
Pagi sudah menjelang, wajah Angel terlihat begitu muram. Matanya terlihat sayu, dan kantung matanya juga terlihat jelas. Bukti bahwa ia tidak tidur nyenyak semalaman.
“Apa Hans semakin sibuk ya?” Menanyakan pada dirinya entah untuk yang keberapa kali. Malam tadi ia tidak mendapat panggilan telepon dari sang suami, padahal pada hari sebelumnya Angel selalu ditemani Hans sampai tertidur pulas. Namun sekarang, satu panggilan telepon pun tidak Hans berikan, tentu saja Angel sudah mencoba menghubungi dan hasilnya nihil. Tidak dijawab sama sekali.
Perasaanya menjadi berkecamuk. Malam tadi pun ia tidak bisa tidur nyenyak, selalu saja terbangun dan mengecek ponsel, lagi-lagi tidak ada satupun panggilan. Bram pun sudah berusaha ia telpon namun tak ada hasil pula.
“Hikss... Hans... Apa sesibuk itu? Padahal kan biasanya selalu telpon, kenapa sekarang tidak menjawab. Kenapa telponmu tidak diangkat...hikss...hiks...” Tangis Angel pecah sembari menelungkup kan kedua kepalanya di bagian lutut.
Ceklek
Pintu kamar dibuka tiba-tiba, Angel terkesiap matanya masih berkabut dengan air mata.
“Sayang! Kenapa ini? Kenapa nangis? Menantu mama kenapa?” Raut wajah Mama Rina tentu saja terkejut. Ia memang ingin ke kamar Angel, namun begitu tersentak saat mendengar suara tangis, tenyata benar di dapatnya sang menantu sedang menangis.
“Mah,” Angel segera memeluk mama.“Iya, kenapa sayang. Kenapa nangis gini? ” Mama mencoba menghapus jejak air mata.
“Hiks... Hans mah...Hans...”
“Hans? Memangnya kenapa anak mama, nak?” Mama begitu terheran. Masih melihat menantunya menangis.
“Hiks...Hans gak bisa ditelpon mah, sejak malam tadi. Padahal Hans selalu sempetin waktu nelpon Angel setiap malam. Tapi... Tapi...Hiks... Malam tadi Hans gak sama sekali ngehubungin Angel, mah. Angel cemas sama Hans...” Isakan tangis penuh kecemasan semakin nyaring. Mama sampai membulatkan matanya terkejut juga, dia tau bahwa Hans selalu menghubungi Angel setiap malam, dan kabar tadi sungguh membuatnya terkejut.
Beberapa saat mama kelu dan mengusap bahu Angel.“Duh mama kira kenapa sayang. Hans palingan sibuk sayang, kamu tau sendiri kan dia lagi perjalanan bisnis. Dah jangan nangis lagi, nanti mama coba juga ngehubungin Hans ya, nak.” Mama mengulas senyum.
“Gitu ya, ma?” Angel masih tak yakin.
“Iya, nak.” Mama menyahuti dengan senyum, namun pikirannya juga sudah melayang. Pintar sekali mama menyembunyikan raut penuh keruwetan pikiran diwajahnya.
__ADS_1
“Sekarang kamu mandi ya, nak. Turun kebawah, makan, minum susu juga. Pikirin bayi kamu, jangan nangis kayak gini. ” Angel baru tersadar, ia segera menatap perutnya. Terlalu memikirkan Hans sampai ia lupa segala hal. Padahal bayinya mendapatkan nutrisi dari asupan yang ia makan.
“Nak maaf ya, mama cemas sama papa kamu. Jadi belum ngajak kamu makan. Abis ini kita makan ya.”
Angel pun menuju kamar mandi, sembari menghela nafas dan segera keluar kamar.
Sementara Mama melangkah tergesa. Langkahnya menuju kamar dimana ada keberadaan sang suami.
“Pah!” Mama meneriaki, papa Fadli memekik terkejut karena baru keluar dari kamar mandi. Hampir saja handuk terlepas dari pinggangnya. “Mah ngagetin aja! Kenapa sih mah?” Papa memelankan suara di akhir.
