
Sudah sampai di depan perusahaan. Hans turun setelah di bukakan pintu mobil oleh sang sopir.
Asisten Bram membawa hasil masakan yang beberapa saya lalu berhasil sudah membuat dapur berantakan. Entah bagaimana rasa masakannya. Tapi dadanya hingga sekarang masih membusung bangga karena berhasil membuat masakan spesial.
“Memangnya apa sih yang diserahkan pak Hans. Aku seperti disuruh membawa berlian saja.” Bram bergumam heran mengikuti langkah kaki Hans.
Senyum Hans mengembang tipis.“Aku tidak sabar melihat reaksinya. Pasti dia akan sangat tersentuh, haha.” Tertawa kecil, hal itu tertangkap oleh Indra pendengaran Bram. Semakin membuat sang asisten merasa terheran sekaligus bergidik.
Astaga kurasa pak Hans sedang gila. Dasar asisten yang suka disiksa malah berpikir sengklek.
Tak jarang karyawan yang lewat merasa ikut membangun heran aura positif serta senyum yang tersemat pada bibir Hans, sang CEO mereka. Padahal pada kebiasaan mereka akan sering menemukan raut wajah tanpa guratan ekspresi dari Hans, namun kali ini berbeda. Sampai-ssmpai benak mereka bertanya-tanya.
Apa ada bagus?
Apa yang membuat pak boss terlihat sangat bersinar positif?
Mendekati lift khusus untuk para petinggi. Bram segera melakukan tugasnya menekan angka yang akan membawa mereka pada lantai yang mereka tuju.
“Ehem.” Bram berdehem pelan membuta Hans menelengkan kepalanya ke arah Bram yang berada di sampingnya dengan alis yang terangkat.
“I-ini apa pak?” Tanya Bram sambil menaikan bekal makanan yang Hans suruh bawa sembari sedikit mengendus baunya.
Hans Menajamkan matanya menatap ke arah Bram. “Kenapa kau menentengnya speti itu Bram! itu sebabnya berharga! Itu masakan spesial yang berhasil kubuat dengan penuh kerja keras. Bawa yang benar, jangan sampai posisi tatanan yang ada di dalam wadahnya bisa bergeser!” Mata Bram sungguh membulat penuh keterkejutan. Segera tangannya mendekap penuh kehati-hatian. Mendekap dengan kedua tangan tidak seperti tadi yang menenteng dengan satu tangan.
Makanan spesial? Astaga! Bram sungguh sangat dibuat terpelongo. Untuk siapa gerangan? Tidak mungkin kan makanan spesial dibuat untuk diri sang boss sendiri. Pasti makanan spesial yang disebut dengan nada menekan penuh bangga tadi dimaksudkan untuk seseorang.
Ini seperti mission impossible! Bagaimana bisa mempertahankan isinya agar tidak bergeser_
—,Astaga dari tadi aku menentengnya dengan gaya sembarang. Batin Bram berteriak
Bunyi pintu lift yang terbuka segera membuat langkah mereka untuk keluar.
Hans sibuk berjalan dengan gaya kerennya. Tangan masuk pada saku celana sedang satu tangan merapikan sedikit bagian depan rambutnya. Dari sini ia sudah bisa menangkap sosok mungil yang berdiri di depan meja. Sedangkan Bram sibuk dengan mempertahankan posisi bekal makanan yang ia bawa.
Masih memasang wajah datar langkahnya pun memang disengaja berhenti tepat di depan meja sang sekretaris.
“Selamat pagi pak.” Sapaan rutin dengan senyum yang tersemat di dapat.
Angel tetap menyapa sang atasan walaupun kejadian semalam masih membuat ia sedikit merasa tidak nyaman. Bahwa Hans akan tetap melakukan pendekatan pada dirinya yang pastinya Angel hanya bisa menerima hal itu.
“Pagi.” Memberikan senyum
Angel melihat ke arah Bram yang sibuk dengan bawaannya padahal hanya satu benda yang ia bawa, tapi ia membawanya seperti barang berharga. Sudah seperti pembawa bendera saja begitu tegang.
“Apa yang anda bawa asisten Bram?” Menjadi penasaran yang mendapat tatapan pelobhoan dari Bram.
“Mau saya bantu?” Menawarkan bantuan beranjak dari tempat duduknya.
