Wanita Sang CEO

Wanita Sang CEO
Ch 47~ Kepanikan


__ADS_3

Dengan segala rasa panik yang mendera Ayana terus berlari kencang. Dia memanggil taksi.


“Ada apa dengan ibu.” Mengusap wajahnya secara kasar. Mulai menerka-nerka. Tidak-tidak jika dia semakin memikirkannya. Maka ia akan membayangkan hal yang sangat buruk.


Ayana mendapatkan taksi. Ia membuka pintu taksi dengan segera ia masuk dengan setengah membanting pintu mobil taksi.


Pak sopir taksi terbelalak melihat kelakuannya. Memutar kepalanya dan segera memperingati Ayana.


“Astaga nona. Kau harus secara perlahan menutup pintu mobilnya. Kalau kau sekuat itu maka pintu mobilnya akan rusak.”


Pak sopir memperingatinya dengan nada marah.


Terkejut, Ayana tidak bisa berpikir jernih. Dia setengah linglung. Suaranya serak ketika dia berucap maaf pada sang sopir.


“Maaf-maaf pak. Saya sedang sangat terburu-buru sekali sekarang.”


“Saya...”


Ayana sampai bingung di mana letak ponselnya. Dia tidak bisa berpikiran jernih.


“Pak sopir tolong antar saya ke sini.”


Menunjukkan lokasi dengan ponselnya. Tangannya bergetar.


Melihat betapa penumpangnya sangat terburu-buru. Pak supir segera menancap gas. Membelah jalanan. Mengikis amarah karena si penumpang secara sangat sembrono membanting pintu taksi.


“Ini nona ambilah.”


Menyerahkan kotak tisyu. Sejenak Ayana terkejut. Namun maksud baik sang sopir segera ia pahami.


“Te, terima kasih, pak.”

__ADS_1


Ayana mengambilnya dan berusaha menyeka habis air mata yang terus saja terjun dari peluk matanya. Sang sopir menilik dari kaca depan mobil.


Gadis itu tampak sangat kacau.


“Emm, itu sa, saya ingin menelpon seseorang apa boleh saya meminjam ponsel Anda. Ya, tentu saya memiliki ponsel tapi itu...”


Meragu, merasa sungkan. Namun Ayana benar-benar akan sangat memohon sekarang.


“Astaga iya nona silahkan.”


Sang sopir menyerahkan ponselnya segera. Sudah mengerti gelisah'nya dan raut wajah putus asa Ayana bukan sesuatu yang dibuat-buat. Gadis itu tampaknya memang sedang dilanda sebuah masalah.


“Terima kasih, pak.”


Ayana merasa sangat lega. Menekan layar ponsel segera ingin menghubungi suster.


Tersambung dan Ayana perlu menunggu beberapa saat. Menatap ke arah depan di mana jalanan yang merek lalui. Masih perlu sekitar 15 menit untuk mencapai lokasi.


Ketika panggilan terhubung dan suster menjawab teleponnya. Ayana segera mendong pertanyaan.


[“Nona...”]


“Jangan ragu, tolong jelaskan kepada saya apa yang terjadi! tolong sus. Saya sangat mencemaskan ibu saya sekarang.”


Rasa sesak semakin mencengkram dada. Meminta sekali agar suster bisa memberikan penjelasan yang bisa meringankan beban di dada.


[“Sebenarnya. Ibu anda—,”]


Mendengarkan Ayana berusaha mendengarkan penjelasan dari suster yang menjaga sang ibu.


“Apa sus?”

__ADS_1


Mengambil nafas sejenak suster memejamkan mata. Sebelum menjelaskan kepada Ayana apa yang terjadi.


[“Ibu anda mengalami kecelakaan tunggal. Beliau melarikan diri dari tempat perkumpulan. Nona, kami, kami sudah berusaha mengejar beliau. Tapi...”


Ayana bisa membayangkan. Bagaimana tubuh ringkih sang ibu berlari. Mengejar sebuah ilusi hingga tak bisa berpikir panjang. Ya tuhan. Cobaan apa lagi ini.


Nyatanya pada detik penjelasan sang suster. Ayana sudah tak bisa lagi berpikir jernih. Dunianya serasa jungkir balik. Bagaimana mungkin dia terselamatkan dari maut. Dan sang ibu malah meregang nyawa?


Apa ada pertukaran? Pertukaran takdir?


“Seharusnya aku tidak berdoa untuk diselamatkan. Ya tuhan. Ini pasti karena aku memohon agar diriku diselamatkan. Sebagai gantinya. Ibu...ibu yang...”


Terisak-isak, suara Ayana memenuhi perjalanan.


Sebenarnya. Mengenai takdir tidak ada satupun manusia yang mampu menebak. Ayana sudah menyalahkan dirinya.


Apa memang benar kata sang ayah. Dia anak pembawa sial?


.


.


.


🥺


Happy reading guys


jangan lupa cek Instagramku.


Info2 menarik mengenai tokoh cerita/ projek novel terbaruku akan aku update disana 🤗

__ADS_1


@_tya_1013



__ADS_2