Wanita Sang CEO

Wanita Sang CEO
CH 120- Bulan Madu(Part 3)~Serakah


__ADS_3

Ombak besar itu seketika membawa tubuh mereka hanyut. Bernafas pun susah, situasi ini sungguh tidak terduga. Dalam detak jantung yang berpacu, Hans sekuat tenaga memeluk Angelnya, ia begitu cemas dan takut jika Angelnya terbawa ombak. Angel berusaha memeluk Hans dengan erat tangisnya yang tadi pecah berubah dengan ketakutan, nafasnya pun dibuat sesak. 


Terjangan ombak berlangsung beberapa detik. Kaki Hans berusaha sekuat tenaga bertahan di dasar.


“Hah hah.” Nafas Hans terengah, ombak besar yang menghantam sudah tenang. Ia berusaha menaikan posisi sang istri agar bisa mengambil nafas lebih.


“Sayang! Bernafas ambil nafas yang dalam!” Suara Hans begitu tinggi, Angel terbatuk kuat.“Uhuk, uhuk, uhuk…” Tangannya berusaha menekan bahu Hans, ia mengusap wajahnya berusaha menyadarkan diri. 


“Sayang tenang.” Hans berusaha berenang ketepin.“Hiks, hiks aku takut sekali, uhuk.” Mendekap Hans dengan tubuh yang bergetar hebat.


Kecemasan Hans menguap, ia memacu diri agar lebih cepat mencapai dasar. “Semuanya baik-baik saja sayang! Kita sudah aman.” Hans berusaha menenangkan Angel yang mendekapnya erat. 


Bersamaan itu Hana dan Bram yang cemas pun datang dengan tergesa.


“Pak.” 


“Kakak, kakak ipar! Astaga kalian baik-baik aja kan? Apa ada yang terluka? Hana lihat tadi ombaknya besar sekali.” Hana cemas.


Hans tidak menghiraukan kecemasan adiknya. Ia lebih mendahulukan istrinya.


Hans segera mengambil paksa handuk yang Bram bawa membalutkannya dengan tergesa ke tubuh sang istri. Wajah sang istri tampak pucat, Hans kembali mengendong Angel yang masih gemetar.


“CARIKAN DOKTER CEPAT! PANGGIL JUGA SEMUA PELAYAN!!” Sudah memberi perintah seperti kesetanan, lalu bergegas berlari membawa tubuh sang istri. Bram sampai tersentak.


“Tenang sayang, semuanya sudah baik-baik saja.” Menatap nanar tubuh sang istri yang masih memeluknya dengan erat.


***


Hans membuka pintu dengan kasar, hingga menimbulkan suara yang keras. Dia segera masuk ke kamar mandi, membuka baju basah sang istri dan menggantinya dengan betrobe.


“Masuk kalian.” Perintahnya segera, Angel yang tadi sempat protespun dibentak karena sang suami sudah cemas berlebih. Wajah Angelnya tampak pucat, dia cemas mungkin ada apa-apa dengan Angelnya. 


Hans berbalik menghadap para pelayan.


“Siapkan istriku air madu dengan perasan lemon yang hangat, lalu bawakan juga beberapa makanan. Lakukan sekarang juga." Para pelayan yang sejak tadi diam menunggu instruksi segera bergerak lekas. Mereka menyadari betul suara Hans yang tampak berbeda.


“Sisanya bersihkan kekacauan ini.” Perintahnya lalu tubuhnya kembali duduk dan segera menangkap kedua pipi sang istri yang tampak duduk berselonjor dengan balutan selimut. 


“Sayang, semua baik-baik saja sekarang. Apa masih kaget, Hem?” Angel tak kuasa mendengar suara Hans yang begitu lembut, kekesalan yang beberapa saat lalu memuncak, sekarang mulai pudar. 


Angel menggeleng dengan menangkap tangan Hans, manik matanya tampak berkaca.“Maaf sayang, ak-aku bersalah tadi. Seharusnya aku percaya denganmu, kamu benar aku terlalu berpikir berlebih, ini semua salahku.” Menyalahkan diri. Diluar sana Hana yang hendak masuk kembali mengurungkan diri.

__ADS_1


“Suttt, tidak sayang tidak ini semua aku yang salah. Aku salah karena tidak bisa mengontrol diri, jadi membuat istriku cemburu maafkan aku.” Hans memeluk Angel dengan erat sementara, air mata Angel sudah tumpah.


Merasa Angelnya mulai tenang Hans pun melonggarkan diri, ia mencium kelopak mata Angel serta bibir Angel. Pelayan sudah keluar dari ruangan tadi, mereka bertanya-tanya ada apa gerangan sampai ada drama tangis menangis ini.


“Wajahmu pucat sekali.” Mengusap pipi sang istri. 


“Sial! Kemana sebenarnya Bram! Aku menyuruhnya membawa dokter dengan segera!” Nadanya tinggi dengan wajah yang gusar melongok ke depan pintu, malah dikagetkan dengan pelayan yang membawa air madu plus lemon.


“Sa-sayang, aku tidak apa-apa tidak perlu memanggil dokter.” Angel berusaha beranjak dari ranjang, namun–,


“Jangan bergerak sedikitpun! ” Menghampiri dengan langkah tergesa membenarkan lagi posisi selimut serta posisi sebagai istri.


