh menunjukkannya kepadaku.” Memaku Ayana agar bisa memahami setiap bait kata yang ia ucapkan.

__ADS_1


“Kau paham?” Hanya aku yang boleh melihatnya. Orang lain tidak boleh!


“Eh, i-iya.” Gugup sekali.


“Pintar.” Ken memberikan ciuman di pipi Ayana secara implusif dan tak tahu malu. Membuat bujang yang sedang sibuk berputar-putar membersihkan mobil itu memalingkan wajah.


“Lex! Bawa masuk semua barangnya!” Ken memerintah Alex.


“Baik tuan muda.” Menyahut segera.


“Ken, aku kan sudah bilang tadi hanya bercanda. Tidak perlu lagi bersih-bersih Ken.”


“Perlu Ayana, lihatlah halaman rumahmu ini. Rumputnya sudah mulai meninggi. Jadi acara bersih-bersih tetap berjalan sesuai rencana.” Ken memutuskan. Tidak bisa dibantah. Dia sudah masuk ke dalam rumah sebelum Ayana bisa membantah lagi.


Menginvasi seluruh bagian rumah Ayana dan mulai memperhitungkan dari mana dia harus memulai.


“Hei tunggu dulu! Astaga!” Melangkah ikut ke dalam.


“Letakkan di tengah Lex. Pertama-tama kita perlu mengeluarkan beberapa meja dan kursi ini dulu.” Alex menurut dan mereka berdua bergerak cepat. Membuat seisi ruang rumah itu menjadi kosong.


“Kau mau yang warna apa?” Bertanya dengan Ayana yang sejak tadi terbengong.


“Satu warna saja atau perpaduan?”


“Tunggu-tunggu ini rasanya tidak tepat Ken. Menge—,cat rumah kan bukan keahlianmu. Ah bagaimana kalau begini, tinggalkan saja cat yang ada. Dan tunjukkan juga semua biaya yang tadi dikeluarkan. Aku akan mengganti semuanya. Nanti aku akan memanggil tukang cat saja.” Raut wajah Ken tidak senang dan Ayana tidak sadar akan hal itu.


“A-aku akan menggantinya. Tunjukan struk pembeliannya. Berapa semuanya?” Menengadahkan tangan.


Alex terdiam pada sudut ruangan memilih bagai orang tak kasat mata saja.


“Kau pikir aku ini laki-laki rendah ya? Aku tidak menerima ganti pembayaran, kau kekasihku dan bahkan lebih berhak lagi mendapat banyak hal dari ku.” Nada suara Ken begitu arogan. Dan tersinggung, karena Ayana yang ingin mengganti uang miliknya.


Yang benar saja wanita ini! Ken bahkan tidak peduli banyaknya uang yang ia habiskan jika Ayana menginginkannya.


“Bu-bukan begitu maksudku, hanya saja...”


Bantahan Ayana tertelan oleh isyarat Ken agar dia berhenti bicara.


“Jangan banyak protes Ayana. Hari ini kami akan membantu membuat suasana rumahmu menjadi lebih nyaman. Tunggu aja hasilnya oke.” Kali ini Ayana tak lagi membantah. Membuat Ken tersenyum puas.


Mereka bergerak cepat sekali. Sudah seperti tenaga ahli. Meneguk ludah dengan kagum. Ada iped ditangan Ken. Ayana menebak Ken sedang melakukan anang-ancang.


Semua barang yang ada itu berguna sekali. Digunakan dengan apik oleh dua orang itu. Sangat serius.


Ayana memilih membuat minuman. Sebab melihat Ken dan Alex sudah mulai bekeringat. Dengan begitu dia bisa membantu sedikit agar dahaga dua orang itu sedikit teratasi. Tangannya memasukkan es ke dalam teko. Mengaduk dengan perlahan. Ayana lalu menyajikannya pada mereka ketika minuman sudah siap.


“Ken aku membuatkan kalian minuman.” Membawa nampannya dan meletakkan di meja dapur. Bagian dapur tidak diusik oleh Ken dan Alex.


Ken segera menoleh ke arah Ayana. Ia melangkah tak terburu-buru.


Melihat sajian Ayana tangan Ken tak tinggal diam. Ken mengelus rambutnya dengan sayang.


“Terima kasih.” Senyum mengembang. Tidak seperti dengan kebayakan wanita di luar, Ken selalu menampilkan sikap dinginnya. Di depan Ayana sikap Ken malah terasa hangat dan membuat nyaman.


Suaranya lembut, tatapannya lembut, sikapnya lembut. Alex menyadari itu. Perubahan besar pada sang tuan muda. Rupanya anak kebanggan Hans Prasetyo ini sudah dibelenggu oleh rasa cinta.


Membuat perilakunya tak bisa dikontrol. Senyum Alex mengembang tipis.


