Wanita Sang CEO

Wanita Sang CEO
CH 35-Di pedesaan


__ADS_3

Setelah melalui perjalanan yang memakan waktu hampir dua jam mereka kemudian sampai di tempat tujuan. Memijakan kakinya dan menghirup udara dalam-dalam.


"Hmm,udaranya enak" Angel bergumam sambil merentangkan tangannya


"Eh sini biar saya saja asisten Bram...."


Berusaha merebut koper di tangan Bram.


Bram sudah tersenyum cerah.


"Tidak usah biar saya yang membawakannya Angel, sekalian saja." Terpaksa berkata seperti itu, karena sudah bisa membaca raut wajah bossnya.


"Ayo...."


Kali ini Hans berbicara, Angel berjalan berusaha mengiringi langkah sang atasan.


Bram dibelakang mereka bersusah payah membawa koper.


Mereka sudah sampai didepan halaman rumah seseorang yang akan menjadi klien mereka . Kedatangan mereka disambut ramah oleh pembantu rumah tersebut.


Mereka dibawa ke tempat peristirahatan yang sudah disiapkan untuk tamu.


Tempat tersebut tepat berada disebelah rumah klient mereka, sebenarnya tempat ini juga merupakan bagian dari kepemilikan si klient.


"Sudah beres semua." Tanya Hans


"Sudah pak, berkasnya juga sudah siap."Ucap Angel.


"Ya sudah ayo..." Ajak Hans menuju ke rumah milik kliennya


“Ini tidak ada waktu istirahat...pak boss nggak sabaran banget sih...nggak ngerti ni ,pegawainya capek banget...”


Bram lelah dan terpaksa melangkah mengikuti Hans dan Angel yang telah mendahului.


***


"Selamat datang...tamunya pak Harun ya" Sambut seorang yang sepetinya pelayan di rumah tersebut.


"Iya Bu" Jawab Angel.


"Silahkan duduk dulu...."


Mereka diarahkan ke ruang tamu yang ada diantara sudah tersedia sofa untuk tempat duduk yang nyaman.


Angel dan Hans duduk berdampingan, sedangkan Bram hanya berdiri dibelakang mereka.


"Sebentar lagi pak Harun akan turun...."


Sang palayan mengabarkan setelah memanggil tuannya.


"Iya Bu...." lagi-lagi Angel yang menjawab memberikan senyum ramah


Berkas yang dibawa Angel tadi, sudah ia letakan dimeja yang tepat berada didepan mereka duduk


"Ini mau minum apa?"


Tawar sang pelayan berumur itu.


Angel melirik ke arah Hans, yang tidak menanggapi, kenapa disini malah dia sepertinya yang menjadi ketua pembicara.


"Ehem apa aja bu,terserah"

__ADS_1


"Lah jangan gitu dong non disini lengkap semua mau apa jus, air hangat teh, kopi ,es kelapa muda atau gimana ,bilanga aja...."


Memberikan penawaran."Semuanya ada disini." Terang si pelayan.


Bram meneguk liurnya kasar mendengar penawaran tersebut, namun ia merasa sedikit segan.


"Pak Hans maunya apa pak?"


Angel malah menanyakan kemauan sang atasan


"Terserah kamu" Ucap Hans ,kemudian melirik ke arah pembantu sekilas


"Emm ,kalo gitu es teh aja Bu,kalo asisten Bram maunya apa?" Menawarkan ke Bram


"Samakan saja" Menjawab setengah tidak ikhlas, padahal maunya es kelapa pas sekali karena begitu dahaga.


"Oke..."


Tidak diduga-duga sang pekayan tersebut mengeluarkan sebuah not, sudah seperti pelayan restoran yang mencatat kemauan pelanggan, pahalkan mereka hanya meminta es teh apakah tidak terlalu berlebihan, mereka bertiga memiliki pemikiran yang sama


Sang pelayan belum berlalu matanya kembali menatap Angel.


"Teh yang tersedia banyak jenisnya non mau yang kaya gimana, ada juga teh impor dari Jepang, yang berasal dari China ada juga...Mau yang mana?"


Ha? ternyata ini alasan sang pelayan mengeluarkan not nya.


"Boleh yang lokal aja Bu...."


Memberikan tawa garing, melirik ke arah Bram dan Hans hendak melihat ekspresi mereka.


"oh iya iya"


Angel kira acara pesan memesan teh nya sudah selesai ternyata belum.


Angel menggaruk bagian belakang lehernya yang tidak gatal. Hans sudah sedikit meolongo mendengar pernyataan, dari pembantu tersebut, apalagi Bram jangan ditanya.


“Jangan bilang habis ini tanya berapa takaran gula yang diperlukan. ” Batin Hans.


“Memang seperti ini ya,kalo bertamu ke rumah orang kaya ribet banget.”


Batin Bram


"Eh yang yang serbuk aja Bu"


"oh iya"


Angel Sudah merasa lega


"Berapa sedok takarannya" Duar tebakan Hans benar sekali.


Ya Tuhan ini ribet banget sih, pikir Angel.


akhirnya Hans yang ikut berbicara.


"Dua sendok teh saja ,samakan saja...."


Hans memberikan jawaban membatu Angel.


"oh iya...ini pake air anget atau dingin ini?"


Masih belum selesai

__ADS_1


pikir Hans


"Air anget aja!"


Sudah mulai geram dengan acara pesan memesan ini.


"Berapa derajat suhunya ?"


Angel dan Bram Sudah membuka mulutnya sambil mengerjapkan mata berulang kali, bahkan derajat Celcius saja diperhitungkan.Kapan waktu mereka untuk minum ini? jangan sampai di restoran ada pelayanan begini bisa-bisa pelanggan pada kelaparan.


"Air putih saja deh Bu,yang dingin ya pake es batu yang suhunya -4°C!" Akhirnya Hans mengerti bagaimana cara kerja pemesanan disini harus ditail bahkan sangat


"Lah oh iya bentar-benatar silahkan ditunggu ya" Seletah kepergian pelayan tersebut


Mereka bertiga saling pandang.


Angel sudah tertawa mengingat kembali hal tersebut.


"Ini saya baru mengalami hal ini pak...mau minum teh aja banyak lika-likunya "


Angel tertawa


Bram dan Hans hanya bisa mendesah.


Minuman mereka sudah ada dimeja ,pak Harun juga sudah datang ke ruangan tamu.


Selama beberapa saat terjadi pembicaraan serius tertangkap pekerjaan mereka. Bram dengan lihai memberikan argumen-argumen.


Akhirnya mereka sampai pada keputusan melakukan kerja sama ,saing berjabat tangan.


Kali ini pak Harun mengantarkan mereka keluar ,sampai depan pintu rumahnya.


"Ini langsung mau pulang atau mau nginap dulu?" Tanya pak Harun


"Lihat kondisi nanti pak"


Jawab hans sedikit melirikan sudut matanya ke arah sang sekretaris


"Ya sudah kalau begitu kami permisi pak"


Ucap Hans


***


Mereka kembali ke tampat penginapan yang disediakan tadi . Angel tidak henti-hentinya berada didekat jendela melihat ke arah sekitar.


"Angel"


Panggil Hans


"Iya pak?"


"Ayo kita jalan-jalan"Ajak Hans


"Bram!"


"Iya pak "


"Ayo sekalian"


Wajah angel sudah sumringah karena senang .

__ADS_1


Selalu seperti ini posisinya angel dan Hans berjalan berdampingan ,sedangkan Bram seperti pengawal yang berada dibelakang mereka.


__ADS_2