Wanita Sang CEO

Wanita Sang CEO
CH 117- Go! Bulan Madu


__ADS_3

~Kamar Hans


Sejak matahari meninggalkan peraduannya, Angel masih tertidur. Mata dan tubuhnya seakan benar-benar lelah dan tak bertenaga. Ini pertama kali untuknya, dan semuanya terasa sangat melelahkan.


“Dasar tukang tidur, bagaimana dia bisa tidak bangun? Padahal aku sudah membuat keributan dengan mondar mandir kesana kemari.” Si pembuat kelelahan Angel malah tampak mengejek sang istri. Suami yang tidak sabaran malam tadi ini ternyata, sudah mandi, dia masih bertelanjang dada sehingga otot-otot yang dibentuk karena hasil kerja kerasnya tampak sangat menggoda. 


“Lucu sekali sih.” Melemparkan tubuhnya dengan kuat sampai-sampai ranjang bergetar, namun Angel tampak seperti putri tidur yang tidak mau terbagun, hanya sedikit terusik dan terlihat kerutan di tengah dahinya. 


“Benar-benar ya, sayang...bangun, kau sudah terlalu lama tidur ayo bangun.” Mencium bibir Angel dengan lembut. Masih tidak ada tanggapan. 


“Bagun sayang.” Towel-towel pipi Angel. Kali ini tampaknya sedikit berhasil, Angel menyipitkan matanya melihat si pengganggu tidurnya yang kurang. 


“Hei kenapa kau tidur lagi.” Hans sudah Tergelak, Angel malah tidur kembali. Karena terlalu gemas ia pun mulai bertingkah lain. Ia memberikan ciuman keras hingga meninggalkan tanda di leher Angel.


“Hmm, Hannnsss, jangan menggangu! aku mau tidur.” Dagu Hans didorong dengan kesal, Angel hendak berbalik namun.


“Akhh!!” Rintihannya membuat Hans terkejut seketika, Hans membuka selimut yang menutupi istrinya.


“Kenapa? Apa ada sesuatu, Apa ada yang menggitmu?! Kenapa kau meringis? ssyang!!” Sudah berdiri di atas tempat tidur dan selimut tadi digelungnya, takut jika ada sesuatu yang dibawah selimut hingga membuat Angelnya menjerit.


“Hans, kembalikan selimutnya!” Kesadaran Angel sudah pulih sepenuhnya, tubuh yang tak ditutupi sehelai benangpun membuat ia merasa malu.


“Kenapa kau beteriak kesakitan tadi? ” Tidak peduli dengan protes yang dilontarkan sang istri.


“Berikan dulu selimutnya.” pinta Angel rona merah semakin terlihat jelas di wajahnya. Hans sekarang menurut mungkin memang bukan ada benda ataupun sejenisnya yang mengigit Angelnya. 


“Kenapa sayang?” Hans duduk di samping Angel yang sudah ditutupi selimut.


“I-ini tu-tubuhku rasanya sakit semua Hans. Aku rasanya tidak bisa bergerak.” Mendengar ungkapan Angel, Hans seketika tersadar dan merasa bersalah.


“Ma-maafkan aku sayang, aku terlalu bersemangat malam tadi. ” Ia tidak tau dampak untuk Angelnya menjadi seperti ini.


“Tidak, kamu tidak salah jadi tidak perlu meminta maaf. Ini memang kewajibanku.” Angel merasa malu sendiri dengan ucapannya.


“Apa susah sekali bergerak? Apa aku perlu menelpon dokter Daren?” Karena kecemasan berlebihan Hans, sang istri sampai memelakan mata.


“Jangan! Aku baik-baik saja, tidak perlu sampai memanggil dokter Daren.” Kita akan ditertawakan jika memanggil dokter Daren. Ya Tuhan suamiku ini sangat imut sekali.


“Baiklah.” Hans menuruti protes Angel. Matanya kembali dipertemukan dengan mata Angel.


“Kalau begitu, kau harus mandi dulu.”


“Iya.” 


“Aku akan memandikanmu.” 


“Iy,...Eh?”  Menyahut iya iya saja, tenyata dia baru tersadar.