“Silahkan minum juga.” Menyerahkan pada Alex. Alex mengucapakan terima kasih pada Ayana.


Ayana tersenyum melihat Ken yang minum dengan tergesa.


“Kamu berkeringat sekali ken.” Kening Ayana berkerut melihat kondisi Ken. Ia lalu mengambil tisu untuk diserahkan pada Ken.


“Ini.”


Ken bukannya mengambilnya dia malah merunduk dan memerintah Ayana.


“Bantu aku.” Keningnya sudah sejajar dengan wajah Ayana. Membuat Ayana merasa malu, karena ada nada rendah dari suara Ken yang bermaksud menggoda.


Aku ingin akhir pekan ini segera berkahir. Alex membatin.


“Ba-baiklah.” Tergugup dan hati-hati menyusutkan keringat yang hampir memenuhi wajah Ken. Ken jarang menguras tenaga, biasanya pun tenaganya terkuras hanya karena dia melakukan olahraga. Olahraga itu untuk membentuk tubuh agar punya pola hidup sehat.


Namun sekarang, laki-laki itu rela melakukan olahraga yang membuat keringat berkucur. Hal itu didominasi oleh rasa ingin membantu sang kekasih. Ken tidak menyesali keputusannya sekarang. Malah dia merasa senang dengan situasi. Apalagi Ayana perhatian dengannya.


Ayana tampak polos sekali, jarak mereka sangat dekat. Ada buncahan rasa senang dalam dadanya. Membuat Ken ingin bergerak implusif dan menghadiahkan ciuman dalam di bibir Ayana. Meski ada Alex di sini.

__ADS_1


Ayana menyadari gerakan Ken itu, membuat tubuhnya membeku.


Wajah mereka hanya berjarak sejengkal...


Jarak itu semakin terkikis...


Semakin menipis...


Hingga membuat Ayana menahan nafasnya...


Dan memejamkan mata...


Lebih dekat lagi...


Ken akan menyatukan bibirnya pada bibir Ayana...


Namun semua itu terpatahkan, ketika mendengar suara pintu diketuk, diiringi suara pemuda.


“Permisi.”


Suaranya berat. Laki-laki mana yang bertamu ke rumah seoarang wanita di pagi buta begini? Pikiran itu membuat Ken merasa kesal. Dan rasa ingin mencerca orang yang berani-beraninya bertamu sekarang.


Siapa yang datang! Suaranya berat dan pasti itu seorang laki-laki. Menatap Ayana waspada.


“Kau punya tamu?” Ken sensitif dengan suara laki-laki dari arah luar itu. Dia masih berusaha berpikir rasional mungkin saja Ayana ada tamu. Atau bisa pula tukang antar paket.


“Tidak.”Ayana malah menjawab lekas sekali. Kening Ken menghujam tajam.


“A-aku akan melihatnya dulu.” Ayana pun keluar dengan langkah tergesa. Ayana merasa cukup malu dengan tadi sempat sempatnya hendak memejamkan mata pasrah akan dicium oleh Ken. Pipinya memanas.


Ayana! Kamu gila! Bisa-bisanya kamu bertingkah begitu! Mana tadi ada asisten Alex pula!


Ken menyusul juga. Meninggalkan Alex yang terlihat tegang.


Tuan muda sudah kehilangan akalnya! Dia hendak berciuman didepanku? Di depan pria bujang paling diminati dan jomblo ini?!


Alex kesal bercampur malu.


Ketika pintu itu dibuka sesosok pemuda yang sedang memelakangi arah Ayana terlihat. Kening Ayana berkerut tidak kenal dengan postur tubuh itu.


“Ada apa ya?” Tanya nya sopan. Bersamaan dengan Ken yang sudah ada di samping Ayana. Ken menyoroti dalam diam.


Siapa laki-laki ini?


Pertanyaan itu akan mendapat jawaban sebentar lagi.


Perlahan sekali. Sosok itu berbalik, tubuhnya jakung rambutnya hitam dan tersisir rapi. Ketika Ken dan Ayana sama-sama memusatkan pasnagan ke arah wajah si pria.


Mereka terdiam.


Mata mereka sama-sama melebar. Tubuh Ken menegang, pancaran matanya tampak berkilat penuh antisipasi.


“Ka-kau?”


Ayana pun sama terkejutnya.


Mereka sama-sama terkejut.


Laki-laki itu terkejut juga, namun setelahnya malah mengulas senyum.


“Perkenalkan saya tetangga baru di rumah depan.” Senyumnya mengembang.


Sialan!


Sialan!


Sialan!


Ken serasa dikerumuni oleh rasa gusar!


Bagaimana bisa laki-laki culun yang dulu sering berada di dekat Ayana. Malah muncul di sini!


Dan bahkan menjadi TETANGGA Ayana!


Rafka!


Itulah nama pemuda yang sekarang mengulas senyum!

__ADS_1


__ADS_2