
Ken amat sangat terkejut ketika ajakan kencan itu dilontarkan oleh Ayana. Raut wajah Ayana bahkan terlihat tampak membaik, tak seredup hari-hari yang lalu.
Rasa lega membuncah dalam dadanya. Karena itu Ken segera menyambut ajakan Ayana dengan tangan terbuka lebar. Dan disinilah mereka berada. Di tengah keramaian lalu lalang orang di sebuah gedung bioskop.
“Memangnya kita akan menonton film apa di sini?” Sembari terus menggenggam tangan Ayana Ken bertanya dengan suara rendahnya.
Ayana mengangkat bahu.
“Tidak tau.” Dengan polosnya Ayana menjawab demikian.
“Tidak tau? Lalu kenapa kamu sangat bersemangat sekali ingin ke bioskop.” Menarik Ayana mendekat, karena tadi ada seorang lelaki asing yang hampir saja menyenggol Ayana. Kembali menyorotkan perhatian kepada Ayana.
“Memangnya harus film yang menjadi alasan aku bersemangat. Bagaimana kalau kubilang orang yang sedang menggenggam tanganku ini yang membuatku bersemangat.”
Mengangkat tangan mereka berdua, menunjukkan bahwa yang dimaksudnya ialah Ken.
Mata Ken melebar mendengar penuturan Ayana. Rona merah menjalar di pipinya. Detak-detak menggembirakan membuncah di dada.
“Ehem, kalau begitu itu alasannya aku tidak bisa protes.”
Malu-malu. Sungguh jarang sekali seorang Kenan Prasetyo bisa bersikap malu-malu begini. Oh tentu saja karena yang di hadapannya itu bukan sekedar gadis biasa. Ayana adalah sang kekasih yang begitu ia cintai. Tentu sikapnya bisa jungkir balik karena Ayana.
“Jadi apa kita bisa melanjutkan sesi kencan dengan nonton film?”
Jarak mereka sungguh dekat. Ken berdehem, kegugupan malah melandanya.
“Iya.”
“Nah kalau begitu aku akan pesan tiket, sementara kamu duduk saja dan menunggu.”
Ayana akan berlalu namun suara Ken yang setengah meneriaki membuatnya tersentak.
“Hei.”
Tangan Ken juga sudah memegang erat tangannya. Kedua alis lelaki itu menyatu.
“Ada apa Ken?” Melihat kondisi sekitar.
“Yang seharusnya duduk itu kamu Ayana. Aku yang seharusnya ke sana memesan tiket bukan dirimu. Kemari duduk dengan santai sekarang.”
“Eh tapi ini bukan hal tang sulit kok. Cuma pesan tiket saja.”
“Ck, tetap saja. Jangan buat aku marah. Duduk sekarang.”
Ayana mengalah dan menuruti Ken. Bukannya apa, dia itu tahu posisi Ken itu adalah sekarang tuan muda. Jadi mana mungkin tadi dia dengan seenak jidat menitah Ken agar memesan tiket.
Semakin Ayana mengenal Ken, rasanya semakin ia jatuh cinta pada lelaki itu. Senyum tipisnya mengembang. Melihat gerak gerik Ken yang menengok orang di depannya juga memasang telinga. Seakan sedang dalam posisi mencari informasi bagaimana cara memesan tiket film di bioskop.
Kening Ayana berkerut ketika melihat Ken tengah bercakap dengan seorang wanita yang berada di belakangnya. Mereka terlibat percakapan yang cukup singkat. Namun membuat Ayana mengepalkan tangan.
“Ahaha, iya tuan ini sangat populer sekali.”
Hei apa sih yang kalian bicarakan. Apaan wanita itu sampai-sampai tertawa keras. Kukira Ken bukan seorang yang suka melucu. Bahkan tidak pernah.
Cemberut seketika. Apa sih yang sampai membuat Ken harus bicara dengan wanita itu? Apa!
Mata menghunus tajam ke arah Ken. Dari jarak jauh Ken mengerutkan kening melihat mata membara Ayana.
