Wanita Sang CEO

Wanita Sang CEO
Ch 35~Si Tuan muda, Membantu Sang Kekasih


__ADS_3

Akhir pekan datang. Hari Ayana sudah dimulai. Sekarang baru sekitar pukul setengah delapan. Ayana sudah mendapat telepon dari Ken.


[“Kau dimana?”]


Tanpa basi menelpon dan bicara segera.


“Dirumah, aku sedang membereskan rumah sekarang.” Sahut Ayana sembari memasukkan seprai tebal yang sudah harus diganti ke dalam keranjang cucian.


[“Apa rumahmu kotor? Perlu aku bantu membereskan?”] Ken bertanya dengan santainya. Membuat seringai jahil muncul diwajah Ayana.


“Iya, aku memang perlu bantuan sekali.” Suara manja agar Ken merasa ilfil.


Haha pasti kau tidak suka kan dengan nada suara wanita manja.


“Sudut-sudut rumahku banyak debunya, terus aku juga perlu melakukan cat ulang pada dinding kamar.” Tiba-tiba mendapat ide untuk mendramatisir aksi bersih-bersih.


Ini hanya supaya Ken tidak mengganggunya saja.


Jadi apa kau masih mau datang? Hah tidak mungkin kan tuan muda yang hanya punya waktu akhir pekan untuk istirahat malah datang ke sini. Ini langkah awal membuatmu menyerah. Seringai kemenangan.


Namun jawaban Ken sungguh tak disangka dan membuat Ayana gelagapan.


[“Baiklah lima belas menit lagi aku akan kesana. Tunggu, jangan membuat dirimu lelah.”] Ken bersuara tanpa ragu.


Membuat Ayana gelagapan.


“Eh tunggu, aku tadi hanya ber...” Panggilan sudah diputuskan, membuat Ayana mengerang frustasi.


“Aku hanya bercanda! Aku tidak benar-benar ingin mengganti cat rumah.” Memijit kepala.


“Padahal tadi aku juga bermaksud agar dia tidak bertemu dengan ku, karena aku sibuk.”


Akhirnya Ayana hanya bisa mengerang dan menunggu.


***


Pagi Alex sudah menemani tuan mudanya untuk menandangi sebuah toko cat.

__ADS_1


“Perempuan sukanya warna apa?” Kalau kebayakan orang bertanya mengenai warna baju, namun sang tuan muda berbeda. Malah bertanya warna cat.


Jelas sekali tuan mudanya bertanya mengenai cat. Sebab mereka sedang berada di toko cat sekarang. Dan lebih memastikan lagi, di depan mereka ada jejeran cat dengan warna berbeda.


Ekspresi tuan mudanya pun serius sekali menanyakan itu. Alex tidak tau tuan mudanya akan seberapa banyak berubah hanya karena seorang gadis.


“Selera masing-masing wanita berbeda tuan muda. Ada yang suka warna ungu, ada yang pink, bahkan ada juga perempuan yang suka warna gelap.” Maksud Alex warna hitam.


Berbeda dari hari biasa sebab ini akhir pekan. Mereka hanya memakai kaos dan celana pendek.


Iya celana pendek. Tubuh dua orang itu berisi sekali, ditambah wajah rupawan, membuat orang-orang sekitar yang tadi terfokus memperhatikan jejeran cat malah berganti menatap mereka.


Alex sebagai bujang yang diminati tidak terlalu suka di pandang. Sedang Ken tidak terusik dan memilih acuh.


“Kalu begitu, kita beli saja semua warnanya.” Memutuskan dengan santai sekali. Membuat Alex sampai ternganga.


Senyum manis terulas di bibir Ken. Ada semburat rona merah yang melintas ketika sekelabat bayang pendengarannya tentang suara Ayana yang terdengar halus dan menggoda membuat gendang telinganya serasa geli.


Bisa-bisanya dia bersuara manis begitu. Menutup wajahnya.


Tampaknya Ayana sudah salah langkah sekarang.


“Tunjukan alat untuk membersihkan debu yang terbaik.” Pintanya pada pegawai laki-laki yang sedang bertugas.


“Jejeran ini adalah alat untuk membersihkan debu tuan.” Ujar si pegawai memulai.


“Ini robot pembersih debu untuk bagian lantai, efisien sekali. Robot ini akan bekerja dengan cepat membersihkan seluruh bagian lantai rumah bahkan sampah-sampah kecil sekalipun.” Pengawai itu menjelaskan.


“Aku mau itu.”


Pengawai itu tidak menyangka barang yang ia kenalkan akan mendapat respon cepat dan sesuai keinginan. Tidak seperti kebayakan pembeli yang perlu berpikir bahkan memperhatikan ditail barang.


Pelanggan seperti ini yang kunanti. Yang tidak membuat bibirku berbusa hanya karena menjelaskan.


Semakin bersemangat.


“Ini juga tuan, merek terbaru dengan kulitas harga yang sesuai dengan kinerja. Alat ini bisa membantu membersihkan debu, di area sofa bisa, gorden pun bisa, atau celah-celah rumah yang sulit dijangkau.”

__ADS_1


Labelnya bahkan dolar.


“Itu juga.” Ujar Ken lagi santai.


Yang penting alatnya bisa digunakan untuk membantu Ayana bersih-bersih rumah. Senyum puas sekali.


Beginilah kalau para pria berbelanja. Comot saja tanpa banyak pertimbangan. Ken mengeluarkan kartu dengan mudah untuk membayar barang yang ada. Struk pembelian diacuhkan, tidak merasa perlu membelalakan mata minat nominal yang ada.


Alex yang kewalahan memindahkan barang-barang ke bagasi mobil. Untunglah mereka dapat pelayanan lebih tadi, dibantu dengan membawa alat pembersih, terus alat untuk membantu mengecat rumah juga.


Singgah juga sebentar tadi membeli banyak makanan.


Dan Alex tidak menyangka. Akhir pekannya ia gunakan untuk membantu mengecet dan membersihkan rumah wanita yang disukai oleh sang tuan muda.


Apa sekarang ia bisa mengunakan istilah


“Senang bersama, lelah bersama?”


.


.


.


😅🙏


Selamat membaca


Jangan lupa komen...


Like jangan lupa!


Kalau bisa di share novel ini ya 😅


Jangan lupa kasih Vote dan hadiah...


Love you semua...

__ADS_1


Kasih banyak cinta untuk Aya & Ken


__ADS_2