
Perawatan terbaik telah diberikan, baik kepada Hans maupun Bram. Dua laki-laki dengan pesona berbeda itu terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Bagian leher Bram sudah dipasang korset leher, agar patah tulang yang diderita bisa segera sembuh.
Ruangan Hans dan Bram bersebelahan.
Mama masih cemas dengan kondisi anaknya, walaupun dokter rumah sakit menjelaskan bahwa Hans sudah mendapatkan perawatan yang semestinya dan hanya memerlukan istirahat yang cukup, namun mama Rina belum bisa bernafas lega sebelum Hans benar-benar membuka mata.
“Gimana sih pah! Kamu belum berhasil bujuk Vero! Anak kita udah sampe begini kondisinya!, Mama gak mau tau pokoknya, papa harus berhasil.” Mama Bicara dengan nada kesal. Apa-apaan suaminya ini. Katanya akan membujuk Vero untuk menjalankan perusahaan sementara, supaya Hans bisa rehat. Sampai sekarang kata-kata itu Hanya terucap di bibir saja tidak ada buktinya. Puncak kekesalan mama Rina menjadi sekarang. Dia sudah menahan diri selama satu Minggu ini sekarang ia meluapkan emosi di jiwa.
“Sabar mah, Vero masih di luar negeri.”
“Gimana bisa sabar melihat kondisi anak udah kaya gini. Papa bisa lihat sendiri Menantu kita itu sangat berarti untuk Hans! Hans sering lembur supaya semua pekerjaan cepet beres dan bisa ketemu sama menantu! ” Mama bicara dengan mata berkilat marah dia berdiri dari posisi yang semua duduk di samping ranjang dan berkacak pinggang, menghunuskan tatapan kesal bercampur puncak amarah ke papa Fadli. Papa Fadli tidak bisa menjawab perkataan istrinya dia mundur selangkah takut diterkam kemarahan istrinya ini.
“Pokoknya Hans berhenti jadi CEO! Papa aja yang gantiin Hans!! Mama gak mau lagi kondisi Kesehatan Hans semakin memburuk karena beban pekerjaan!!” Sontak saja hal itu membuat mulut papa Fadli terbuka sempurna.
“Gak bisa dong mah, Papa udah pensiun. Papa lagi menikmati masa tua sekarang.” Papa bicara pelan, jika dia emosi maka sang istri akan semakin!! Emosi lagi. Begitulah ia menjalani rumah tangganya dengan mama Rina.
“Oh kalau begitu, Hans pensiun aja juga! Dia harus menikmati masa mudanya!” Astaga jawaban serangan dari sang istri membuat papa Fadli semakin terperangah.
“Ya gak bisa dong mah.”
Astaga dua orang ini beradu mulut tanpa peduli suster yang masuk dengan memeriksa kondisi Hans, Suster itu lekas berlalu karena merasa situasinya sungguh tidak nyaman.
“Bisa!!, udah semuanya pensiun aja! Uang Keluarga Prasetyo juga gak bakalan habis tujuh turunan! Kalau perusahaan bangkrut tinggal papa jadi penjual bakso aja! Pasti bakalan laku!” Wah pikiran mama semakin ngelantur karena terlalu emosi. Penjual bakso ?!!
“Pah, mah.”
Suara berat yang berasal dari rajang tadi membungkam mulut mama Rina yang mau mencerocos kembali. Anaknya yang terbaring lemah tadi, membuat mata dengan tangan yang memijit pelipis.
“Sayang!!”
“Nak.” Papa dan mama Segera mendekat ke arah Hans.
“Kamu sudah sadar sayang.” Mengelus pipi Hans dengan lembut.
“Apa ada yang tidak nyaman nak?” Papa mengeluarkan suaranya, tatapan tajam mama berikan ke papa Fadli.
__ADS_1
“Minum dulu sayang.” Mama menyerahkan satu gelas air minum ke depan Hans, sedangkan papa Fadli membantu membangun akan kondisi Hans.
“Sudah mah.” Ucap Hans.
“Udah baring aja lagi sayang. Kamu harus banyak istirahat kata dokter.” Terang mama. Hans menggelambir cepat dari tatapan matanya Papa dan mama sudah bisa menebak arah bicara Hans.
“Bram, bagaimana kondisinya mah,pah? Dia mengalami luka parah karena berada dibangku pengemudi?!! ” Bibir pucat Hans berucap dengan nada naik menandakan, sebuah emosi disana.
“Kamu tenang sayang, Bram sudah mendapatkan perawatan setelah melakukan operasi.” Ucap papa. Hans bisa menghembuskan sedikit nafas lega. Rasa bersalah menghantamnya, karena dia kondisi Bram jadi seperti ini. Jika saja dia tidak jatuh sakit mungkin Bram sudah pulang kerumah dan beristirahat nyaman, bukannya istirahat di rumah sakit.
