Wanita Sang CEO

Wanita Sang CEO
CH 121- Bulan Madu Berakhir


__ADS_3

Kejadian ombak besar yang hampir menggelung dan menyeret sang istri, menjadi awal dari larangan mendekati pantai. Tentu saja Angel berusaha merayu, bersikap imut agar larangan dicabut. Namun Hans tetap kekeh dengan keputusannya, ia tidak ingin sampai kejadian hal yang sama. Mencegah lebih baik itulah pedomannya.


“Maaf ya sayang, ada pekerjaan padahal kan kita masih berbulan madu, cih kalau saja tidak ada pekerjaan yang mendesak!” Ucapnya merasa tidak rela sekaligus kesal.


“Tidak apa-apa sayang.” Menjawab dengan lembut berbeda dengan Hans yang tidak rela Angel malah merasa biasa saja. Bagaimana tidak hampir 1 bulan setengah mereka berbulan madu. Dan bukan hanya disatu tempat. Mereka bahkan berkeliling dunia mengunakan jet pribadi Hans.


Kepuasan tentu saja dirasakan Angel, bulan madu itu terasa manis. Di negara berbeda mereka merasakan musim yang berbeda, mereka bahkan juga berbulan madu ke Korea hampir satu Minggu lamanya.


Saat itu dikorea musim salju, karena sulit untuk membaur, Angel menjadi demam. Kecemasan Hans saat itu begitu memuncak. Dia tidak bisa tidur semalaman, menjaga sang istri.


Flash Back


~Korea


“Dimana Angelku! ” Berteriak keras dengan perasaan gusar. Salju yang semakin lebat membuat kecemasannya bertambah. Ponsel Angel ternyata tepat berada di saku celananya .


“Saya akan bantu mencari pak.”


“Aku ikut kak,” Hana menggandeng Bram, takut juga jika dia ikut dengan kakaknya yang terlihat begitu emosi.


“Astaga kemana Kak Angel, padahal tadi hanya pamit sebentar, kenapa tidak kembali. Ini gawat kakak sudah seperti orang gila.” Hana bergumam dalam hati.


Hans tak mendengarkan dan membelah kerumunan manusia yang berdominasi kulit putih dan mata sipit itu.


Ia terpisah dari Angel, tanpa sadar. Dia takut akan kondisi Angelnya saat ini.


“Angel sayang!” Memanggil keras sembari menelisik satu persatu orang-orang yang ada.


5 menit, 10 menit kecemasannya semakin bertambah.


“Kamu dimana sayang! Aku bodoh, seharusnya aku tidak membiarkanmu pergi sendiri tadi!” Mengusap wajah yang hampir beku dengan begitu kasar.


Dadanya yang cemas sudah berganti dengan rasa sesak, pikiran buruk mulai mengahantui.


“Angel!” Meneriaki dengan berlari kencang.


“Hans! Huuu, kamu dimana tadi, aku mencarimu tapi tidak ada.” Sudah menangis, Perasan cemas tadi mulai memudar diperlukannya erat tubuh snag istri. Angel sudah ditemukan. Untung saja dia tadi memilih pergi ke tempat parkir mobil, pikirnya Angel pasti berada disana. Dan tenyata benar.


“Shuut, Tenang sayang tenang, semuanya sudah baik-baik saja.” Menghapus jejak air mata dengan lembut, namun matanya dibuat tersentak dengan bibir sang istri yang tampak pucat.


Bram dan Hana pun segera menghampiri saat tau Angel sudah ditemukan. Arah tujuan mereka bukannya hotel melainkan rumah sakit.


Tubuh Angel dingin, dan acap kali bersin. Hal itu membuat Hans gusar dan cemas. Sampai dirumah sakit Seoul Angel segera mendapatkan perawatan yang semestinya.


Semalaman penuh Hans tak bisa tidur dan hanya terus mencemaskan sang istri. Sementara Bram dan Hana sudah disuruh kembali ke hotel terlebih dahulu.


Keesokan harinya pun tiba, Tubuh Angel sudah membaik. Hans bisa bernafas lega karena itu, dan Menghadiahkan ciuman hangat ke bibir sang istri.


Flash Back Off


***


Bulan madu itu berakhir dengan perasan tidak rela dari sisi Hans. Harapanumbuhnya benih-benih kehidupan ditubuh sang istri menjadikan Hans protektif. Di dalam pesawat ia memangku Angelnya, sembari memberikan usapan lembut di permukaan perut sang istri. Sementara sang istri tampak tertidur nyenyak dengan hembusan nafas yang terdengar teratur. 


