
~Kediaman Keluarga Prasetyo
Ken melangkah keluar dari dalam mobil yang ia tumpangi.
“Bawa koper milikku ke dalam lex.” Dia masih sempat merbi perintah pada Alex.
Wajah Ken terlihat lesu sekali. Penerbangan itu memakan waktu yang sangat lama sampai-sampai membuat tubuhnya terasa pegal. Mana lagi tidur pun terasa kurang cukup baginya. Matanya berkantung sekali.
Setelah mendarat ia mengantar Ayana pulang, gadis itu berlalu lekas. Hal itu membuat Ken kesal sekali. Moodnya terasa down.
Pikirannya di usik sekali.
Angel yang saat itu berada di dapur mendengar suara deru mobil begitu terheran. Siapa yang datang?
Putrinya Nara sudah pergi bekerja sedang Putranya sedang melakukan reuni. Dan lagi sang suami sedang melakukan pertemuan di kantor.
Ketika mendapati Ken yang masuk Angel merasa terheran-heran.
“Loh Ken, kok udah pulang? Katanya kalian akan 3 hari berada di sana? Kenapa udah pulang, nak?” Angel meninggalkan dapur masih menggunakan celemak mendekati putra kebanggaannya itu.
Ken berhenti melangkah dan menatap ke arah sang mommy. Dia masih belum menjawab ketika sang mommy lagi-lagi melontarkan tanya.
“Apa ada paparazi yang menyelinap di sana iya? Gitu? Makanya pulang cepet?”
Ken menggeleng lekas.
“Ada masalah dalam reuninya, Mom. Makanya kami memutuskan untuk pulang lebih awal. Kalau dilanjutkan juga suasananya sudah sangat tidak nyaman.” Jelas Ken singkat. Ia melepas jaket bermerek yang melekat ditubuhnya.
Penjelasan putranya itu masih terdengar sangat abu-abu bagi Angel.
“Lebih cepat lex.” Perintahnya sejenak lalu menoleh lagi pada sang mommy Angel yang sepertinya masih belum selesai bicara.
“Masalah apa sayang?” Nah kan, Ken tau sikap mommynya itu.
“Ada perempuan pengacau yang melempar bom waktu di sana. Semuanya kacau jadinya!” Kalau mengingat nama Silvia itu Ken merasa kekesalan yang membuncah. Hampir saja dia melakukan kekerasan pada perempuan itu. Untung saja Ken ingat sang mommy sebagai perempuan selalu di muliakan dan tidak di sakiti. Maka dari itu ia meredam rasa kesalnya karena mengingat sang mommy orang yang dia sayangi.
“Apa?! Boom?” Mata sang mommy melebar dengan sangat polos. Tanggapannya polos sekali.
“Astaga! bagaimana keadaan teman-teman kamu? Kamu nggak papa kan?”
__ADS_1
“Mom...Bukan begitu. Bukan bomm yang sebenarnya.”
“Kamu ini gimana sihhh...tadi bilangnya boom.” Angel menatap kesal pada punya itu. Tadi hampir saja dia jantungan mendengar penuturan Ken. Santai sekali pula ketika menyebut ada boom. Pantas saja Angel merasa heran.
Ken memijit pelipisnya. Dasar Mommy'nya ini. Apa tidak bisa ya bepikir kalau itu hanya sebuah anggapan saja.
“Pokoknya ada masalah mom, tapi akan segera diselesaikan. Aku duluan ya. Mau mandi, capek ini.”
Alex datang saat Ken selesai mengucapkan itu.
“Ck ya udah, eh eh...Kamu mau makan apa? Mommy bisa siapin sekarang. Alex juga mau makan nggak? ” Melihat jam juga baru mendekati pukul sepuluh pagi masih masa-masa untuk sarapan.
Nanti juga sekalian ingin menyiapkan makanan untuk sang suami.
“Aku udah makan mom, nggak perlu disiapin ya. Aku naik ke atas.” Ken mengulas senyum ke arah sang mommy lalu melanjutkan langkah melewati satu persatu anak tangga.
“Saya juga nyonya, tidak perlu.”
Alex membungkuk sungkan lalu berlalu.
“Oh iya kalau begitu.” Angel cemberut. Ya sudahlah kalau tidak mau.
Senyum Ken lenyap ketika menaiki anak tangga itu. Sorot matanya tampak dingin langkahnya lebar-lebar. Memasuki kamarnya yang di dominasi oleh warna gelap Ken segera membuka satu persatu kancing bagian atas bajunya.
