
Impian seorang Hans Prasetyo telah terwujud. Dulu daftar impian pertamanya adalah memiliki gadis bermata polos yang ternyata tidak lain adalah Angel Rasinta. Impiannya itu sekarang terwujud karena Angel sudah menyandang status sebagai istri dari seorang Hans Prasetyo.
Satu lagi impiannya juga sudah terwujud yaitu memiliki para malaikat yang memenuhi rumah dengan tawa dan senyum ceria.
Semua keluarga begitu bahagia ketika Angel pertama kali melahirkan seorang putri yang bernama, Kinara Astika Prasetyo.
Ia merasakan bagaimana harus bangun ketika suara tangis putri kecilnya, terdengar di malam yang senyap.
“Putri Daddy cantik banget sih.” Selalu memberikan kecupan kasih sayang.
“Biar aku saja sayang.” Mengambil alih popok yang dibawa Angel. Istrinya itu sibuk kesana kemari sepagi ini, menyiapkan ia sarapan. Lalu memandikan putri kecil mereka.
“Aku aja kamu kan gak tau.”
“Hanya memasang popok apa susahnya. Sudah sini aku saja. Aku tidak suka kau kelelahan begini.” Hans mengambil popok bayi yang dibawa Angel. Lalu ia mencium kening Angel.
Angel akhirnya hanya melihat duduk. Hans begitu serius. Kaki putri kecil mereka bergerak lincah.“Diam sayang, Daddy mau masang popoknya.” Hans memasang raut wajah lembut.
Angel tergelak.“Tuh kan kamu gak bisa. Sini aku saja sayang.” Ingin meraih lagi.
Mata Hans menunjukkan kekesalan.“ Keringat di keningmu saja belum kering. Malah mau menambah pekerjaan lagi. Duduk yang manis ya.” Peringatnya pada Angel. Angel hanya bisa terpelongo, setiap pekerjaan yang ia sentuh dinilai pekerjaan berat oleh sang suami. Toh dirumah sudah ada pelayan yang bejibun kenapa istrinya harus turun tangan juga. Itulah pemikiran Hans.
“Sudah selesai kan.” Pikiran Angel tereyah ketika mendengar suara Hans yang begitu bangga bisa memakaikan popok pada putri kecil mereka.
Begitulah keceriaan menjadi seorang Ayah. Saat bisa melakukan hal-hal kecil untuk si kecil.
Waktu terus berlalu hingga kebersamaan Hans harus direnggut oleh tingkah mama. Mama memang paling mendambakan kehadiran cucu dirumahnya, sama halnya dengan papa sering kali dua orang itu mengambil Nara dan menguasai Nara.
“Pa kunci pintunya.” Mama memberi perintah.
“Iya mah.” Papa menyahut semangat.
Mereka mengurung diri di dalam kamar menguasai Putri seorang Hans Prasetyo dan Angel Rasinta.
“Mah buka pintu! balikin putrinya Hans. Astaga baru kali ini aku tidak bisa melaporkan seorang penculik Anak.” Hans mendesah kesal sekali. Tadi ia baru saja habis dari kamar mandi, teryanta putrinya sudah dibikin oleh mama. Bahkan dua orang yang sekarang menyandang gelar Opa dan Oma itu malah mengunci pintu, niat sekali ingin menculik putrinya.
“Mama pinjem Nara, udah kamu sana aja. Mama gak bakalan buka pintu, sebelum puas main sama cucu mama.” Teriak dari dalam.
“Aduh cucu nenek mau mainan apa? cup cup cup gemasnya, Cucu nenek...”
Tawa malaikat kecil membuat mama gemas. Gigi Nara bahkan belum tumbuh, namun suara bayi itu begitu membuat mama tidak bisa lepas.
“Dasar, Hans juga mau main sama putri Hans!” Kesal sekali.
Ketika itu juga pikiran spontan bersarang di otak Hans. Ia melihat istrinya yang baru saja masuk ke kamar. Tanpa banyak kata ia langsung mengunci pintu kamar hingga membuat Angel terkejut.
