
Setelah aksi mengendong tergesa dan tarik urat leher karena menelpon Daren agar segera datang. Hans pun baru bisa menghampiri sang istri.
“Sayang apa perumu tidak nyaman? Mana yang sakit?” Bertanya dengan nada penuh kecemasan sembari mengecup permukaan tangan sang istri yang di usap lembut.
“Apa? Aku baik-baik saja sayang, tidak perlu memanggil dokter hanya karena aku tidak memakan puding.” Menyahuti dengan mata melirik ke sekitar. Pasalnya mama juga ada Hana dan...Papa.
“Lagipula memangnya ada orang sepertimu yang memanggil dokter hanya karena istrinya tidak makan puding.”
“Apanya yang baik-baik saja! Ini aneh dan patut dipertanyakan, pasti ada sesuatu sudah tunggu saja dan diam. Jangan terus berkata tidak perlu memanggil dokter.” Sudah berucap dengan nada tegas.
“Apa kakak tidak terlalu berlebihan?” Hana berkomentar. Hal itu ditanggapi dengan tatapan tajam dari Hans dan Mama.
“Auuu, kenapa mama memukulku!” Menjerit dan berpaling menatap arah sumber, pukulan dikepala yang tidak lain adalah Mama.
“Makanya jangan banyak bicara, Angel tidak memakan puding patut dipertanyakan. Mama tau betul Menantu mama sangat menyukai puding. Bahkan jatah mama sering menantu yang menghabiskan.” Ucapan serius itu membuat bola mata Angel membulat, seiring dengan rasa malu.
“Iya jatahku juga, ” Sahut Hans lekas. Angel sungguh merasa malu. Astaga ternyata dia sebegitu sukanya dengan puding sampai milik Mama Rina dan Hans dia yang menghabiskan.
“Hah, maaf ma aku terlalu suka puding. Tapi aku kan menawarkan diri untuk menghabiskan bagian mama, bukan menghabiskan tanpa bertanya.” Membela diri dari rasa malu di dalam hati.
“Kamu juga kenapa ikut-ikutan padahal kan kamu selalu menyerahakan bagianmu dengan sukarela, aku bahkan tidak meminta.” Tentu saja Angel, biarpun kamu tidak meminta pasti Hans akan memberikan.
“Pah jangan tidur! Ini lagi genting!” Bentak mama pada papa yang bersandar pada pintu. Mata papa terbuka lebar.
“Iya Ma.” Sahut lekas papa. Rupanya papa masih terkantuk-kantuk.
“Daren juga kenapa lama sekali? Bagaimana jika kamu benar-benar sakit sayang.” Masih biavra dengan nada gusar.
Tak selang beberapa lama Daren datang dengan raut wajah kusut.
“Siapa yang sakit?” Langsung bertanya.
“Istriku! Cepat periksa, dia tidak memakan puding padahal dia begitu menyukai puding.”
Doeng, segera membeku, apa yang berusaha dia dengar bukannya mmebuat jiwa kedokterannnya bangun malah merasa aneh.
Dokter Daren kemudian melirik ke setiap mata diruangan, raut wajah menunjukan keseriusan seperti minta, segera periksa wanita yang sedang bersandar di kasur itu.
“Apa jadi benar-benar karena tidak makan puding. Astaga...Aku datang tergesa sudah seperti orang kesetanan tadi. Kenapa sampai bilang menyangkut nyawa. Huff...Aku memang harus banyak bersabar.”
“Iya dokter saya paham arti raut wajah Anda itu. Saya juga tidak mau memanggil dokter. Tapi dokter tau sendiri kan tabiat laki-laki disamping saya ini.” Melirik pada Hans yang masih setia memasang raut wajah cemas.
“Periksa dengan teliti Daren, Tante takut menantu Tante ada masalah, betah itu pencernaan atau apa lah.” Cerocos mama.
“Iya akan saya periksa tante.” Berucap permisi dan mendekat.