“Apa dia marah aku terlalu lama?” gumam-gumam cemas. Kaki menghentak-hentak menjadi tidak sabar.
Ketika Ken selesai memesan tiket, dia melangkah selebar mungkin mendekati Ayana. Memasang senyum.
“Maaf ya sayang aku sedikit lama tadi. Toketnya sudah ada. Katanya ini film populer saat ini. Jadi aku memesannya.”
“Oh.”
__ADS_1
Mengerutkan kening, Ken menjadi terheran.
“Nah bagaimana kalau kita segera masuk ke dalam.”
Ajakan Ken disambut Ayana. Namun wanita yang sudah Ken tandai sebagai miliknya itu terlihat sedikit merengut. Membuat Ken kebingungan.
Mungkin dengan menonton film dia akan kembali ceria.
Dengan pemikiran itu Ken mengekori Ayana yang lebih dulu masuk ke dalam ruangan.
Dan satu setengah jam kemudian mereka sudah keluar dari ruangan. Tatapan Ayana telihat mendelik ke arahnya. Ken meneguk ludah. Dia salah! Dia telah salah memilih film yang mereka tonton.
Ken memilih film yang berjudul “The Conjuring” Hempaskan angan-angan romantisme, atau berpelukan dengan menikmati film. Yang ada Ayana ketakutan Sepajang menonton film berdurasi satu setengah jam yang bergenre horor itu. Bayangkan saja mereka menonton Film HOROR!
“Haha populer sekali ya Filmnya.” Mata galak Ayana menghunus Ken. Ken pun tidak tahu bahwa film yang dikatakan populer itu ternyata film horor. Kalau tau mana mungkin dia memilihnya.
Bisa dibayangkan setiap detiknya membuat jantung berpacu! Mana ada sesi kencan nyaman dengan bersandar sembari makan popcorn.
Ken berdeham.
“Haha sepertinya film horor sedang populer saat ini.” Tertawa dengan polosnya. Menarik Ayana lalu memeluknya. Secara mendadak malah memberikan sebuah ciuman di kening. Melihat wajah marah Ayana malah membuatnya gemas bukannya takut.
“Sudah jangan merengut begitu, kamu malah semakin telihat lucu.”
“Issh, Ken.” Sebal sekali rasanya Ayana. Namun Ken malah masih dengan santainya bersikap semaunya. Menggandeng Ayana dan —, meluluhkan kekesalan Ayana. Ya, mereka ternyata sama-sama lemah terhadap satu sama lain.
“Bagaimana kalau kita lanjut sesi kencan?” Tersenyum lembut Ken mengusap rambut Ayana. Persetujuan diberikan oleh gadis polos itu. Membawa sengat hangat di dada Ken.
***
Tepi Pantai
Dan di sinilah Ken dan Ayana berada. Menempuh perjalanan 30 menit dari lokasi kencan awal mereka. Katanya Ayana hanya ingin duduk di tepi pantai menikmati suara deburan ombak yang mengikis pasir di malam hari. Juga bintang-bintang yang bertabur di keremangan malam.
“Pakai ini.”
“Aku lebih mencemaskanmu sayang. Bagaimana kalau kamu masuk angin. Pakailah kamu kedinginan nanti.” Dengan sangat cepat Ken membungkus tubuh mungil Ayana dalam jas besar hangat miliknya. Tentu saja jas itu sangat besar bagi Ayana. Karena bahu Ken yang bidang dengan sepasang lengan yang panjang sangat tidak sebanding dengan tubuh kecil Ayana.
“Aku suka suasana. Lihatlah Ken bintangnya bersinar terang sekali. Indah sekali bukan?”
Suara riang juga binar-binar dari manik mata Ayana membuat dada Ken disengat oleh rasa hangat. Gadis ini indah, sangat indah dan menonjol ditengah temaram malam.
“Ya indah sekali.”
“Iya kan, ah aku tidak salah pilih tempat. Memang paling enak duduk di tepi pantai.”
Tertawa Ayana menyahuti Ken dengan sangat bersemangat. Tidak tahu bahwa yang Ken maksud itu adalah dia. Dia yang sangat indah.
