
Menjelang usia kehamilan ke 6 bulan mama semakin menjaga Angel dengan begitu ketat. Bahkan ujung sapu pun tak ia biarkan Angel menyentuhnya.
“Apa aku tidak bisa membawamu?” Bertanya kesekian kalinya.
“Tidak boleh Hans! paham gak sih, lebih baik Angel disini. Mama bisa jaga. Ibu hamil bepergian itu gak baik juga, mana lagi kamu pasti sibuk disana. Udah jangan merengek mau membawa Angel.” Mama berseru dengan nada kesal.
Hans terus saja ingin membawa sang istri, menemani perjalanan bisnis yang wajib ia lakukan. Rasa tidak rela tentu saja mendera, hingga ia terus saja mencari celah agar bisa membawa Angelnya.
Perjalana bisnis kali ini akan menuju Jepang. negara yang pernah mencokol kenangan buruk dibenak Angel. Meskipun begitu Hans percaya kenangan itu tidak lebih baik untuk diingat dari pada kenagan indah yang ia torehkan.
“Sayang, aku akan menghubungimu nanti. Jadi meskipun kau disana, kita masih bisa berkomunikasi.” Angel menangkup kedua pipi Hans. Dicium Hans jari jemari Angel. Mama sudah memalingkan muka.
“Janji ya, awas saja kalau sampai panggilanku tidak kau Angkat. Maka saat itu juga aku akan kembali kerumah.”Ultimatum keras, dengan sorot mata masih tidak rela pergi.
“Iya,”
“Jaga diri baik-baik.”
“Iya.”
“Jangan lupakan aku saat aku disana.” Dengan wajah begitu manis, Angel rasanya mau tergelak.
“Mana bisa aku melupakan suamiku ini. Masa hanya satu Minggu aku bisa lupa, itu tidak mungkin.” Angel terkekeh geli. Tubuhnya masih dipeluk dengan erat.
Sementara Bram terus saja memutar arloji.
“Baguslah, awas saja nanti kau lupa. Terus pikirkan suami tampanmu ini nantinya.” Mulai lagi narsisnya.
“Papa pergi ya, nak. jangan menyusahkan ibumu.” Hans juga pamit pada buah hati mereka. Diciumnya lama perut Angel. Lalu beralih pada sang istri yang dipeluk dan dicium.
“Aku pergi ma, perhatikan istriku ya ma.” Entah untuk yang keberapa kali Hans mewanti-wanti ibunya.
“Iya iya.” Hans lalu pamit pada papa yang berdiri di samping mama.
“Jangan kahwatir, nak ... papa disini akan menjaga cucu papa sebaik mungkin.” Menepuk pelan bahu Hans.
Lambaian tangan dengan senyum cerah adalah terakhir kalinya Hans melihat wajah sang istri. Ia kemudian menatap asal ke jalanan yang tampak macet.
__ADS_1
Ya hanya satu Minggu, namun rasanya begitu berat. Mengingat usia kehamilan snag istri sudah memasuki bulan ke 6.
***
Hari sudah menjelang malam. Ketika Angel membuka pintu kamar, suasana sepi seketika menyergap. Tadi tidak terasa karena ia berkumpul dengan Mama dan Hana.
Ia kemudian berjalan ke tempat tidur. Merebahkan diri secara perlahan. “Sepi sekali, padahal kalau ada Hans berdua pun terasa menyenangkan. Tapi ditinggal begini, terasa tidak nyaman.” Angel merasa sedih. Baru ditinggal beberapa jam sejak kepergian suaminya. Rasa rindu sudah menerpa.
“Sabar ya nak, papa perginya gak lama kok.” Mengusap perutnya dengan lembut.
Malam terasa begitu sepi saat tidak ada Hans. Tiba-tiba rasa rindu langsung menerpa. “Huh, kenapa aku jadi begini sih. Padahal kan baru ditinggal sebentar.” Mencemooh diri. Namun Netranya terlihat sendu.
Karena tak kuasa berdiam dalam kesunyian, tangannya segera menggapai ponsel. Ia menekan dial menelpon sang suami.“Apa masih sibuk ya. Iya pasti Hans sibuk. ” Mendesah pelan, ia kemudian spontan memukul kepalanya.“Astaga Angel, sadar! Kenapa kau jadi begini, hisshh kenapa dengan diriku.” Merebahkan diri dengan lemah.