***


Sampai ke rumah mereka segera disambut dengan hangat, ayah dan ibu pun ternyata masih ada di tempat. 

__ADS_1


“Sayang.” Disambut oleh pelukan hangat dari ibu dan Mama lalu ciuman di dahi Angel.


“Sudah mah jangan cium-cium Angelku!” Menarik Angel dengan cepat. Lalu melingkarkan tangan sang istri di tubuhnya.


“Heh itu menantu mamah juga!” Mama protes.


“Tapi Angel Istri hans.” Kekeh tidak mau Angelnya dicium lagi.


“Sudah lah mah.” Papa berusaha menengahi. Dengan cemberut mama pun mengiyakan.


“Hans benar-benar tidak bisa dikendalikan, bisa-bisanya dia cemburu dengan ibunya sendiri. Cih apalagi jika aku dicium Juna pasti dia akan mengamuk.”


***


Malam pun tiba semua keluarga berkumpul di halaman belakang rumah, mereka sedang mengadakan BBQ. 


“Ternyata enak juga ya pak fadli.” Ayah bekomentar setelah memasukan satu potong daging yang telah matang, bumbu yang begitu meresap mengubah Indra pencecap ayah.


“Tuh kan, sudah saya jamin rasanya pasti enak. ” Dua laki-laki paruh baya itu terlihat mulai akrab. Pak Fadli yang supel mudah sekali untuk berbaur dengan ayah. Sementara Juna sibuk makan sembari main game.


Sementara ibu dan Mama sedang sibuk mengobrol. Entah apa yang diobrolkan dua orang itu, tapi yang terlihat mereka juga sudah sangat akrab. Melihat hal tersebut Angel dan Hans merasa senang. Ternyata waktu bulan madu yang mereka miliki membawa keakraban untuk kedua orang tua mereka.


“Sayang, aku bisa ambil sendiri. Kamu bisa duduk sekarang.” Sudah mau beranjak, namun tatapan galak Hans kembali mengurungkan niatnya. Duduk kembali dan merapatkan selimut yang tadi dibalut dengan hati-hati oleh Hans ketubuhnya.


“Mau apa lagi, biar aku yang ambilkan.” Meletakan jagung bakar yang tampak menggugah. 


“Aku mau sosis bakar kak, jagung juga boleh, sama…” Hana tak melanjutkan kalimatnya.


“Ambil sendiri.” Pungkas Hans segera, lalu menatap sang istri dengan penuh cinta. Hana cemberut. Padahal ingin mengambil kesempatan tidak ingin bergerak tapi kakaknya malah tidak memperhatikan.


“Cih kak Angel aja dari tadi diperhatiin,diturutin mau nya apa. Dasar kakak jahat.” 


“Yakin tidak ada yang lain?” Menyisipkan sulur rambut yang tampak tak menggangu wajah sang istri. 


“Iya sayang, sini.” Menepuk kursi disampingnya. Hana sudah berdiri mengambil sosis keinginannya.


Melihat Hans yang sudah duduk Angel pun mengambil jangung bakar yang tampak mengunggah tadi.


“Ah, panas-panas!” Tercekat.


“Hei, kenapa tergesa, ini masih panas!” Memeriksa bibir sang istri dengan kening yang berkerut, cemas. Bahkan nadanya tadi sempat meninggi.


“Sudah sini, biar aku yang menyuapi.” Mengambil alih jagung yang sempat Angel pegang, layangan protespun keluar dari mulut Angel.


“Aku saja sayang, tadi hanya sedikit panas. Kamu juga harus makan, kalau kamu mengurusku kapan kamu akan makan.” Protes sekaligus merasa bersalah. Hans tidak mengambil posisi tenang untuk makan sendari tadi. Sibuk kesana kemari mengambil kebutuhan dirinya.


“Aku akan makan nanti, sekarang aku akan mengurusmu dulu.” Sudah menggunakan nada tegas, bibirnya merasai jagung apakah sudah dingin lalu beralih menyodorkannya ke depan mulut sang istri.


“Kalau kamu perhatikan begini kan, aku jadi semakin merasa dicintai.” 


Hap satu gigitan dengan perasaan bahagia. “Aku suka melihatmu makan banyak begini.” Mengusap sudut bibir Angel yang tampak ada butiran jagung kecil. Lalu dimakannya jagung tadi, hal itu membuat mata Angel melotot.


“Ke-kenapa memakannya sayang. Itu kan, sudah bekas bibirku.” Menangkup pipi Hans.


