Wanita Sang CEO

Wanita Sang CEO
CH 111-Wanita Dibalik Jendela


__ADS_3

Ayah berjalan santai di teras belakang rumah. Dua tangannya berada dibelakang punggung, kakinya berhenti tepat berada di depan pohon dengan tempat kursi kayu panjang. Beliau kemudian mendudukan tubuhnya dengan nyaman di kursi kayu panjang tadi.


“Apa kau akan terus berdiri.” Hans yang sedari tadi mengikuti langkah ayah mertuanya tersentak dan segera duduk disamping ayah mertua. Karena gugup Hans menjadi sosok yang pendiam saat ini.


Ayah rasanya mau tergelak melihat sikap Hans. Inikah laki-laki yang dia lihat di tv beberapa waktu lalu. Yang terlihat begitu tegas dan berkarisma? sungguh Hans yang asli tampak begitu berbeda dengan yang tampil di televisi.


“Apa kamu memang tipe yang pendiam seperti ini?” Mata Hans melebar seketika. Pendiam? Jika para karyawan mendengar ini maka mereka mungkin akan tertawa terpingkal-pingkal dengan ucapan polos ayah.


“I-ini karena saya merasa segan berbicara terlebih dahulu. Saya tau ayah mertua akan membicarakan hal penting jadi saya menunggu.” Hans menjawab dengan hati-hati.


Alis ayah terangkat.


“Ayah mertua? Tidakkah kamu terlalu yakin menyebut saya seperti itu?” Ayah berusaha menggertak pertahanan Hans.


Hans menghujamkan tatapan tegas ke arah ayah.


“Ya saya yakin, bahkan Ayah mertua sendiri tadi menyambut saya dengan sebutan calon menantu.” Ayah melongos, dia tidak dapat berkelit. 


“Baiklah itu benar.” Hans masih belum bisa bernafas lega. Tarikan nafas ayah terasa panjang, dan hal itu membuat Hans bersiap-siaga.


“Saya tidak akan bertanya alasan mengapa kamu baru datang sekarang. Karena saya paham betul menjadi seorang pemimpin memang memiliki pikulan dan tanggungjawab yang berat.” Mata Hans dibuat melebar, padahal ia pikir ayah mertua akan bertanya. Mengapa? Mengapa baru datang sekarang. Dan ia akan menjabarkan alasan yang sebenarnya.


Tatapan mata ayah yang berubah serius, membuat tatapan mata Hans terfokus.


“Namun ada satu hal yang membuat saya kecewa dengan nak Hans. ” Hans dibuat tersentak dengan ucapan ayah yang begitu dalam. 


“Nak Hans mengikat anak saya dalam sebuah hubungan pertunangan tanpa persetujuan saya selaku orang tua.” Hans dibuat beku ditempat. Ya dia salah seharusnya ia melihat dari perspektif orang tua Angel yaang tinggal di desa, yang menganut paham berbeda dengan masyatakat perkotaan. Mungkin di perkotaan lamaran adalah hal yang biasa, namun berbeda dengan masyarakat desa.


Tarikan nafas panjang untuk mempersiapkan hati.


“Maafkan saya ayah mertua, saya bukan bermaksud tidak menghormati Anda. Saya melakukan itu karena saya benar-benar serius dengan Angel. ” Senyum kecil terulas di bibir ayah.


“Ya saya paham–,saya tau bahwa etika dan cara berpikir orang kota berbeda dengan kami orang desa.” Kening Hans berkerut, ucapan ayah terdengar merendah dan hal itu tidak Hans sukai.

__ADS_1


“ Maka dari itu, saya tidak bisa menyerahkan putri saya yang berharga begitu saja ke kamu.” Posisi tubuh Hans sudah miring seketika ia menatap ayah dari samping. Tubuhnya menegang seketika! Apa ini?! Apa impiannya akan pupus? Baru saja ia mengucap beberapa kalimat!


“A-apa maksud ayah mertua? Saya serius dengan Angel.” Tatapan Hans begitu gusar.


“Maaf jika saya sudah salah bertidak–,maaf karena saya sudah membuat Anda menunggu–,maaf atas sikap saya yang begitu mengecewakan Anda. Tapi ayah mertua —,saya tulus ingin menjadikan Angel sebagai bagian dari hidup saya!” Dada Hans memburu, rasanya dunia berhenti seketika. Ayah mertua tidak mempercayai dirinya, karena itu ayah mertua tidak mau membiarkan Angel menjadi bagian dari hidupnya. Tidak boleh Angel dalam hidupnya! bagaimana bisa dia hidup tanpa Angel !


“Tolong percaya dengan saya.” Tangan Ayah terjuntai di sandaran kursi panjang dia menghadap Hans secara sempurna. Dia dapat melihat tatapan menghiba dan putus asa di mata Hans.


“Bagimana saya bisa percaya dengan kamu? Apa yang kamu miliki? ” Pertanyaan ayah terdengar seperti, Aku tidak melihat ada hal yang kamu miliki membuat Hans terdiam. Tidak ada? padahal ia kaya, cerdas, tampan, semua ada dalam dirinya. Lalu standar bagaimana yang dilihat oleh sang mertua agar bisa lolos menjadi menantu.


Dia menatap ayah begitu dalam, ini menarik pikir ayah. Tadi laki-laki didepannya ini tampak putus asa dan sekarang menghunuskan tatapan yang begitu melembut.


“ Sebenarnya banyak yang sudah saya memiliki di dunia ini.” Bibir ayah tampak mencemooh, ini bukan jawaban yang ia inginkan. Mungkin dia salah menilai tatapan tadi. Dia sudah mau berbalik namun...


