Wanita Sang CEO

Wanita Sang CEO
Ch 6~ Mengobati


__ADS_3

Sejak malam tadi bumi menangis. Menumpahkan berkah hujan, air mulai mengenang di setiap sudut bumi. Suhu bumi menjadi dingin dan sejuk. Bahkan matahari tampak tak dibiarkannya untuk naik dan memancarkan cahaya menerangi bumi.


Rintik air dan udara yang sejuk membuat Angel betah untuk bergelung lebih dalam. Merapatkan seluruh selimut hingga hanya bagian atas rambutnya saja yang terlihat .


Bunyi ponsel mengusik ketenangan tidur . Ia berusaha menggapai ponsel yang berada di dekat nakas sebelah kanan .


“Pukul berapa ini .” Bergumam masih dengan suara serak. Silau ponsel membuat matanya menyipit. 


Dilihatnya lebih jelas layar ponsel tadi .


Dia begitu tersentak matanya terbuka lebar seketika.


“Apa! Sudah pukul tujuh. Apa aku senyenyak itu tidur !! Haisshh.” Segera bangun dari tempat tidur .


“Auuu huaaa aku sudah sial padahal ini masih pagi hiks.” Berteriak kesal, karena tubuhnya terjatuh akibat tidak seimbang. Pantas saja tubuhnya tidak seimbang ia baru saja bangun tidur dan belum sadar sepenuhnya .


Karena tergesa sampai lupa mengambil handuk. Berbalik lagi mengambil handuk dan baru memulai ritual mandi .


“Aku harus cepat-cepat ,Huaaa aku sudah terlambat. Sekarang kau harus meminimalkan waktu keterlambatanmu Angel .” Berseru pasrah .


Tergesanya Angel membuat ia ceroboh menabrak ranjang tidur .


“Auuu Auuu...Haishh...sungguh tidak ada yang sempurna ...hariku yang BURUK!!” 


Sudah mau menangis karena kesal .


Berusaha bangun dan mengambil pakaian. 


“Huh kunci mobil mana juga?... kenapa tiba-tiba menghilang.” Menggerutu karena marah, kesal dengan diri sendiri. Hati yang tidak tenang membuat dia tidak melihat bahwa kunci mobil tepat berada di dekat sikunya .


“Ini dia astaga .”


Memekik lagi melihat jarum jam pada pergelangan tangannya .


***


Segera bergegas ,banyak yang merasa aneh melihat dirinya. Pasti mereka bertanya -tanya kenapa dia baru datang. Biarlah itu urusan nanti ia masih harus meminimalkan keterlambatannya. Setengah ngos-ngosan karena berlari .


“Akhirnya sampai juga .” Angel melihat pintu ruangan CEO nya yang tak lagi tertutup rapat. Itu artinya sang pemilik ruangan telah ada ditempat. Dengan cepat Angel mengambil ipad dan membawa langkah kakinya masuk ke dalam ruangan CEO.


Sangat tergesa-gesa. Tidak memperhatikan bagian lututnya sudah memar karena terbentur meja .


***


Mata Angel menangkap sang atasan sedang terfokus pada layar komputer dengan jari tangan yang tampak menggeser-geser mouse .


Hanya beberapa langkah saja Angel sudah berdiri tepat didepan Hans .


“Selamat pagi pak. Maaf saya terlambat .” Mengucapkan permohonan dengan raut wajah yang benar -benar tampak bersalah. Matanya bersiborok dengan mata tajam atasannya itu .


Apa pak Hans akan marah besar .Ya tuhan lindungi aku ...Hindarkan aku dari amukan bossku.


Angel melirik asisten Bram yang berada di dekat Hans.


Bram adalah asisten pribadi Hans karena ada kendala dengan anak perusahaan yang ada di luar negeri jadi Hans mengirim Bram untuk mengurus masalah tersebut. Bram  baru saja kembali setelah menyelesaikan tugasnya


Asisten Bram yang berada di belakang Hans melirik sekilas kearah Angel menegakkan punggungnya .