“Hmpp...Sayang kenapa sih.” Angel berusaha memajukan wajahnya Hans dari bibirnya. Lagi-lagi Hans menyerang bibir Angel tanpa ampun. Hingga Angel begitu kewalahan. Angel tidak sadar ia sudah direbahkan di ranjang.
“Hei kenapa kau bersikap begini?” Berusaha menjauhkan tubuh Hans.
Mata mereka saling terkunci.
“Kita buat adik lagi buat Nara, sayang. Supaya gak rebutan sama mama.” Sontak saja ucapan Hans yang terbilang santai sepeti mau membeli Donat itu, membuat mata Angel membulat seketika.
“Ha? Tapi dia baru satu tahun, sayang. Nanti lagi, kalau kamu kerepotan bagaimana?” Angel tampak protes.
“Jangan gila donk, ini saja baru lepas 3 bulan masa mau buat adiknya lagi.”
“Tapi aku mau dapat anak lagi, kali ini mau ya yang mirip sama aku laki-laki. Sudah ada Nara sekarang harus ada adik laki-laki yang seperti kakak untuknya. Tenang saja tidak akan merepotkan, malah menyemarakan.” Lalu lesatan dan percintaan panas terjadi. Saat itu Angel harus digempur habis-habisan. Semuanya terulang lagi heboh ! Heboh...heboh ...dan heboh...karena Angel hamil dan harus diperhatikan...pelayan rumah sudah bersiap mengingat kembali hapalan mereka. Pak Yanto pun tak luput dari itu...
Angel hamil lagi!!
***
6 Tahun Kemudian.
Seorang gadis kecil tampak begitu menggemaskan. Ia sedang berjongkok dengan satu tangan yang memegang sebuah pengikat berwarna pink, yang terhubung dengan sekor kelinci.
Pipinya gembul menggemaskan, gaun yang dikenakan terlihat mengkar. Bibirnya saat ini menekuk sebal.
__ADS_1
“Kelinci ayo gerak.” Ia cemberut karena kelincinya begitu malas bergerak.
Ditariknya lagi dengan paksa.“Ayo ikut jalan. Ini makan-makan.” Menyodorkan wortel yang ada ditangannya.
“Hish kenapa kau tidak mau bergerak, ini makan wortel ada di depanmu.” Sodor lagi. Si kelinci berbaring di rerumputan.
“Aku jadi ragu yang di depanmu itu seekor kelinci.” Komentar sebuah suara, yang berasal dari belakang si gadis kecil itu.
Langsung saja si gadis kecil itu berbalik, matanya melotot kesal ketika melihat yang bicara. Itu adiknya, Kenan Prasetyo. Adik laki-laki nya yang paling mengesalkan. Mengesalkan karena bicaranya begitu fasih. Mengesalkan karena kecerdasannya sudah mulai terlihat. Bahkan sering kali adu otak dengan Daddy Hans nya.
“Ini kelinci!” Gadis kecil imut itu tidak lain adalah Nara.
“Mana ada kelinci segemuk itu, dia obesitas makanya tidak mau menuruti ucapannmu. Makanya jadi malas bergerak.” Ya kelinci itu begitu gemuk dengan bulu yang begitu tebal. Bahkan berjalan saja kelinci itu sulit karena dulu begitu serakah saat Nara terus memberinya makan, ia makan makan dan makan tanpa henti...bayangkan saja dulu hanya ralat perjam kelincinya harus diberi makan..pantas saja sampai segemuk dan sebesar ini.
“Mana ada kelinciku obesitas!” Wajah garangnya mana terlihat malah semakin imut ketika bola matanya membulat.
Wanita paruh baya tiba-tiba datang. “Kenapa ini sayang? Ken, tapi nenek suruh apa ? Panggil Nara kan bukannya bertengkar.” Itu Ibu, beliau mendekat. Sekali dengan suara lembutnya.
Nara langsung memasang Wajah cemberut, Ken memutar bola mata. Putra Hans Prasetyo itu begitu tampan. Dengan balutan jas yang merupakan hasil dari disainer terkenal, pas ditubuh, dengan kulit putih dan rambut klimis.
“Mana ada Ken berkelahi, nek.” Terang Ken dengan santai, wah ini memang duplikat dari seorang Hans Prasetyo.