“Kenapa kau mengikis jarak, jangan terlalu dekat.” Masih memasang benteng pertahanan, bagaimanpun Daren terkenal playboy.
“Hah, kalau kamu bersikap begini kapan selesainya.”
__ADS_1
“Baiklah, aku akan bertanya dari sini saja.” Mengalah karena ingin cepat-cepat.
“ Kenapa Anda tidak memakan puding?”
“Entahlah dokter, saya mungkin lupa tadi.” Menjawab lekas dengan ekspresi polosnya.
“Lalu apa Anda merasa tidak nyaman? Dibagian tertentu, atau ada keluhan dengan diri Anda?” Berntaya lagi masih dnagan jarak jauh bahkan Mama, Hana dan papa masih lebih dekat dari pada posisinya.
“Tidak dokter, saya merasa nyaman dengan diri saya sekarang.” Menyahuti sesuai fakta.
Dengan peratanyaan lain, yang dipaksakan karena sorot mata tajam dari Hans. Semuanya selesai, dengan kesimpulan. Mungkin hanya karena nafsu makan Angel yang sedikit menurun selebihnya tidak ada masalah. Tetap saja hal itu menjadi masalah bagi Hans. Ia meminta bagai resep obat yang terbaik untuk memulihkan nafsu makan sang istri.
Daren pulang, tenyata laki-laki itu memakai sarung saat pergi ke kediaman keluarga Prasetyo, Bukti dari ketergesaannya.
“Astaga! Aku masih memakai sarung!!”
***
Matahari sudah sejak tadi meninggalkan peraduannya. Pakaian yang dijemur tampak berkibar bebas, karena Sepoi Angin. Hans sudah berangkat ke kantor, meninggalkan sang istri yang masih terlelap dalam tidur cantiknya.
“Bram, kau urus pengajuan magang adikku. Letakan dia dibawah bimbingan sekertaris Naura.” Data diri si bungsu sudah berada di tangan Bram.
“Baik pak.” Lekas menjawab. Wah Bram harus bisa banyak-banyak bersabar nantinya. Saat bulan madu Hans dan Angel kemarin, Dia dibuat kesusahan dengan Hana entah bagaimana dia harus menghadapi Dua Kakak beradik yang membuatnya kesusahan ini.
Brak!!
Suara pintu yang dibuka keras juga sambutan tangis begitu membuat mereka terkejut. Yang lebih terkejut lagi Hans. Kursi yang didudukinya bahkan jatuh, bukti ketergasaan bangun dari duduknya.
“Sayang, kenapa menangis?” Langsung memeluk sang istri. Angel datang dengan derai air mata.
“Hiks...Hiks...Kamu jahat! Kenapa pergi ke kantor tidak pamit! Hiks aku mencarimu...hiks...” Menangis tergugu, Hans masih dalam keadaan terkejut, usapan agar cairan bening tadi segera mengering tak berhenti.
“Sayang, maaf-maaf aku salah. Jangan menangis seperti ini.” Memeluk dengan usapan lembut, Angel juga balas memeluk erat.
“Suami jahat, seharunya pamit tadi. Hiks...” Masih saja menangis.
“Iya sayang, iya maaf.”
“Apa ini? Sejak kapan sek- eh tidak nyonya Angel menjadi cengeng begini.” Bram membatin heran.
“Hiks...Meskipun begitu seharusnya tetap membangunkanku! Aku mencarimu kemana-mana tadi! Hiks... Jahat kamu jahat.”
“Sutt, sudah sayang sudah. Aku tadi tidak tega membangunkan kamu, kamu terlihat lelah.” Berusaha memberikan pengertian kepada sang istri. Masih tersirat rasa heran besar. Kenapa Angelnya begini?! tidak biasanya Angelnya begini.