“Kenapa terlambat?” Sorot mata tajam begitu menghujam. Angel menelan saliva dengan kasar sebelum memupuk rasa tidak tau malu mengungkapkan kebenaran alasan keterlambatannya .


“Maafkan saya pak .Karena cuaca yang begitu nyaman membuat saya tidak sadar bahwa hari sudah beranjak siang hehe...”


Menjawab dengan bahasa ilmiahnya dengan bubuhan tawa diakhir.


“Artinya kamu datang terlambat karena bangun terlambat ?!” Tepat sang atasan mengartikan dalam bahasa kasar .


Angel menjadi semakin tertunduk takut .

__ADS_1


“Maafkan saya pak.” Baiklah pikir Angel hanya maaf. Bilang saja maaf jika dihukum dia akan menerimanya jika mendapatkan semprotan dia juga akan menerimanya .


Bram melihat sekilas ke arah Angel sudut-sudut bibirnya mengulas senyum tipis .


“Huff...baiklah untuk kali ini di maafkan.” Apa semudah itu Angel bernfas lega.Nada suara Hans tadi terdengar begitu mengintimidasi hingga nyali nya menyusut.


“Kita masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan .” 


“Terima kasih pak.” Sudah bisa benar-benar lega .


“Ya...Sekarang minta pada pak Yusuf beberapa berkas terkait produk kemarin.”


“Baik pak ...Ada lagi?”


“Tidak ada itu saja .” Baiklah Angel berlalu menuju lantai 8 dimana tempat Pak Yusuf berada .


Syukur Angel bisa mengelus dadanya. Mungkin ini keberuntungan karena tidak mendapat amukan dari boss. Berterima kasih dengan pekerjaan yang membuat dia tidak kena semprot .


***


Angel keluar dari ruangan hans dan segera berjalan masuk ke dalam lift menuju.


Bagian peluncuran produk pemasaran.


Angel berbicara dengan pak Yusuf selaku ketua bagian pemasaran dan meminta data yang diperlukan oleh CEO mereka.


“Bu Angel...A-ada urusan apa Anda kemari .” Pak Yusuf yang usianya lebih tua menyambut kedatangan Angel.


“Untuk berkas rapat kemarin pak.Tolong bawa kemari semuanya, pak.”


“Oh berkas iya- iya… Mohon tunggu sebentar bu.” Angel mengangguk ramah. Matanya mengedar mencari dua sosok. Si cerewet dan si secukupnya .


Lihatlah itu si cerewet Dina Humaira . Si banyak bicara si mudah terusulut api dan si otak gesrek .


“Hai.” Sapaan melalui gerakan mulut dari sang sahabat disambut Angel dengan senyum .


Yang berada disampingnya juga tampak menyadari ke hadiran Angel .


Oh inilah si kalem, si tak banyak bicara dan berpikiran dingin. Si pembela dengan sikap tenang dan berpikiran jernih, si pemberi solusi terbaik, Vina Mariya.


“Kantin?” Tiga orang ini saling memberikan kode melalui mata .


“Oke.” Mereka kemudian tergelak dengan situasi .


***


Berkas yang diminta Hans menumpuk ditangannya, mendekapnya erat takut tumpukan itu akan jatuh .


Ketukan pintu dari arah luar membuat Hans mempersilahkan siapa saja yang masuk . Dahinya berkerut samar melihat Angel yang kesusahan membawa bekas .


Berkas sebanyak itu kenapa membawa dengan tangan kosong . Padahal sudah ada alat yang membantu meringankan pekerjaan.


Hans memijit pangkal hidungnya .“Jangan dibawa kemari. Letakan di meja sofa .”Oh baiklah Angel bergegas .Dia memang sudah tidak tahan dan hendak menghamburkan bekas yang berada ditangannya saking beratnya .


“Ini.”


Apa ini tugas lagi .Huaaa ternyata pak Hans menyiksaku ...hiks.


Melihat raut wajah memelas Angel, not itu kembali ditariknya .


