
Kembali mengulang rutinitas yang sama. Bekerja dan bekerja. Angel melangkahkan kakinya, melayangkan senyum ramah ketika satu persatu orang yang menghormatinya menyapa .
Selalu saja wanita ini terlihat cantik. Hidung mancung, badan langsing tinggi tubuh yang sedang acapkali mendapatkan iri dari wanita-wanita yang melihatnya. Pantas saja seorang Hans jatuh dalam pesona Angel.
Penampilannya sederhana hanya tambahan anting kecil membuatnya terlihat cantik .
“Selamat pagi asisten Bram.” Sapanya dengan ramah.
“Pagi.” Sahut Bram dengan senyum pula.
Angel hendak mendudukkan tubuhnya namun Bram memberikan lembar data informasi. Hingga mengurungkan niat Angel untuk duduk. Tangannya terulur untuk menyambut lembar tersebut melayangkan pertanyaan dari tatapan mata.
“Ini data para anak baru yang akan melakukan magang selama di perusahaan kita.” Angel mengangguk paham. Dia membaca sekilas lembaran tadi. Kemudian beralih lagi pada Bram yang berbicara.
“Kali ini Anda yang akan membimbing.”Lanjutnya
“Baiklah terima kasih, asisten Bram.” Angel tidak terlalu terkejut akan hal itu. Sebab memang sejak dulu ia sering membimbing anak magang, dirinya yang sudah berpengalaman tentu saja sekarang kembali dipercaya.
“Selamat pagi.” Sapa dua orang secara bersamaan .
Bram dan Angel menoleh ke arah sumber suara. Mata Angel menyipit merasa familiar dengan salah satu orang di depannya ini.
“Oh ini dia Angel anak magang nya” Bram memperkenalkan.
Mata salah satu laki-laki magang itu terpaku pada sosok Angel. Perkenalan temannya memutuskan kontak mata mereka.
“Perkenalkan nama saya Bayu. Mohon bimbingannya.” Bayu mengulurkan tangannya ke arah Angel .
Disambut Angel uluran tangan itu dengan senang hati.
“Angel. “ Angel ikut memperkenalkan diri. Matanya kemudian beralih pada pria di sisi kiri Bayu. Laki-laki yang sama yang pernah dia temui dia perpustakaan. Pertemuan tak sengaja tepatnya.
“Saya Angga. Mohon juga bimbingannya “ Ternyata laki-laki ini bernama Angga. Angel manggut dan menyambut uluran tangan itu.
“Oh iya yang kemarin kan?” Seru Angel cepat, bukan karena senang tapi karena terkejut.
“Ya Bu, Mohon bimbingannya.” Sahutnya sopan .
Angga masih belum melepaskan jabatan tangannya dengan Angel laki-laki ini sepertinya berlama-lama. Dekat dari jarak mereka Hans memberikan sorot mata dingin. Matanya tertuju pada tangan Angelnya yang berjabatan dengan seorang pria yang tidak dia kenal.
Bram berdehem pelan, sudah menangkap sosok Hans, yang berdiri mematung.
“Angel!” Panggil Hans, tapi nada suaranya terdengar dingin. Serta Merta Angel melepaskan jabatan tangannya sebab begitu terkejut. Aura dingin tampak memenuhi Hans.
Langkah Hans sangat lebar hingga tubuhnya berdiri tepat di depan mereka semua. Merasa dilayangkan tatapan dingin membuat Angga merasa heran. Dia mengenali sosok di depannya ini langsung saja dia menunjukkan sikap sopan dengan membungkukkan badan.
“Ya pak?” Sahut Angel
“Ada apa ini?” Matanya tak beralih dari Angel meminta penjelasan kenapa di depan ruangan kerjanya berkumpul banyak orang .
“I-ini anak magang baru pak.”
Penjelasan singkat Angel, masih membuat Hans menghunus tatapan tajam ke arah laki-laki yang tidak diketahui namanya.
“Bram.”
Bram mengerti dengan kode itu.
“Kalian ikut saya.”
ia segera membawa Bayu dan Angga pergi keluar menuju lantai bawah.
***
Angel ditarik dengan kuat oleh Hans masuk ke dalam ruangannya kemudian dikuncinya pintu.