Dia begitu merindukan Hans, tangannya mengusap bagian kiri yang selalu diisi oleh tubuh sang suami.“Harumnya masih tertinggal.” Angel tiba-tiba tersenyum.“Tentu saja sepulang kerja bukannya mandi, malah langsung kuseret dan kupeluk.” Ia tertawa kecil, mengingat kebiasannya selama masa kehamilan.
Beberapa saat kemudian ia menajamkan matanya, berusaha memaksakan diri untuk tidur. “Huh, nak jangan cerewet dong. Papa lagi kerja, gak bisa ngelus kamu.” Angel bergerak resah. Biasanya Hans akan mengusap perutnya setiap malam.
“Ternyata kita begitu beruntung ya, nak. Kamu dapat papa terbaik, sedangkan mama dapat suami terbaik.” Angel mengembang senyum.
Ya dia memang mendapat suami terbaik. Bagaimana tidak terbaik. Ketika banyak suami diluar sana yang mengeluh karena merawat istri yang hamil karena banyak maunya. Hans malah begitu sabar, dan menuruti kemauannya.
Dering ponsel membuat Angel langsung meraih ponsel. Matanya langsung berkaca ketika tertera nama sang suami disana. “Sayang...” Angel tiba-tiba mengeluarkan suara manjanya. Mereka melakukan video Call.
“Hei, kenapa sayang? Wajahnyan Kok cemberut gitu sih, kayak mau nangis juga?” Hans menghentikan acara makannya, dan menjauh.
“Kangen.” Ucapan singkat itu tercetus di bibir Angel, masih dengan bibir manyun.
“Apa aku pulang saja kalau begitu.” Jawaban gila terdengar dari seberang. Bram yang saat itu sedang melahap makanan menjatuhkan sedoknya.
“Anda benar-benar berpikir gila, pak. Bahkan ini baru beberapa jam, astaga mohon jangan buat keputusan gila seperti itu pak. Kalau tidak saya akan gila juga!”
“Tapi kan kamu lagi kerja,” Wajah Angel terlihat begitu dekat, hingga tampilan wajah polosnya begitu dirindukan Hans.
“Kalau istriku ditinggal dan nangis begini kan, aku jadi tidak nyaman berada disini. Lebih baik aku bersama istriku saja.” Raut wajah Hans terlihat gusar.
“Tidak sayang, cukup begini aku sennag kok.” Angel mengambil bantal.
__ADS_1
“Apa yakin, baik-baik saja sayang?” Hans masih menunjukkan raut serius.
Angel sekarang memaksakan senyum.“ Iya sayang, melihatmu sudah cukup.”
“Apa dia rewel” Merujuk pada bayi mereka.
Angel mengulas senyum.“Iya sedikit.”
“Mana sini lihat.” Angel pun mendekatkan layar ponsel ke depan perutnya. Hans mengusap layar ponsel, seperti membayangkan ia mengusap perut istrinya, berharap usapan itu sampai kesana.
“Padahal papa sudah pesan sama kamu, jangan bikin Mama sudah. Eh nyatanya begini. Jangan menyusahkan istri papa.” Angel tergelak lepas, rasa sunyi yang tadi menerpa sekarang menguap entah kemana.
Lama berbincang, sampai-sampai wajah polos tidur istrinya terlihat barulah Hans mematikan layar ponsel.
“Bram! kita lembur malam ini!” Ucapan Hans membuat Bram yang tadi menepuk perut karena kekenyangan seketika membelalak! Ha lembur! padahal baru kerja setengah hari dan harus lembur!!
***
Sudah 3 hari Hans berada di Jepang. Selama itu juga ia bekerja keras agar lekas menyelesaikan pekerjaannya. Mereka pulang larut malam.
Mobil menyusuri jalanan yang begitu sunyi.
“Bram, perhatikan sekitar.” Tiba-tiba Hans berucap serius dari balik punggung tempat duduk Bram. “Matikan lampu mobil.” Bram menurut lampu dalam mobil dimatikan. Sisi gelap Hans sekarang mencium pergerakan mencurigakan.
“TANCAP GAS, BRAAAAAMMMMM”
Sial seharusnya malam ini juga ia bisa menemui istrinya, namun!! Kilatan tajam dan aura gelap menyelimuti.
.
.
.
Tinggal beberapa part menuju penghujung chpater. Jadi mohon bersabar, nanti label end ya pasti akan nongol.
Happy reading
__ADS_1
~Tyatyut