“Memangnya kenapa, bibirmu pun kunikmati dan ingin kumakan saking menggodanya. Apalagi butiran jagung yang menempel di bibirmu.” Semburat merah penuh rasa malu pun terlihat di wajah sang istri. 


“A-apaan jangan bicara asal!” Protes dengan sikap malu-malu. 

__ADS_1


Hans malah tergelak lepas dan gantian menangkup kedua pipi Angel. Ia berbisik pelan di telinga sang istri.


“Aku tidak bicara asal sayang, semua yang ada pada dirimu membuatku teliga-gila. Bahkan mata polosmu saat ini, membuatku begitu tergoda dan ingin menyeretnyamenyeretmu segera ke kamar.” 


“Kau gila!” Tiba-tiba suara meninggi.


“Kenapa sayang?” Mama mendekat. Mendengar suara Angel yang tinggi maka lekas berlari.


“Apa yang kamu lakukan Hans?!” Papa memasang wajah garang, karena salah paham tentang sang menantu sedang kesal dengan Hans dan hendak terjadi pertengkaran.


Angel menjadi gelagapan melihat semua mata yang cemas.


“Eh A-angel tidak apa-apa. Hans hanya mengejutkan Angel tadi.” 


“Dengan sifat mesumnya yang semakin tidak dapat diperbaiki.”Lanjutnya mencibir dalam hati.


“Oh papa kira, Hans membuat kamu marah nak.” Papa melembutkan suaranya. 


Sedangkan ayah bernafas lega. Hana malah membulatkan bola matanya melihat kakaknya yang sedang Manahan tawa. 


“Apa yang terjadi sampai kak Angel terlihat malu-malu begitu.” Batin si tengil Juna mengorek.


“Haha istriku lucu sekali sih, memang selalu mudah digoda dan malu-malu. Dasar istri polosku.”


***


Menjelang tengah malam acara BBQ selesai. Semua penghuni rumah kembali ke kamar masing-masing dengan perut kenyang. Sementara bekas aacra di bereskan olah para pelayan rumah. Gerbang utama telah ditutup. Para pelayan yang jumlahnya tak terhitung mulai meregangkan badan dan menyusupkan badan ke empuknya tempat tidur.


Semua penghuni sudah hampir tertidur namun tidak dengan kamar milik Hans dan Angel. 


“Sudah sayang, aku mau tidur.” Menjauhkan tubuh Hans yang terus mencium semua permukaan wajahnya. 


“Jangan tidur dulu.” Cegah Hans dengan membalik posisi menjadi Angel di atas tubuhnya. 


“Iya kenapa?” Akhirnya mengalah dan menatap sang suami.


“Besok aku akan bekerja, jadi jangan pergi kemana-mana tanpa megabariku. Saat nanti aku menghubungi kau harus mengangkatnya. Jangan terlalu banyak bermain dengan mama nanti kamu lupa denganku.” Ultimatum demi ultimatum sudah keluar dari mulut si suami. Namun hal terakhir malah terdengar aneh oleh Angel.


“Bukannya bagus aku dengan dengan mama.” Bertanya dengan polos.


“Itu bagus, tapi Mama akan memonopoli waktumu jika akrab. Nanti aku yang kesulitan memisahkan kalian!” Berujar dengan berapi-api. Tidak mau membayangkan sang istri akan dikuasai Mamanya sendiri.


“Iya,iya.” 


“Tapi aku tidak menjamin ya.” 


“Bagus kalau begitu, jangan lupa gunakan kartu yang kuberikan untuk keperluan. Jangan sekali-sekali mengunakan kartu milikmu!” Memeringati kartu yang diselipkan paksa di dompet snag istri harus digunakan. 


“Tapi kan,...” 


“Tidak ada tapi-tapian gunakan kartu yang telah kuberikan, untuk apa pun itu yang kamu beli!” Tegas. 


“Iya, iya sayang.”  Tidak ada gunanya juga bernegosiasi jika si pemimpin sedangbiat keputusan.


“Sudah ayo tidur sayang. Kamu besok harus bekerja kan.” Merebahkan diri di dada sang suami. Baru saja memejamkan mata posisi tubuhnya sudah dikukung di sisi kanan dan kiri oleh tubuh Hans.


“Iya besok aku akan bekerja, jadi aku akan memuaskan diri malam ini.” Tersenyum mencurigakan, dan tenyata benar. Maksud memuaskan diri itu diawali dengan baju yang sudah terpental kesana kemari.

__ADS_1


.


.


__ADS_2