
Ada hal yang membuat Ken serasa kelimpungan. Jantungnya serasa dibuat berpacu cepat, gerak matanya terlihat gelisah. Keningnya dibasahi oleh keringat.
Ayana...
Gadis itu...
Tiba-tiba saja Ken mendapat pesan masuk yang berisikan nominal uang. Lebih kagetnya lagi pengirim itu adalah Ayana.
Ken tiba-tiba saja diliputi amarah.
Apa maksud gadis itu berbuat semana-mena.
[“Maaf sekali Tuan Kenan Prastyo, saya tidak bisa melanjutkan perjanjian. Saya mohon maaf. Saya sudah mengirim nominal uang ke rekening Anda.” ]
Pesan itu masuk tidak berselang dan pengirim tertanda Ayana. Bahasanya sangat formal sudah seperti awal mereka bertemu.
Manik mata Ken tiba-tiba saja melebar dengan sendirinya. Hantaman rasa tidak nyaman tiba-tiba menggerogoti.
Hatinya tidak suka! Dia tidak suka dengan tindakan Ayana! Ayana harus tetap ada di sisinya!
Namun Ken heran amarahnya bukan bersumber pada tujuan kerja sama yang berantakan. Tapi lebih berpusat pada Ayana. Ayana, membayangkan tidak akan bertemu Ayana membuatnya merasa kesal marah dan...takut.
Dia tidak bisa membuat Ayana terbebas begitu saja. Tidak hatinya sangat tidak rela. Kenapa gadis itu mengambil keputusan seperti itu.
Ken merasa hari ini tubuhnya lelah sekali. Kondisinya sangat tidak fit. Padahal tadi ingin beristirahat namun tidak bisa. Kepalanya pun serasa pusing sekarang.
Namun dia tetap memaksakan diri sekarang. Mengendarai mobil dan menggunakan kecepatan paling tinggi untuk segera mencapai perumahan milik Ayana.
“Setelah datang, tidak akan kubiarkan pergi begitu saja.” Ken bergumam.
***
Ayana gadis itu terlihat sedang termenung dalam ruko minimalis miliknya. Ruko yang ia gunakan untuk melaksanakan jasa kecil-kecilan miliknya. Ruko yang setidaknya menampung lebih dari lima karyawan.
Dia sebagai owner sudah berusaha semaksimal mungkin membuat progres yang baik dalam pekerjaannya.
Di tengah-tengah ruang yang biasa dijadikan tempat untuk menyeduh kopi Ayana berdiri menatap ke arah luar jendela kecil.
“Bu Aya.”
“Astaga!” Ayana mengelus dadanya.
“Aduh kamu ngagetin miraaa.” Ayana menggeleng kepala pelan. Tidak kesal, hanya terkejut saja.
“Maaf Bu, habisnya itu ngelamun aja dari tadi. Saya mau ngantri nyeduh kopinya bu.” Ucap Mira.
“Waduh, bilang dari tadi Mira.” Ayana jadi merasa tidak enak hati dengan karyawan paling mudanya itu.
“Nggak papa Bu. Nggak lama kok, baru aja saya ke sini tadi.” Uangkap Mira. Ayana tau gadis itu hanya ingin membuatnya merasa tidak bersalah.
“Bu Aya lama banget pasti ya disini.”
“Hah?”
“Itu kopinya udah dingin bu.” Ayana melihat yang ditunjuk Mira. Mengarah pada satu gelas kopi yang sudah tidak dikepuli oleh asap sama sekali.
“Ya tuhan, aduh. Ini karena lagi banyak pikiran makanya kacau.” Ayana tertawa dan menepuk jidatnya. Tawanya terdengar remeh seperti beban pikirannya itu remeh juga. Padahal tidak sama sekali.
“Kenapa Bu Aya banyak pikiran? Apa karena kerja sama bernilai besar itu gagal ya Bu?”
Mira dan lainnya sudah diberi tahu oleh Ayana. Bahwa pekerjaan yang bahkan membuat Ayana harus bepergian itu akhirnya berhenti.
Mungkin karena laki-laki yang ingin dicarikan jodoh itu kecewa dengan biro jodoh mereka. Itu hanya tebakan Mira. Karena Ayana tidak membahas secara rinci apa penyebabnya.
Ayana terdiam sejenak. Ayana sekarang jadi teringat mengenai keputusannya terhadap perjanjian dengan Ken. Banyak sekali pertimbangan yang dilakukannya. Hingga rasanya pemikirannya sudah sangat matang. Dan Ayana merasa melakukan putus kontrak dengan Ken adalah keputusan yang paling tepat.
