Wanita Sang CEO

Wanita Sang CEO
CH 104- Menunggu Niat Baik


__ADS_3

Gawat-gawat Angel lupa dengan si yang mulia Hans Prasetyo. Karena semalam asik mengobrol dengan keluarga kecilnya, ia terlupa sejenak dengan Hans.


“Huff untung ibu dan ayah tidak terlihat.”


Angel pun mengendap-endap, memastikan tidak ada yang melihat dirinya lagi. Ini saatnya, dia berjalan cepat mau menuju balkon atas rumah. 


Sampai di atas balkon rumah ia segera mencari posisi yang nyaman, dan sinyal yang kuat.


“Astaga, astaga, astaga.”


“Pasti dia kesal sekali, aduh Angel kenapa kamu sampai lupa.” Cemas-cemas dengan tangan berusaha memencet nomor sang kekasih.


Tut…


Baru dengan pertama saja sudah diangkat.


“Ha...”


“Kenapa baru menghubungi! Kau mau membuatku mati?! Kenapa ponselmu juga tidak bisa dihubungi sayang?! Kau tau aku menunggumu dari malam tadi, menunggu kabarmu! Kenapa kau membuatku gelisah!” 


Aduh cerocosan dari sang kekasih mewarnai awal percakapan. Angel bermain kuku mendengarkan suara dari sebrang.


Kalo begini harus dilunakan dulu nih.


“Ma-maaf i-ini karena aku lupa.”


“Lupa?!” Nada dari seberang telpon malah meninggi wah ini bukannya lunak malah semakin keras. Kata lupa tidak seharusnya Angel ucapkan. Dia mendengar suara bantingan keras dari seberang, mungkin itu pintu pikir Angel , wah Hans sedang kesal sekarang.


“Bagaimana kau bisa melupakanku?! Aku bahkan mengingatmu setiap detiknya! Setiap detiknya rasanya aku ingin berlari dan menghampirimu karena gila! Aku gila tidak bisa bertemu denganmu...tapi kau...” 


Rasa bersalah menerpa Angel, ya tidak sepenuhnya dia lupa sih. Kemarin malam dia memang mau menghubungi Hans, namun waktu sudah terlalu malam untuk naik ke atas balkon rumah, dan dia juga tidak berani jadi dia memilih tidur. Dan inilah sebabbnya dia berada di balkon padahal masih memakai baju tidur dengan rambut terurai sembarang.


“Maaf sayang…” Berkata lirih Menggunakan kata sayang supaya yang diseberang luluh. 


“Ini karena sinyal di desa sulit di dapat, aku juga terlalu lelah kemarin, jadi aku terlupa untuk menghubungi. Kumohon mengertilah...” Nada menghiba Angel lontarkan.


Kenapa dia tidak menjawab. Ya ini salahku… lalu apa yang harus kuucapkan untuk meluluhkan kekesalannya.


Menggigit bibir bawah lalu ucapan gila tercetus dari bibirnya.“ Aku juga merindukanmu, aku berharap kau datang di depanku saat ini juga.” Menunggu dengan hati-hati ,apa yang disebelah sudah luluh?


Bagiamana ini aku sudah bicara tidak tau malu. Apa dia luluh kumohon...


“Aku juga.” Angel bernafas lega, nada Hans sudah melunak.


“Tunggu Aku, jika saja aku tidak bertanggung jawab terhadap perusahaan mungkin aku akan menyusulmu detik ini juga...”


“Ehh.”


“Jadi tunggu Aku, ini mungkin akan memakan waktu sebelum aku benar-benar bisa ke tempatmu.”


Mata Angel terpejam sejenak terpaan rasa tidak rela menyerang dadanya. Dari ucapan Hans, laki-laki ini kemungkinan dekat tidak akan segera ke tempatnya. Itu artinya Angel harus bersabar dan menunggu.

__ADS_1


“Baiklh tidak masalah." Jawab Angel seceria mengkin.


Dia terus berbicara dengan Hans, penampilan acak-cakannya membuat dia mulai malu,, melihat ke arah bawah. Banyak sekali orang sudah berkativitas. 


“Sudah dulu ya.” Menghalau cahaya matahari dengan tangannya. Yang diseberang terdengar seperti merengek tidak mau mengakhiri obrolan. Angel sampai geleng-geleng kepala. Semakin kesini semakin dia mengetahui lebih banyak tentang Hans  dan sikap Hans yang tertutup.


