
Saat ini semua berkumpul di ruang makan. Segala macam jenis makanan sudah tersaji di meja. Begitu menggugah selera, sebab aroma makanan yang begitu menggiurkan.
Namun hal itu tidak dirasakan Hans sama sekali. Diamnya Angel membawa dampak pada ketidak inginannya melakukan apa pun. Termasuk makan saat ini ia melakukannya dengan sangat enggan. Matanya tidak lepas dari sang istri yang sekarang duduk persis di depannya di samping kanan Angel ada ayah Yoto, dan kiri ada Ken putra kecil mereka.
“Hans, kenapa tidak makan?” Suara ayah Yoto membuat Hans melebarkan matanya, segera ia bertatapan dengan Angel yang melihat ke arahnya. Tanpa senyum, hal itu membuat Hans merasa sakit.
Kenapa kau memandangku begitu sayang...
“Hans?” Ini kali kedua ayah memanggil sebab Hans tak menjawab.
Hans seperti orang linglung. “Hah? Iya kenapa Yah?” Benar, ia tidak bisa memproses pertanyaan ayah tadi karena perhatiannya teralihkan dengan sang istri yang terus mendiamkannya.
Sial! Aku ingin meraihmu dalam pelukanku saat ini juga!
Ayah Yoto melirik pada sang putri yang tadi sempat menghentikan makan, lalu kembali pada Hans.“Kenapa kamu tidak makan dengan benar, nak?” Ayah Yoto bersuara dengan lembut. Disini bukan hanya ayah yang menyadari ada perbedaan perilaku antara Angel dan Hans. Semua menyadari, namun itu bukan ranah mereka. Mereka tidak bisa ikut campur dan dengan santainya bicara jangan bertengkar. Mereka tidak bisa melakukan itu. Semua wajah disini sudah begitu dewasa dan paham betul, mereka bisa menasehati namun tidak bisa ikut campur.
“Oh, i-ini karena lagi mikir sesuatu yah.” Sahut Hans dengan sedikit ulasan senyum yang terlihat sekali begitu dipaksakan, matanya hanya tersorot ke arah Angel. Berharap ada hal yang bisa segera ia lakukan agar rasa sesak di dada segera menghilang.
Angel memilih memaksakan menyuap nasi ke dalam mulutnya. Ia tahu sang suami terus menyoroti dirinya, dirinya tidak abai sepenuhnya terhadap Hans. Ia terus melirik ke arah Hans sesekali, tanpa laki-laki itu sadari. Ia menahan diri agar tidak lemah. Ia selalu mengalah dan berkahir meminta maaf, agar tidak ada konfortasi yang terjadi. Namun sekarang ia ingin memberontak, ingin Hans yang berada pada posisinya. Ingin Hans memahami.
“Oma mau, itu.” Suara Nara kecil, menjadi pengalih sorotan mereka. Menunjuk pada salah satu sajian cumi tepung yang digoreng.
“Iya, sayang makannya banyak banget ya.” Mama mencubit gemas pipi sang cucu. Mereka sama-sama berdehem mulai penjahit makan. Tidak mau lagi terfokus ke arah pasangan Hans dan Angel.
***
Saat acara kumpul-kumpul Hans lagi-lagi dibuat merasa kesal, ketika Angel memilih berdekatan dengan sang ayah. Bersikap manja.
Bukan berkumpul utuh namun terbagi, di beberapa zona. Dan zona yang dipilih Hans adalah zona keberadaan sang istri yang sedang berpelukan dengan sang ayah.
Sekarang ia tidak bisa membuat Angel dalam kukungannya, sebab sang istri menghindar. Hans menghela nafas, jaraknya berada di sofa bagian kiri, sedangkan Angel dan ayah berada di bagian kanan masih ada sekitar 1 meter jarak yang mereka miliki.
“Yah, ini janggutnya kok banyak putihnya sih?” Angel bertanya dengan polosnya memeluk sang ayah. Sudah cukup selama ini ia menahan diri ketika memeluk sang ayah sebab Hans sering merasa cemburu. Sekarang ia sedang memberontak.