Hans masih belum bicara dia mengusap bekali-kali telapak tangan Angel setelah duduk dengan nyaman di sofa depan meja kerjanya. Seperti menghilangkan kotoran yang menempel, juga sedikit meniup.
“Kenapa?” Angel terheran dan bertanya dengan polosnya. Hans bersikap aneh sekarang. Menariknya masuk secara tiba-tiba. Juga heran dengan ekspresi Hans sekarang. Alisnya hampir bertautan karena mengkerut dalam.
“Apa yang kau lakukan tadi?” Semakin tidak paham, saat Hans malah melayangkan tanya dingin.
“Apanya?” Tanya Angel heran, tidak mendapat jawaban dari Hans.
“Kenapa kau berjabat tangan dengan laki-laki tadi?” Hans menurunkan kekesalannya, ia menekan rasa kesalnya dengan tidak meninggikan suaranya.
Si polos menjawab super polos pula.
“Oh Tadi hanya perkenalan dengan anak magang. Aku akan membimbing mereka nantinya. Jadi kalau tidak tau namanya kan lucu hehe...” Tuturnya pajang lebar santai.
“Cih Perkenalan? Kenapa kalian berjabat tangan cukup lama.” Hans kembali menyerang Angel dengan pertanyaan penuh kekesalan.
“Apanya yang lama tidak sama sekali! ” Sanggah Angel, dia juga tidak punya alasan untuk berjabat tangan lama-lama dengan laki-laki yang baru dia temui dua kali.
“Aku melihatnya kalian berjabat tangan selama tujuh detik.” Seru Hans lagi. Angel tidak habis pikir Hans menghitung lama waktu dia berjabat tangan.
Ada apa dengannya. Kenapa dia menghitung detik.
“Kau sengaja kan iya?” Hans menyudutkan Angel. Suaranya terdengar gusar
Angel paham sekarang dia pernah melihat raut wajah ini. Raut wajah ketika Hans sedang cemburu.
Hans cemburu sekarang! karena dia berjabat tangan dengan seorang laki-laki tadi. Dan Angel tidak tau bagaimana cara menjelaskannya. Dia menghela nafas panjang .Otaknya berpikir untuk menghilangkan rasa cemburu Hans .
“Kenapa tidak menjawab .Tenyata kau memang se....”
Ucapan Hans terpotong mata melebar namun tak urung senyum kecil tersungging dari sudut bibirnya. Saat ini bibir Angel sudah menempel sempurna dibelahan bibir Hans. Hanya ini cara paling mudah yang dipikirkan Angel untuk bisa merendam rasa cemburu Hans .
Bibirnya tidak bergerak hanya menempel sempurna. Angel melepaskan ciumannya namun Hans menahan tengkuknya. Hidung mereka saling bersentuhan. Mata Hans tertuju pada bibir Angel.
“Kau menggodaku Angel ku sayang. Jadi kau harus menerima resikonya .” Suara Hans terdengar parau. Salah, Angel salah atur strategi. Seharusnya dia mencari cara lain bukannya mencium Hans .
Hans menarik tubuh Angel hingga berpangku di pahanya, bibirnya mulai menyesap rakus bibir Angel.
"Emmppp..."
Angel sampai kewalahan tidak bisa mengimbangi. Bibirnya disesap dengan rakus pergerakan didominasi Hans. Hingga Angel mulai hanyut dan memasrahkan dirinya. Tangannya mencengkeram kemeja depan Hans .
Wajah Angel merah padam. Dia menghirup oksigen dengan rakus mengisi rongga dadanya. Permainan ciuman Hans semakin hari semakin hebat. Ciuman singkat yang membuat Angel kewalahan.
“Jaga bibir ini.” Memberikan ciuman lama di bibir
“Jaga tangan ini jangan biarkan laki-laki lain menyentuhnya.” Rasa cemburunya mulai pudar berganti dengan rasa senang karena berhasil mereguk manisnya bibir Angel.
Kening Angel mengkerut jaga tangan ini pasti yang dimaksud Hans saat dia bersalaman tadi .
“Aku tidak membiarkan dia menyentuhnya, tadi hanya sopan santun.“ Angel mencoba membela dirinya terkait jabatan tangan yang dipermasalahkan Hans .
