
Angel hanya bisa menatap kesal ke arah sang suami. Masih teringat kabar dari sahabatnya bahwa sang suami dengan tidak tau malunya, memamerkan hasil mahakarya yang dibuat karena keusilan.
“Sayang, kenapa sih diam sekali dari tadi.” Hans terus berusaha mendekati istrinya. Angel menyembunyikan diri di dalam selimut.
“Sayang, jangan ditutup begini kalau kehabisan nafas bagaimana.” Berkeras membuka selimut. Angel juga dengan sekuat tenaga menahan selimut.
Akhirnya selimut itu jatuh terdampar di lantai karena kekuatan tangan Hans.
“Kenapa menyembunyikan diri sedari tadi, Hem?” Mengukung istrinya dalam pelukan erat. Juga tangan Angel yang terhimpit.
Angel manyun seketika.“ Kau juga yang salah.” Gumam kecil tidak mau melihat Hans. Masih kesal karena malu.
“Bicara yang jelas kenapa jadi pendiam begini? Jangan hanya bergumam tidak jelas.” Akhirnya Hans menghunuskan tatapan kesal. Angel langsung memberontak.
“Kau juga yang salah. Kenapa dikantornya memamerkan tanda di lehermu! Aku malu tau.” Bibir mencebik, dengan dahi yang mengkerut.
Hans membulatkan matanya, rupanya istrinya tau.“ Memangnya kenapa, itu kan tanda dari istriku sendiri.” Dengan tidak tau malunya membela santai.
Angel berdecak.“ Tapi kan tidak di pamerkan begitu juga, sayang. Kalau aku memamerkan tanda yang kau buat di dekat perutku kau mau?”
Perumpamaan Angel segera membuat Hans menggeram.“ Mana boleh! Tubuhmu tidak boleh dilihat seorang pun! Apalagi perut mulusmu, walaupun sekarang sudah membuncit tetap saja itu tampak menggoda. Kalau ada yang berani melihatnya ...lihat saja akan kucongkel mata mereka!” Begitu membara, mencerocos.
Angel sampai bergidik dengan ucapan Hans. Namun ia kembali menyadarkan diri, ingin melanjutkan kalimatnya.
“Nah karena itu, kau tidak mau kan tanda yang kau berikan dilihat orang lain. Sama halnya denganku, cukup kita saja yang melihatnya.” Langsung bersemu merah, tidak pernah terbayang harus memberikan Hans sebuah logika halus agar mengerti. Padahal Hans memilki kepandaian dia atas rata-rata.
“Oh kau mau menikmati hasil karyamu sendiri. Begitu kan, baiklah sayang mulai sekarang aku tidak akan menunjukkan ke orang lain. Cukup kau saja yang melihat hasil karyamu.” Tersenyum penuh maksud. Hei bukan itu maksudnya. Astaga Hans sudah menafsirkan hal yang berbeda. Dasar Hans!
“Hasihh, bukan begitu maksudnya! Lagipula untuk apa aku sering-sering membuat tanda ditubuhmu, itu sulit dan butuh perjuangan.” Angel membatin dengan polosnya.
Hans sekarang tercenung saat menatap mata polos Angelnya dalam diam. “Kenapa melihatku begitu?” Angel bertanya dengan sikap malu, diperhatikan dengan begitu intens tentu saja membuat pipinya bersemu merah.
“Tidak, hanya saja aku teringat dengan wanita yang membuatku jatuh cinta dengan tatapan polosnya.” Ucap Hans begitu tenang. Mendengar Hans membicarakan persoalan jatuh cinta dengan seorang wanita membuat Angel langsung merasa sesak.
“Kalau kau masih begitu mengingatnya, dan sampai membicarakannya kenapa malah menikah denganku!” Memberontak, dan melepaskan diri. Berani sekali Hans membicarakan wanita lain didepannya.
“Pfttt...” Hans malah tertawa terbahak. Eskpresi cemburu sang istri begitu membuatnya gemas.
__ADS_1
“Sial dia malah tertawa, ya aku yakin dia pasti senang karena membicarakan wanita yang membuatnya jatuh cinta.” Angel lekas bangun dan menuju sofa. Wajahnya masih ditekuk kesal. Membawa bantal dan selimut.
Melihat hal itu Hans begitu kelimpungan.“Sayang... akhhh.” Terjatuh dari tempat tidur. Angel bersmirik, rasakan.
“Sayang kenapa kesini.” Berjongkok di pinggiran sofa. “Memangnya kenapa, sudah sana! Ingat-ingat saja wanita bermata polos yang membuat jatuh cinta itu. Jangan pedulikan aku ... Aku mau tidur disini.” Dongkol bercampur cemburu rasanya.
Tanpa diduga Hans malah mengangkatnya dengan segera.“Lepas! Aku tidak mau mendengarkan kau berbicara tentang wanita itu, aku mau tidur di sofa saja.” Memukul bahu Hans kuat.
Hans masih tidak bergeming sampai ia menuju tempat tidur. “Lepas!”