“Maaf pak, Anda harus segera menghadiri rapat sekarang.” Naura datang di sela kehebohan tangis Angel. Langsung saja Angel memeluk erat Hans lagi. Dengan cebikan bibir yang semakin menjadi.
“Apa tidak bisa ditunda?” Tanya lekas.
“Sepertinya tidak pak.” Sahut lekas, tadi melirik ke arah Bram yang ditanggapi gelengan keras.
__ADS_1
“Baiklah.” Hap tubuh sang istri dibuat melingkar, bagian kaki dan tangan melingkar sempurna.“ Kalian bawa semua keperluan, aku harus membawa istriku.” Berlalu, Angel tidak mau melapaskan diri dan malah semakin lengket.
“Ha? Anda akan membawa nyonya ke rapat pak?” Memastikan, Bukan hanya Hans yang melotot Angel pun melotot ke arah Bram!
“Iya memangnya kenapa?” Menyorot tajam.
“Eh itu, apa tidak se-sebaiknya...”
“Sebaiknya kau diam saja Bram! ” Langsung benar-benar tutup mulut. Naura dibuat menahan tawa melihat raut wajah pucat Bram.
***
Datangnya Hans dengan seorang istri, menjadikan ruangan ribut seketika.
“Mohon pengertiannya, istri saya sedang merajuk sekarang. ” Berkata dengan datar, tak menyembunyikan fakta.
“Lalu bagaimana perkembangannya?” Bertanya tegas, mengenai pasal rapat.
Namun wajah datarnya seketika melembut ketika mendengar suara lembut sang istri.
“Mau makan, burger.” Berbisik di telinga Hans, masih dengan posisi yang sama namun kali ini duduk. Akibat dua orang itu, fokus dari rapat menjadi buyar. Berganti dengan mata yang tidak ingin lepas menangkap moment, dua pasangan, super menghebohkan ini.
“Iya nanti dibelikan ya.” Mencium rambut Angel.
“Bukan yang dibeli tapi kamu yang buat! Aku mau suamiku yang membuatnya!” Nadanya naik, dengan menangkup kedua pipi Hans. Ekpresi merajuk super imut.
“Duh lucunya rasanya aku ingin menerkamnya saat ini juga, bersyukurlah karena disini banyak orang sayang.”
“Baiklah, baiklah. ” Angel lekas tersenyum senang.
“Mau yang banyak kejunya,” Meriques lagi, dengan memainkan kancing baju Hans.
“Wah tenyata istrinya pak Hans manja sekali ya. Tapi meskipun begitu terlihat lucu. Benar-benar kehadiran beliau, membuat raut wajah pak Hans sungguh berbeda. Biasanya hanya memasang wajah dan suara datar sekarang terlihat begitu lembut.” Batin Naura.
“Nyonya benar-benar, berbeda sekali. Apa sekarang mereka sudah saling membucin. Biasanya pak Hans yang bersikap manja dan nyonya yang menjadi pihak yang pasrah...Tapi sekarang...” Bram dibuat terheran besar.
Bukan hanya Bram yang heran bahkan snah suami pun heran.
“Kenapa istriku jadi banyak maunya begini, aneh sekali. Malam tadi tidak makan puding yang selalu menjadi makanan wajibnya, sekarang bukan meminta dibuatkan puding, tapi malah meminta burger. Lalu tadi datang dengan menangis tersedu, padahal baru ditinggal sebentar.” Sungguh Aneh pikirnya. Namun senyum menggemakan dan tatoan mata kerlingan Angel saat meminta dibuatkan burger membuat pikiran Hans kosong seketika.
“Iya sayang, baiklah apa pun yang kamu minta.” Sahutnya lalu membenamkan lagi wajah Angel pada dadanya. Melirik tajam pada mata yang terus terarah kepadanya. Seperti bicara fokus, kenapa kalian melihat istriku!
Rapat berlangsung lama, yang menunggu lelah dan tertidur.
.
.
Happy reading
__ADS_1
~Tyatyut