“Aku akan memandikanmu, dengan keadaan begini menabisa aku membiarkan istriku mandi sendiri.” Hans berucap dengan begitu santainya, protes Angel tak diindahkannya. Angel beteriak karena tubuhnya digelung oleh selimut berputar-putar di atas ranjang sampai ketepian. 


Angel mendengus kesal, matanya melotot.


“Hans, aku tidak bisa bergerak jika begini.” Angel cemeberut, tangannya bahkan masuk kedalam selimut hanya bagian kepala saja yang terlihat. Hans malah memberikan kecupan singkat dibelahan bibir Angel yang menggoda.


“ Memang harusnya seperti ini, supaya kau tidak banyak bergerak, aku akan memandikanmu.” Dalam satu kali gerakan tubuh Angel digendong.


“Aaaa Hans! Aku bisa mandi sendiri! ”


***


~Kamar Mandi


“Aku bisa gosok gigi sendiri Hans!” Mata Angel melotot karena Hans berusaha membuka mulutnya dan menggosok giginya. 

__ADS_1


“Kau tidak bisa sayang, tanganmu bahkan tidak ada.” Hans berucap dengan senyum lebar dan menyorot ke tubuh Angel yang saat ini ia dudukan dengan nyaman di dekat wastafel. Masih berbalut dengan erat di dalam selimut.


“Karena itu ayo lepaskan.” Angel menatap dengan memelas, malu sekali dirinya sudah seperti anak kecil yang harus dimandikan dan dibantu gosok gigi.


“Tidak, aku ingin memandikan istriku, ayoo Aaa... buka mulutmu sayang.” Angel kembali menggeleng.


“Oh kalau begitu bagaimana kalau kita mengulang malam tadi saja, tapi dengan posisi duduk seperti saat ini.” Gila! Gila! Gila! Tubuhnya saja masih terasa remuk, Hans berucap santai mau mengulang malam tadi. Angel segera menyambut dengan hati dongkol gosok gigi yang ada di depannya, mulutnya dibuka selebar mungkin saat ini supaya Hans mempermudah membantunya.


“Sudah sayang, sisanya aku saja. Kau jadi tidak berpakaian karena membantuku mandi.” Angel mencoba menghentikan aksi Hans yang mencuci wajahnya dengan sangat lembut. Sejenak tadi ia heran, Sejak kapan perbersih wajahnya ada dikamar Hans? Melihat otot tubuh Hans yang begitu terbentuk membuat ia menelan salivanya kasar. Hal itu begitu menggoda, rasanya ia ingin menyentuh otot perut itu.


“Tidak ini lebih cepat.” Tolak Hans lagi, ia tau jika Angel mengunakan kata sayang pasti itu untuk menggodanya.


“Tidak mempan? Haaaa?!! ”


“Kenapa kau tidak luluh.” Angel heran matanya menatap lebar, biasanya Hans lekas luluh jika dia mengunakan embel-embel panggilan sayang.


“Karena aku sudah terbiasa.” Hans memasang raut wajah mengesalkan, baru saja ia ingin berucap busa sabun wajah sudah memenuhi area wajahnya jika ia membuka matanya maka itu akan terasa pedih, jadi bibirnya menekuk. 


“Jadi kau harus bekerja lebih keras lagi sayang, untuk menggoda ku.” Haishh Angel sungguh kesal, wajahnya sudah selesai dibersihkan.“Goda aku dengan yang lebih luar biasa, bukan hanya panggilan sayang.” Bisik Hans, seketika Angel membuka matanya.


“Auu perih hans.” Meringis mengusap juga tidak bisa.


Hans menjadi panik, mengambil air sebanyak mungkin


“Kenapa kau membuka matamu sayang! Bagiamana ini?! Angel sayang!!” Cemas karena Angel masih belum membuka matanya padahal seluruh permukaan wajah sudah ia basuh dengan segera tadi.


“Kenapa kau berteriak, sudah tidak apa-apa Hans.” Hans bernafas lega karena mata istrinya baru terbuka, kerutan tampak di area keningnya karena kecemasan tadi belum mereda, ia pun mencium Angel lama. Angel memasrahkan dirinya yang dicium habis-habisan, tangannya juga tidak bisa bergerak.


“Maaf ya, kenapa juga kamu membuka mata tadi.”


