Wanita Sang CEO

Wanita Sang CEO
Ch 12~ Ekspektasi Dan Kenyataan


__ADS_3

“Bukan kenyataan yang pahit, tapi ekspektasi kita saja yang terlalu manis.”


.


.


Ayana Humaira, sesosok gadis pemalu yang selalu mengikuti pergerakan Ken, melalui arah mata dan juga gerakan tubuh kaku. Dia hanya gadis yang terpikat oleh daya tarik anak sultan yang tak bisa dimiliki. Ya, setidaknya itulah sudut pandang dari Ken. Sejak dulu hingga detik ini.


Ingatan Ken tidak semudah itu memudar, bahkan ada beberapa ingatan yang ingin dihapusnya tapi tidak bisa, karena dia tidak memiliki kuasa penuh akan otaknya. Dan Ayana adalah salah satu bagian kecil yang masuk dalam memori otak Ken.


Kadang menjadi cerdas ada masa lelahnya juga bagi Ken. Semasa muda ia selalu dipuji dilambungkan dengan kecerdasannya. Menjuarai berbagai olempiade hingga tingkat internasional membuat Ken semakin menjadi sorotan dari orang sekitar. Ken Lelah karena kecerdasan yang dia miliki, orang-orang berekspekstasi tinggi akan dirinya.


Oh Ken kau pasti akan jadi juaranya.


Oh Ken Aku yakin tidak akan ada yang mengalahkanmu.


oh Ken Kau sudah cerdas jadi santai saja, kau pasti menjadi pemenang.


Suara-suara itu yang sering muncul dari orang sekitarnya, membuat Ken tidak sadar mencoba mencapai ekspektasi orang-orang, bukan menggunakan standar kemampuannya. Padahal hal itu bukan kewajiban Ken. Meski dia gagal dan orang-orang kecewa hal itu bukan akhir dari segalanya. Namun kegagalan itu sebuah pembelajaran.


Ken ingat di suatu hari, dia yang hanya manusia mengalami kegagalan. Ekspektasi yang selalu digerungkan oleh orang sekitar mendadak surut. Bukannya memberi semangat pada dia yang sedang gagal, orang-orang malah hanya memandangnya. Tatapan orang-orang melemahkan rasa percaya diri dan melukai harga diri Ken.


Pandangan itu seperti berkata, Tenyata Ken bisa gagal juga ya, atau Tenyata Ken tidak sesempurna yang mereka pikirkan.


Di bawah pohon rindang itu Ken ingat sekali hanya satu sosok yang datang menghampiri setelah ia mengalami kegagalan dan sosok itu adalah Ayana Humaira.


“Minumlah ini.” Tangan mungil itu terjulur, sebuah botol kemasan yang tampak dipenuhi oleh hawa dingin tersaji di hadapan Ken.


Mata Ken terangkat hingga bisa menjangkau leluasa sesosok gadis yang sedang berdiri di depannya. Dengan senyum lembut dan manik mata polos.


Sejenak—, hanya sejenak Ken terdiam. Hingga angin yang berhembus terasa pada permukaan wajahnya menyadarkan Ken.

__ADS_1


“Aku tidak terbiasa menerima pemberian orang lain.” Ken menolak pemberian itu. Mana lagi suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja.


“Menerima pemberian orang lain tidak akan membuat harga dirimu jatuh, ken.”


Ken menatap kesal pada sosok di depannya, di bagian kiri baju seragam abu-abu yang dikenakan gadis itu Ken bisa melihat, Nama Ayana Humaira terajut sempurna.


Gadis itu lagi-lagi dengan kurang ajar menarik tangan Ken, hingga botol dingin tadi berpindah ke tangan Ken.


“Jangan terlalu lama larut dalam kegagalan Ken. Kadang ekspektasi memang tidak semanis realita.”


Bibir Ken terulas sinis, oh ternyata gadis ini salah dari banyaknya orang-orang yang menyoroti hidupnya.


Belum sempat Ken mengusir gadis di depannya, gadis itu kembali bicara. Dengan nada lembut, denga nada penghiburan, dengan nada pengyakinan.


“Semangat Ken, tegakan kepalamu, angkat dagumu tinggi-tinggi seperti diri kamu selama ini.” Ken mengerutkan kedua alisnya. Menatap tidak percaya pada sosok di depannya ini yang berani menepuk bahunya, dan memberi semangat sentengah berteriak.


“Jangan menggiring pencapaian dengan berpatokan pada ekspektasi orang ken, karena kalau kamu gagal orang-orang tidak akan ikut menggiring sedih bersamamu. Mereka hanya akan melihat dari kejauhan, sama seperti semula. Mereka hanya penonton yang menginginkan ekspektasi berbuah manis.” Menyela dengan lekas.


Menjadi kata-kata pegangan dalam hidup Ken. jadi mana mungkin Ken melupakan sosok Ayana.


“Terima kasih untuk minumannya.” Ken mengulas senyum, untuk pertama kalinya senyum sipit dan membuat wajahnya semakin berseri. Senyum yang selalu berusaha ingin orang-orang lihat karena lelah melihat wajah kakunya. Senyum itu—, senyum itu—, diberikan pada Ayana.


***


Setelah mengajukan pertanyaan itu ruangan diisi oleh keheningan.


Ken bisa melihat raut wajah Ayana yang tampak terkejut. Manik mata itu tampak membulat penuh.


Senyum kemenangan terulas di bibir Ken.


Belum sempat Ken mendapat jawaban, pintu ruangan tiba-tiba terbuka.

__ADS_1


“Kenan Prasetyo, kita datang bro! Akhirnya kita, bisa merencanakan kumpul-kumpul kita lagi.”


Dave merentangkan tangannya bibirnya tertawa lebar, begitu lebar karena senang. Namun tawa lebarnya seakan meredup seketika, karena suasana hening ruangan. Dan Dev sekarang bisa melihat tatapan mata Ken dengan alis yang saling bertaut, seperti akan melahapnya hidup-hidup.


Lalu tatapannya beralih pada sisi sofa yang tenyata tidak kosong. Dev menurunkan tangannya yang tadi merentang, menggantinya dengan gerakan seperti mengelap pada dua sisi jaket yang ia kenakan.


“Wah tampaknya Aku datang pada waktu yang tidak tepat ya, haha...” Dev tertawa garing. Bisa merasakan bahwa suasana antara Ken dan gadis yang berada di depan Ken sedang dalam mode serius.


Hei apa yang terjadi di sini? Astaga aku harus kabur sekarang. Ken terlihat sangat kesal.


Ken menatap tajam pada Dev. Hal itu membuat Dev semakin yakin dia datang pada waktu yang sangat tidak tepat!


.


.


.


.


Kadang memang ekspektasi dari orang sekitar akan membebani. Jadi ayo sekarang, jangan jadikan ekspektasi mereka sebagai sesuatu yang harus kalian gapai.


.


.


.


Ayo berjuang menjalani hari.


Jangan Lupa Like SEMUA🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2