“Diam, dan dengarkan aku.” Suara Hans begitu dalam dan menghentikan aksi protes Angel. Meskipun kerutan maish tercetak jelas di antara kedua alis Angel.
“Keputusan ku saat ini sudah benar. Aku sudah menikah dengan wanita yang membuatku jatuh cinta pada mata polosnya.”
“Apa?! Jadi kau menduakan ku Hans!!! Aku tidak menyangka ...hiks... Katanya kau mencintaiku ... Hiks tenyata begini... Kau tenyata memiliki istri simpanan di belakangku! Dimana kau menyembunyikannya?! dimana?!!” Angel begitu naik pitam. Tenyata ini wajah asli seorang Hans. Berani sekali mengaku dengan wajah tersenyum bahagia.
Melihat Angel yang salah paham Hans begitu kelimpungan.“ Sayang tidak ada yang namanya istri simpanan. Istriku hanya satu yaitu, Angel Rasinta Prasetyo. Tidak ada yang lain .”
“Haha kalau orang berbohong pasti begini, bicara akan berubah ubah ... tadi bilangannya sudah benar menikahi gadis bermata polos itu, sekarang malah mengaku hanya aku yang menjadi istrimu!” Perasan dihianati tiba-tiba menerpa.
“Akhhh...Hans...Perutku sakit... Sakit.”
“SAYANG!!” Hans begitu terkesiap. Melihat Angelnya meringis sakit ia tidak tau harus melakukan apa.
“Sakit Hans ...kenapa kau tega sekali sih. Baru beberapa bulan kita menikah tenyata kau menikah lagi.” Angel menguapkan kekesalan.
Hans tak kuasa, menahan ledakan kecemasan.
“Itu kau, gadis bermata polos itu kau! Kau istriku! Kau yang membuatku jatuh cinta sejak pertama kali bertemu hingga saat ini.” Hans mengungkapkan dengan begitu frustasi. Tidak tau bahwa ungkapan ia begitu jatuh cinta pada mata polsi istrinya malah berdampak pada emosi dan kesalahan pahaman Angel. Juga perut sang istri yang kesakitan.
Bagaimana jika terjadi sesuatu pada calon anak mereka. Hans begitu cemas. Namun perlahan ringisan Angelnya mulai mereda.
“Apa tidak sakit lagi? ” menatap masih dengan kecemasan.
Angel mengangguk pelan. “ Iya, sepertinya tadi bayinya menendang.”
“Nak jangan menyusahkan istriku, jangan membuatnya kesakitan.” Hans mengelus pelan perut istrinya. Sementara tangan yang tadi gemetar mulai mereda juga.
__ADS_1
Angel cemberut.“ ini juga salahmu, kenapa sih bicara dan membuatku salah paham.” Angel mengusap air matanya.
“Kau kan memang sering salah paham. Dulu juga pernah mau menjaga jarak karena salah paham melihatku dengan Hana. Sekarang kau salah paham karena tidak mengetahui jelas wanita yang kumaksud itu kau sendiri.” Alis Hans saling bertautan.
“Iya maaf sayang. Maaf seharunya aku lebih memperjelas situasi dulu, baru mengambil sikap. Maaf ya” Memeluk dengan tatapan lucu.
Hans mengoles nafas kasar. Diciumnya lama Angelnya. “Mulai dari sekarang jangan bersikap begitu lagi ya, kau tau kan aku sangat mencintaimu. Mana mungkin aku melirik wanita lain, padahal istriku sendiri begitu spesial, langka dan sulit didapatkan.” Hans memasang senyum mengembang.
“Iya, aku tau itu sayang. Aku juga mencintaimu.” Angel memeluk Hans.
Hans mendengus kasar, ia memeluk Angel dalam pelukannya, sementara selimut sudah dibalutkan lagi pada tubuh mereka.
“Sayang.”
“Hem?”
“Katanya kau jatuh cinta pada mata polosku, maksud mata polsomu itu apa.” Betaanya dengan menatap Hans. Balik sang suami menatap.
“Ya begini.” Mencium kelopak mata Angel. “Polos sekali kalau kesal, polos sekali kalau lagi senang, polos sekali kalau bersikap imut.” Angel mencebikkan bibirnya. Sementara Hans sudah tergelak lepas.
“Ck, apa itu tidak ada spesialnya sama sekali. Semua mata juga bisa berekspresi begitu.”
“Tapi hanya kau yang bisa membuatku jatuh cinta dari semua orang itu. Dengan mata polsomu ini.” Mengusap di dekat pelipis. Dada Angel berdegup kencang. Ada rasa senang dan malu yang menyergap. Akhirnya ia membenamkan diri di dalam pelukan Hans sembari tersenyum lebar.
Kalau Hans jatuh cinta dengan seorang Angel pada mata polosnya. Maka jika Angel ditanya apa yang membuatnya jatuh cinta pada seorang Hans. Jawabannya hanya satu. Yaitu ketulusan.
.
.
.
.
HAPPY READING
~tyatyut
__ADS_1