
Ini kah yang dimaksud bulan madu versi Hans?! Menghabiskan waktu di dalam kamar tidak membiarkan Angel mengenakan sehelai benangpun. Lebih suka bergelung di dalam selimut menikmati kehangatan sang istri, dari pada kehangatan suasana diluar.
“Sayang, sampai kapan kita begini terus. Ayo keluar, aku mau jalan-jalan.” Mencoba membujuk lagi, sudah beberapa kali tadi ditanggapi dengan gumaman serta pelukan yang demikian erat, sampai Angel merasa jengah karena tidak bisa lepas.
“Hemm.” Menaggapi dengan gumaman, sementara bibirnya kembali nakal membubuhkan tanda kepemilikan di leher sang istri. Angel pun berpaling menahan rasa geli karena sapuan bibir serta hembusan nafas Hans yang terasa menggelitik.
“Hem, Hemm dari tadi begitu terus jawabnnya!” Sudah mulai kesal mau melepaskan diri namun tidak bergerak sedikitpun.
“Astaga, baiklah… istriku sungguh tidak sabaran sekali.” Cup ke bibir.
“Jelaslah, meladani sikapmu kesabaranmu habis, kamu sengaja kan mengulur waktu keluar dengan berpura-pura tidak mendengar rengekanku! Haishh dasar!”
Sekarang baru benar-benar bisa lepas dari tempat tidur.
“Ayo mandi bersama.” Ajakan itu!
“Tidak!” Angel menjawab dengan suara tinggi, karena spontan. Tidak akan! bisa-bisa dia harus meladani kemauan Hans lagi!
“Tidak?” Alis Hans menaut.
Angel kemudian berdehem pelan.
“Iya, kita mandi bergilir saja sayang.” Mengulas senyum, yang di depan cemberut.
“Sudah sana mandi, atau aku saja yang duluan.” Mengajukan diri karena Hans tak bergerak sedikitpun. Tentu saja Hans tak bergerak padahal dia sudah berpikir nakal, namun sang istri malah menolak.
“Akhhh.” Mata melotot karena tidak terduga tubuhnya di angkat.“ Sa-sayang, turunkan aku!”
“Sudah kubilang mandi bersama, kita hanya mandi kenapa kau menolak keras begitu.” Mulut Angel seketika melontarkan cibiran.“ Aku tidak percaya denganmu, melihat kejadian sebelumnya!” Memasang wajah garang, tangan berpegangan pada pintu belum benar-benar masuk, sekuat tenaga menahan diri.
“Padahal aku tidak berpikir ke arah sana.” Berdecak, bohong sekali cibir Angel.“Tapi karena otak istriku sudah tercemar, jadi aku akan mewujudkannya.” Tergelak dan pintu kamar mandi ditutup. Hah sudah tidak bisa lari lagi.
***
Sementara itu di sebuah ruangan khusus masak-memasak serta bahan makanan, pembantu sedang sibuk menyiapkan beberapa porsi makanan. Satu untuk Hana dan satu untuk Bram.
Posisi duduk kaki berjuntai karena kursi yang tinggi dan tak bersandar. Hana suntuk, Bram yang ada disampingnya tidak banyak bicara sama sekali, bahkan sering kali abai dengan keberadaanya.
“Kak Bram.”
“Iya nona.” Sahut Bram sopan, mengingat Hana adalah adik sang atasan.
“Kakak tau gak samanya kakak sama tiang listrik?”
“Saya tidak tau dan tidak mau tau.” Sahut Bram lekas. Wajah yang terlihat imut sekaligus cantik ini ingin merayunya.
“Ck, ck ,ck ya itu, samanya gak banyak ngomong, tapi pas udah ngomong nyelengit.” Heh, Hana malah sudah tertawa, dia memang ingin mengejek Bram.
“Saya akan berbicara, jika memang diperlukan, dan saya bukan tiang listrik, jadi jangan samakan saya.” Bersuara serendah mungkin, terpancing juga kekesalan.
“Haha iya bener kalo dilihat lagi gak sama, kalo tiang listrik gak berkespesi, tapi kalau kak Bram ekspresinya kalo kesel makin tampan gitu.” Heh si bungsu malah menjadi merayu Bram. Tidak tau bahwa ucapan rayuannya membuat Bram merasa sedikit malu, perasaanya langsung jungkir balik padahal tadi kesal, namun sekarang malah malu.
Ia tidak menanggapi, bersamaan itu ponselnya berdering dan itu berasal dari Hans. Hah yang ditunggu-tunggu akhirnya menghubunginya juga.
“Angelku mau jalan-jalan jadi bawakan mobil.” Perintah pertama hari ini, segara Bram beranjak meninggalkan Hana.
