Wanita Sang CEO

Wanita Sang CEO
CH 103- Menunggu Kabar


__ADS_3

Hari Hans tak secemerlang biasanya. Pikirannya berkelana membayangkan kegiatan Angelnya. Sampai detik ini Angel masih belum menghubunginya. Pikirnya Angel mungkin lelah karena perjalanan. Jadi ia menunggu semalaman penuh...Namun...


“Mataku berkantung karena menunggu dia menghubungi, tapi sampai sekarang dia masih tidak ada niat menghubungi! Haishh dia benar-benar!!...” Lesu bercampur kesal, meskipun begitu dia tetap nampak tampan di depan cermin. 


Benar-benar suntuk semalaman menunggu Angel menghubungi,bahkan setiap 30 menit sekali dia terbangun mengecek ponsel tapi nihil!.


Sekarang laki-laki itu sedang bercermin dengan tangan yang berusaha membalutkan dasi.


“Kenapa juga dengan dasi ini!!” Melepas dasi dengan kesal dan menjatuhkan dasi kasar ke sembarang tempat. Gusar karena pikirannya kacau.


Hans memutuskan pergi bekerja tanpa memakai dasi dengan kancing atas terbuka. Sungguh penampilan asal-asalan seorang Hans baru pertama kali ini terjadi. Biasanya jika urusan penampilan dan penilaian diri laki-laki ini selalu menomorsatukan, namuj sekarang ia bahkan tidak peduli dengan penampilannya.


***


Di Lantai bawah para pembantu sibuk membereskan rumah keluarga Prasetyo. Untuk urusan sarapan mama Rina selalu ikut andil, tidak full sih ia juga mengandalkan bibi yang membantu.


“Bi ambilin selai coklat bi.” Ucapan majikan tadi segara dibalas Enggih oleh bibi pembantu. 


“Hana, makan yang bener!” Mama marah-marah dengan tingkah si bungsu yang tampak tergesa dengan makanan.


“Iya ma.” Sahut Hana, dia bergegas karena ingin mengejar waktu.


Mama Rina yang kala itu sedang mengoleskan selai coklat pada roti menoleh ke arah sumber bunyi langkah kaki yang terdengar kasar. 


Dilihatnya anaknya memasang raut wajah lesu dan bibir menekuk. Mata Hans tertuju pada ponsel dengan gerutu-gerutu kecil.


“Dia benar-benar. Kenapa masih belum menghubungiku.” Hans ragu menelpon, takut si kekasih masih sedang tidur. Dia memasukan ponselnya pada saku jas lalu melanjutkan jalan.


“Nak sarapan dulu.” Ucap mama Rina dengan roti ditangan. Papa Fadli menurunkan letak kacamata, melihat ke arah Hans. Si bungsu Hana masih lahap menyantap roti selai.


Hans menatap mama Rina dengan gelengan pelan.“ Gak mah.” Berlalu keluar. 


“Eh eh.”


Terpelongo heran.


“Udahlah mah, kan dari kemarin sore kakak udah kaya gitu.” Hana acuh, dia dapat membaca ekspresi rasa keanehan si mama.


“Tsk…” Papa Fadli menanggapi berdecak kecil. Kemarin dronnya jadi sasaran kegalauan si Hans. Jadi dia masih kesal dengan anaknya itu.


“Haduhh...Kakak kamu itu ya.” Berdecak kecil. “ Segitunya banget, padahal baru ditinggal satu hari.” Hana mengangguk kuat menyetujui ucapan sang mama.


“Gimana ini pa? Anak kamu kaya gitu, rencananya lanjut gak.” Ucap mama dengan kedua alis terangkat misterius.


Senyum papa Fadli terurai menanggapi ucapan si istri. Si bungsu malah penasaran.


***


Sorot matanya menajam ketika baru melangkah masuk di lantai dasar perusahaan. Tidak seperti beberapa hari lalu saat dia memilih selalu berangkat bersama Angel pergi bekerja, selalu saja ada suara -suara sumbang. Kali ini berbeda sekali hanya ada suara decak kagum dengan tampilan dirinya.