“Tetap saja aku tidak suka!” Hans kekeh dengan keinginannya. Angel miliknya dan tidak boleh sembarang disentuh orang lain. Bahan seujung kuku pun Hans tidak rela.
“Baiklah-Baiklah, sekarang lepaskan aku kita harus bekerja sekarang.”
Hans masih tak urung untuk melepaskan pelukannya dari tubuh Angel .
“Satu kali lagi.” Ucapan itu mengawali ciuman kedua yang dilesatkan oleh Hans. Tubuh Angel ditarik lebih dekat untuk memperdalam ciuman. Lagi-lagi Hans menguasai tubuh Angel. Dia sangat hebat dalam membuat Angel hanyut dalam ciumannya.
Tok tok tok
Ketukan pintu membuat mata Angel terbuka dan berusaha melepaskan ciuman mereka. Mata Hans masih terpejam tidak terusik dengan ketukan pintu itu.
“Emmpp..”Ada orang kenapa dia tidak menyadarinya. Kumohon kenapa kau tidak berhenti .Bagaimana jika orang itu masuk
Angel berusaha mendorong tubuh Hans menjauh. Hans tidak mau melepaskan Angel sampai dia benar-benar puas. Merasa gemas karena berontakan Angel Hans mengakhiri ciuman dengan gigitan di bibir Angel.
“Akhhh.” Angel melayangkan tatapan kesal sembari memegang bibir wajahnya yang digigit Hans.
“Kenapa kau menggigitku.” Mata Angel melotot melayangkan tatapan tidak suka. Bisa-bisanya Hans menggigit bibirnya, bagaimana jika nanti berdarah? Padahal bibirnya baik-baik saja tadi. Pasti orang-orang akan bertanya.
“Kau yang salah sayang “ Bibir Hans mengukir senyum kemenangan. Angel masih melototkan matanya.
Tok tok tok
“Sial siapa!!” Angel hampir termundur karena terkejut .Tapi tangan Hans dengan sigap menahannya . Mata Hans terarah pada Angel, yang terlihat lucu.
"Maaf, Siapa?!!" Ulang Hans dengan suara nyaring .
Yang diluar ruangan merasa terkejut, karena suara atasanya itu yang terdengar kesal. Tapi dia sudah memupuk keberanian untuk mengetuk pintu dan inilah hasil yang dia terima .
“Ini saya pak Bram. Kita harus segera melakukan meeting.”
Ternyata itu Bram asisten pribadinya.
“Tunggu sebentar Bram.” Sahut Hans singkat. Angel sudah berdiri dari pangkuan Hans. Tangan laki-laki itu menjangkau tisu dan mengambil satu lembar. Diraihnya wajah Angel.
__ADS_1
“Sini” Angel memberengut namun tak urung dia menurut dan mendekatkan wajahnya.
“Kenapa bisa berantakan begini.” Bertanya dengan polosnya tentang bibir Angel yang belepotan dengan lipstik .
Ingin ku getok kepalamu. Apa kau pura-pura lupa, kau yang melakukannya. Tidak dapat dipercaya .
“Jangan mengumpatiku dalam hatimu.” Serunya bibirnya malah mengulas senyum tipis ketika mengatakan itu. Bagaimana bisa dia tau. Pikir Angel. “Kau ketara sayang,” Ucapnya .
Panggilan sayang membuat Angel hampir memekik, pipinya tiba-tiba menyembulkan rona merah .
“Sudah selesai,” Ucap Hans, lalu membuang asal tisu ke atas meja.
“Ayo! kita harus bekerja sekarang.” Bersikap sok profesional padahal tadi dia yang mengulur waktu dengan kecemburuan dan ciuman tambahan .
Cih kenapa aku merasa kesal sekaligus melayang ya .Lemah sekali hatimu angel .
Hans mulai memutar kunci pintu mereka langsung dipertemukan dengan Bram yang masih setia berdiri mematung. Pertama Bram merasa aneh dengan Sekretaris Angel yang terlihat pucat. Seketika pikiran mesum melayang di otaknya hingga membuat dia malu sendiri.