***
Mobil telah melaju, sang istri ingin jalan-jalan dan sang suami menuruti itu. Hana dan Bram berada di bangku depan. Sementara Hans dan Angel di bangku belakang.
Beberapa saat kemudian mereka telah berhenti di suatu tempat. Toko-toko tampak berjejer rapi.
“Pakai dengan benar.” Membenarkan topi yang dipasang secara paksa ke sang istri.
“Ini sudah benar sayang.” Angel mencebikkan bibirnya.“Aku sampai sulit melihat ke arah depan, mau sampai mana kau menurunkan topi ini, ck ck,”
__ADS_1
“Sudah ayo, ” Menarik Hans yang bejalan lemah, sementara Bram sudah diseret lebih dulu oleh si bungsu.
“Saya tidak membeli baju nona, baju saya masih banyak dan saya tidak membutuhkan baju baru saat ini.” Tolak bram, saat Hana begitu asik menempelkan baju dengan corak unik ke depan tubuh Bram.
“Astaga kak, gak papa lah sesekali beli sesuatu yang gak dibutuhkan. Bajunya bagus Lo kak.” Hana menggoda Bram dengan embel-embel baju yang apik.
Dua orang itu saling berselisih, sementara Hans dan Angel berada pada sisi yang berbeda.
“Jangan beli ini sayang, bahannya terlalu tipis.” Seru Hans.
“Ini memang ciri khasnya, aku mau membeli ini.” Memeluk untuk merayu, karena terlalu imut Hans akhirnya mengijinkan.
“Baiklah beli, beli yang banyak...Tapi jangan di pakai nantinya.”
“Ha?” Apaan aneh sekali dibeli tapi jangan di pakai.
“Memangnya ada yang begitu, barangkan dibeli untuk di pakai.” Angel memprotes dengan bibir menekuk. Baju yang dipegang tinggi tadi mulai turun.
Hans menangkup kedua pipi Angel.
“Tidak semua barang dibeli untuk di pakai, beli saja dan simpan dengan baik di lemari pakaian nantinya.” Huff melawan Hans juga tidak akan menang. Angel hanya tidak habis pikir memangnya ada orang yang begitu. Iya jika ini brang mahal seperti lukisan yang dipajang, lah ini pakaian dengan harga kurang dari 50 rb, duh.
Toko pakaian mereka lewati, selanjutnya ke tempat di sampingnya yaitu toko yang menjual pernak pernik khas.
Angel asik sekali memasang cincin hingga kesepuluh jari Hans penuh.
“Kenapa kau memasang semua cincin nya.” Menahan kesal dengan kelakuan sang istri.
“Ini lucu kan sayang, lihat ini cocok sekali, haha.” Tergelak, melihat raut wajah penuh gelak tawa itu rasa kesal Hans karena di permainkan menyurut, tawa istinya lebih berharga dari pada rasa risihnya.
***
Lelah sudah membeli banyak barang, bukannya Angel boros, namun si suami yang boros barang yang sekitar aja tampak menarik perhatian sang istri segera ia pindai dan beli.
“Iya sedikit.” Sahut Angel.
Mereka sekarang sedang berada di kafe, untuk mengistirahatkan diri sejenak sebelum kembali ke penginapan. Hana dan Bram mengambil bangku yang berbeda.
“Hans…” Seorang wanita berdiri di depan Hans dengan senyum lembar. Angel mengerutkan keningnya merasa heran.
“Elena, hai.” Respon Hans diluar dugaan Angel, sang suami menepuk pelan bahu si perempuan yang baru saja Angel tahu namanya Elena. Perempuan ini duduk didepan mereka tanpa meminta persetujuan.
“Sudah lama tidak bertemu ya.”
“Iya sudah lama.”
Pelayan cafe mengantarkan pesanan, Jus mangga pesanan Angel sudah datang sama halnya dengan pesanan Hans yaitu satu cangkir teh susu.
Mata Angel dan Elena saling bertemu.
“Eh ini siapa?”
“Ini istriku.” Sahut Hans dengan senyum.
“Wah, luar biasa kau ini. Aku sudah mendengar bahwa CEO Hans Prasetyo menikah, namun istrinya tidak diperkenankan ke publik, bahkan tidak ada pemberitaan sama sekali.” Elana tampak bicara biasa saja, namun hal itu malah membuat hati Angel berdenyut. Otaknya memikirkan hal negatif.
Hans menarik tubuh Angel mendekap erat.