“Bram kemari! Bawa bekas -berkas yang kutulis .” Kening Bram berkerut samar. Pekerjaan dadakan yang tidak dapat di bantah ini sungguh mencurigakan.


Huwaaaa aku terbebas.


“Baik pak.” Mengutamakan sikap profesional Bram tidak membantah dan berlalau melaksanakan tugas .


“Kenapa malah berdiri, kemari .” Angel dibuat tersentak rupanya Hans sudah duduk di sofa tengah ruangan .

__ADS_1


“Apa ini efek terlalu banyak tidurmu?” Ketara Sekali Hans ini memang sengaja mengejek Angel yang datang terlambat.


“Maaf pak .” Hanya satu kata yang bisa Angel ucapkan .Namun hatinya sudah membuat beberapa alinea kekesalan, dongkol dan marah.


Mereka duduk bersebelahan. Satu detik, lima detik.


10 menit...


30 menit…


Waktu terus berlalu. Angel beranjak turun dari sofa dan memilih lesehan di lantai. Lagipula lantainya bersih tidak ada yang perlu dirisaukan.


Hans menggelung kemejanya. Sesekali Hans berbicara dan mengarahkan Angel.


Angel mulai merasa tidak nyaman dengan posisinya ia berusaha bangun.


“Aaakh..Duh.” 


“Kenapa?... Apa ada yang sakit ? Yang mana yang sakit hah?!”


Berkas yang dipegang Hans sudah terlempar asal .


Mendengar sentakan tinggi itu, Angel meringis.


“I- ini ka-kaki saya kesemutan pak .” 


“Kesemutan?! ” 


Sudah meenyelipkan tangannya di antara bahu dan kaki Angel. Tubuh mungil Angel  diangkat dengan mudah ke atas sofa .


“Diam! Jangan banyak bergerak .” Duh inilah Hans. Nada tegasnya membuat Angel tak bisa berkutik. Lagi-lagi Angel dibuat terkesiap saat Hans menyentuh kakinya .


“Ini kenapa ? Memang ceroboh sekali .” Cecar Hans, ia berlalu tanpa mempedulikan Angel yang heran. Apa maksud kata Hans.


Apanya yang ceroboh? Memangnya aku melakukan apa?


Angel kembali dibuat bertanya dengan tatapan Hans yang tampak cemas juga ada kotak P3K dibawa Hans .


“Kemari!” Titah tak terbantahkan.


“I-ini kenapa pak?” Mulai memberanikan diri bertanya.


“Kenapa kau tidak sadar?! Lututmu memar.” Hah ? Oh Angel baru menyadarinya memang lututnya sudah mulai membiru.


“Eh saya bisa mengoleskannya sendiri pak.” 


“Diam! ” Melihat raut wajah Hans yang garang Angel benar-benar diam .


Ada apa dengan posisi nyaman dipandang ...namun tidak nyaman dilakukan ini.


Posisi kaki Angel berada di pangkuan Hans. Sungguh Hans memang laki-laki baik menurut Angel. Ada kalanya kejadian perhatian sering kali Angel dapat dari Hans.


Cepatlah kumohon ini sungguh tidak nyaman.


Hans mengoleskan salep ke lutut Angel


yang memar.


“Sudah.” Seru Hans ,namun belum menurunkan kaki Angel, ia meniup lutut Angel yang baru ia olesi obat tersebut.


“I-iya pak terima kasih.”


Ucap Angel, sambil berusaha menurunkan kakinya dari atas pangkuan Hans.


Pekerjaan kembali dilakukan.


“Sudah waktunya makan sekarang, kita istirahat .” Angel menoleh ke arah sumber suara yang melakukan peregangan dengan begitu indah. Jangan lupakan tampilan Hans yang masih terlihat tampan.

__ADS_1


Angel memabantu Hans memasang Jas. Ia kemudian berlalu, tujuannya sekarang katin melepas penat sejenak dengan istirahat dan bertemu dengan sahabatnya.


Yeah sudah bisa melakukan peregangan otot-otot.


__ADS_2