Wanita Sang CEO

Wanita Sang CEO
Ch 4~ Kriterianya dan Orangnya sama Ribet


__ADS_3

Meneliti dan meneliti, Ken terus melakukan itu. Mengamati Ayana dengan sikap diam, namun hati yang menggerutu. Masih sebal kenapa Ayana tidak mengenalnya. Sementara Ayana yang dipandang dengan tatapan sebal itu merasa terheran.


Mereka sudah berada di cafe dekat kantor Ayana sekarang. Demi kenyamanan sang klien khusus sekali Ayana membawa sang klien ke tempat yang lebih nyaman untuk bisa berdiskusi. Untunglah cafe dekat kantornya itu salah satu yang terpopuler. Jadi tentu saja suasananya sangat mendukung.


Kenapa wajahnya terlihat kesal sejak tadi? Memangnya kenapa?


Tidak tahan diamati akhirnya Ayana membuka suara.“Ehm, baiklah tuan apa kita mulai saja pembicaraannya.”


“Yah mulai saja.” Sahut Ken dengan nada malas. Yang lagi-lagi membuat Ayana terheran. Kenapa Ayana jadi merasa kesal ya sekarang? Tidak-tidak tahan Ayana, yang duduk di depanmu ini adalah klien. Jadi harus bersikap tenang. Ayana mensugesti dirinya.


“Baiklah mari kita mulai, tipe perempuan seperti apa yang ingin kami Carikan?”


“Kami?” Alis Ken bertaut, Ayana menganguk mengiyakan, memangnya ada yang aneh dengan itu?


“Iya tuan. Kami akan mencarikan tipe perempuan yang sesuai dengan keinginan And...” Belum selesai Ayana menjelaskan tangan Ken sudah mengintrupsi untuk berhenti.


“Siapa yang memperbolehkan orang lain mencari tipe perempuan yang kuinginkan.” Ken mengindikasikan bahwa kata kami itu artinya bahwa Ayana akan dibantu oleh orang lain dalam menjalankan pemintaan yang ia berikan. Ayana menatap polos Ken, entah kenapa tatapan polos itu sejenak membuat Ken terpaku. Ken berdehem memalingkan wajah.


“Lalu...?” Nada suara Ayana terdengar bingung.


“Yang harus menjalakan pemerintaan ini hanya kau yang ku perbolehkan.” Ayana ternganga.“Tidak boleh ada campur tangan pegawai lain, harus kau sendiri yang mematikan calon istri potensial untuk seoarang Kenan Prasetyo. Semuanya harus ditangani oleh orang yang profesional agar hasilnya nanti memuaskan.” Ken berlipat tangan di depan dada, ada kesombongan yang terbuat dari nada dan gerakan tubuhnya. Ken tidak lagi berbicara dengan nada formal. Ia malas. Kemalasannya itu membuat Ayana sedikit mengeryit dengan bahasa Ken yang santai.


Apa ia harus mengimbangi? berbicara dengan tidak formal juga? oh tidak-tidak di deoannya ini klien.


“Baiklah seperti yang Anda inginkan, tapi tentu saja Anda perlu membayar lebih jika ingin mendapat jasa dari ketua biro jodohnya secara langsung.” Alis Ayana tampak menantang, raut polosnya berusaha memeras Ken. Jujur aja nada sombong Ken mengurungkan niatnya untuk mengambil pekerjaan ini.


“Deal.” Ken menjawab Entang. Memangnya kenapa kalau membayar lebih, ia tidak masalah sama sekali. Dan tadi kenapa melihat raut wajah Ayana yang ingin memerasnya malah membuat Ken ingin tergelak ya? Ken sudah sering mengalami pemerasan namun, pemerasan dalam bahasa halus yang diberikan Ayana malah membuatnya hendak terkekeh geli, namun sebisa mungkin ia menahannya.


Baiklah di depannya ini tenyata orang yang benar-benar kaya, bukan hanya tampilan visual saja.


Ayana bersuara setelah beberapa saat terdiam. Rasanya saat ini ia ingin segera menyelesaikan sesi diskusi.

__ADS_1


“Jadi? Anda ingin kriteria wanita seperti apa?” Ayana bertanya tenang.


Mata Ken menyipit, aura yang terlihat dari Ayana berbeda sekali. Sekali lagi berusaha menilik jika saja Ayana sedang berakting. Namun hasilnya masih nihil, Ayana di depannya ini tampak tidak mengenalnya sama sekali.


Apa dia tidak mengenalku? Haha dia melupakanku? Bergumam dalam hati mencoba menilik raut wajah Ayana, mungkin saja ada kegugupan disana. Namun nihil.


Ayana yang dipandang hanya menatap datar. Tunggu-tunggu kenapa dia sekarang jadi merasa terobsesi ingin mendapat binar kagum dari Ayana? Astaga! Sejak dulu bahkan ia menghindari Ayana tapi kenapa sekarang?


Sekarang Ken sepertinya sedang mabuk benar-benar.


Ini gila aku pria sukses abad ini. Dia pasti tau siapa aku. Dia tidak mungkin melupakan aku. Bahkan matanya dulu selalu memujaku. Ken kesal.