__ADS_1


Hans menyungging senyum sinis. Karena para pengagum itu lah dia harus rela melepaskan Angel sementara.


“Kemari Bram.” Baru sampai di ruangan. Ingin sekali Bram menolak panggilan Hans karena sibuk. Namun aura Hans yang tak secerah biasanya membuat ia mendekat.


“Oh bawakan data yang Kuminta kemarin.” Bram memundurkan diri lagi mengambil data dadakan yang diminta Hans. 


“Ini pak.” Disambut Hans dengan sigap. Tak membuang waktu Hans langsung mengambil bolpoin menolak balik kertas yang bertuliskan tinta cetak di atasnya.


Apa lagi yang pak Hans lakukan. Kenapa beliau menandai lembar dengan contreng besar.


Seukuran lembar HVS sebesar itu juga ia menggoreskan tintanya. Otaknya yang cerdas dan mampu menampung berbagi ingatan Bahakan ingatan yang tidak penting sekalipun digunakan.


Sreett!!


Auranya sungguh membuatku merinding.


Hanya 10 menit , lembar tadi sudah selesai di corat coretnya. 


“Ambil ini.” Mengangsur lembar data. Bram mengambil data tadi, ucapan Hans selanjutnya membuat matanya dibuat membulat seketika.


“Pecat semua nama yang kutandai!.” Keterkejutan Bram membuat ia segera membuka lembar kertas yang ternyata merupakan data karyawan yang dimintai Hans.


Hans memutar bolpoin.“ Pecat mereka hari ini juga!” Titah si pemilik perusahaan terdengar tidak ada ampun lagi. 


“I…” Baru saja lidahnya berucap satu huruf Hans sudah berucap satu kalimat.


“Aku bukan orang bodoh yang memecat mereka tanpa pikir logis Bram. Kau meragukan kecerdasanku.” Itu artinya keputusan yang Hans ambil sekarang adalah hal terbaik. 


Satu masalah menjengkelkan akan segera hilang. Tentu saja alasan utama pemecatan mereka karena mulut yang bergosip, namun Hans mempertimbangkan hal lain dari cara bekerja dan pencapaian para pekerja. Dia menilai dalam waktu singkat untuk mempertahankan atau mendorong lepas satu demi satu karyawan tadi.


***


Pada sebuah ruang kosong Bram mengumpulkan nama-nama yang telah ditandai Hans. Tidak mungkin ada ramah tamah dalam hal pemecatan. Bram menekankan pemecatan pada hari itu.


“Kenapa begini pak! Tidak bisa dong! Kenapa saya dipecat tanpa alasan.” Seorang wanita yang sudah ditandai Hans tadi meninggikan suara mau adu argumen dengan Bram.


Sorot mata tak bisa ditindas milik Bram, menyala penuh peringatan.“ Ajukan argumen anda pada CEO kita! Hans Prasetyo!” Kata Hans Prasetyo ditekan dalam. Hingga si wanita bungkam, dilanda kebisuan. Dia meneguk salivanya kelu.


“Tapi beliau tidak bisa memecat kami seperti ini pak. Kami perlu kejelasan.”


Seru salah satu wanita lagi. Bibir merah merona dengan bagian atas yang terbuka membuat Bram bergidik geli.


“Saya mempersilahkan semua orang yang ada di sini untuk protes atas keputusan pak Hans. Namun kalian juga harusnya berpikir pak Hans tidak mungkin akan memecat kalian tanpa alasan yang jelas.” Sekali lagi mereka dibuat bungkam dengan remasan tangan. Otak mereka berputar menyerukan pembenaran.


“Bereskan barang kalian hari ini juga.” Bram berlalu meninggalkan kesan dingin. Wajah-wajah pias tadi terlihat pasrah. Berjalan gontai menuju lantai kena masing-masing. 


Mereka yang dipanggil di dominasi para wanita, hanya sedikit pria yang ada. Sekitar 15 orang dipecat pada saat itu juga.