Ayah Yoto melirik Hans sekilas yang menampilkan ekspresi yang sungguh tak dapat terbaca. Lalu beralih lagi pada sang putri, yang sudah sangat-sangat dewasa, namun tetap ia pandang sebagai putri kecilnya.
“Kamu ini gimana sih nak, ayah kan sudah tua jadi wajar janggutnya sudah ada putihnya.” Sahut ayah dengan gelak tawa.
“Ck, Angel bahkan tidak sadar.” Mengelus dengan sayang janggut ayah.
“Ya, bagaimana kamu bisa sadar nak, kamu semenjak menikah kan sudah jarang sekali berinteraksi dengan ayah.” Ungkapan Ayah Yoto segera membuat Angel bungkam. Mata Hans membulat penuh, ia berusaha memahami situasi. Cukup membuat ia terdiam dalam dengan pikiran.
Angel memandangi Ayah dengan siratan sendu. Ini karena suaminya, Angel berkubang di dalam hidup Hans. Ia bahkan tidak sengaja membuat jarak antara dirinya dan ayah. Ya tanpa sengaja, sebab Angel sering tatap selaku berkunjung ke rumah ayah, namun setuhan fisik dibatasi, tidak ada sikap ia yang sering bermanja dengan ayahnya. Untung saja umur ayahnya masih panjang, jadi ia masih bisa menyadari perubahan sang Ayah yang sudah ia lewatkan.
__ADS_1
Matanya tiba-tiba dibuat berkaca, terlewat?
“Loh kok mau nangis gini?” Ayah segera menegakkan tubuh, memandang anaknya. Hans yang berada diujung ikut menengang, ingin segera meraih istrinya, namun ia sadar ini bukan waktu yang tepat. Berakhir dengan mencengkram pinggiran sofa dengan kuat.
Apa yang kulakukan selama ini? Batin Hans bertanya seperti orang bodoh.
Kumohon sayang, hentikan semuanya. Jangan menangis.
Angel mennggelang pelan dan menelusupakan wajahnya ke dada ayah, cinta pertamanya. Jika kata orang cinta pertama seorang anak perempuan ialah sang ayah, maka Angel termasuk salah satu golongan itu. Ayah Yoto cinta pertamanya. Sosok yang ia kagumi sangat kagum sekali.
“Angel cuma kangen, jarang-jarang bisa pelukan sama ayah kayak gini.” Ujarnya begitu sendu.“Maaf ya yah, kalau selama Angel menikah Angel jadi jarang berinteraksi dengan ayah.” Angel berucap serius.
Ayah Yoto menepuk punggung putrinya dan mengelus lembut rambut Angel.
“Tidak nak, jangan berlebihan begini. Selama kamu menikah ayah sangat sadar bahwa ayah tidak lagi bisa menjadi prioritas kamu, sebab kamu sudah memiliki suami dan anak, semua yang terjadi wajar nak.” Ayah berkata dengan begitu dewasanya. Ia juga sudah pernah dalam posisi Angel ketika dulu, ketika ia meraih istrinya lalu mulai memiliki keluarga dan menjadi kepala keluarga, waktu bersama orang tuanya tentu saja terasa menyempit.
Angel hanya berkaca-kaca tak sampai menangis. Ayah menggelitiknya. Angel hanya berharap semoga saja Hans paham, dalam nuansa keterdiamannya dan mulai membenahi diri.
Angel tiba-tiba berdiri, karena ayah sudah menyusul sang istri. Ia kemudian mendekati arah Nara dan Ken yang sedang bermain di sofa.
“Ken, Nara, ayo sudah waktunya tidur.” Angel merentang tangan.
“Tidur?” Nara kecil menghalang.
“Tapi Nara belum ngantuk mom.” Cemberut Nara.
“Mommy bacain dongeng mau? tentang Cinderella.” Tawar Angel.
“Mau mom mau.” Sang putri bergerak lincah kesenangan. Ken kemudian ikut mengekori mommynya.
Rasanya Hans tidak memiliki dunianya. Ia menatap kepergian Angel yang tepat didepannya tanpa meliriknya sama sekali tadi. Sungguh ini dianggap Hans sebagai hukuman terberat dalam hidupnya.