Mata Bram segera melirik ke arah Hans. Kalau kau menerima bantuan Angel maka akan kubuat lelah kau hari ini. Seperti itu arti tatapan Hans.
“Ti-tidak perlu! tidak perlu! saya bisa sendiri, ini juga sangat ringan tidak perlu bantuan kok.” Angel sedikit berjingkit karena Bram yang merespon dengan sangat berlebihan.
“Oh, i-iya.” Angel meringiskan senyum. Sedang Hans tersenyum lebar.
Wajah Hans menunjukan kepada Bram, bagus-bagus, seperti itu. Hal itu membuta Bram bernafas lega.
Masuk ke dalam ruangan Bram meletakan dengan hati-hati benda yang ia pegang tadi.
Hari ini sepertinya tidak banyak agenda yang akan dilakukan Hans, ia hanya akan bekerja dengan duduk di bangku kerjanya dan memahami berbagai data yang ada.
Jas nya sudah tidak ia pakai lagi,ia menggulung kemejanya hingga kebagian siku.
***
Memasuki waktu makan siang.
__ADS_1
“Masuk sekarang!” Memanggil lewat interkom.
Angel mengeryitkan keningnya namun tak urung ia menjawab baik pak.
“Padahal sekarang sudah mau makan siang. Apa yang diperlukan pak Hans?” Pikiran Angel penuh antisipasi telinga dengan ucapan Hans yang menyuruhnya hanya perlu menerima perlakuan yang diberikan. Angel tidak tau lagi bagaimana kedepannya hubungan ini akan berlayar.
Angel berusaha memasang wajah senyum ketika berada di depan pintu raungan Hans.
“Huft, baiklah tetap profesional Angel. Sekarang waktunya kerja.” Menenengkan diri sendiri.
Setelah siap angel mengetuk pintu.
Tok tok tok
“Masuk.”
Suara Hans terdengar memperbolehkan Angel untuk masuk. Dengan gerakan yang masih ragu Angel mulai membuka pintu. Matanya segera bersitatap dengan hans. Kedua tangannya ia letakkan di depan saling meremas.
“Ada yang bisa saya bantu pak?” Tanya Angel segera.
“Ada.” Sahut Hans. Kemudian ia berdiri dari duduknya dan menenteng benda, yang masih tertutup dengan paper bag. Membuat Angel melihat pergerakan Hans yang menuju tengah raungan dimana posisi sofa dan meja.
“Duduk.” Perintah Hans setelah ia mendudukkan dirinya terlebih dahulu.
Ada apa ini?
Benaknya bertanya namun masih dengan patuh ia mendekat. Dilihatnya bawan yang dibawa Bram dengan penuh kehati-hatian ada di atas meja. Sedang yang membawa makanan itu sudah tidak ada di dalam ruangan. Ruangan ini hanya diisi oleh ia dan Hans.
Angel masih memperhatikan gerak tangan bosnya itu. Matanya sedikit melebar melihat yang tersaji di meja. Nasi goreng berkelas dengan beberapa potongan telur dadar yang tertata begitu apik tersaji.
Ia menatap Hans kemudian.
“Makanlah.”
“Eh? U-untuk saya pak?” Menunjuk dirinya dengan begitu polos.
Kenapa memberikan makan siang ?
“Ti-tidak perlu pak. Sa-saya bisa makan di kantin saja. Ini kan milik Anda.” Segera menolak dengan rasa sungkan.
Sorot mata Hans terlihat kecewa.
“Aku bekerja keras membuat ini untukmu.” Mata Angel melebar segera beungkam.
“Jangan berikan penolakan Angel, bukankah itu yang kukatakan kemarin malam, dan sekarang kau menolak ku lagi.” Sungguh tatapan mata Hans seperti kucing yang minta dikasihani. Membuat jiwa lemah lembut Angel tercubit merasa bersalah.
“Ah bu-bukan begitu maksudnya pak.” Sunggub melihat wajah Hans yang sudah sedikit kecewa .Angel jadi merasa terenyuh dan tak tega dilihat dari penampilannya makanan ini tampak layak dimakan.
“Kalau begitu akan saya makan. Lalu Anda tidak makan?” Akhirnya Angel menerima makanan itu. Hal itu segera mendapat senyum dari Hans.
Hans tak menjawab malah mendekat dengan sangat bersemangat mengambil sumpit dan memasukkan meletakkan telur ke atas sendok Angel.
“Aku sudah makan siang tadi.” Ucap Hans.