Sadar Bram sadar. Mereka meracuni otakku hingga membuatku berpikir yang iya iya. Astaga
Dia menebak dipikirannya apa yang terjadi di dalam ruangan atasannya.
“Ingat pesanku.” Ucap Hans ,masih belum menentukan Angel benar-benar pergi.
“Iya” Sahut Angel .
“Bagus anak pintar “ Ulasan senyum tak tertahan dari bibir Hans. Bram hanya menatap jengah. Kesehariannya sekarang dikotori dengan romantisme kantor atasannya itu.
Apa yang dia lakukan. Membuat malu saja. Asisten bram kuharap kau tidak memiliki pendengaran yang baik .Maaf aku mendoakan hal yang tidak bagus untukmu.
Batin Angel .
Angel memberikan senyum agar Hans melepaskannya .Benar saja Hans tidak mencegah lagi langkahnya. Dua pria itu melangkah masuk ke dalam ruangan yang bertuliskan CEO .
Langkah mereka membawa ke depan meja kerja Hans. Mata Bram tertuju pada tisu di meja dekat sofa. Pipinya mendadak merah benar dugaannya. Disana ada tisu yang seperti habis digunakan untuk mengelap bekas lipstik .
“Bawa berkasnya Bram !”Seru Hans .
“Baik pak.”
Bram berpikir pekerjaan akan berjalan lancar tanpa ada sesi tarik urat leher nantinya .Yang dilihatnya atasannya ini sudah mendapat vitaminnya. Yang tidak lain adalah Angel.
***
Setelah memberikan tugas sedikit kepada para dua anak magang yang dibimbing nya. Angel kemudian segera menyusul untuk masuk ke dalam ruang meeting .
Wajah Hans tak segarang kemarin.
Bahkan bibirnya hampir melesatkan senyum lebar ketika matanya tak fokus pada meeting, tapi pada wanita cantik di sampingnya .
Sial aku ingin memeluknya. Kenapa meeting nya lama sekali. Aku ingin menghabiskan waktu dengan ya. Oh Agelku sayang .
Angel melarikan matanya sekilas melihat ke arah Hans. Dilihatnya Hans terus menatap dirinya. Ulasan senyum manis diberikannya .
“Fokus.” Bibir Angel berucap tanpa suara.
Kenapa bibirnya begitu menarik.
Gerak kaki Hans mendorong kursinya maju hingga tubuhnya menghimpit meja .
Tangannya bergerak mencari sesuatu yang ingin dicapai di balik meja sampingnya.
Mata Angel membulat merasa tangannya ditarik dan digenggam .
Apa yang dilakukannya ?!Bagaimana jika ada yang melihat .
Angel berusaha menarik tangannya dari genggaman tangan Hans. Namun sia -sia.
Matanya melotot ke arah Hans, yang malah dibalas dengan senyum kecil di sudut bibir dan usapan lembut di tangan kirinya .
Begini lebih baik .
Itu pikir Hans. Dia merasa lebih semangat mengikuti meeting sembari sesekali memberikan usapan-usapan di atas punggung tangan mungil Angel .
Hampir saja dia membawa tangan itu dan menciumnya namun Angel menahannya dengan sekuat tenaga.
Astaga hampir saja mata-mata orang geger. Untung tanganku refleks menarik .
Syukur.
***
Angel sekarang berada di dalam ruangannya bersedekap dan mencebikan bibirnya .
“Apa ada yang ingin kau sampaikan sayang.” Hans bersandar pada kursi kerjanya dan mengerling nakal ke arah Angel.
“Kita hampir ketahuan tadi!” Selorohnya tidak terbiasa dengan panggilan sayang tadi.
“Tapi kan tidak.” Bantah Hans dengan suara santai.
“Tidak karena aku cepat menghentikanmu.” Balas Angel garang.
“Nah itu. Lalu apa masalahnya Hem...Suatu saat nanti hubungan kita akan terekspos juga. Dan kau akan menyandang status nyonya Prasetyo.” Hans berucap lugas. Dia serius dalam hubungannya bahkan berucap santai akan menjadikan Angel sebagai nyonya Prasetyo yang tidak lain adalah istrinya kelak.