“Tapi–,” Mata Hans terlihat teguh balik menatap mata Ayah. “ Ada satu hal yang belum saya miliki seutuhnya–,” Dia kembali menarik nafas sejenak, berusaha mengusir rasa sesak yang menghantam.


“Dibelahan bumi manapun saya tidak akan bisa mendapatkan hal itu, meskipun saya memiliki kekayaan yang melimpah, meskipun saya memiliki koneksi....saya tidak bisa memiliki hal itu seutuhnya.” Ucapan Hans yang begitu serius menarik minat ayah.


Dia melanjutkan ucapannya dengan tergesa.


“Maka dari itu sudikah Ayah mertua, memberikan saya permata yang sudah Anda jaga dengan sepenuh hati itu. Mempercayakan permata berharga itu untuk berpindah tangan kepada saya.” Mata ayah mulai berkaca keseriusan Hans sudah menyentuh hati terdalamnya. Dia tidak menyangka laki-laki yang memiliki derajat berbeda dengan keluarganya ini begitu menginginkan Anaknya. Bahkan ketulusan Hans membuat ayah tidak bisa berkata lagi. 


“Sa-saya akan menjaganya dengan baik. Saya akan melimpahkan kasih sayang sebagaimana ayah mertua menyayangi dia. Sa-saya...saya su-sungguh sungguh serius dalam hubungan ini! Mohon restui hubungan kami ayah mertua! ” Hans bersimpuh, lutut kakinya menyetuh rerumputan dengan kepala yang tertunduk. Kepalanya sudah kosong, dia tidak bisa mengucapkan satu patah kata pun lagi untuk membuat ayah mertua luluh. Dia sekarang hanya ingin memohon... Memohon dengan bersimpuh!


Mata ayah mulai menganak sungai. Inilah dia laki-laki yang dia cari! laki-laki yang memenuhi kriterianya untuk menjadi calon menantunya!


Beliau dengan spontan menepuk bahu Hans.


“Berdiri nak.” Pinta ayah, kepala Hans terangkat suara ayah tidak seberat beberapa waktu lalu yang terkesan menekan dan dingin. Saat ini suara ayah mertua begitu melembut dan itu membuat Hans berharap.


Dari posisi duduknya ayah menuntun tubuh Hans agar berdiri. “ Saya tidak menyangka kamu bisa meluluhkan hati saya secepat ini.” Senyum kecil yang terukir di bibir ayah menambah kegugupan Hans.


“ Baiklah–,Jadikan putriku sebagai istrimu. Aku mengijinkannya.” Bagaikan ledakan petasan tubuh Hans seketika bergetar haru. “ Niat baikmu kuterima, jadi aku sebagai ayah Angel Rasinta –, bersedia menyerahkan putri berhargaku kepadamu! ” Hans tak bisa menepik keharuannya. Ia menjatuhkan bulir airmata yang sejak tadi dia tahan. Benarkah ayah mertua merestuinya, pikiranya seolah kosong. Dia mengusap wajahnya kasar,sementara cengkraman dibahu tampak menyadarkan dirinya.

__ADS_1


“Terima kasih ayah mertua!” Dia berteriak kencang, mengungkapkan kesenangan yang begitu membuncah di dalam dirinya. Secara spontan dia memeluk ayah mertuanya itu.


Papa, Mama, ibu, Angel, dan Juna begitu terheran dan tersentak dengan situasi. Mereka sedari tadi menilik dari balik jendela rumah. Mereka berusaha menduga-duga apa yang dua pria itu bicarakan. Namun nihil, pendengaran mereka tidak setajam itu untuk bisa menangkap pembicaraan dua pria yang terpaut umur cukup jauh tadi.


“Apa maksud Hans terima kasih pah?” Mama bertanya, beliau merasakan berbagai emosi saat melihat anaknya tadi.


Di bawah pohon dengan dedaunan yang mulai berjatuhan karena takdir tuhan. Dua laki-laki saling pandang. Satu laki-laki merasa lega karena merasa keputusannya sudah tepat. Satu pria lagi begitu energik karena sudah diberi kepercayaan. Ketulusan dari perasaanya membawa Angin segar. Ayah mertua sudah merestui hubungannya dengan Angel. Jika begini maka wanita dengan raut wajah tanda tanya yang berada di balik jendela itu, akan segara dia jadikan istrinya.


Angel sayang ayah mertua menerima ketulusanku. Aku begitu bahagia sampai-sampai aku tampak seperti pria lemah, karena mataku menggenang dengan air mata haru. Impianku akan segera tercapai!!


“HEI WANITA DIBALIK JENDELA!!” Semua orang yang tadi menatap heran sekarang kambali tersentak dengan teriakan Hans yang begitu lantang. Hans membulatkan kedua tangannya di depan mulut. Ayah yang mendengar teriakan Hans mematung seketika.


“AKU MENCINTAIMU!!”


Pipi Angel seketika bersemu merah, semilir Angin yang berhembus bukan hanya membawa angin Segar namun juga kebahagiaan yang berpendar. Mata Hans tertuju ke arah atas terus melihat wanita yang menjadi medan magnet baginya. Rambut Angel tampak tertiup Angin sampai-sampai Angel tampak begitu cantik dimatanya.


“Maksud anak kamu mamah pah?” Pertanyaan polos itu mendapat gelak tawa dari Papa.


.


.


Jangan lupa masuk GC ya🤧.


Jika ada yang berkenan rekomendasikan dong novel ini kemedsos. Entah FB ig atau Apapun itu...


Nah yang mau dapat info mengenai ini novel silahkan masuk GC Author.


Author memutuskan untuk kalau kasih info libur atau apapun itu melalui GC atau Ig ya.


Happy reading


~Tyatyut

__ADS_1


__ADS_2