“Te-terima kasih pak.” ucap Angel, merasa cukup kikuk dengan situasi.
Baru satu suapan yang masuk ke dalam mulutnya Angel sudah seperti mau memuntahkan isinya. Sebisa mungkin raut wajahnya dibuat sebiasa mungkin agar tidak membuat Hans kecewa. Ini! benar-benar tak layak makan ! tapi melihat tatapan mata berbinar itu membuat Angel menelan paksa makanan yang masuk.
Asin sekali, tahan Angel tahan! Pak Hans sudah sangat bekerja keras membuatnya. Jiwa mataku berair.
“Bagaimana?” Tanya Hans antusias.
Mata Angel sudah sedikit berair menahan rasa asin dari makananya.
“I-ini enak pak,enak.” Bohong!
__ADS_1
Hans begitu lega.
“Benarkah, kalau begitu habiskan aku membuatnya spesial.” Sudah senang karena makannya dinilai enak oleh Angel. Misinya tampaknya akan berhasil.
Berulang kali Angel minum untuk menetralisir rasa asin. Saat Hans ingin meminta satu sendok nasi goreng tersebut Angel melarangnya .
“Bu-bukankah Anda bilang ini untuk saya."
Dengan mulut yang penuh karena masih belum sanggup menelan makanannya.
“Oh iya...habiskan. Kamu ternyata sangat menyukainya sampai pelit untuk berbagai ” Tebak Hans, Angel hanya meringis kan senyumnya.
Haha ini juga terpaksa pak.
“Aku akan membuatkannya setiap hari untukmu.” Ucapan Hans semakin menua Angel hendak memuntahkan isi mulutnya.
Jeder
Mata Angel membulat. Bukannya senang malah terkejut bercampur takut .
“Ti-tidak perlu pak,ini sudah cukup.” Mengibaskan tangannya ke depan tanda penolakan, Angel berbicara lekas .
Gawat every day ,berasa makan garam saya pak. Ini bukannya menyentuh hati saya pak,ini nyentuh penyakit baru buat saya kayaknya
Batin Angel sambil menatap Hans dengan senyum dipaksakan
Mengambil botol minum dan menghabiskannya. Makanan yang disiapkan Hans sudah ludes, dimakan oleh Angel. Dengan paksaan .
“Pelan-pelan.”
Khawatir dengan cara minum Angel
Angel minum dengan terburu -buru karena hendak lekas agar makanan tadi langsung masuk ke dalam perutnya. Dia tidak kuat lagi untuk mengunyah.
“Ah terima kasih pak makanannya.” Tersenyum dipaksakan
Lihatlah senyum bangga Hans itu. Bahkan ia sudah menyilangkan kakinya. Raut wajah sombong juga terlihat begitu jelas .
“Bagaimana ,apa kamu tersentuh?” Tanya Hans percaya diri.
"Ini salah satu cara untuk membuat hatimu tersentuh "Terang Hans
Mata Angel dibuat melotot seketika. Ia meringis kan senyum mencoba mencari kata yang pas .
“Se- sebaiknya Anda jangan memaksakan diri pak. Dengan Anda seperti ini....hanya menambah beban bapak.” Angel berusaha untuk membuat Hans menyerah
“Memaksakan diri?” Ulang Hans
“Bukan memaksakan diri. Tapi memantaskan diri. Kamu lihat aku sedang memantaskan diri agar kamu bisa menyukaiku.” Menampilkan senyumnya kembali. Angel sudah begitu tercekat. Memanfaatkan diri? untuk dirinya? yang ahnya bawahan?
"Jadi Angel—, " Hans tidak mudah menyerah, raut wajahnya serius.
“I-iya pak.”
Manik mata mereka saling terkunci.
“Saat kamu sudah menyukaiku,tolong katakan dengan secepatnya.” Berbicara serius dengan wajah tampannya itu.
Angel menatap Hans, perkataan yang keluar dari mulut Hans sedikit menggetarkan hatinya.
"Bagaimana kalau sekarang?"Tanya Hans
"Apanya pak?"Tidak sampai dengan arah pembicaraan Hans
Bram masuk kedalam ruangan memecah situasi. Ia berpura -pura tak melihat situasi tadi. Namun Angel yang sudah salah tingkah.Angel lekas keluar kembali ke meja Kerjanya.
__ADS_1
Hans menampilkan sorot mata kesal ke arah Bram .