Koper tadi sudah Alex bawa masuk ke dalam ruang ganti. Ia keluar dan menemukan sang tuan muda yang sudah bertelanjang dada dan bersedekap menatap pada luar jendela.
“Kau tau Lex kadang kala apa yang kita rencanakan tidak selalu sesuai dengan hasil.” Alex mendengarkan dalam diam dengan tangan yang berpangku ke depan dengan sopan.
“Dan mungkin perempuan itu bepikir rencananya akan berjalan mulus sekali. Sayangnya itu tidak terealisasi.” Alex tau rujukan pembicaraan ini pasti mengenai Silvia.
Ken berbalik menghadap Alex dengan wajah yang tampak dingin.
“Tiga puluh menit dari sekarang kau harus memberikan hasil tes minuman itu Lex. Lebih cepat hasilnya keluar, lebih cepat pula aku memberi pelajaran.”
Alex bisa menangkap raut wajah sang tuan kuda semakin dingin di setiap detiknya.
Sorot itu tentu bukan karena Alex menyebabnya. Kekesalan pada si Silvia itu lah penyebabnya.
“Baik tuan muda.” Alex pun berlalu.
__ADS_1
“Oh iya lex, kalau dia benar-benar terbukti memiliki niatan burukkk... Apaaaa... kita boleh menggunakan kekerasan ya?” Ken tergelak dengan senyum iblis. Alex bahkan meneguk salivanya kasar. Tampaknya terbukti atau pun tidak tuan mudanya itu akan memberikan pelajaran pada si pengacau.
Entah itu karena minuman...
atau karena sudah mempermalukan Ayana...
Alex tidak bisa menjawab dan segera berlalu. Dalam hati ia merasa kasihan dengan Silvia.
Berdoa saja wahai wanita pengacau, berdoa semoga tuan Ken bisa lebih bepikir Waras nantinya...
Karena sepertinya ia akan memunculkan perangai buruknya itu.
***
“Loh mau kemana lagi Ken?” Angel terheran mendapati sang putra yang sudah bersiap-siap ingin keluar lagi. Padahal baru saja sampai.
Ken menghampiri sang mommy dan mencium tangan mommynya itu.
“Ken ada urusan mom, ijin keluar ya.” Raut wajahnya tergesa.
“Oh, iya. Tapi pulangnya jangan malam-malam ya nak.” Pesan Angel.
Hal itu ditanggapi dengan kode oke oleh tangan Ken.
Apa lagi yang membuat anak itu tekeiht sibuk. Bukannya sibuk mencarikan mommynya menantu dia malah sibuk dengan lain hal. CK mana dia yang katanya sudah ada calon. Tidak ada buktinya. Angel kembali melanjutkan menyajikan makanan.
Hans baru saja pulang ingin makan siang bersama sang istri. Ia melihat putra nya Kenan Prastyo yang melangkah lebar dengan tergesa. Hampir melewati dia tanpa menyapa.
“Mau kemana kamu Ken?!” Suara Hans hampir membentak. Orang tua masih belum terlalu tua sudah ingin diabaikan. Hans paling tidak suka akan hal itu.
“Apa kamu tidak melihat ada Daddy di sini?” Hans merasa diabaikan oleh putranya itu. Sorot matanya tampak keras. Ken terhenyak, segera tersadar. Dia begitu diliputi amarah karena itu tidak bisa menyadari kehadiran sang papi.
“Maaf dad, aku hanya sedang terburu-buru.” Ken mendekati sang Daddy dan menormalkan raut wajahnya. Dia tau sang Daddy akan lebih marah lagi kalau dia lebih memilih melanjutkan langkah dan tidak berhenti.
“Jangan lupakan sopan santun kalau bertemu dengan orang tuamu, walau kamu dalam situasi segenting apa pun.” Tegas Hans.
“Iya dad.” Sahut Ken lemah.
“Sayang, katanya mau makan.” Angel pasang senyum lebar. Kalau Hans marah itu bisa pakai sumber beberapa kajian. Bisa-bisa putranya ditahan selama satu jam oleh Hans.
__ADS_1
“Sudah sana.” Hans mengusir anaknya itu.
Ken menurut dan menjauh. Tadi sudah tampak arogan dengan wajah tegang jadi memudar karena ada yang disegan.