Wanita Sang CEO

Wanita Sang CEO
CH 105- Hal Buruk?


__ADS_3

Kegundahan dan kegusaran kian bertambah di setiap harinya, Eh Tidak mungkin di setiap detiknya. Sudah hampir satu Minggu ia melakukan hubungan jarak jauh dengan Angel. Di setiap waktu itu pula ia menggerutu, dengan pekerjaan yang ada.


“Kenapa pekerjaan kita banyak sekali. Ini juga kapan aku mau melakukan kerja sama dengan Group B?” Terus mengerutkan kening merasa kesal dengan tampilan layar ipad berisikan jadwal ia 2 minggu kedepan yang super padat.


Bram hanya bisa berdiam dengan menahan rasa kesal. Satu Minggu ini ia dibuat pusing dengan tingkah Hans. 


“Bagaimana aku bisa segera bertemu Angelku kalau pekerjaan sebanyak ini!” Huh ia baru sadar ternyata kemampuan mumpuninya juga menyusahkan dirinya sendiri.


Baru saja Anda mengatakan itu beberapa menit tadi pak. Selama satu Minggu ini Anda sudah mengatakanya sebanyak ratusan kali! Saya sudah bosan mendengarnya.


“Huff…Akhhh...sakit sekali” Meletakan ipad lalu bersandar dengan tangan memijit pelipisnya kepala, kepalanya terasa berat dan pusing. Melihat tingkah Hans yang tampak aneh Bram mengerutkan kening.


“Anda baik-baik saja pak? Anda terlihat pucat! Apa perlu saya panggil dokter Daren.” Rasa cemasnya terselip di balik pertanyaan Bram. Mata Hans masih terpejam berusaha menyadarkan diri.


“Tidak, aku baik-baik saja Bram. Kau buatkan aku kopi saja sekarang.” Titah Hans.


“Tapi, ini sudah malam pak. Apa tidak sebaiknya Anda segera pulang.Anda juga melewatkaan makan siang hari ini hal ini tidK baik pak. Terlalu banyak lembur juga tidak bagus untuk…” Belum habis Bram bicara, Hans sudah kembali menyela. Memang akhir-akhir ini Hans memaksakan diri dengan mengumpulkan pekerjanya yang ada, ia ingin memproses penyelesaian pekerjaan secepat mungkin. Akibatnya ia jadi sering lembur dan jarang pulang ke rumah. Hans memilih tidur di rumah pribadinya. Meskipun begitu ia tidak Manahan Bram lama. Bram tetap bekerja dan pulang pada waktunya.


Mama Rina cemas dengan kondisi Anaknya. Hingga ia sering kali menumpahkan kekesalan kepada papa Fadli, karena sudah berani-beraninya membuat Hans bekerja lembur.


“Lakukan saja yang Kuminta, setelah itu kau boleh pulang.” Mata Hans terbuka melayangkan tatapan peringatan ke arah Bram.


“Baiklah pak. ” Bram berlalu dengan helaan nafas kasar. Tidak tahu lagi bagaimana ia harus memberikan saran ke Hans. 


Ditinggalkan Bram sendiri Hans mulai merasa kosong. “ Aku ingin. segera bertemu Angelku!” Berkata lirih dengan rasa rindu yang dalam. Pikiran dan raganya terasa terbagi. Ayah mertua sudah mengetahui hubungan yang dengan Angel. Dengan kondisi seperti ini dia bahkan belum segera menghadap ayah mertua.


“Apa yang ayah mertua akan pikirkan tentang Aku nantinya.” Perasaan gusar dan takut menderanya. Dia terbebani, dan merasa takut akan ditolak calon mertuanya.

__ADS_1


“Saya tidak bermaksud mengulur waktu ayah mertua. Saya mohon pahami saya nantinya.” Suaranya bergetar penuh pengharapan.


***


Bram terus berjalan perusahan sudah nampak sepi dari para karyawan. “Jika Anda bekerja dengan cara ini , Anda akan jatuh sakit pak. Tapi Anda keras kepala sekali.” Pikirannya segera terbuka.