“Sudah ya sayang.” Pipinya bersemu merah mengucapkan kata sakral yang sering kali membuat Hans luluh, benar saja kata itu mempan.


Sambungan telepon diakhiri.“ Huff akhirnya .” Lega karena leapas berbicara dengan Hans. “Kakiku penat sekali.” Menggerutu dan berbalik badan. 


“Astaga!...” Begitu terkejut, matanya benar-benar dibuat membulat. “ A-ayah?...” Ya benar ternyata itu adalah Sang ayah. Angel meneguk salivanya kasar.


Apa ayah mendengarnya ? Astaga bagaimana ini? Aku belum siap menceritakan semuanya.


“Kamu harus menjelaskannya nak.” Nada bicara ayah terdengar dalam, raut wajah ayah yang serius menambah ketidaksiapan Angel.


“Ba-baik yah…” Menggigit bibir bawah, dan meremas kedua jari-jemarinya.


“Sekarang juga nak.” Kata sekarang ditekan, mengharuskan Angel melangkahkan kaki mengikuti ayah.


Ayah Yoto sebenarnya heran ketika tadi melihat sikap sang anak yang mengendap endap. Ia mengulur waktu untuk menyusul anaknya. Pendengarnya dikejutkan, ucapan Juna ternyata benar adanya. 


Angel terlalu takut untuk menatap mata Ayah. Sikap ayah yang tegas lah yang membuat ia mengulur waktu untuk menceritakan tentang Hans. Ia ingin menceritakan sedikit demi sedikit, namun situasi tidak bisa dikendalikan sekarang.


“Ada apa ini yah?” Ibu bertanya heran melihat putrinya yang tampak tertunduk Sedari tadi. Helaan nafas Si suami semakin membuat Ibu menjadi bertanya -tanya.


“Ayah tadi naik ke atas balkon rumah…”


Ayah melihat si putri dengan tatapan tak terbaca.“ Ayah melihat putri kita disana. Dia berbicara panjang lebar dengan seseorang...bahkan dia memanggil si penelpon dengan sebutan sayang.” 


Ibu begitu terkejut, matanya langsung melihat si putri yang tampak duduk dengan diam dan patuh.


“Sekarang ayah ingin memastikan. ” 


Juna mengintip dari balik pintu. Melihat suasana yang tenggelam dalam keseriusan. Dia tidak berani untuk bergabung mendengarkan, jadi ia mengintip dari balik pintu.


“ Siapa yang kamu panggil sayang tadi nak?” Suara ayah terdengar berat penuh penekanan.


“I-itu.” Angel tergugu, baru satu kata yang mencuat dari bibirnya.


Melihat si putri yang begitu takut ibu mendekat dan mengelus bahu Angel.


“ Jelaskan nak, ceritakan, siapa yang kamu panggil dengan sebutan sayang tadi. Agar ibu dan ayah mengerti.” Ibu memang lemah lembut dan kasih sayang.


Situasi yang begitu serius dan juga tatapan ayah yang serius membuat Angel takut, ia sudah bersalah. Tangisnya pecah karena tepeaan rasa bersalah tadi.


“Hiks...maafin Angel yah Bu.” Angel merasa bersalah karena tidak bercerita tentang hubungannya dengan Hans. “Di- dia kekasih Angel , Bu ,yah.” 


“Angel tidak bermaksud menyembunyikan hubungan Angel yah.” Menatap A-ayah dengan keseriusan namun matanya sudah berair .“ Angel ingin menceritakannya, tapi Angel hanya butuh waktu.” 


“Sungguh yah, bu.” Menatap kedua orangtuanya bergantian dengan perasaan takut yang mendera. Berhadapan ayah yang terus diam, tanpa merespon Sedari tadi malah membuat hatinya semakin berkecamuk.

__ADS_1


“Sutt kenapa nangis ini nak, jangan nangis atuh. Kan ibu sama ayah hanya bertanya. Jangan nangis sayang.” Ibu berusaha menenangkan si putri.


Ayah menatap lambat sang putri kesayangan. “ Sejauh mana hubungan kalian?” Setelah lama berdiam dan mencerna perkataan Angel, ayah baru angkat bicara.