Angel sayang kenapa bersikap begini... aku tersiksa.
***
Angel berdiam cukup lama di kamar Nara dan Ken. Ia juga ikut berbaring hingga tertidur. Memang ada niatan dalam hati tidak ingin tidur sekamar dengan Hans. Sebab hatinya masih dalam masa pemberontakan. Entah pukul berapa Hans membuka pelan kamar yang dihuni oleh tiga sosok terpenting dalam hidupnya.
Berjalan dengan perlahan menuju ranjang, menemukan tiga sosok itu sudah tertidur dengan sangat nyenyak.
“Kalian sungguh tega sekali, aku dibuat sendirian sejak tadi.” Hans sampai pada sisi tepi ranjang melihat bagian punggung istrinya. Dadanya masih saja dihimpit oleh rasa sesak.
Mencium pelan dahi Nara sang putri lalu Ken putra cerdasnya.
__ADS_1
Hans lalu memandang lekat Angel. Sebelum kemudian menyelipkan tangannya di antara bahu dan tungkai Angel. Membawa dalam gendongan erat penuh kesungguhan.
Dirinya membawa Angel masuk ke dalam kamar mereka. Merebahkan dengan pelan, lalu ikut bergabung setelah menyelimuti diri bersama Angel.
Angel diatur mengahadap dirinya.
“Aku menyadarinya sayang.” Hans berucap pelan dengan satu tangan yang mengelus wajah Angel. Ada jeda ketika ia memilih kembali memandang dan melabuhkan sebuah ciuman di kening sang istri.
“Aku sadar dengan sikapku yang tidak wajar.” Dirinya mendesah. Semua yang dilihatnya saat di ruang tengah. Tepatnya interaksi Angel dan sang ayah mertua. Membawa dampak besar dalam dirinya. Ia salah dalam tindakannya selama ini. Ia seharusnya tidak sampai begitu posesif sampai-sampai takut jika saja Angel berdekatan dengan sosok lain dengan begitu kuat maka posisinya akan tergeser.
Ia salah selama ini, ia mendapat pukulan besar ketika melihat sang istri yang begitu jarang berlama-lama dengan sang ayah mertua. Ia merenggut kebersamaan ayah dan anak padahal dirinya sudah sangat menguasai Angel. Sikap yang diambilnya salah.
“Maaf aku tidak menggunakan kecerdasanku dalam menghadapimu.” Suaranya tampak bergetar ditengah malam yang sunyi.
“Aku sadar sayang, aku sadar sekarang.” Hans sedikit menitikkan air matanya.“Mulai sekarang aku akan menempatkan semuanya dengan rasional. Aku akan melakukan itu, aku tidak mau di diamkan begini. Ini begitu menyiksa.”
Diam yang menyiksa itulah yang dialami Hans. Semoga saja esok hari ia akan bisa mendapat senyum cerah ketika berhadapan dengan sang istri. Semoga...
.
.
.
Happy reading
Hayo ada yang mau mereka bagikan nggak ya? Atau panjangin aja galaunya 😂
Terima kasih yang mau nunggu novel ini
Jangan lupa baca squel novel ini yaitu tentang Mr. Bram nanti Bulan februari 🤗🤗🤗
Part 4 Sedikit saya revisi ya. Insiden gunting pita banyak yang gak nyambung katanya. Mungkin pikiranku juga kali ya yang terllau absurd. Ngebayangin gunting melayang terus dengan dramatisnya berputar lagu India terus runcingnya gunting ketancep dengan dramatis di bahu Angel. Untung adegannya nggak dibuat Angel langsung metongg, kalo nggak udah kelar ini cerita. Haha becanda absurd bangetttttttttttttttttttt ya...
Revisi dikit ganti adegan Angel salto...🤣
Eh nggak lah baca aja, kalo yang mau ya
Baca ulang yuk, sembari kasih tau typonya 😂
Lah baru ketemu ya sama author yang mangkal baca ulang buat periksa typo, seharusnya kan mengulang rasa...😂
__ADS_1