Angel terdiam, jantungnya berdegup. Membayangkan menyandang status sebagai nyonya Prasetyo membuat pipinya merah merona .
Apa aku bisa menghadapinya nanti ?
“Ehm...baiklah aku salah dan kamu juga salah disini.”
“Aku sudah mengatakan dengan Mama kau siap bertemu dengannya.” Selagi membahas menjadi nyonya Hans langsung membahas tentang pertemuan.
“La-lalu?” Angel tiba-tiba gugup menunggu jawaban Hans.
Hans beranjak dari tempat duduknya.
“Jangan gugup oke.” Hans menenangkan Angel. Bersandar pada meja kerjanya dan melingkarkan tangannya di pinggang Angel.
“Ka-kapan?”
“Nanti jadwal kita masih padat. Kenapa kau tidak sabar bertemu calon mertua?”
“Aku gugup sekarang. Padahal kami belum bertemu. Apa aku bisa melakukannya dengan baik.” Tiba-tiba Angel merasa resah .
“Pasti sayang ...kau pasti bisa.”
Dia masih belum siap. Untung saja aku menunda bertemu. Jangan memaksakan dirimu sayang. Aku mengetahuinya .
“Sudah kita akhiri pembicaraan ini. Ayo kita makan siang.” Menarik tangan Angel segera.
“Tidak bisa!”
Alis Hans bertautan. “Kenapa?”
“Aku akan makan di kantin bersama anak magang.” Sahutan Angel sontak membuat Hans kesal.
“Pilih aku atau anak magang.” Hans memberengut kesal.
“Tentu saja kau kekasihku!” Jawabnya cepat. Hans mengukir senyum lebar.
“Tapi pekerjaanku memilih mereka ...haha”
Angel mengakhiri dengan tawa pelan.
"Kau ini. Senang sekali bermain -main "
“Haha.Aku harus pergi.”
"Jadi kau benar -benar memilih makan bersama anak magang!" Bibir Hans semakin dalam menekuk merasa kesal.
“Kekasihmu memilih makan bersamamu. Tapi sekretarismu memilih tanggung jawabnya oke.” Angel berusaha memberikan kepada kekasihnya ini.
"Wah Sudah waktunya. Aku harus pergi dah " Angel memberikan senyum sembari berlari kecil menuju pintu keluar.
"Hei...dia benar-benar pergi " Kesal
***
Angel membimbing Bayu dan Angga sebagai karyawan magang dengan baik. Angga laki-laki itu sepertinya kagum dengan Angel. Ia terus saja memperhatikan Angel yang mengajari mereka dengan baik tanpa mengeluh.
“Ayo Angga, Bayu, waktunya makan siang,” Ucap Angel.
Dua laki-laki itu terlihat masih sungkan dan malu-malu dengan ajakan Angel. Angel memperlakukan dan membimbing mereka dengan ramah. Sekalipun dia tegas ,wanita itu tidak terlihat menyeramkan. Malah terlihat semakin menarik .
__ADS_1
Angel, Bayu dan Angga menggunakan lift khusus untuk para karyawan. Karena masuk jam makan siang jadi ,wajar saja jika lift ini mulai penuh, dan mereka harus rela berdesak-desakan.
Lift terus berjalan hingga sampai di lantai yang mereka tuju. Langkah mereka sempat berhenti ketika berpapasan dengan Hans.
“Selamat siang pak “ Angel menyapa kekasih sekaligus atasannya itu. Bram hanya tersenyum kecil dengan akting mereka. Sungguh berbeda ketika hanya ada mereka berdua dan ketika ada banyak orang .
Bayu dan Angga ikut mengucapkan selamat siang untuk Hans.
Merasa Hans tidak menjawab, Angel pun memilih segera berlalu.
“Selamat makan siang pak,” Ujarnya segera berbalik. Hans berdecak kesal segera.
“Ayo Angga Bayu.” Ajak Angel mereka berlalu meninggalkan Hans yang menatapnya sinis pada punggung dua laki-laki yang berjarak dekat dengan kekasihnya.
Itu dia wajah yang membuat Angelku tidak pergi makan siang bersama ku .