“Tuan? Tuan?” Ayana berusaha menyadarkan sosok klien di depannya ini yang sepetinya sedang banyak pikiran, terbukti dari kerutan samar yang tercetak diantara keningnya.


“Oh?” Ken tersadar dari pikiran kemelutnya.


“Apa yang Anda pikirkan? Apa ada hal mendesak yang harus Anda lakukan sekarang?” Ayana berucap serius. Pikirnya mungkin laki-laki bernama Ken ini memang sedang ada hal yang mendesak.


Bukanya mendapat tanggapan, yang didapat Ayana Ken menatapnya kesal.


Oke, tampaknya memang Ayana melupakannya. Ken mengambil minuman yang tadi tersedia menyesapnya perlahan. Ada rasa kering dari tenggorokannya, sehingga menjerit minta dibasahi. Tangannya lalu berlipat di dada.


“Carikan aku yang terbaik di antara yang baik.”


Ayana mengerutkan kening, ingin meminta penjelasan yang lebih rinci, tangannya sudah memegang bolpoin dengan buku kecil yang terbuka, siap mencatat setiap lontaran pemintaan dari Ken, kliennya saat ini.


Ken mendengus, paham dengan tatapan yang meminta penjelasan itu. “Carikan aku wanita yang enak diajak bicara, wanita yang tidak terlalu cerewet, yang penurut. Identitas ku tidak boleh diberi tahu—, saat aku harus menemuinya nanti, aku tidak ingin mendapat wanita yang hanya melihat isi dompet saja. Wanita yang kau bawa juga harus sesuai dengan kriteria orang tuaku. Aku tidak mau mendapat wanita yang nantinya akan ditolak oleh orang tuaku.”


Ken bicara jelas, latang dan tenang. Mulut Ayana terbuka lebar, ia mengintip catatan yang amburadul lalu melirik Ken kembali. Matanya melebar, sungguh! baru pertama kali ia bertemu klien yang sangat banyak maunya.


“Tunggu tuan, sebagian yang anda minta bisa saya Carikan. Tapi mengenai sesuai dengan kriteria orang tua Anda bagaimana saya bisa mengetahuinya?” Mata Ayana melebar menandakan ketidakpercayaan akan situasi ini.

__ADS_1


“Tentu saja harus sesuai dengan orang tuaku.” Ken menjawab eneteng.


Ayana mengambil nafas panjang lalu perlahan berusaha mengulas senyum.


“Baiklah, kriteria yang disukai orang tua Anda yang bagaimana?”


“Entahalah.” Ken mengangkat bahu acuh. Sekali lagi jawaban Ken mengundang tatapan horor dari Ayana.


Apa itu matanya terlihat kesal. Tunggu apa dia pernah berekspresi begitu?Ken. Tunggu-Tunggu kenapa pula dirinya seperti mengalami sekali raut wajah Ayana?!


Apa aku boleh melakukan kekerasan saat ini. Huft, tenang Ayana, dia klien yang harus kau penuhi keinginannya. Ayana


“Baiklah kalau begitu Anda bisa bertanya dulu bagaimana kriteria menantu idaman yang orang tua Anda inginkan. Setelah itu baru datang kepada saya, maka saya akan segera melakukan pencarian yang sesuai dengan yang Anda sebutkan.”


“Kenapa harus aku. Kau dong yang mencari tau.” Mata Ken terlihat mengerjap, dengan raut wajah yang sangat membuat jengkel. Terlihat bergaya polos, namun menyimpan smirik kecil disudut bibirnya. Kecil sekali sehingga hanya ia dan tuhan yang mengetahui itu.


“Haha, bagaimana bisa saya bertanya kepada orang tau Anda tuan. Saya saja tidak kenal.”


Konyol sekali, masa aku harus tiba-tiba datang menghadang orang tuanya lalu bertanya kriteria menantu idaman Anda seperti apa. Kemungkinan besar aku akan disangka orang gila. Ayana bergidik ngeri.


“Ya kau harus berpikir untuk itu. Masa kau mau aku yang memikirkannya. Ini kan tugasmu.” Ken berdiri membuat kursi berderit. Ayana segera ingin menahan ken.


“Tu—,”


“Aku tidak punya waktu lagi.” Ken melihat jam tangannya. “Kau Carikan sesuai yang Kuminta, akan kubayar kau dengan mahal.”


“Oh iya, wanita yang kau bawa nanti harus wanita yang sempurna.” Ken berlalu dengan senyum tipis melihat Ayana yang tengah lebar.


Jederrrrrrr


Ayana menjambak rambutnya Frustasi!! Dimana?!! Dimana ia bisa menemukan sosok wanita sempurna.

__ADS_1


Sial tidak sekalian saja anda minta saya bawakan Miss Indonesia!


Ayana menatap punggung Ken yang meninggalkan cafe, sosok laki-laki bernama Alex tadi membuka pintu untuk Ken lalu, mobil itu melaju meninggalkan Ayana dengan pandangan yang kosong.


__ADS_2