“Baiklah... Kalau begitu biarkan saya keras kepala untuk kali ini juga , ini semua untuk kebaikan Anda.” Bram merogoh ponsel yang ada di saku jas sebelahan kiri. Tubuhnya sudah berdiri di depan pantry. Menyeduh kopi untuk Hans. Ya ia memutuskan untuk memantah titah Hans tadi ia menelpn dokter Daren.


Tut Tut.


“Hallo, kenapa Bram? ” Suara di seberang terdengar seperti terkejut. Tentu saja dokter Daren terkejut Bram menghubunginya bisa menghitung jari dan jika Bram menelponnya maka dipastikan ada kondisi darurat.


“Ini, bisakah Anda datang ke perusahaan saat ini juga dokter. Saya khawatir dengan kondisi pak Hans yang terlihat pucat, saat saya tinggal tadi. Dan juga beliau terlihat memijat kepalanya beberapa kali.” 


Bram mengaduk kopi dengan tubuh yang mulai tegap dan serius.


“Astaga Ada apa dengan CEO itu. Tidak seperti biasanya. Baiklah aku akan segera kesana.” 


“Ini memang tugasku Bram ,tidak perlu berterima kasih.” Dokter Daren menolak lembut ucapan rasa terima kasih tadi. Panggilan berakhir, bersamaan dengan kopi yang sudah siap.


“Huft…” Menghela nafas. 


***


Beberapa kali Hans mengerjapkan matanya, rasa pusing tak tertahankan. Bolpoin yang ia pegang juga mencoret asal karena pandangan yang mulai kabur.


“Kepalaku pusing sekali.” Hans kemudian berusaha beranjak berdiri. Kakinya mulai goyah dengan pandangan mata yang semakin berat. Hantaman rasa pusing membuat ia tak fokus. Apa ini kenapa tubuhnya begini. 

__ADS_1


Bruk! 


Tubuhnya jatuh lunglai tak berdaya. “Pak Hans! ” Kopi panas yang Bram pegang jatuh karena terkejut. Dia berlari mendekati Hans berusaha menyadarkan Hans kembali.


“Pak! Pak! Sadar pak. Sudah saya bilang kan, kondisi anda Tidak baik-baik saja. Ini lah jadinya!” Hans masih tak mau sadar. Dengan sekuat tenaga Bram berusaha menggendong Hans di punggungnya. Di setengah berlari menuju lift. 


Tangannya menyentuh tombol lift menekan lantai dasar. Ia berusaha memposisikan Hans agar tidak terjatuh dari punggungnya. Rasa cemas dan takutnya membuat ia segera menghubungi dokter Daren


“Ya…”


“Dokter! Pak Hans pingsan! Beliau tidak sadarkan diri. Saya akan membawa beliau ke rumah sakit terdekat jadi Anda susul saya nanti!”


“Apa!! Oke baiklah Bram, aku segera menyusul.” Dokter Daren terkejut luar biasa baru lima menit yang lalu ia mendapat  fakta kesehatan Hans yang menurun sekarang Hans malah pingsan.


Bram dengan segala kecemasannya menancap gas segera setelah mengatur posisi Hans dibelakang, tepatnya dibangku penumpang. “Sikap Anda ini bukannya dapat segera bertemu sekretaris Angel, pak. Melainkan Anda segera menuju ajal Anda.” Seruan Bram terdengar tajam dan menghujam. Dia bisa bicara lepas karena yang dibelakang tidak sadarkan diri. 


Tit tit tit tit…


Mata Bram dibuat membeliak penuh keterkejutan. Dari arah berlawanan dengan kecepatan tinggi sebuah mobil menuju ke arahnya.


Ya Tuhan selamatkan kami! 


Brak!!!!


***


“Auuu.” Pada waktu yang sama Angel tersentak dengan gelas kaca yang terjatuh. 

__ADS_1


“Aduh nak kenapa tidak hati-hati." Ibu datang memeriksa si putri. “Awas nak, biar ibu bereskan... bahaya ini.” Suara ibu tampak tidak masuk ke dalam telinga Angel. Hatinya tiba-tiba mendapatkan hantaman rasa nyeri dan tidak nyaman. Entah apa yang membuat dadanya merasakan hal itu, namun sekelebat bayangan Hans tiba-tiba teringat olehnya. 


“Kenapa dadaku nyeri sekali. Apa ada hal buruk terjadi?”


__ADS_2