“Itu semua juga gara-gara kamu! Apa? Goda aku dengan yang lebih luar biasa?! Memangnya kalau sudah menikah taktik menggodanya ikut naik level juga?!”


Sekarang Hans meninggalkan dirinya didekat wastafel mengisi bak mandi dengan berbagai sabun yang beroma. Mendapat kesempatan Angel berusaha membuka dirinya.


“Astaga ini sulit sekali terlepas!”


“Kita mandi bersama.” 


“Hah?” Mata Angel dibuat melotot seketika saat ucapan yang tercetus dengan seringai kemenangan terbit di bibir sang suami. Inilah yang dia takutkan. 


“Hans, bukannya kamu sudah mandi tadi?” Pertanyaan Angel tak dijawab Hans tangannya dengan telaten menggosok punggung mulus sang istri. Malam tadi ia tidak melihat jelas tubuh sang istri karena mereka melakukannya di bawah remang-remang malam. Namun saat ini tubuh mulus dan menggoda sang istri terpampang jelas di depannya. Sehingga pertahanan dirinya selama dibuat goyah seketika.


“Hans!” Ciuman tak berhenti di area lehernya, tubuh Angel tak dilepaskan sekitoun ditarik hingga saling menghimpit meskipun berbelakang.



“Angel, mulai sekarang panggil aku sayang.” Ucapan tiba-tiba yang terdengar menuntut itu seketika membuat Angel menoleh ke Arah Hans. 


“Panggil aku sayang, aku tidak mau dipanggil Hans, itu terdengar biasa.” 


“Ke-kenapa tiba-tiba Hans?” Hans ******* bibir Angel dengan begitu rakus. Tekuk Angel di tekan, bibirnya sudah nakal mengeksplor mulut sang istri.


“Sayang, panggil aku sayang.” Mata Hans menyorot tak mau dibantah. Angel terdiam sejenak, tidak biasanya Hans sperti ini.


“Bukannya aku tidak mau, tapi aku hanya malu Hans, tapi sorot matanya sungguh tidak mau dibantah.”


“Baiklah, sa-sayang.” Angel melafalkannya dengan gugup.


“Nah begitu dong.” Hans tergelak lepas, jika menurutkan Sifat Angel yang pemalu entah kapan ia akan mendengar sebutan sayang dari mulut sang istri. Jadi tadi ia memang sengaja membuat Angel tersudut. 


“Eh?...” Tubuh Angel diangkat dengan begitu entenganya hingga berhadapan dengan Hans. Angel dapat merasakan kilatan gairah dari mata Hans.


Belum sempat ia memprotes sikap Hans, bibirnya tiba-tiba meleguh saat Hans berhasil menyatukan tubuh mereka, ini kali kedua otaknya seakan dibuat kosong dan tak dapat berpikir. Ditempat yang sempit ini Hans terus menikmati kehangatan sang istri.

__ADS_1


Tubuh mereka menyatu sempurna, lenguhan Angel dibungkam dengan ciuman yang menuntut. Kuku jari Angel yang malam tadi menancap keras ditubuh Hans, sebab menyalurkan rasa sakit, sekarang kembali menggores serta mengigit bahu Hans. Kali ini ia merasakan hal yang berbeda tidak seperti malam tadi. Rasanya tubuhnya seakan disengat oleh listrik ribuan voltase. Ia bahkan menjambak rambut Hans saat bibir Hans mulai nakal. Meninggalkan rasa geli. 


Ini sunggu! Sungguh, sungguh! Berbahaya. Mandi bersama Hans membuat energinya seketika kembali terkuras. 


***


Hans mendapat kepuasan untuk kedua kalinya. Angelnya tampak tidak bertenaga. Ciuman bertubi-tubi ia berikan sebelum meninggalkan sang istri yang terbaring ditempat tidur dalam ke adaan polos menuju ruang pakaian.


Pakaian Angel tertata rapi di lemari bersatu dengan miliknya. Hans memilih pakaian tertutup dan tak mencolok, ia memilih pakaian tertutup karena tidak ingin tubuh sang istri dilihat dan dinikmati orang lain sama halnya dengan tak mencolok, ia tidak ingin Angelnya menjadi sorot perhatian.


Bibirnya mengulas senyum manis saat manik matanya menangkap sang istri. Ia pun segera mendekat dan memakaikan pakaian kepada sang istri.


