Wanita Sang CEO

Wanita Sang CEO
Ch 138- 3 Pria Mencemaskan istri


__ADS_3

Pagi itu Hans mulai terusik dari tidurnya. Sinar matahari telah mengintip dari balik jendela. Masih bergumam malas membuka matanya. Tubuhnya kemudian berguling ke kanan mencoba memeluk sosok yang di cintai. Namun ia tidak mendapatkannya sisi sampingnya terasa kosong. Segera Hans membuka mata, benar saja sang istri tidak ada.


“Sayang.” Langsung memanggil, dengan mata berkeliling. Mungkin saja Angel ada di kamar mandi ataupun ada di walk in closed.


“Kemana dia sepagi ini sudah tidak ada di kamar.” Hans kesal. Membuka kamar mandi lalu mulai membasuh wajahnya. Rambutnya juga ikut basah terkena air. Mengambil handuk putih yang tergantung dan mulai menyeka air yang menempel tadi. Tubuhnya yang memang tidak berbalut baju. juga terkena cipratan air.


“Ini kan hari Minggu, kenapa sudah bangun sepagi ini.” Kembali mengoceh sedikit sembari memasang T shirt. Melangkah ke luar kamar.


Ke lantai bawah dia hanya melihat sosok Papa Fadli yang sedang duduk di meja makan bersama Bram. Satu cup gelas terlihat mengepulkan asap tepat di depan sang papa. Mungkin itu kopi kebiasaan sang papa suka minum kopi di pagi hari.


“Pa, Angel mana?” Langsung bertanya dengan satu tangan memegang kursi tanpa niat mengambilnya hanya sebagai tempat tumpuan sementara tangan satunya masih berada di di kantong celana.


Sekilas Hans melihat raut wajah masam Bram.


Kenapa Bram berekspresi begitu? Apa dia tidak diberi jatah tadi malam. Haha kau kalah denganku Bram. Aku bahkan bisa menaklukkan Angelku di setiap detiknya.


Hah dasar malah menyombongkan diri di dalam hati.


Suara papa terdengar mengalihkan perhatian Hans dari Bram.


“Loh memangnya kamu nggak tau.” Hans menggeleng lekas. Memangnya kemana Angelnya.


“Begini mami kamu ngajakin Angel, Hana Nara sama Ken olahraga di taman dekat sini.” Kali ini Hans kembali terheran bukan dengan info yang diberikan papa malah terheran dengan respon Bram yang lekas menguyah sandwich.

__ADS_1


“Mama kamu itu ya Hans, ck memang nggak ada habisnya. Masa ngajakin mereka olahraga karena mau liat ada instruktur senam super tampan gitu katanya.”


“Apa?!!”


Brak!


Langsung menggebrak meja. Raut wajah terkejut.


“Kenapa papa biarkan. Kenapa Angelku juga diajak?! Memangnya seberapa tampan laki-laki itu. Tidak cukup melihatku yang tampan di rumah ini?! ” Kesalnya menjadi dengan sisipan perbandingan kenarsisan yang tak tertinggal.


Guratan wajahnya terlihat kesal.


“Kenapa papa dan Bram malah santai disini. Bagaimana jika mereka memikat hati Angelku, Hanamu, dan Rinamu.” Hans menunjuk mereka semua. Sudah seperti menyulutkan api.


Dasar Anak ini, Rinaku? Oh iya benar Rinaku tapi kan itu sebutannya agak... Papa Fadli agak merasa tidak tepat intinya sebutan itu. Sebab usianya sudah tua tidak lagi ada niatan panggil sayang-sayangan dengan sang Sitti beda halnya dengan Hans dan Bram.


Bram yang ditunjuk langsung beridiri. Eh Hans sadar mungkin ini alsan Bram memasang ekspresi penuh kekesalan tadi. Papa Fadli malah masih mengkerut kan kening.


“Iya benar ini tidak bisa di biarkan. Bagaimana kalau mereka terpikat dengan laki-laki asing itu!”


Papa yang biasa merespon tenang saja sebab ekspresi keras dan intonasi keras dari Hans dan Bram. Mulai di rasuki pemikiran juga.


“Ayo kita menyusul Bram. Apa-apaan mereka itu.” Bram langsung ikut mengekor dengan wajah pasti. Sedang Papa juga ikut mengekor lekas.

__ADS_1


Tiga pria itu penuh pemikiran atisipasi sepanjang perjalanan. Masing-masing mangambil motor di garasi. Hans mengunakan Motor dengan ukuran yang sedikit besar. Masih terlihat begitu menganggumkan. Otaknya langsung mempertimbangkan membawa Angel dan anaknya jadi memutuskan membawa motor itu.


Bram mengunakan motor dengan ukuran atau merek yang hampir sama dengan Hans.


Sedang papa...


Membawa motor Pespa...


Tiga pria ini, membelah jalanan menuju taman terdekat.


Awas saja kalau sampai Angelku digoda disana.


Awas saja istriku yang sedang hamil diperhatikan dengan begitu intens. Apalagi dia sedang banyak maunya sekarang.


Dasar Mama sudah tua masih saja tertarik dengan berondong. Awas saja kalau nanti berperilaku berlebih.


.


.


.


😂😂😂

__ADS_1


__ADS_2