“Nggak Mira, ini mungkin karena capek aja. Efek jet leg kayaknya.” Kilah Ayana.
__ADS_1
“Tapi...” Mira masih tidak percaya.
“Denger Mira, semuanya sudah dipertimbangkan. Kamu nggak usah cemas ya. Gimapun caranya biro jodoh ini akan tetap berjalan meski nggak dapet klien besar.”
Ayana yakin Tuhan sudah menentukan segalanya. Dan Ayana sebagai manusia hanya bisa berusaha yang terbaik. Nanti akan ada rezeki lain yang bisa di dapatkan.
“Suatu saat nanti moga aja ada tilyuner yang nyangkut ke sini minta cariin jodoh yaaa.” Ucap Ayana asal.
“Ya tuhan, moga ya Bu. Biar kita jadi milyuner.” Sahut Mira terdengar ceria.
Mereka tergelak.
“Nggak langsung jadi milyuner juga lah Mira. Kalo jadi milyuner bayaran jasa kita ini harus patok harga saham.”
“Becanda bu.”
“Sama becanda juga.” Balas Ayana.
Setidaknya berbicara dengan si muda ini jadi membuat suasana hati Ayana sedikit ceria. Setidaknya....
Pemikiran itu segera terhempas ketika secara keributan dari arah luar membuat mereka terkejut bukan main.
“Apa itu?”
“Ribut Bu, kayak barang jatoh.”
Mata mereka sama-sama melebar sebelum meneruskan melangkah segera. Keluar.
Dan ketika Ayana sudah keluar dia terkejut bukan main mendapati yang dia lihat sekarang.
“Apa-apaan ini! Apa yang kalian semua lakukan!” Ayana menatap garang pada dua sosok asing yang sekarang sedang terlihat mengobrak abrik ruko miliknya.
“Jangan menyentuh barang-barang milik saya. Kalau tidak akan saya laporkan pada pihak yang berwajib, karena sudah membuat kekacauan dan melakukan kerusakan properti.”
“Laporkan saja! Sebelum itu kamu yang akan kami laporkan!” Jawab si laki-laki dengan celana robek-robek dan juga kepala plontos.
Ayana bahkan tidak berniat sama sekali ingin bertanya siapa nama dua orang ini. Karena yang pasti dua orang ini datang dengan niat yang jahat.
Pak Gino terkejut ketika tiba-tiba dia orang itu datang dan berusaha mengusir mereka. Menyuruh mereka angkat kaki. Dia berusaha bertanya baik-baik. Tapi dua orang itu malah adu nyolot dan banting kursi.
Sementara Mira berlindung di belakang Ayana.
Riyan dan juga Shera datang berkumpul dibelakang Ayana.
“Kami datang ingin menyita ruko ini! Karena pak Bowo tidak bisa membayar hutang miliknya!”
Ayana membesarkan matanya. Mendengar nama Bowo. Bowo laki-laki itu. Laki-laki yang sering datang meminta uang padanya. Laki-laki yang seharunya memberikan nafkah padanya. Laki-laki yang dulu dianggapnya sebagai Ayah.
Sebelum kehancuran melanda keluarga mereka.
“Itu kan hutangnya kenapa Anda berdua malah ingin menyita ruko saya! Ini milik saya! Pak Bowo tidak punya hak sama sekali dengan ruko ini!” Ayana berteriak. Tidak... kenapa permasalahan rasanya datang bertubi-tubi.
Laki-laki dengan badan kekar dan kepala plontos itu tersenyum miring.
Satu surat diserahkan pada Ayana. Pak Gino menyambutnya masih memasang badan.
“Pak Bowo membawa surat dari ruko ini kepada kami, SEBAGAI JAMINAN. Perlu saya tekanan kan, JAMINAN! Dan sudah tertera diperjanjian itu, kalau-kalau dalam tempo yang ditentukan pak Bowo tidak bisa membayar sejumlah uang yang dipinjam maka kami bisa menyita ruko ini sebagai gantinya. ”
Ayana terkejut bukan main. Tangannya bergetar.
“Nah sudah paham bukan, karena itu kami akan menyita ruko ini sekarang.”
Tubuh Ayana rasanya melemas.
“Jangan! Jangan lakukan itu! Surat itu dicuri olehnya. Saya tidak pernah memberikannya! Tagih padanya! Jangan mengambil ruko ini...karena ruko ink milikku!” Ayana menghadang dua orang itu menggunakan tubuhnya. Dia tidak peduli meski tubuhnya yang kecil akan segera melayang jika dua orang itu sedikit saja mendorongnya.