“Apa kamu sering duduk di tepi pantai?” tanya Ken dengan memandang lekat Ayana. Mata mereka saling terkunci.
Senyum lembut Ayana berikan lalu kepala wanita itu menatap ke arah depan.
“Ya dulu aku sering sekali duduk di tepi pantai. Karena dulu aku bekerja di sini. Melayani para pasangan yang berkencan. Tepatnya dulu aku bekerja di restoran tepi pantai.” Ayana dengan sangat lembut menceritakan kisah masa lalunya. Manik matanya telihat redup sejenak tadi.
Hal itu Ken tangkap, membuat Ken segera mendekat dan menangkup kedua tangan Ayana.
“Aku baru tau itu.”
“Tidak apa-apa Ken. Ini bukan hal menyedihkan kok. Aku sudah terbiasa beralih-alih kerja. Ke sana ke sini. Bahkan aku juga pernah menjadi tukang cuci piring.”
“Tukang cuci piring? Dimana? Apa di restoran?” Ken menanggapi hal itu dengan keterkejutan luar biasa. Membayangkan jari mungil Ayana berkutat dengan tumpukan piring seharian, membuat dadanya terasa disengat ketidaksukaan.
Ayana tidak menunjukkan raut wajah murung, dia hanya tersenyum tipis dan membalas Ken.
“Hem, tepat sekali. Restoran yang sangat ramai pengunjungnya. Usiaku saat itu mungkin baru menginjak 16 tahun.” ia bercerita dengan nada ringan. Namun lagi-lagi Ken menanggapinya dengan keterkejutan. Mata lelaki itu membulat.
__ADS_1
“16 tahun? Bukannya seharusnya kamu tidak bekerja. Bukannya seharusnya pada usia itu kamu belajar. Mengapa kamu malah bekerja.”Suaranya gusar, telihat sekali dia tidak suka dengan situasi terdahulu di mana Ayana banting tulang di usia muda.
“Karena aku bukan termasuk anak beruntung Ken. Aku bekerja di usiaku yang muda. Lihatlah jari tanganku tidak pernah semulus para wanita kebayakan. Aku bahkan pernah diolok katanya tanganku seperti tangan pria tua.”
Ketika Ayana usai mengungkapkan ada yang bahkan mengoloknya. Seketika itu juga tangan Ken terkepal. Nada suaranya terdengar nyaring.
“SIAPA! Siapa yang berkata begitu. Kurang ajar sekali mulutnya. Beraninya menyakitimu dengan perkataan yang tak berbobot. Aku yakin dia pasti hanya anak manja yang suka mengadu kepada orang tuanya! Beraninya dia!”
“Ken, Ken, Ken. Tenanglah, itu dulu semuanya sudah berlalu.” Ayana menyentuh lengan Ken.
“Tapi perkataannya itu masih membekas di kepalamu sayang. Membuatmu menjadi rendah diri, kesal dan murung.”
Siapa pun orang itu Ken sangat-sangat ingin memukulnya hingga terpental. Atau membuat gigi-gigi orang itu patah. Saat Ken masih dengan amarahnya. Ayana memandangnya lekat. Matanya pelahan-lahan digenangi olah air mata. Dan akhirnya tangisnya pecah!
“Hiks...Hiksss...” Ia berusaha menutup wajahnya. Menyembunyikannya di celah lututnya yang ditekuk.
“Hei kenapa kamu menangis?” Ken serba salah. Suaranya melembut berusaha membuka tangan Ayana agar terbuka dan menghadapnya.
Ken berbeda. Ken mengguncang Ayana dengan responnya yang sangat menggebu-gebu.
“Hiks... Kenapa, kenapa kamu tidak merespon seperti kebayakan orang Ken. Biasanya mereka hanya akan bilang ‘Oh menyedihkan sekali. Oh pantas saja’ Tapi kamu...kamu malah marah karena ada orang yang berkata buruk padaku. Hiks...”
Ken menarik Ayana memeluknya. Dia juga berusaha menghapus jejak air mata di pipi Ayana. Namun tangis kecil masih diperlihatkan Ayana.