“Tuan muda terlihat cemas sekali tadi.” 


“Ya benar, nona pasti sangat terkejut karena tergulung ombak, makanya diperhatikan begitu.”


Pelayan membatin sebari meletakkan bawaan lalu keluar lagi tanpa diperintah.


Kecemasan Hans masih belum memudar saat ini. “Tapi sayang, aku benar tidak apa-apa kok…" Mau melanjutkan kalimat tapi mata Hans sudah menghujam dalam.


“Biar dokter yang memutuskan nanti, jangan banyak bergerak. Aku cemas setengah mati saat ini.” Seru Hans lirih.


***


“Aku tidak tau bahwa bermain di dekat pantai sangat menakutkan.” Angel sudah mencium gelagat mencurigakan.


“Itu hanya kebetulan saja sayang, tidak setiap saat hal itu terjadi.” Tutur Angel, manik matanya menangkap mata tajam yang seperti berkata tidak setuju.


“Pokoknya itu sangat berbahaya, seharusnya aku tidak memilih liburan ditempat ini!” Kesal dan gusar.


“Percuma saja dijuluki tempat terkenal tapi tenyata seperti ini, nyawa istriku hampir melayang. Akan kujual lagi pulau ini!” Eh akhir kalimat membuat bibir Angel dibuat bungkam. Terkejut bukan main, pantas saja sepi senyap dan hanya diisi mereka ternyata si CEO sedang memperlihatkan kesultanannya.


“Dia tidak main-main mengajak berlibur, malah langsung membeli pulaunya. Duh katanya kamu tidak boros Hans tapi ini apa?” 


Yang dimaksud Hans tidak boros itu adalah tidak membeli barang yang tidak dibutuhkan. Semahal apa pun barang yang diperlukannya akan dibelinya meskipun itu merogoh kocek.


***


“Tuh kan sudah aku bilang, aku baik-baik saja. Maaf ya asisten Bram malah merepotkan Anda, keringat Anda terlihat jelas dari sini.” Iba juga dengan Bram yang tak berdaya ketika disuruh saat di butuhkan. 


“Anda yakin istri saya baik-baik saja.” Masih tidak percaya dengan diagnosa dokter perempuan didepannya, sembari memeluk sang istri dari samping.

__ADS_1


“Anda sebenarnya ingin terjadi sesuatu dengan istri Anda ya pak? Sedari tadi terus menanyakan hal yang sama, seperti ingin dapat sesuatu yang mengejutkan.” Bram membatin kesal.


Sang dokter menjadi gugup. “I-iya tuan, istri Anda baik-baik saja. Terteguk air saat ombak tadi tidak akan mempengaruhi banyak pada tubuh istri Anda.” Teenage snag dokter.


“Aku iri sekali, ini Hans Prasetyo itu. Wah mereka sangat serasi. Sedari tadi terus saja memeluk istrinya. Tapi tuan saya sudah lelah, ditanya hal yang sama sedari tadi.” Level pujian menurun karena lelah.


“Baiklah kau boleh keluar.” 


Si dokter keluar bersama Bram yang mengantar. Akhirnya batin Bram dan si dokter bersamaan.


“Kak Angel udah baik-baik aja kak, kenapa terus dipeluk kaya gitu.” Hana yang duduk bersimpuh di ranjang mencibir sikap sang Kakak yang membelit Angel bagaikan ular.


“Terserah, kau kenapa masih disini?! Sana keluar!” Mengusir kasar sang adik. Hana cemberut dan kesal menghentakkan kaki lalu keluar kamar, meninggalkan dua sejoli yang saling pandang. Kamar menjadi sepi senyap tidak ada suara bentakan yang tadi terdengar menakutkan, hanya kediaman dalam senyap yang terasa.


“Sayang sampai kapan kita begini, aku ingin memakai pakaian.” Angel berusaha meloloskan diri , namun tak dibiarkan. Ia pasrah dan membelai rambut Hans, si pemilik membenamkan wajah di dada sang istri.


“Sayang.” 


“Hem…?” Mengusap lembut rambut Hans.


“Kamu tau kan aku sangat mencintai kamu.” Sapuan membuat dikepala tiba-tiba kaku.“ Aku mencintai istriku melebihi diriku sendiri, maaf jika aku menjadi serakah karena kamu. Aku menjadi serakah karena ingin memuaskan istriku, aku serakah karena memonopoli dirimu, aku serakah karena terlalu pencemburu denganmu.” Hans memang menjadi serakah jika menyangkut Angel, rasanya hanya ia yang ingin dilihat Angelnya, ia ingin membuat Angelnya terpaku hanya ke arahnya sampai kapanpun!


Manik mata mereka saling tatap, Hans kemudian menyatukan dahi mereka. Jantung Angel dibuat berdesir tak main.


“Jadi tolong maklumi keserakahanku yang terlalu mencintaimu, istriku.” Mata Angel mulai menganak sungai.


“Ya, sa-syang.” Sahut Angel.


Bibir Hans mulai turun dan berlabuh pada belahan bibir yang tampak menggoda, tali betrobe tadi perlahan dilepas. Angel mengalungkan tangannya di leher sang suami.


“Maklumi juga keserakahanku untuk yang ini.” Berbisik nakal. Hari penuh drama pun berakhir dengan keserakahan di kasur.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Happy reading


__ADS_2