“Benar-benar wanita ini membuat semuanya menjadi sulit.” Dia merenggangkan kepalanya. Hal itu membuat semua orang meneguk ludah kelu.
__ADS_1
“Suryo ayo buat mereka semua berkemas keluar. Karena mereka tidak mau cara lembut, maka kita gunakan cara kekerasan.”
Setelah itu..
Mereka menarik paksa semua orang. Mira menjerit karena ditarik dan dipaksa keluar. Pak Gino berusaha melakukan perjuangan.
Shera gadis tomboi itu mengambil kursi dan melemparkannya pada salah satu Debt Collector yang diketahui bernama Suryo.
“Apa kalian tidak paham hah! Berkas itu tidak sah! Karena pemiliknya bahkan tidak tau atas perjanjian itu!” Shera menggunakan bangku sebagai pelindung diri dan jika dua orang itu mendekat makan dia akan melayangkannya tanpa ragu. Ia harus membela Bu Aya.
Bu Aya sedang mengalami ketidakadilan sekarang.
“Jangan banyak bicara dan keluar saja.” Sahut laki-laki kawan si pelontos.
“Kalian yang seharsunya keluar dari sini!!” Shera kemudian benar-benar melempar kursi itu.
“Kau!” Shera melakukan perkelahian besar.
“Hei jangan berani sama cewek woy!” Riyan ikut menghajar si Suryo dua lawan satu terjadi.
Sementara Ayana di hadapkan dengan laki-laki berkepala plontos itu. Laki-laki berkepala plontos itu sudah terlihat geram dan sangat kesal.
Ayana merentang tangannya dengan berani menghalangi.
“Ayo kalian semua. Seharusnya kalian buat semua ini lebih mudah!” Si plontos terlihat marah.
“Buat lebih mudah apanya botak! Sialann! Ini ruko milik Bu Aya! Nggak bakal kami nyerah dengan mudahh...” Shera sempat adu argumentasi di tengah situasinya dia sedang memelintir tangan si debt Collector yang bernama Suryo itu.
“Akkhh, wanita gila tanganku akan patah sekarang! Lepas!” Suryo berusaha membuat tanganya lepas. Gila memang wanita ini sungguh kuat tenaganya.
Melihat temannya dalam kondisi yang kacau debt Collector itu semakin berang.
Ayana tidak siap ketika tubuhnya yang kecil dengan sekali sentakan terseret. Namun ia berusaha menahan diri dengan kakinya.
Ia memberontak dan menurunkan tubuhnya. Hingga terseret-seret.
“Jangan berani-beraninya mengambil dengan paksa Ruko ini. Ruko ini milikku. Berengsek!!! Lepaskan! Lepaskan akuu....keluar kalian! ” Ayana berusaha menyentak tangannya yang sudah serasa remuk karena ditarik.
“Sialan sekali wanita ini!” Si plontos tanpa terduga....
“Bu Aya!!” Semuanya menjerit ketika laki-laki itu tiba-tiba saja menarik rambut Ayana.
Ayana bisa merasakan tarikan kuat itu seakan membuat rambutnya akan tertarik putus. Begitu kuat dan membuat air matanya tiba-tiba saja merebak.
Mira menangis ketakutan. Pak Gino akan segera menerjang kepala plontos itu sebelum sebuah suara di tengah kericuhan mereka menggema dan terdengar bagai singa yang akan mengamuk!
“BERANI SEKALI KAU MENYENTUH RAMBUT CALON ISTRIKU!!!”
Suara itu menggema. Sosok itu datang secara tidak disangka-sangka ditengah kekacauan.
Dan semua orang menjerit ketika tubuh yang sudah pasti terlatih itu melakukan terjangan keras pada si depkoleptor yang menarik rambut Ayana.
“Akkhhh...” Sang Debt Collector menjerit kesakitan tangannya serasa mau patah karena diterjang dengan kuat. Sepatu fantofel itu mengenai tangannya dengan sangat keras!
Laki-laki itu...
Kenan Paratsyo...
Mata Ken membara, dia melayangkan tatapan marah. Dadanya bergemuruh. Tidak disangkanya ia akan melihat kekacauan ini. Ia segera menarik Ayana hingga masuk dalam dekapannya.
.
.
.
Ih Gimana-gimana ini?
__ADS_1
Ramein kolom komentar dan like ya yukkk
Gimana berdameg nggak itu si babang Ken? 😁