
Ken menyoroti tempat yang ia datangi saat ini. Keningnya mengeryit, tampilan tempatnya—, sungguh—, diluar ekspektasi Ken!
“Dev benar-benar kurang ajar! Apa dia sedang bermain-main sekarang! Biro jodoh apa yang dibangun di tempat yang sederhana begini!” Ken sungguh kesal pada temannya itu, suguhan tempat yang ditujukan Dave, dimana tempat kantor biro jodoh tersebut sangat-sangat membuatnya menatap horor.
Asisten pribadi Ken yang bernama Alex pun ikut merasa terheran.
Untuk apa tuan muda datang ke tempat sederhana begini?
Bukan maksud Alex merendahkan tempat yang sedang ia pandang. Bukan-bukan sama sekali—, bahkan ia sudah sangat terbiasa melihat tempat-tempat begini di setiap sudut kota. Hanya saja ini—, Ken Prasetyo yang mengunjungi! Membuatnya tercengang dengan hal yang sungguh diluar kebiasaan yang tuan muda. Apa dasar yang membawa langkah Ken Prasetyo mengunjungi bagunan tak gemerlap ini.
Alex mengentikan suara batinnya ketika mendengar suara sang tuan muda menyebut nama Dev.
“Kau ingin kubunuh Dev! Kau mengirimiku alamat yang salah sekarang! Mana kantor biro jodoh yang kau maksud itu hah! Aku sudah berada di lokasi tapi yang kulihat hanya tempat sederhana tanpa kehidupan!” Ken segera menyerang Dev dengan suara tinggi. Bahkan Dev harus menjauhkan telpon dari area telinga, saking suara Ken begitu memekikan.
“Lokasi sederhana itu memang benar tempat yang kutujukan Ken!” Mata Ken melebar menatap horor kembali ke arah depan.
“Apa-apaan kau ini! Kau bilang biro jodoh yang terpercaya dan sudah sangat profesional. Tapi yang kulihat hanya—, seonggok tempat sepi tanpa penghuni...”
Alex masih berisi tegap satu tangannya sudah mengambil jas milik sang tuan muda. Tuan mudanya itu tampaknya akan memuntahkan amarah, Alex kenal sekali gerakan ini melepas jas dan menyerahkan pada dirinya dengan kasar—, lalu menggulung lengan kemeja. Fix yang ditelpon siap-siap harus menjauhkan telpon dari area telinga.
__ADS_1
“Tunggu-tunggu jangan bilang kau sudah datang ke sana saat ini?”
“Bodoh sekali kau ini, aku memang berada di lokasi saat ini. Apa kau tidak bisa menangkapnya!” Ken makin meledak saja. Lihat nanti saat ia bertemu dengan Dev ia benar-benar akan memberikan pelajaran kepada sahabatnya itu. Sungguh Ken merasa dipermainkan. Padahal ia sudah menyiapkan waktu untuk mengunjungi tempat yang disarankan Dev namun apa sekarang!
“Pantas saja Ken... Sekarang baru pukul 9 pagi mereka masih belum buka.”
“Kau sedang bercanda sekarang? Jadi maksudmu tempat yang kudatangi ini memang benar tepat? Dan di sana bangunan tak bernyawa itu tempat yang harus KUDATANGI?”
Dev menghela nafas menghadapi sahabatnya itu. Dev membayangkan pasti raut wajah Ken sekarang sedang berkerut tidak suka.
“Dengar Ken, mereka terpercaya. Jangan lihat tampilan luarnya saja. Lagi pula mana mungkin aku menyarankanmu pergi ke sana jika mereka bukan yang terbaik. Aku tau sendiri kau selalu suka yang terbaik.” Jawaban diplomatis Dev membuat Ken berdecak. Ken memutuskan penggilan secara sepihak. Membuat yang diseberang mengumpat kasar.
Ken berkelut dengan pemikiran.
“Selamat pagi? Tuan-tuan ada perlu apa ya di depan kantor biro jodoh kami?” Suara itu menyapa dengan sangat sopan dengan tutur kata lembut. Membuat Ken yang sedang memijit pelipisnya segera menoleh ke arah sumber suara.
Senyum mengembang terulas dengan sangat alami, tampaknya senyum itu sudah terbiasa di lemparkan ke siapa saja.
Biro jodoh? Astaga tuan kami ke biro jodoh? Wajah setampan ini dengan karir gemilang pula sampai ke biro jodoh?!! Lalu bagaimana denganku yang berbekal ilusi tampan saja? Astaga.
__ADS_1
Ken berdehem pelan. Ada rasa familiar ketika Ken melihat sosok di depannya ini, Ken berusaha mengingat namun sebelum itu ia menyadari bahwa si perempuan masih menunggu jawabannya.
“Bisa saya bertemu dengan pemiliknya?” Ken berucap to the point.
“Untuk apa tuan? Anda perlu memberikan alasan yang kuat untuk bisa bertemu dengan pemiliknya.”
Tatapan si wanita itu berubah waspada, Ken sampai berdecak melihat kewaspadaan itu. Memangnya tampilannya seperti orang jahat apa, sampai diberi tatapan horor begitu. Ken mencuri-curi pandang ke arah kaca mobilnya, tampan kok, bahkan sangat. Lalu memusatkan kembali pandangan ke arah perempuan di depannya itu.
“Saya akan menjadi salah satu klien yang membawa pundi-pundi uang pada kantor kalian. Tentu saja terlebih dahulu saya perlu berbicara dengan pemiliknya.” Ken mengulas senyum miring, menegapkan tubuhnya. Gerakan tubuhnya seperti berkata sambut aku dengan baik dan layani.
Senyum segera mengembang di wajah perempuan itu, wajah waspada tadi berubah sangat bersahabat. Lalu uluran tangan tersaji di depan Ken.
“Oh saya sendiri pemiliknya tuan. Senang sekali ada orang besar yang memakai jasa kami. Saya Ayana.”
Sejenak Ken menantunya. Ayana?—, Ayana?_—, Terasa semakin familiar? Tapi siapa?
oh Ken ingat! Wajah ini, senyum ini. Dia adik kelasnya dulu! Ayana! Sosok yang begitu menggilainya, selalu menyorot perhatikan ke arahnya. Selalu memujanya dengan tatapan bersinar ketika masa SMA dulu. Shit! Kenapa dia harus bertemu dengan penggemarnya.
Tunggu-tunggu atau mungkin hanya dirinya yang terlalu berlebihan, melihat tatapan binar tadi muncul ketika Ken menyebut dirinya klien, bukan karena mengenal dirinya! Juga tadi Tutur katanya sangat-sangat sopan tidak ada indikasi Ayana mengenalnya! Dia dilupakan! oleh penggemarnya sendiri? Oh kenapa sekarang dia merasa kesal ya?
__ADS_1