“Pah, mah.”
“Iya sayang kenapa?” Tanya mama, melihat raut wajah serius Hans dengan kerutan dalam membuat Mama berspekulasi akan ada pembicaraan yang tidak baik.
“Kecelakan tadi malam bulan karena keteledoran Bram! Tapi memang DISENGAJA.”
“APA!! SIAPA YANG BERANI MELAKUKANNYA! ” Suara papa mengemas memenuhi ruangan, Hans tidak terbantahkan dengan nada papa yang penuh amarah malah membangkitkan rasa amarah juga di kepalanya. Sedangkan mama Rina langsung menggenggam tangan anaknya. Mata mama berkaca, memang benar kata orang wanita itu mengandalkan perasaan dalam segala hal.
“Huuu...pah, ini kenapa lagi? Kenapa ada yang mau berbuat jahat dengan anak kita. Sayang kamu tidak sedang bicara omong kosong kan…?” Mama Berusaha memastikan mendengar penjelasan Daren, ucapan Hans terdengar Tidak masuk akal karena Daren bilang Hans pingsan saat sebelum kecelakaan terjadi.
Ya benar Hans melihat hal mencurigakan saat kecelakaan. Sesaat sebelum kecelakaan kesadaran Hans mulai pulih, matanya masih berkabut dengan kepala yang masih terasa berat. Alangkah terkejutnya ia saat melihat sorot lampu mobil menghalau penglihatannya.
“Hati-hati Bram!!” Peringatannya tidak membuahkan hasil ternyata.
Seketika itu juga tubuhnya terguncang, mobilnya terbalik hingga kepalanya mendapatkan hantaman pusing kembali.
“Akhh...Shit!! Brengsek mana yang mengendarai mobil tidak pada jalurnya!”
Mata Hans berkilat amarah berusaha memfokuskan mata melihat kaca spion. Sebuah mobil berhenti tidak jauh dari posisi mereka sekarang. Yang pasti itu adalah mobil yang tadi telah salah memilih jalur.
Keningnya berkerut dalam dengan mata mengkilat amarah.
“Breng*ek!! Ternyata mobil itu memang berniat membuat Kita KECELAKAAN!! AKU TIDAK AKAN MELEPAKANMU SETELAH AKU SELAMAT DARI MOBIL INI!! Tunggu lah hasil dari kejahatanmu!” Amarah Hans memuncak saat mobil tadi berlalu tanpa berusaha menyelamatkan dirinya dan Bram.
Matanya kemudian beralih ke arah Bram.
__ADS_1
“Bram!! Sadar, Bram! ”
“Akhhhh...pak, saya tidak bisa bergerak kaki saya terjepit. ”
“Berusahalah untuk menggerakan tubuhmu!! kalau tidak kita akan MATI TERBAKAR DI DALAM MOBIL INI!!” Suara Hans menghantarkan gelenyar ketakutan ke diri Bram. Meskipun rasa sakit di area leher menghantam ia berusaha menggerakan diri.
“Akhhh...kepalaku sakit sekali.” Hans menjerit. Dua laki-laki itu saling berusaha mengeluarkan diri dari dalam mobil.
“Jangan menyerah Bram!! terus gerakan tubuhmu...hanya kita yang bisa menyelamatkan diri kita saat ini!!” Ucapan menggebu dengan nada tinggi Hans membuat mata Bram terpejam sejenak memupuk kekuatan. Sementara belakang mobil sudah mulai berasap.
Hans memaksakan diri untuk bergerak. Siluet sosok yang memiliki dari kaca mobil membuat secercah cahaya baginya. Kemungkinan mobil ini akan segera terbakar, hangus bersama tubuh dirinya dan Bram.
“Pak tolong bergeser!” Teriak orang dari luar.
***
Kilasan yang membangkitkan amarah Hans tadi, menjalar ke papa Fadli dan mama Rina.
Kedua orang tuanya langsung bersumpah serapah terhadap si pengendara mobil.
“Serahkan kepada papa, Hans! kamu fokus dengan pemulihan kamu!” Jika suara gelap memenuhi papa Fadli maka kesabaran laki-laki itu tandanya diambang batas.
“Tampaknya aku tidak perlu menempuh jalur hukum kali ini.” Senyum smirik tanda sisi iblis papa Fadli keluar, sesaat setelah dia menutup pintu ruangan Hans dirawat.
.
.
.
Sayangku semua mohon bersabar terhadap alurnya ya.🤧🤧...
Happy reading
Jangan lupa kasih like!! Komen! Sama Vote.
__ADS_1
~Tyatyut.