“Kenapa harus ada pemberitaan, aku tidak ingin wajah istriku di ekspos ke media. Dia wanita berharga dan seluruh dunia tidak perlu merekam ke ingatan mereka tentang wajah istriku, cukup aku dan orang terdekatku saja yang tau itu.” Suara Hans kali ini terdengar dingin tak seperti tadi yang tampak bersahabat. Penuturan Hans tak lekas membuat senyum melukis di wajah Angel.
“Haha, astaga tenyata kau sangat mencintai istrimu ya.” Elena terus bicara tanpa melihat ke arah Angel.
“Oh kau masih saja sama suka dengan teh susu.” Apa? Kenapa wanita ini bisa sampai tau mengenai Hans, siapa sebenarnya wanita ini. Angel memendam rasa tanda tanya besar, dengan bungkam.
“Ya seperti yang kau lihat.”
__ADS_1
“Ands siapa?” Angel memberanikan diri bertanya.
“Haha, maaf saya lupa memperkenalkan diri, saya Elena teman Hans semasa kuliah dulu.” Senyum Elena mengukir menjabat tangan Angel.
Dua orang itu tampaknya memang dekat, pembicaraan mereka tidak masuk ke otak Angel sampai-sampai Angel hanya menjadi pendengar sedari tadi. Rasanya sesak diabaikan seperti ini, Angel lekas beranjak.
“Kemana sayang.” Hans menahan pergelangan tangan Angel.
“Ponselku tertinggal di mobil, aku ingin ke mobil sebentar.” Melepas paksa tangan Hans. Langkahnya tergesa menuju mobil.
***
Saat bilang mau mengambil ponsel Angel tak lagi kembali dan memilih diam, Hans menyusul dibuat diam pula saat melihat Angel yang memejamkan mata dan tidak bergerak saat dipanggilnya.
Sebenranya Angel hanya memejamkan mata, ia ingin mendinginkan pikirannya. Ia merasa cemburu melihat sang suami menanggapi ocehan wanita yang bernama Elena tadi.
***
Suasana yang hening tanpa gelak tawa, membuat suasana sepi senyap. Hana yang tadinya suka sekali mengusik Bram sekarang diam sama halnya dengan Bram. Mereka dibuat heran dibangku belakang Angel tampak beberapa kali menjauhkan tubuhnya dari Hans.
Segera ban mobil menapak pasir, langkah kaki Angel pun menapak pasir. Ia tergesa tidak menghiraukan panggilan Hans.
“Sayang, tunggu!”
Angel berhenti tepat saat kakinya merasai dinginnya air. Ia menoleh ke arah Hans, Mata Hans dibuat terbelalak saat Angel dengan satu kali gerakan menarik baju yang melekat ditubuh dan melepaskannya.
“Apa kau gila! Kenapa membuka baju sembaranagn.” Sentak Hans, ia melepaskan baju yang melekat ditubuhnya agar menjadi penutup tubuh Angel, yang hanya dibalut oleh kaos serta celana pendek.
Angel malas menangapi Hans dan melabuhkan tubuhnya ke dalam air sudah setengah pinggang Hans kembali berusaha Menariknya.
“Kau kenapa sayang?”
“Aku ingin berenang, lepas!” Suara Angel meninggi tangannya memukul lemah Hans yang berusaha menariknya.
“Kalau mau berenang, harusnya memakai pakaian renang sayang, tidak begini.”
Angel menghunuskan tatapan kesal.
“Aku bukannya sungguh-sungguh ingin berenang! Aku hanya ingin mendinginkan pikiranku. Lepas jangan peluk-peluk!” Sudah mau menangis karena kesal. Kekesalannya bertambah karena memendam.
“Hei kenapa sih? Kenapa malah mau menangis.” Hans menggapai getaran suara Angel.
“Huwaaa kamu jahat! Kamu asik ngobrol sama Elena tadi, sementara aku hanya jadi penonton...hiks...hiks…” Akhirnya meluapkan kekesalan di hati dan tersedu.
Medengar kekesalan Angel, Hans seketika merasa bersalah.“ Maaf sayang, aku tadi tertarik dengan pembahasannya, makanya aku meladani obrolannya.”
“Hikss...Ya sudah sana ngobrol saja terus, aku mau pulang aja! ”
“Cup, cup, cup, maaf sayang, maaf… jangan begini, maaf aku lepas sejenak tadi.”
“Kumohon jangan berpikir berlebih, dia hanya teman saja.” Imbuh Hans lagi, pantas saja sang istri tampak pendiam dan seringkali menajuihnya sedari tadi.
“Aku berpikir berlebih karena sikap kamu, Hans!” Ombak seketika menggelung dua orang yang beradu mulut tadi. Bram dan Hana yang menjadi saksi pertengkaran langsung berteriak!
.
.
.
.
Happy reading
~Tyatyut
__ADS_1