
Liburan sudah berkahir. Semua kembali pada rutinitas yang sama. Di pekarangan rumah keluarga Prasetyo, para pelayan terlihat rajin melaksanakan tugas mereka. Pelayan yang dipekerjakan memang terdidik, bertutur kata lembut dan ramah. Semua itu memang menjadi syarat penerimaan menjadi pelayan keluarga Prasetyo.
Standar penerimaan pelayan yang mereka pegang membuat lingkungan rumah mereka nyaman. Ketika dulu tidak mengunakan standar pelayan yang terdidik, mereka sering mendapati pelayan yang suka bergosip. Sungguh hal itu sangat membuat risih dan memancing amarah. Apalagi pada saat itu Angel menangkap sendiri pelayan penggosip yang membicarakan dirinya.
“Duh beruntung bangat ya jadi nona Angel, bisa jadi istri dari tuan muda.” Ujar salah satu pelayan wanita yang berusia dua puluh lebih, dari nada udaranya tersirat iri yang nyata.
“Ya memang beruntung mbak, tuan muda sama istrinya juga cocok banget. Kamu jangan ngiri deh mbak.” Si pelayan wanita lain yang berumur hampir sama memincing pada teman pelayan satunya itu. Ia kadang merasa dongkol juga dengan sosok di dekatnya ini, kenapa raut wajah tutur kata dan tindakan selalu menyiratkan rasa iri yang mendalam. Memang itu itu wajar, namun jika dibalut dengan pandangan merendahkan maka hal itu sangat-sangat perlu dipertanyakan. Sosok di sampingnya ini menjadi contoh pengiri yang tampak selalu membanggakan diri.
“Ck siapa yang ngiri!” Elak si pelayan wanita tadi, sudah berkacak pinggang dan melepaskan selimut yabg tadi hendak ia gelar supaya terjemur sempurna.
“Kalau nggak ngiri kenapa mbak suka sekali mengungkit tentang nona Angel? Tentang nona Angel yang beruntunglah, tentang nona Angel yang tidak sebandinglah, tentang nona Angel yang manja lah?” Raut wajah si pelayan itu menatap menyelidik.
“Ya memang manja kali!”
“Astaga mbak! Nona Angel itu nggak manja mbak. Mungkin itu karena hormon masa kehamilannya. Mbak ini nggak bisa liat dengan jelas apa nona Angel yang rajin itu. Mbak lebih baik jaga ngomongnya, jangan melontarkan kata dengan mudah. Tanggungan dia akhirat berat mbak.” Si pelayan itu memperingati temannya yang bernama Nia yang sudah memang wajah berang karena diceramahi.
“Halah! memang kenyataan itu! liat aja kemarin nangis-nangis nggak jelas bahkan kayak drama di ruang tengah.”
Dasar pelayan tidak tau untung. Dipekerjakan agar melaksanakan dengan tangan, sekarang malah dengan tidak tau malunya malah mencibir sang tuan rumah dengan lidah tak bertulangnya dengan nada penuh siratan akan keirian yang nyata.
Baru saja hendak kembali melontarkan nasihat pada Nia suara dari alah belakang membuat mereka menegang.
“Siapa yang manja Nia?”
Mereka berbelok berusaha memastikan suara itu. Selimut yang Nia pegang jatuh terhempas ke tanah, wajahnya sudah pias pasi. Melihat tuan mereka. Yang tadi ia bicarakan! Nona Angel.
“No-nona...” Suara bergetar takut.
Angel menatap dalam diam deegan tangan berlipat, di atas perutnya yang terlihat mulai menonjol.
“Apa aku manja?” Suara Angel terdengar tenang, dengan satu alis yang terangkat naik. Sorot mata jernih dengan suara tenang itu malah semakin membuat Nia semakin mereka takut. Entahlah Nona mereka ini begitu mengintimidasi meski nadanya tenang.
“Bu-bukan begitu ma-maksud saya nona...Ta-tapi...” Ia harus berkilah namun tidak bisa, otaknya telrku bodoh untuk bisa bersilat lidah mencari kebohongan agar membenarkan pencemoohannya terhadap sang tuan rumah beberapa saat lalu.
__ADS_1
“Maafkan saya nona.” Akhirnya memilih mengakui dosa. Meremas tangannya dengan peluh yang mulai membanjiri kening. Angel menghela nafas. Bahkan lingkungan rumah mertuanya masih ada saja sosok yang suka nyinyir.