“Kamu yakin laki-laki itu pantas untuk menjadi menantu ayah? Kamu tau sendiri ayah paling melindungi kamu. Kamu putri ayah satu-satunya ayah tidak bisa memberikan kamu kepada sembarang pria.” Ketegasan ayah mengenai, sosok yang pantas menjadi pendampingnya membuat Angel diam. 


“Jadi sekarang,sejauh mana hubungan kalian? siapa dia? bagaimana sosoknya ?”


Ayah bertanya dengan keseriusan. Angel memupuk keberanian tentang dia dan Hans. “Na - namanya Hans Prasetyo yah.”


“Apa?! Ha-hans Prasetyo? ” Ayah begitu terkejut. Sungguh fakta yang diluar prediksinya.“ Bukannya dia atasan kamu?” 


Ibu juga tak kalah terkejut dengan kebenaran yang keluar dari mulut si putri.


“I-iya.” Sahut Angel tangisnya mulai reda karena memupuk keberanian.


Kedua alis Atha menghujam tajam.


“Dia begitu jauh dari dunia kita, bagaimana bisa kamu menjalin hubungan dengan sosok yang jabatannya begitu tinggi nak? Bagaimana kamu bisa menghadapi keluarganya?...” Ayah sungguh gelisah. Padahal tadi ia mempertimbangkan akan melepaskan sang putri namun, pasangan Angel bukan pria dengan jabatan biasa, jabatan Hans Prasetyo luar biasa.


Beliau juga mengetahui tentang sosok Hans Prasetyo. 


“Yah, dengarkan Angel dulu, a-awalnya Angel juga berpikir begitu, tapi melihat sikapnya dengan keseriusannya Angel tidak bisa menyangkalnya yah, di-dia… sudah masuk terlalu jauh dalam kehidupan Anakmu ini sekarang.” Melihat butiran tangis Angel membuat hati ayah yang tadi kesal berubah menjadi iba dan melembut.


Ibu mengerutkan kening dalam tidak hentinya tangannya membelai punggung Angel.


Putriku surga besar, dia bahkan sudah memiliki pasangan sekarang. Hans prasetyo? Ayah sungguh tidak menyangka kamu bisa menjalin dengannya.


“I-ini bukti keseriusannya yah, di-dia melamar Angel kemarin.” Mata tajam kembali dibuat terkejut berita besar ini kenapa Angel tidak memberitahunya. Rasa kecewa melanda dirinya.


“A-apa maksud kamu nak? ja-jadi kamu sudah bertunangan?” Raut wajah ibu juga berubah.


“Kamu sungguh luar biasa nak. Hal seperti ini baru kamu sampaikan sekarang. Apa kamu benar-benar menaggap ayah sebagai orang tuamu?” Suara dan tatapan mata kecewa ayah menghantam Angel.


“Yah! Tentu saja ayah adalah orang tua Angel ! ... Kenapa ayah bicara begitu maafin Angel yah...huuu ...hiks...Bu maafin Angel... Seharusnya Angel memberitahu ayah dan ibu dari awal huuuu maafin Angel...”


“Iya-iya nak aduh... Yah, putri kita tidak bermaksud menyembunyikannya, ibu tau itu... ibu mengenal putri kita melebihi siapapun.” Ibu membela Angel yang tampaknya akan mendapatkan kekecewaan dari Sang suami.


“ Ma-maafin Angel yah ,Bu....huuu ...hiks...hiks..”


Ayah kecewa dengan sikap Angel. Beliau menghela nafas kasar.


“Baiklah berhenti menangis, melihat bagaimana keseriusan dari anak ayah tentu saja ayah akan mempertimbangkannya. Jika dia benar-benar serius dengan putri ayah maka, ayah akan menunggu, mengunggu penyampaian niat baiknya.” Ibu mengangguk setuju. Ayah adalah sosok yang paling tegas dan melindungi putrinya.


“Semoga saja cincin yang sudah melingkar di jari manismu, bukan hanya sebuah pajangan. Namun juga berisi niat baik dia.” Angel menggaruk lega dengan keputusan ayah.


“Kemarilah.” Merentangkan kedua tangannya. Angel tak tahan segera masuk dalam pelukan ayah. “Terima kasih yah.”


“Hmm.”


Ayah memutuskan untuk melihat dan mempertimbangkan hubungan anaknya.

__ADS_1


__ADS_2