Ibu tampak mengelap nafas, dua Kakak beradik itu tidak akur.
“Bagus Ken pinter. Nanti jangan ngusilin adik kamu lagi ya ken. Nara kita ke sana ya sayang.” Eh ada yang salah disini.
“Aku kakak disini nek!” Suara nyaring Nara melengking menggemaskan. Astaga ibu sampai lupa karena dilihat dari manapun, Nara terlalu imut untuk menjadi kakak.
Ken tertawa lepas. “Aduh iya sayang, nenek lupa sudah sini gendong.” Masih cemberut namun langsung melingkarkan tangan mungilnya di leher Neneknya.
“Jagakan kelinciku.” Teriaknya pada Ken yang termenung. Tenyata kelinci yang dulunya hanya memenuhi keinginan Angel, sekarang berlalih tangan pada di pemiliknya, Nara gadis kecil menggemakan.
Ken bukannya mengikuti kemauan kakaknya yang memang super manja malah berjalan menuju Daddy dan mommy nya berada.
Dari sini sudah terlihat halaman belakang rumah keluarga Prasetyo begitu ramai. Saat ini mereka sedang merayakan ulang tahun seorang Hans yang sudah berumur 36 tahun.
Semuanya berkumpul dan sibuk. Tampak Hana sangat cantik dalam balutan dress berwarna pink cerah dengan paduan ikat pinggang berwarna putih kecil. Disisnya ada Bram yang setia menemani. Perut Hana tak lagi datar karena sudah berisi. Saat itu Bram begitu memperjuangkan Hana, hingga mereka baru bisa menikah.
“Sayang, jangan banyak gerak, duduk disini.” Bram meraih tangan wanitanya itu.
Hana lagi-lagi berdecak.“Aku mau makan kue.”
“Duduk saja disini biar aku yang ambil.” Dua sejoli itu sudah terikat dalam janji suci pernikahan tepatnya 4 tahun yang lalu.
Sementara itu disini lain seorang suami yang sudah tergeser posisinya berusaha menarik perhatian sang istri
“Aduh sayang mommy baru dateng, duduk sini.” Meraih Ken dalam pelukan lalu mendudukanya. Angel dengan kasih sayang mencium Ken, Nara dengan Neneknya di sana sibuk.
“Angel, aku juga mau diperhatikan. Ken bisa sendiri, jangan dimanjakan.” Rengek Hans.
“Apa sih sayang, sudah sana.” Angel mengusir. Mata Hans melotot kesal melihat seringai kecil di wajah Putra kecilnya yang memiliki kecerdasan tinggi. Bayangkan saja kemarin malam dia dan Ken, beradu argumen memakai bahasa Inggris.
Karena seringnya Hans memutar movie anak kecil dari barat Ken menjadi paham. Hal itu begitu mengejutkan hingga Ken mendapatkan kasih sayang berlebih dari Angelnya. Juga binar kekaguman.
Saat itu ia ingat sekali, mulai seperti anak kecil yang juga berusaha ingin dipuji menunjukkan bakatnya bisa menguasai tujuh bahasa negara lain.
“Kenapa kau tidak menciumiku. Aku kan juga bisa berbahasa Inggris, spanyol, Italia, China, Jepang, Prancis,...” Wajah Hans cemberut saat itu.
Angel tergelak paham dengan sifat Hans.“Ya kamu tidak perlu dipuji juga kan, semua sudah mengakui kecerdasasnmu.” Jawab Angel saat itu. Saat itulah Hans merasa tersaingi dengan Kenan Prasetyo putranya.
“Cih anak itu sunguuh menurunku, bahkan dia sudah begitu cerdas.”
“Tapi aku tidak mau mereka yang mengakui, aku mau ya itu darimu!” Cemberut. Jika begini mana ada pria tampan yang terkesan dingin. jika dihadapan Angel selalu bersikap manja.
“Iya, Sayangku cerdas sekali, sini kasih ciuman.” Ciuman bertubi saat itu baru menggusur wajah cemberut Hans.
Kembali sekarang Hans melesatkan kerutan yang semakin dalam.
“Mom, Ken mau jusnya.” Ken mulai mode mengesalkan.