“Karena kulitnya putih, jadi terlihat sangat jelas.” Hans memperhatikan tanda kepemilikan yang begitu abstrak bertabur di leher sang istri. “Biarlah, Supaya mereka tau kau sudah menjadi istriku seutuhnya.” Menatap puas hasil maha karyanya.


“Ehmpp.” Angel meleguh matanya tak kuat hanya sekedar menyipit, ia tertidur kembali


“Baiklah tidur lah sayang, kita akan melakukan perjalanan yang cukup jauh, jadi tidak masalah jika kau tidur.” Hans mengerti dengan keadaan sang istri. Tentu saja ia paham betul, semua itu karena ulahnya.


Setelah Merasa Angel pas berada didalam gendongannya, ia pun segera melangkahkan kaki menuju lantai bawah. Ia terus menggendong istrinya yang tertidur dalam pelukannya. 


Baru saja sampai dilantai dasar suara sang ibu memekikan telinga.


“Haduh, kamu apaiin menantu mama? Kenapa sampe digendong gitu?!” Semua keluarga sedang berkumpul saat ini. Meskipun mereka berusaha memaklumi sebab Hans dan Angel adalah pengatin baru, namun mereka merasa cemas juga karena dua orang tadi tak kunjung keluar hingga menjelang sore. Dan sekarang mereka malah dikejutkan dengan Angel yang sedang berada dipelukan Hans yang tampak tertidur dengan nyaman.


“Memangnya Hans ngapain mah?” Jawab Hans begitu santai dan tak merasa bersalah. Ia memberikan kode kepada Bram yang baru saja ada di depan pintu untuk diam sejenak.


Bram pun paham dan menunggu, otaknya lekas berfantasi melihat Angel yang berada di pelukan sang atasan. Ia lekas mengeyahksn pikirnya nakalnya itu.


“Ini anak ibu tidak apa-apa kan nak Hans.” Mendengar pertanyaan sang ibu mertua, Hans terasa malu.


“I-iya Bu, ini hanya mengantuk Angelnya.” Sahut Hans tanpa menguak kebenaran, Ya mana mungkin ia menguak kebenarannya, sebab itu adalah privasi mereka. Ayah, dan Juna juga menghampiri melihat kondisi Angel. Semua berkerumun melihat Angel Jika saja Angel bangun mungkin dia akan sangat malu, pikir Hans.


“Apa tidak sebaiknya dibangunkan saja nak. Takutnya nak Hans sulit nantinya.” Saran ayah. Semuanya setuju dengan ucapan ayah.


“Tidak ayah, saya tidak masalah menggendong istri saya.” Sahut Hans dengan ukiran senyum.


“Jika aku membangunkannya, dia juga akan sulit untuk berjalan. Jadi lebih baik bagini...Ck..ck... Pulas sekali dia tidur.” Gumam dalam hati Hans, matanya kemudian terlihakan dengan si bungsu yang baru saja turun dari kamar.


“Sudah siap?”


“Iya kak.” Sahut di bungsu dengan menggeret kopernya. Melihat itu Hans hanya bisa menggeleng pelan.


“Hans pergi dulu ya mah, pah, ayah ibu...” Ucapan Hans mendapat dengusan kesal dari sang Mama. 


“Baru turun udah mau pergi!” Sentak mama namun dengan suara pelan sekarang takut menggagu tidur nyaman sang menantu.


“Udah Hans, pergi nak. ” Papa berusaha menengahi kekesalan sang istri. Angel tampak bergerak namun matanya tak terbuka, Hans bernafas lega melihat itu.


“Yaudah pergi sana, pulang-pulang mama mau dapet Cucu.” Mama mengucapakan itu dengan raut bahagia. Hans dibuat melongos mendengarnya, bukannya mudah membuat bayi. Hadeuhhhhh dasar Mama!


Hans kemudian pamit kepada semua keluarga disana termasuk, ibu dan ayah. Kali ini ia akan menikmati yang namanya hidup sepasang suami istri. Saatnya untuk pergi BULAN MADU!


.


.


.


.


.


Eitsssss jangan langsung pergi tinggalin jejak dulu ya 😌

__ADS_1


Happy reading


~Tyatyut


__ADS_2