Pikirannya tidak rela Angelnya menghabiskan waktu makan siang dengan dua laki-laki magang tadi. Yang baru saja diketahui namanya sesaat yang lalu. Otaknya bahkan tidak memerintahkan untuk mengingat nama itu karena tidak penting.
Mereka masih bergeming dari tempat mereka setelah Angel menghilang .
***
Angel Bayu dan Angga sudah berada di kantin. Angel berusaha membuat mereka nyaman, tidak tertekan. Mereka mengantri untuk mengambil jatah makan. Makanan terdiri dari nasi sebagai makanan pokoknya juga lauk pauk yang tak lupa. Hingga pencuci mulut juga ada.
“Ayo.”
“Baik Bu “ Sahut mereka. Bayu dan Angga mengekor Angel.
“Gabung sama temen-temen saya tidak masalah kan ?” Tanya Angel
“Eh, iya tentu saja Bu” Sahut Angga
Mendapat jawaban itu membuat Angel tersenyum tipis. Langkahnya lebar mendekat ke meja makan dimana ada dua sahabatnya yang tidak lain adalah Vina dan Dina.
Mereka sudah mendudukan tubuh meja panjang dengan kursi-kursi itu mulai terisi penuh.
Vina menatap heran penuh tanda tanya dengan dua laki-laki yang bersama Angel. Dina juga melayangkan tatapan yang sama, namun ada lagi tatapan lain yang ditunjukkannya tatapan mengagumi sosok ciptaan tuhan yang indah.
Tanpa aba-aba bibirnya sudah mulai mengukir senyum manis matanya lebih terfokus pada laki-laki yang terlihat lebih menawan .
“Perkenalin Vin, Din, ini Angga ,ini Bayu.” Angel mengenakan satu persatu. “Mereka anak magang baru.” Ucap Angel singkat menjelaskan.
“Dina.” Huh dengan sangat cepat Dina memulai perkenalan dia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
“Angga “ Oh Angga namanya. Bagus sama kaya rupanya. Tangan Dina juga beralih pada Bayu dan saling berjabatan. Angel dan Vina hanya menatap jengah tingkah sahabatnya yang satu ini . Vina bersikap biasa saling menyalami tanpa basa basi dia merasa tidak nyaman dengan situasi.
“Ya udah ayo makan, Din makan din.” Seru Angel memutuskan kontak matanya yang terlalu lekat pada sosok Angga. Laki-laki itu terlihat ramah dengan senyum kecilnya. Bayu sudah mulai makan tadi karena terlalu lapar .
“Oh iya ngel.” Sahut Dina
Walaupun sedikit canggung Vina ingin berbicara dengan sahabatnya itu. Tanganya berhenti menyendok makanan, dia mulai menajamkan matanya melihat lebih jelas. Dahi Angel terlihat ada bekas luka kering, hingga membuat alisnya bertautan karena heran. Sekaligus ada rasa cemas .
“Dahi kamu kenapa,Ngel?” Tanya Vina, memberikan senyum sikilas seolah meminta maaf karena mulai berbicara santai dengan sahabatnya pada Angga dan Bayu
Angel sempet terdiam sebelum menjawab.
“Eh i-ini, jatoh dari sofa terus kejedot lantai.” Angel berharap alasan asalnya dapat diterima teman-temannya.
“Astaga gak hati-hati banget sih, Angel “ Vina merasa cemas.
Berbeda dengan Vina yang tampak khawatir Dina malah menanggapi biasa . Sedangkan Bayu dan Angga tampak diam tidak ikut pembicaraan mereka tau diri. Tapi tetap saja telinga mereka bisa menangkap pembicaraan.
“Aelah, aku juga pernah ngalamin kayak Angel itu Vin, biasa Aja.” Dina berkomentar.
“Lah, kamu pasalnya kenapa jadi jatoh?” Tanya Vina,menaikkan satu alisnya.
“Aku sih lagi nonton drakor. Kuota banyak banget ngisi 10 rebu dapet 10GB “
Jiwa-jiwa KPop yang lalu lalang pada dunia internet menyeruak dari diri Angel dan Vina. Dimana Dina bisa mendapatkan kuota murah seperti itu. Mereka juga ingin mengisi kuota itu.
