
Seperti biasa Angel dan Bram selalu berada di dekat Hans kemanapun Hans berada.
Ini bukan karena mereka ingin tapi karena tuntutan pekerjaan.
Hari ini CEO mereka itu harus melakukan Wawancara dengan sebuah majalah bisnis nantinya juga akan diadakan sesi potret.
Mereka bertiga telah sampai ditempat dilakukannya wawancara. Mereka berada di tempat pertemuan.
Kedatangan mereka bertiga langsung disambut. Kali ini mereka sudah berhadapan langsung dengan seorang reporter wanita.
Mata Angel langsung berdecak kagum dengan tampilan si reporter wanita. Lekuk tubuh reporter ini terbentuk dengan sempurna sampai membuat Angel bergidik. Matanya lagi-lagi dibuat membulat dan bibirnya mengerucut belahan dada reporter wanita ini terlihat begitu jelas.
Mata sinis Angel melirik ke arah sang atasan. Dia menghembus nafas lega ketika Hans tampak sangat tenang. Tunggu! kenapa dia bernafas lega? Apa dia senang Hans tidak jatuh dalam godaan lekuk tubuh si reporter? Hah?
“Tuan Hans Prasetyo Selamat datang.” Hans menaikan alisnya. Tidak segera menyambut uluran jabat tangan itu. Malah Hans secara terang-terangan melirik dulu ke arah Angel.
Wajah reporter wanita ini mulai masam karena tidak segera disambut salamnya.
Bibir Angel mengerucut dalam, merasa tatapan Hans ke arahnya seperti membandingkan dirinya dengan di reporter.
Jangan macam-macam ya pak! Saya ini juga wanita! Saya tidak mau mengumbar lekuk tubuh saya karena saya beharga! Bukan karena saya tidak punya lekuk tubuh.
Angel mencetuskan kalimat pembelaan namun hanya di dalam hati, dan juga sorot mata yang tidak bisa disembunyikan.
“Saya Laura yang akan mewawancarai Anda.” Si wanita bernama Laura ini mengulas senyum semanis mungkin dengan gerakan tubuh yang berusaha mendekat ke arah Hans.
Angel mundur satu langkah. Matanya ternoda, telinganya ternoda. Jelas sekali wanita ini sekarang sedang dalam mode ingin menggoda Hans.
Astaga, Dimana-mana pasti ada saja makhluk seperti wanita ini. Duh saya kasihan dengan Anda pak.
Bram merasa iba dengan pesona Hans yang menarik para lebah-lebah beracun. Rupanya dia memperhatikan dalam diam.
“Ya.” Sahutan tanpa minat Hans, hampir membuat Bram tergelak lepas. Wajah reporter yang masam tidak dapat disembunyikan sehingga Angel juga hampir tergelak ditempat.
Pfttt, sikap pak Hans memang yang terbaik. Baru kali ini aku merasa puas melihat wanita ditolak pak Hans secara terang-terangan.
Angel memang sering kali melihat perilaku Hans ketika menolak wanita, jika dulu dia menanggapi kasian terhadap di wanita. Sekarang berkebalikan dua jempol untuk sikap Hans.
“Apa Anda mau minum dulu ?” Reporter ini masih berusaha mendekati Hans. Tubuh Bram didorong ke depan sehingga Bram mengerutkan keningnya heran. Apalagi matanya dibuat terkejut dengan tampilan dekat si reporter wanita. Wah sungguh tidak enak dipandang terlalu tebal make up nya. itulah kilasan pikiran Bram.
“Saya kesini untuk wawancara.” Nada dingin Hans, membawa rasa malu ke diri si reporter.
“Tolong sampaikan pada penanggung jawab wawancara ini. Katakan untuk mempercepat semuanya, kalau tidak saya akan pergi karena merasa tidak nyaman akibat tatapan genit.” Hans bersuara sarkastik, reporter tadi segera berlalu. Mulut Angel terbuka lebar, double kill !!
***
Dengan kursi nyaman dan posisi nyaman wawancara akan segera dimulai. Angel dan Bram mengamati dari balik kamera yang ada. Para kru majalah sudah bersiap diposisi masing-masing, kamera ada disetiap sudut.
Laura ini pembawaan suaranya terdengar profesional namun sikapnya tadi terlihat begitu menggelikan bagi Hans. Acap kali Hans melempar pandangan ke arah lain, karena tidak nyaman dengan tampilan si reporter.
Wawancara pun dimulai. Awalnya wawancara dilakukan dengan sangat lancar sesuai dengan naskah pertanyaan yang disiapkan.
Namun sepertinya sang reporter wanita itu sengaja memberikan pertanyaan lain.
__ADS_1
Dari tadi Angel sepertinya sedikit terusik dengan gaya bicara serta gaya duduk sang reporter tersebut. Gayanya seperti ia sedang menggoda CEO mereka. Angel mengepalkan tangannya matanya menghujam tajam ke arah Laura.
“Aku ingin mengambilkan gorden untuk membalut tubuhnya saat ini juga!!” Gumamnya dengan gigi yang menggertak.
“Hah?” Bram berusaha bertanya gumaman Angel tadi. “Anda bicara sesuatu?”
“Eh i-itu pak Hans sangat hebat haha.”
“Oh saya kira Anda sedang mengumpat.”
“Ma-mana mungkin saya seperti itu.” Angel berusaha membantah cepat. Suaranya menarik perhatian Hans, sampai-sampai Hans tak bisa fokus wawancara.
