Wanita Sang CEO

Wanita Sang CEO
Ch 31~ Apa yang kamu lakukan di sini!


__ADS_3

Ayana memastikan ibunya sudah terkendali, setelah itu ia diantar oleh Ken kembali ke rumah. Sebelum berbalik pun Ken sempat-sempatnya mencium keningnya.


Ayana merasa ciuman itu penuh kasih sayang dan berasal dari hati. Namun rasanya tidak mungkin Ken begitu. Ken tidak mungkin punya rasa pada dia yang punya banyak kekurangan.


“Istirahatlah.” Ken mengusap rambut Ayana.


Ayana memilih berlalu dan masuk ke dalam rumah.


Ayana sekarang memandang pantulannya di depan cermin. Tidak ada sosok gadis dengan body sempurna di sana. Pantulan di depan cermin itu hanya menujukkan sesosok gadis mungil dengan hidung tak terlalu mancung, bentik alisnya tak terlalu tebal malah terkesan tipis. Begitu biasa saja.


Ayana melirik ke arah bawah, menatap pada gaun yang sedang ia kenakan. Jauh sekali bedanya dengan gaun wanita yang menawarkan diri ingin jadi pengantin Ken.


Ayana mendesah.


“Dibanding dengan wanita itu aku jauh sekali. Malah tidak ada apa-apanya. ” Ayana mulai meragukan keteguhan hatinya. Yang merasa jika saja Ken sedang bermain-main dengan situasi sekarang. Sebab berulang kali ia melihat pancaran mata kesungguhan dan keyakinan dari Ken.


Ayana mengusap wajahnya secara kasar.


“Satu bulan...” Ayana terdiam.


“Jangka yang cukup panjang sekali.” Ada rasa gemetar dalam hati. Takut jika saja dia kalah dalam pertarungan ini. Yang satu berusaha meluluhkan yang satu berusaha mengeraskan hati.


“Sejak awal aku tidak pernah menginginkanmu Ken. Aku sudah cukup jadi pemerhati dalam diam. Aku merasa cukup dengan melihat dari jarak jauh.” Mata Ayana terpejam, bayangnya menerawang pada masa lampau.


“Tapi...kenapa kamu sekarang malah mendekat di saat aku hanya berdiam diri?”


Hal yang paling membelenggu Ayana agar tidak menerima Ken, ialah sebab ia takut. Takut jika saja nasibnya akan sama dengan sang ibu. Ayana bahkan sudah tau sekali Ken itu bagai magnet bagi para perempuan.


Jika saja nanti hal yang sama terjadi padanya. Ayana tidak tau dia harus menyalahkan sang lelaki yang bisa digoda, atau dia yang tak bisa mempertahankan.


Ayana membaringkan tubuhnya di atas kasur. Memejamkan mata membawa segala keresahan.


Di luar sana...


Rembulan sedang bersinar terang, menerangi segala penjuru bumi. Sang kuasa sedang menyaksikan dua anak manusia itu.


Si pria sedang melaju dibawah terangnya rembulan. Sedang si wanita sedang bergelung di bawah selimut.


Dua anak manusia itu tidak tau...bahwa takdir tuhan tidak dapat mereka putar. Tidak dapat mereka revisi, dan tidak dapat diganggu gugat, segalanya sudah tergaris jelas.


Takdir mereka akan segera menemui titik awal.


***


Pagi hari Ken terlihat segar sekali, senyum-senyum dan banyak elus dagu sebab merasa bahagia.


Sudah bagai laki-laki yang kasmaran saja. Alex malah takut melihat tuan mudanya itu.


Jangan bilang ada petir yang menyambar tuan muda tadi malam?! Bergidik dengan pemikiran. Yang pasti pemikiran itu salah sebab malam tadi rembulan bersinar terang.


Para karyawan merasa mungkin ini angin segar, melihat atasan mereka itu punya mood yang baik.


Masuk ke dalam ruangannya Ken segera duduk di meja kerja. Dia mengambil dokumen yang ada yang memeriksanya.

__ADS_1


Baiklah, ambil positifnya saja mungkin hari ini ada yang membuat tuan muda senang. Alex membatin.


“Lex! Bawakan lagi yang harus kutandatangi hari ini.” Ken memerintah dengan mata senang.


“Semuanya! Aku akan mendatanginya!” Titah Ken dengan segera.


Alex lihat tumpukan berkas yang tadi berada di sisi kanan, sudah beralih ke sisi kiri. Secepat itu tuan mudanya melaksanakan pekerjaan.


“Anda yakin benar-benar membaca semua dokumen tuan muda?”


“Tentu saja! Kau pikir aku ini sedang beekaja asal-asalan Lex!” Kesal dengan Alex.


“Eh bukan begitu tuan muda, saya hanya memastikan saja.”


Ken masih memandang Alex tajam, membuat Alex meneguk ludahnya.