“Murah banget.” Pekik Angel. “ Kamu pake dial apa?” Tanya Vina merasa penasaran
“Dial biasa 10 rebu 10 GB ,tapi...”
“Tapi apa?”
“Kuota malam.”
“Pfft” Angga dan Bayu yang mendengar tak bisa menahan tawa. Merasa lucu dengan ucapan Dina .
“Haha haha “ Tawa mereka pecah .
“Maklum ya teman saya ini agak gak beres.” Tutur Angel dengan santainya .
“Ya Bu “ Jawab Angga dan Bayu mereka sekarang menahan tawa dan berusaha melanjutkan makan.
Dina mencebikkan bibirnya Angel malah mengumbar hal buruk dari dirinya bukan hal-hal baik. Tapi salah dirinya juga .
“Pantas aja kejedot lantai pasti nahan ngantuk itu.” Vina mulai membuka suara .
“100 untuk Vina” Bertepuk memberi nilai, tanpa malu.
“Haduhhh “ Angel dan Vina mendesah pelan .
"Kalian berdua " Angga dan Bayu melihat ke arah suara yang tidak lain adalah Dina." Jangan sungkan kalo mau nanya-nanya ya." Dina menaikkan kedua alisnya .
"Haha iya " Sahut mereka berbarengan
Mulai lagi
Mulai lagi
Angel dan Vina memutar bola matanya.
***
Saat nya jam pulang kantor Angel Hans dan Bram beriringan masuk dalam lift khusus .Dua Anak magang tadi sudah turun lebih dulu .
Mereka keluar lift mata Hans langsung menatap sosok yang baru saja membungkuk ke arahnya Angel berada disamping kanan juga lebih leluasa melihat sapaan hormat itu .Yang tidak lain berasal dari Angga dan Bayu .
“Eh eh” Angel hampir saja oleng ketika Hans tiba-tiba memindahkan posisinya menjadi ke sebelah kiri badan Hans. Bram bahkan harus melangkah mundur ketika hampir bertabrakan dengan Angel.
Bayu dan Angga saling berpandangan merasa ada sikap aneh dari petinggi perusahaan itu .
Kenapa lagi sih ?
“Sudah jangan banyak tanya” Hebat Hans bisa membaca raut wajah Angel. Bram hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan atasannya itu.
“Langsung pulang jangan keluyuran “ Pesan Hans. Dia seperti bapak yang memperingati putri kecilnya .
“Iya .Aku juga lelah untuk apa keluyuran “ Seru Angel matanya melotot ke arah Hans.
Mereka berpisah. Angel menjalankan mobilnya lelah tubuhnya membuat dia merasa mengantuk di perjalanan.
Untung saja dia berhasil sampai dengan selamat menuju rumahnya.
Dia berusaha membuka pintu rumahnya dengan memasukkan kunci .
"Aaaaaaaaaa " Angel menjerit terkejut karena bahunya ditepuk. Sama halnya dengan sosok yang berada di depannya ini juga ikut terkejut .
"Ngagetin aja !! " Bentak Angel.
"Kenapa gak ngabarin "
"Lah udah. Nunggu hampir 1 jam dari tadi. Sampai bentolan ini pipi " Sahut sosok di depan Angel.
"Haha kasian " Angel mengelus pipi Sosok di depannya. Hanya sekilas .
"Angelll..." Suara itu mengagetkan Angel hingga tanganya menggantung di udara .
Hans datang dengan mata tajam melihat satu sosok pria muda yang dielus pipinya oleh kekasihnya. Membuat darahnya mendidih.
Ditariknya tangan Angel hingga berbalik dan menubruk dadanya dipeluknya erat Angel.
"Di kantor kau membuatku cemburu dengan kedatangan 2 pria .Sekarang 1 pria lagi ....siapa dia ?!!" Mata Hans menyala .Dadanya kembang kempis menahan amarah .
"Lepas...saya bilang lepaskan !! " Sosok pria muda itu berusaha meraih tangan Hans. Mata mereka saling menyala melayangkan tatapan dingin .Tangan mereka saling mencengkram .Hans masih membalut Angel dalam dekapannya .
.
.
Jangan lupa kasih vote yang kenceng
__ADS_1
Likenya juga .
komen juga.