“Haha saya Hanya bercanda.” Angel mendesah lega, dikiranya Bram mendengar gumamanya tadi.
Waktunya break sebentar. Hans segera meminta Angel untuk mencari minuman pasalnya tenggorokan Hans teras kering. Namun lagi-lagi si reporter mendekat mengambil tugasnya.
Akhirnya Angel memilih berlalu kembali ke posisi semula.
Aku sangat kesal!!
“Hah!”
Meneguk air dalam kemasan botol dengan tergesa gesa. Yang seharusnya minuman tadi untuk Hans sekarang ia teguk hampir setengah botolnya.
“Pelan-pelan, Anda akan tersedak jika minum seperti itu.”Tegur Bram kepada Angel disebelahnya. Angel menarik nafas sebentar dan menghembuskannya.
"Huff"
***
"Apakah saya bisa menyanayakan pertanyaan pribadi?"Tanya sang reporter kepada Hans.
"Saya akan mendengarnya telebih dahulu ,dan akan memutuskan akankah saya jawab atau tidak." Sahut Hans ,sambil meletakkan kedua telapak tangannya bertumpu pada lututnya.
Senyum reporter itu terbit.
"Baiklah...apakah anda sedang tertarik kepada seseorang,ketertarikan untuk berpacaran atau menikah? Ya sesuatu seperti itu apakah pak Hans Prasetyo juga mengalaminya?”tanya sang reporter
Hans sedikit menyatukan kedua alisnya, belum menjawab pertanyaan ia malah melirik ke arah Angel yang berada dibelakang kamera. Ia kemudian tersenyum simpul .
Angel tidak menyadari Hans melihat ke arahnya tadi, karena ia sibuk meredakan pikirannya .
Tunggu dulu apakah ia tergoda denganku dari tadi memasang ekspresi datar ,dan sekarang setelah melihat ke arahku ia tersenyum...huh ternyata tadi dia jual mahal ya...tentu saja sulit untuk tidak tergoda dengan pesonaku.
Sang reporter hanyut dalam-dalam pikirannya, menganggap Hans tergoda dengan dirinya. Ia membetulkan posisi duduknya dengan menyilangkan kakinya sehingga terlihat paha mulusnya dan membenarkan rambutnya dengan jari tangannya
"Iya"
Menjawab sambil tersenyum hanya satu kata itu yang diucapkan Hans
Astaga dia pasti tertarik denganku.
Tersenyum licik.
__ADS_1
Dalam diam Angel meremas tangannya. Wajahnya menunduk menyembunyikan semburat rona merah. Dia malu ya tuhan!
Tunggu kenapa aku senang sekarang ...kenapa pikiranku kacau dari tadi ,mungkin juga itu bukan aku.
Menyangka pikirannya Angel mencoba menepuk pipinya agar sadar.
"Terima kasih atas jawaban Anda, dengan ini berkahir lah proses wawancara," ucap sang reporter.
Hans berdiri dari tempat duduknya, dan berjalan ke arah angel dan Bram, melepaskan jas yang ia kenakan dan dengan sigap Angel mengambil jas tersebut .
Dari jarak jauh sang reporter masih melihat gerak gerik Hans, masih dengan senyum liciknya.
Mereka menuju rumah ganti. Di sana ada banyak baju yang telah disiapkan untuk proses pemotretan untuk majalah tersebut.
Hans sedang berganti pakaian didalam sana, sedangkan angel sedang berjaga diluar ruangan. Bram tadi ijin ke toilet entah apa yang ia lakukan di sana.
Angel tiba-tiba memasang wajah siaga melihat seorang wanita berlenggak lenggok mendekat ke arahnya.
Sang wanita tidak menyapa Angel, namun langsung to the point.
"Apa pak CEO ada didalam?"Tanyanya memasang wajah angkuh.
Angel memejamkan mata sejenak lalu menjawab.
"CEO kami sedang berganti pakaian," ujar angel tubuhnya otomatis bergeser menghalangi sang wanita untuk masuk
"Bagus aku akan membantunya "Ujar sang wanita. Berusaha mendekat untuk menjangkau pintu
"Tunggu" Angel menghentikan langkah Laura.
"Pak Hans memerintahkan untuk tidak ada seorangpun boleh masuk saat ia berganti pakaian. Jadi Anda tidak diperbolehkan masuk." Angel menekan ucapnya. Seharusnya Laura mengerti dan segera pergi. Ada Apa juga dengan sikap wanita ini, kenapa tidak ada malunya. Malah mau membantu Hans berganti pakaian dengan santainya.
Bukannya malah mengerti sang wanita sepertinya malah menantang Angel .
"Kamu tau aku adalah reporter Laura, kami sudah melakukan wawancara tadi. Jadi tidak masalahkan aku ingin berbicara dengannya."
Sial kenapa dia berusaha melarang ku ,dasar wanita lusuh,liat pakaiannya huh.
Menghujat dari dalam pikirannya
"Ming.."
Menggerakan tangannya ingin menjangkau angel dan mendorongnya .
Namun pintu ruangan tersebut terbuka.
Hans keluar dari dalam sana sudah dengan pakaian.
Sang reporter langsung menarik tangannya dan menyembunyikannya dibalik tubuhnya .
Saat pintu terbuka Hans langsung disajikan oleh tubuh angel yang menghalangi pintu ,ia melihat tangan angel sedikit bergetar.
Memberikan tatapan tajam sekilas ke arah sang reporter, namun sang reporter kira Hans sedang memberikan tatapan tajam ke arah Angel.
__ADS_1