__ADS_1
“Anak ini kenapa selalu saja menarik perhatian istriku. Eh walaupun begitu Angel kan juga mommy nya...hah kalau tau begini aku akan menunda punya anak...sekarang perhatian Angel malah tertuju pada mereka.” Hans mendesah kesal.
“Sayang kenapa makannya belepotan.” Mengambil tisu dan menyeka coklat yang tampak bertengger di sudut bibir istrinya.
“Makasih sayang.” Senyum manis ini selalu tidak pudar sepanjang masa.
“Mommy, Ken mau minta tisunya” Angel kembali menarik perhatian dengan putranya, hingga sang suami diabaikan.
“Sayang.”
“Mommy”
“Sayang.”
“Mommy.”
Angel pusing, dua laki-laki yang menepati rumah dihatinya itu tidak berhenti meminta perhatiannya.
Dina dan Vina terus merasa gemas dengan gadis kecil di depan mereka.
“Imutnya, cantik banget...Uluh uluh.” Dina mencubit pipi Nara dengan gemas.
“Ih jangan cubit-cubit.” Elak Nara dengan suara dan ekpesi cemberutnya.
Vina dan Dina tergelak. Semakin ingin berlama-lama bersama Nara. Mereka jadi main kejar-kejaran. Dina sudah berlapang dada melihat makhluk ciptaan Tuhan itu bersanding dengan Hana yang ternyata adik dari Hans Prasetyo. Mungkin benar katanya waktu itu, jodohnya masih dalam perjalanan.
Semua berkumpul ketika menuju detik potong kue.
Wajah Angel begitu berseri saat potongan pertama disodorkan padanya.
“Untuk istriku, ibu dari anak-anakku.” Kali Hans baru bisa menyematkan sebutan ini untuk sang istri.
Angel mengambil satu suapan yang diberikan, lalu kecupan di bibir di berikan Hans. Nara cekikikan di bawah, suara tawa renyah Nara begitu menular ke semua sisi.
“Nara malu.” Ucapnya dengan polos.
“Malu tapi diliatin sampe ketawa gitu seneng malah kayaknya.” Goda Mama Rina.
Gadis kecil itu malah hanya tertawa menanggapi.
Rasanya semua mulai menjemput kebahagiaan. Angel dan Hans bahagia karena telah dikaruniai dua orang anak.
Mama, papa, ibu, dan ayah. Bahagia karena memiliki cucu yang sangat menggemaskan. Juna bahagia dengan kampusnya.
Lalu Hana bahagia bersama Bram, karena sebentar lagi menunggu kelahiran anak mereka.
Daren masih perlu menjemput kebahagiaannya.
Vina dan Dina bahagia dengan kebersamaan mereka.
Suatu hari nanti semua orang akan menjemput kebahagiaan mereka masing-masing. Entah bagaimana bentuknya kebahagiaan itu.
Bagi Hans Kebahagiaan yang sempurna itu adalah saat tawa di dalam keluarganya terdengar. Jika suatu saat tangis yang terus terdengar maka mungkin saat itu satu persatu diantara mereka mulai menghilang. Yang berarti ajal telah menjemput, hingga tawa mereka tak lagi bisa terdengar.
Tidak bisa ditemui...
Saat inilah Kebahagian Yang sempurna itu...
Saat ini, detik ini pula...
Semua mata yang disana menuju pada satu titik, senyum Hans begitu mencerahkan, Angel begitu menggoda. Semua mata tertuju pada satu titik yaitu para pembaca tulisan ini.
Serempak mulut mereka bicara.“Terima kasih sudah menyaksikan kisah kami. Sampai jumpa di season selanjutnya. ” Gemuruh tawa memenuhi pendengaran. Lambaian tangan mereka berikan.
“Ingat Jangan Lupa Vote besar-besaran. Kalau masih ingin melihat pria dengan berjuta pesona ini tampil.”Kedipan diberikan. Dasar kenarsisan Hans Prasetyo memang tidak bisa pudar. Masih saja, menggunakan kenarsisannya di saat menuju penghujung. Cubitan gemas Angel Lesatkan ke pinggang Hans.
End.
Sampai jumpa di season selanjutnya 🙏🏻
__ADS_1