“Ayana, kamu pikir aku ini apa. Mana mungkin aku berhore ria ketika kamu menceritakan penderitaanmu. Bahkan jika bisa rasanya aku ingin berada di sampingmu saat itu. Menemanimu dan mendukungmu.”
Memandang lekat Ayana, lagi-lagi kelembutan dan nada kesungguhan Ken berikan. Untuk yang kesekian kalinya bukan pertama kali. Dengan manik mata penuh air mata, Ayana memandang lelaki itu.
“Tapi aku tidak punya apa-apa Ken. Aku tidak punya harta berharga. Aku tidak punya wajah yang cantik, atau...atau...” Dia benar-benar tidak punya hal yang bisa membuat dadanya membusung. Dia biasa saja. Bisa-bisanya Ken memandangnya dengan sangat spesial.
“Syut syuuut, Ayana dengarkan. Tolong dengarkan aku dengan baik tatap mataku.” Menangkup kedua pipi Ayana dengan tatapan sungguh, mata mereka saling terpaku.
“Tidak peduli betapa kamu tidak sempurna aku, menyukai. Amat sangaaaat... menyukaimu. Rasanya aku berduka ketika kamu mengalami masa terpuruk. Aku tidak suka melihat orang yang paling kusayangi dan cintai terpuruk. Aku tidak tahu caranya membuatmu bangkit dan kembali berdiri ceria. Karena itu rasanya aku mau gila.”
“Sayangku Ayana, aku akan menjadi orang yang selalu berada di sampingmu. Merangkulmu, memelukmu. Tak apa jika kamu tak sempurna, tak apa jika kamu ingin menangis. Ada aku. Ada rangkul untuk merengkuh, raga dan hati ini akan selalu ada untukmu.”
“Ken, aku juga menyukaimu. Sejak dulu sampai detik ini.” Ayana menghambur dan memeluk Ken. Tangisnya keras. Ken mengulas senyum. Direngkuhnya Ayana lebih erat. Lalu diberikannya ciuman di kening Ayana.
Ayana masih menangis.
“Jadi apa kamu masih ingin pergi sayang?”Pertanyaan Ken itu membuat Ayana menegang, tubuhnya membeku. Dia memundurkan tubuhnya dan memasang Ken. Jangan bilang, jangan bilang Ken tahu tentang rencanya yang ingin pergi dan menjauh?!
“Bagaimana bisa, bagimana bisa kamu tahu Ken? Aku sudah diam-diam melakukannya.”
Dengan ulasan senyum tipis, dan mata yang menyiratkan kekecewaan Ken menjawab Ayana.
“Aku tau, karena aku mengawasimu sayang. Tidak mungkin aku meninggalkanmu tanpa pengawasan. Aku tahu kamu menulis surat sembari menangis. Aku hanya sedang menahan diri. Aku sudah membacanya...bagaimana bisa...bagaimana bisa kamu menulis surat menyakitkan itu dan berniat pergi...”
Suara Ken yang terdengar menghiba memukul Ayana. Membuat jantungnya terasa diremas sakit.
“Ku pikir itu adalah yang terbaik untuk kita ken.”
“Tidak sayang, kamu akan membuatku gila jika kamu pergi tanpa kata begitu,” ujar Ken sungguh-sungguh.
“Jangan-jangan coba-coba pergi dariku.”
Sebuah ciuman dalam penuh rengkuhan erat, menemani nuansa malam itu.
Mereka terhubung oleh dua latar belakang berbeda. Berbeda dalam hal kasta. Namun kacamata perasaan menanggalkan perbedaan itu.
Mungkin akan ada banyak perbedaan di masa depan.
Bagaimanapun menyatukan dua pemikiran bukanlah hal yang mudah.
Akan ada problem dalam hubungan mereka.
__ADS_1
Namun mereka sama-sama sudah memantapkan hati, mereka akan menikah tahun Ini! Dan Ayana Humaira Akan menjadi istri dari Kenan Prasetyo.
TAMAT~