“Hans, pah. Coba hubungi lagi.” Mama memerintah, sebenarnya malam tadi ia juga sempat menelpon anaknya, namun dikiranya Hans tidak menjawab karena sibuk berbincang dengan Angel, fakta yang didapat dari Angel tadi membuat rasa tidak nyaman tadi malam sekarang kembali mendera dan berdenyut.
“Memangnya kenapa sih?” Papa begitu terheran, namun tak urung tangannya mengambil benda pipih itu.
“Dugaan kita salah, pah. Malam tadi Hans gak lagi nelpon, Angel. Bahkan menantu mama nagis pagi ini gara-gara gak dapat telpon dari suaminya. Perasan mama jadi semakin gak enak ini, pah. Hubungin anak kamu sampe dijawab.” Lontaran penjelasan penuh kecepatan itu membuat papa begitu tercengang.
“Pah, detik ini juga papa susulin anak mama ke Jepang. Mama cemas lah kalo terjadi sesuatu sama Hans! ...hiks...” Papa menjadi gelagapan karena mama menangis.
“Mama tenang dulu, jangan kayak gini. Kalau mama sudah bersikap kayak gini gimana Angel. Mama harus tenang jangan sampai kelihatan acak-acakan didepan Angel.”
“Hiks... Iya pah, tapi mama cemas sekarang. Pokoknya mama mau denger suara anak Mama!” Penekanan tegas.
Papa pun mencoba menghubungi orang-orangnya dijepang. Ia kenal beberapa karena dulu juga terjun ke dunia kerja. Sekarang mama dan papa akan mulia bersandiwara menyembunyikan kecemasan di wajah.
***
Angel menyendok paksa agar makanan masuk ke dalam mulutnya. Setiap sendok makanan yang masuk ia telan segera, ia tak bisa menilai masakan yang ada, ia sekarang makan hanya perlu ingin memenuhi kebutuhan nutrisi untuk bayinya.
__ADS_1
Satu gelas susu sudah tandas. “Bi, Angel sudah selesai makannya.”
“Eh iya non.” Angel pun berlalu. Bibi merasa heran.“ Loh gak kayak biasanya non Angel gak makan banyak.” Biasanya makanan yang ia sajikan selalu tandas dimakan, karena nafsu makan istri tuan mudanya itu begitu banyak. Itulah yang membuat bibik Mirna bertanya-tanya keheranan.
Menjelang sore kemerawutan pikiran Angel semakin menjadi. Masih tidak ada panggilan telpon ataupun pesan masuk dari ponselnya. Bahkan grup chat yang berisikan Dina ia dan Vina tidak begitu menarik untuknya.
***
3 hari telah berlalu mengenapakan satu Minggu perjalanan Hans. Satu kabar pun tidak didapatnya. Hal itu semakin memperumit pikiran dan menyesakkan dadanya.
Selama satu Minggu itu pula ia berusaha mensugesti diri bahwa ia baik-baik saja. Bahwa Hans mungkin sedang sibuk sekali maka dari itu tidak mengabarinya. Atau Hans kehilangan ponselnya jadi tidak bisa menghubunginya.
Namun hatinya tak kurung merasa baik. Ia tidak bisa merengek kepada mama, ingin tau keadaan sang suami, karena mama pun tampak menghindar ketika membicarakan tentang Hans.
Sepi kembali menerpa, Angel tergelam dalam keheningan. Langkahnya menuju ruang kerja sang suami. Tangisnya pecah tak lagi bisa dibendung. Setiap sisi ringan berisikan fotonya. Hanya ia seorang.
“Hans... Kamu akan kembali kan sayang. Pasti kamu sedang sibuk sekali kan, makanya tidak mengabariku. Pasti karena itu kan sayang... Akhhh... Hiks..” Air mata kerinduan dan kecemasan mulai berjatuhan. Angel duduk di bangku ruang kerja Hans. Ia menelungkup wajahnya dalam telapak tangan.
“Hans, jangan membuatku cemas begini, sayang. Kumohon cepatlah kembali...ini menyiksaku...Hiks...Akhhh...”
Angel hanya berharap tangannya di esok hari berganti dengan senyum cerah karena menyambut kedatangan sang suami.
Semoga...
Semoga...
Semoga saja....
__ADS_1