Angel memilih berbalik menekan rasa kesalnya. Ia juga bukan sosok majikan yang mudah memecat pelayan karena tidak suka. Sudut pandang lembutnya malah mempertimbangkan keluarga Nia jika Nia dipecat lebih baik ia meredam saja kekesalannya.
“Liat mbak nona yang mbak cibir sebaik itu. Bahkan nona Angel menyebut nama mbak, dimana lagi mbak ketemu majikan yang ingat nama kita. Harusnya mbak bersyukur kita dapat majikan kayak nona Angel.” Nia terdiam kelu, menggigit bibir bawahnya.
Semuanya kejadian saat itu tenyata diketahui Oleh Hans. Membuat laki-laki yang mencintai Angel itu segera menyeleksi para pelayan yang banyak bicara memecat mereka semua. Hans mamang tipe yang berlaku begitu ia selalu berusaha membuat zona nyaman untuk sang istri.
Sekarang Angel, Hana dan Mama terlihat sedang berlipat tangan di dada. Memincing mata pada tiga laki-laki yang saat ini sedang berdiri dengan tetunduk. Jelas sekali yang mereka liat tadi memicu kemarahan. Bagaimana tidak, mereka melihat tiga laki-laki itu mengering nakal serempak pada satu sosok wanita yang melewati komplek rumah megah mereka.
“Papa nggak ingat umur apa?! Genit kayak gitu! Mau mama congkel mata papa!” Sentakan mama membuat Papa tercekat.
“Iya papa yang salah ma.” Langsung mengkambing hitamkan Papa, mata Papa melotot keras ke arah Hans.
“Hans!”
“Kenapa? kan memang papa tadi genit ngedipin mata sama cewek. ck...ck...” Hans berdecak membuat papa semakin meradang. Semakin melotot saja papa ketika melihat nantinya Bram malah menagngguk keras membenarkan.
“Papa keluar!”
“Keluar pa, malah ini papa tidur diluar.”
Dasar Hans dan Bram malah segera menyeret papa keluar. Apalagi melihat tangan mereka yang bertepuk sepeti membersihkan debu membuat papa melotot keras.
“Hans, Bram! Kalian ini ya! Kenapa malah papa dikeluarin, kalian yang salah disini.” Telat pintu ditutup.
Papa tidak habis pikir kenapa dia menjadi terdampar di luar rumah begini. Tidak diperbolehkan masuk. Terus menggerutu, ia juga yang salah malah masuk dalam permainan anak kurang ajarnya itu.
Letupan keras dari arah belakang membuat apa terlonjak kaget.
“Suprise, selamat ulang tahun papa.” Mama berseru girang. Angel terlihat membawa kue dengan lilin yang menyala. Papa memberengut.
“Ck jangan memberengut gitu dong pa.” Ujar Hana.
__ADS_1
“Haha selamat ulang tahun suamiku! Muachhhh.” Mereka memuat bola mata melihat mama yang bergelayut pada papa.
“Jadi kalian ngerjain papa ini?”
“Iya maaf pa, haha.” Hans tergelak lepas.
“Ck ,ck...” Papa berdecak keras.
“Opa selamat ulang tahun ya opa, nanti Nara minta hadiah boneka ya opa.” Lah si kecil malah dengan polosnya minta hadiah.
“Mana ada yang ulang tahun yang malah kasih hadiah. Kamu kasih hadiah dong sama opa.” Seloroh Ken.
“Ya nggak papa kan opa.”
“Haha iya, apa sih yang nggak buat cucu opa.” Tergelak lepas mereka semua. Tiup lilin terjadi dengan senyum yang merekah. Melihat mama dan papa yang awet bersama hingga tua serta kasih sayang yang tak pudar membuat Hans memandang istrinya.
Nanti akan ada masa tua. Masa ketika ia akan mulai lelah karena tubuhnya yang melemah. Pada masa itu semoga saja ia tidak menyusahkan sang istri. Semoga dimasa tua ia tidak penyakitan.
Semoga masa panjang yang akan mereka jalani selalu berkabut rasa kebahagiaan. Kini saatnya menuju masa tua bersama....
Happy Ending
Enddddddddd
.
.
Terima kasih yang sudah bersedia membaca setiap bait kata yang saya rangkai. Membacanya jangan loncat-loncat ya , sebab ada perjuangan dalam menyusun rangkaian kata tadi.
Terima kasih udah baca, sekarang saya akan Hiatus dulu. Nanti saya akan kembali lagi....
Banyak2 terima kasih yang udah baca ya,,, jangan unfav karena saya akan kembali lagi nanti...
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️❤️😍😍😍😍😍