“Ka-kalau begitu akan saya bawakan lagi beberapa bekas yang memang bisa diusulkan tanda tangannya pada Anda.” Alex menunduk kemudian berlalu.


“Apa dia pikir aku bodoh sampai tidak membaca berkas.” Berdecak sekali, namun gerak tangan malah mengambil dokumen tadi dan membacanya cepat.


***


Satu jam!


Satu jam!


Satu jam yang lalu Alex ingat sekali melihat wajah senyum dan semangat menggebu-gebu dari pria yang bermarga Prasetyo di depannya ini.


Namun sekarang! Situasi sudah berubah 360°!! Si tuan muda sudah menekuk wajahnya.


Bolpoin yang Alex pegang di remas'nya, sedang matanya menatap kesal pada Ken!


Hah memang saya yang terlalu berpikir positif tenyata di sini. Lihatlah sekarang! Kenapa malah saya yang tuan muda bebankan memeriksa dokumen!


Padahal tadi begitu membara. Berkata 'Bawakan semua dokumen sekarang aku akan mendatanginya!'


CK CK CK, semuanya tidak sesuai kenyataan.


Ken laki-laki itu sedang menekuk wajahnya. Usap naik turun layar ponsel tapi tidak ada perubahan. Pesannya pada Ayana centang satu, sedang teleponnya tidak diangkat.


Moodnya jatuh ke dasar terdalam!


Gadis ini benar-benar ya! Aku tidak pernah diabaikan! Ini pertama kalinya. Tenyata mengesalkan juga.


Yah tuan muda merasa juga tenyata rasanya diabaikan.


***


Ken pulang kerja setelah waktu menunjukkan pukul tujuh malam.


“Sial! Kemana dia seharian ini! Aku tidak bisa menghubunginya sama sekali!” Ken kesal sekali.


Ponsel Ken bergetar, ia segera melihat layar ponsel dengan semangat.

__ADS_1


Namun tenyata itu bukan Ayana! Si Dev sahabatnya yang paling playboy calling!


“Ada apa?!” Tanya'nya ketus.


[“Astaga kenapa suaramu ketus begitu Ken, membuat telingaku sakit saja.”]


“Aku tidak peduli Dev, cepat katakan jangan berbasa basi lagi!”


Ken masuk ke dalam mobil yang baru saja Alex bukakan pintunya. Ponsel dia apit di antara telinga dan bahu, sedang dua tangan lain melepaskan jas yang membalut tubuhnya, pun juga dengan dasi yang serasa mencekik seharian ini.


[“ Datanglah ke night Clubs sekarang Ken, di sini ada yang menarikk sekali.”]


Suara Dev terdengar misterius.


“Apa yang menarik?” Kening Ken berkerut.


[“Datang saja, kalau kau tidak datang kau akan sangat menyengat ken.”]


Panggilan itu lalu terputus. Ken masih merasa Dev hanya sedang bermain-main dengannya. Namun saat Dev mengirim sebuah gambar belang tubuh dari sekarang gadis.


“Putar balik Lex! Kita ke night clubs, gunakan jalan pintas!” Suara Ken begitu tergesa. Matanya terlihat membara.


***


Dalam Club itu dekat pada meja bartender Dev dan Yayan sedang duduk menatap ke arah depan.


“Kau menghubungi Ken Dev?” Yayan melirik Dev, sedang matanya sama dengan Dev tetap tertuju ke dapan. Mereka memang sedang dalam mode mengawasi.


“Ya, pasti dia sedang ketar ketir sekarang.”


Dev bisa melihat gadis yang sekarang ia soroti merasakan kehadirannya. Dev hanya pasang senyum tipis.


Yayan meneguk satu gelas cairan yang tadi ia pesan.


“Kau yakin dia akan datang ke sini segera?”


“Tentu saja! Gelora rasa adalah hal yang paling menakutkan jika menyerang pria dingin.” Dev tergelak keras. Sedang Yayan hanya mengerti tidak paham.


Langkah kaki yang berasal dari luar terdengar berderap cepat. Mata laki-laki itu mengedar menginvasi segala penjuru sudut ruangan ditengah dentuman musik yang tedengar menyakitkan telinga.


“Mana dia!”


Tangannya terkepal ketika mendapati sosok yang membuatnya tergesa. Dia melangkah cepat, namun sosok itu belum menyadarinya.


Ketika laki-laki itu semakin dekat, barulah sosok itu menoleh. Matanya membulat ketika bertatapan dengan sang lelaki.


“Apa yang kamu lakukan di sini Ayana!” Suara Ken tedengar nyaring dan membuat tubuh Ayana menegang.


Ayana terkejut.


Gadis itu melebarkan matanya.


Ayana terpaku sekali. Sungguh melihat mata Ken yang sangat kesal dan menyentak tangannya hingga masuk dalam rengkuhan Ken, serasa membuat Ayana sangat takut!

__ADS_1


Oh!


Bagaimana ini?!


__ADS_2