Kehebohan terjadi di perusahaan pemecatan itu berlangsung singkat tanpa penjelasan lanjut.

__ADS_1


Alasan? Entah apa alasan Hans? Sang asisten yang mengekang tugas tidak tahu menahu. Dia bergegas kembali ke ruangan CEO Hans Prasetyo. 


“Kenapa dia masih tidak menghubungiku! Kenapa juga ini!, apa jaringan disini buruk sekali!” Gerutu-gerutu kesal memukul ponsel keluaran terbaru yang super mahal.


“Pak.” 


“Astaga! Kau mengejutkanku Bram!” Hans menatap tajam Bram. Ponsel tadi diturunkan dengan santai.


“Bagaimana hasilnya?” Raut muka menunjukkan keseriusan.


“Seperti yang Anda perintahkan pak. Mereka akan keluar dari perusahan hari ini juga. ” 


“Baguslah kalau begitu.” Tersenyum kemenangan. Lalu beralih lagi pada ponselnya. Dahinya berkerut sesekali,fokus sekali menunggu Angel menelponnya.


“Pak.” 


“Pak.” 


“Pak!” Bram menaikan intonasinya kali ini dan itu membuat Hans menatapnya tajam penuh rasa kesal.


Burma berdehem sekilas.


“Ehm, ada rapat yang harus Anda lakukan pak.” Han memilih mengatupkan bibirnya tidak menjawab. Mereka kemudian berlalu menuju ruang rapat. 


***


Apa Anda benar mendengarkan penjelasan presentator? Kenapa matanya terus tertuju pada layar ponsel...Huff tampaknya rapat kali ini tidak akan berjalan lancar.


Sampai tidak diperhatikan sedari tadi membuat si presentator cemas dengan situasi. 


Hans malah fokus memeriksa ponselnya. Gerakan tangan cepat dengan sambutan suara yang cepat juga.


“Kenapa baru menghubungi! Kau mau membuatku mati?! Kenapa ponselmu juga tidak bisa dihubungi sayang?! Kau tau aku menunggumu dari malam tadi, menunggu kabarmu! Kenapa kau membuatku gelisah!” Mengeluarkan semua rasa yang ada dibenak tidak mengenal situasi yang masih di dalam rapat penting. 


Semua mata peserta dapat dibuat membulat seketika, penuh Keterkejutan. Awalnya mereka pikir Hans berdiri dan mulai bersuara tinggi karena akan memarahi mereka. Namun ternyata..


Suara lembut dari segenap telon membuat dada yang terasa berat menjadi ringan seketika.


“Pak.” Bram mendekat dan bersuara kecil.“ Sebaiknya Anda mengangkat telepon di tempat lain,situasinya agak…” Tubuh Hans berputar melihat mata karyawannya yang tampak tak berkedip tertuju ke arahnya. 


“Kau urus Bram!” Berlalu dari rumahnya dan memilih menuju ruangannya.


“Nampaknya rapat harus ditunda dulu.” Ucap Bram. Para anggota rapat tadi mengangguk mengerti. Rapat diatur ulang kembali.


Mohon Anda semua mengerti ya, beliau memang tidak mengenal situasi jika menyangkut sekretaris Angel. 


***


2 Jam penuh Bram terus menghela nafas dengan kuping yang sudah panas, mendengar cara si boss berbicara dengan si kekasih. 

__ADS_1


“Huff, teruskan saja pak...kita tunda semua agenda hari ini.” Tertawa tidak ikhlas, tangan Bram bergerak kasar menekan keyboard. Nasib! Memang jika sekretaris Angel tidak ada maka double job dia pegang. Terus menggerutu dengan sorot mata kesal ke arah Hans yang berputar-putar tidak jelas di kursi.


Semua Agenda mundur dengan alasan yang dibuat-buat. Raut wajah Hans yang beberapa waktu lalu terlihat kuyu sekarang begitu cerah. Wah tampaknya memang hanya Angel yang menjadi sumber kebahagiaan terbesar Hans.


__ADS_2