Wanita Sang CEO

Wanita Sang CEO
CH 124- Angel tidak memakan pudingnya!


__ADS_3

Minggu pagi semua keluarga berkumpul. Ayah, & ibu memang menjadwalkan harus berkunjung setiap akhir pekan. Juna tidak ikut karena sedang masa PAS harus banyak belajar. Mereka terbagi-bagi. Para laki-laki sedang bersantai mengobrol di ruang tengah. Sedangkan Mama, ibu, Angel dan Hana sedang berada di dapur.


“Apa rumahnya nyaman yah?” Hans pertama kali membuka pembicaraan.


Mendengar itu papa pun ikut juga bicara.


“Ya apa rumahnya nyaman pak besan? kalau ada yang diperlukan bilang saja saya akan menyediakan semua keperluan.” Tawar Papa langsung.


Ayah yang mendengar itu, segera merasa sungkan. “ Rumahnya nyaman sekali nak, pak Fadli. Rumahnya besar sekali, sampai lantai atas saja tidak selalu kami kunjungi.” Sahut ayah.


“Loh kenapa begitu pak?” Tanya Papa heran.


Ayah mengulas senyum, dan sedikit garukan di bagian leher.


“Saya memilih tidur dikamar lantai bawah pak Fadli, lebih nyaman dan lebih mudah mengakses dapur maupun halaman.” Pejalasan ayah baru membuat papa paham.


“Ayah benar-benar tidak memerlukan sesuatu lagi? Atau perlu Hans perluas lagi kebun balakang rumah.” Hans paham betul bahwa sang mertua senang berkebun maka dari itu, ia segera meminta untuk dilakukan penyisiran wilayah belakang menjadi kawasan yang siap tanam dengan berbagai jenis tumbuhan.


“Wah tidak perlu nak, ayah sudah senang dengan kebun yang ada.” Sahut ayah gembira.


“Syukurlah kalau begitu.” Hans bernafas lega.


Para perempuan datang dengan membawa nampan berisi minuman dan beberapa kue dan cemilan asin untuk. Semuanya tertata rapi dimeja.


“Sini biar ku bantu sayang.” Segera bergerak lekas membantu sang istri.


“Eh...” Belum sempat melayangkan protes si cepat cekat, sudah berlalu.


“Pah bantuin.” Mama mau diperhatikan juga layaknya Hans. Papa memutar bola matanya dan berdiri sembari meregangkan otot yang mulai mudah kaku karena termakan usia.


“Iya sini-sini.” Semua yang melihat sampai geleng kelakuan Mama sungguh membuat mereka tergelak, pasalnya terlihat sekali dia tidak mau kalah dengan Pasangan Angel dan Hans.


Hans menarik sang istri dengan pelukannya, semua orang sudah terbiasa dengan hal itu sekarang. Angel dipaksa bersikap manja padanya. Mama tidak bisa meniru hal itu.


“Sayang, jangan begini semua melihat kita, malu.” Berbisik pelan dengan mata mendongak.


“Apa yang dimalukan kamu istriku, tidak ada yang salah dengan hal apa pun yang kita lakukan saat ini.” Beradu argumen, sahutanya tak berbisik namun berbicara seperti mencoba mendapat dukungan. Lihatlah ekor matanya yang sudah menatap sekitar, memang minta persetujuan.


“Iya nak, tidak masalah. Kalian sudah menjadi pasangan suami istri, jadi hal yang kalian lakukan, sudah dengan ijin tuhan.” Ayah menjalaskan dengan bahasa dewasanya. Hans tersenyum kemenangan. Angel yang polos mengangguk paham.


“Cih, jika pak besan melihat keseharian anak ini yang selalu lengket dengan Angel, mungkin beliau akan sedikit memperbaiki kata demi kata yang terlontar tadi, sehingga Berubah menjadi cibiran.”


“Dasar kakak ku yang berlebihan, tidak ada habis-habisnya bersikap posesif.”


“Kak Angel kapan nih hamil, Hana nungguin mau gendong bayi lucu-lucu.” Celekukan Hana membuat suasana hening.


Hans pun segera melihat eskpresi sang istri, manik mata mereka saling terkunci.


“Anak tidak semudah itu untuk lahir kedunia Hana...” Hans menatap langsung Hana yang tadi berceletuk polos.


“Semuanya butuh proses dan di dalam proses itu, ada kerja keras serta doa yang mengiringi. Kita hanya bisa menunggu setelah bekerja keras...menunggu karunia yang diberikan Tuhan.” Jelas Hans menenangkan Angel, juga memberikan pemahaman dewasa kepada semua telinga.


“Hana bicara pada waktu yang tidak tepat, bagaimana jika Angelku menjadikan hal ini sebagai beban pikiran.” Menatap kepala sang istri, Angel menunduk menatap karpet berbahan bulu dengan harga fantastis itu.


“Aku juga memikirkannya kapan aku akan memiliki seorang anak. Aku berusaha bersabar, untuk itu. Namun aku tidak bisa memperhitungkan batas kesabaran dari mereka yang begitu berharap kepadaku.” Membatin lirih.


Bibirnya kelu untuk berucap, ia tak berani untuk berucap bersabar lah,dan menyuruh mereka untuk menunggu... menunggu benih-benih itu berubah menjadi sebuah tangkapan layar USG, yang Terlihat kecil namun berdetak karena tanda memiliki kehidupan.

__ADS_1


“Apa aku sudah salah bicara, kenapa kakak menjawab dengan begitu serius. Rasanya aku disudutkan disini.” Melihat kesana kemari yang menatapnya.


“Iya kak.” Sahut pelan.


Mama mendekat dan duduk di samping Angel. “ Seperti yang dikatakan Hans, semuanya butuh proses. Jadi kamu jangan tertekan ya nak, Mama juga dulu perlu waktu lama sampai mama bisa menggendong Hans dalam pelukan mama. Nanti akan ada juga saatnya.”


“I-iya ma.”


“Padahal aku kira mama akan menuntut dan mengintrogasi ku. Kenapa aku belum hamil, sampai sekarang tapi mama sangat pengertian.”


“Iya nak, papa juga waktu itu bekerja keras untuk membuat mama hamil.” Ucapan ambigu papa membuat ayah tak bisa menahan tawa sama halnya dengan ibu pun Hana.


“Pah.” Mama melotot.


“Kenapa ? Tidak ada yang salahkan? Kamu tau nak waktu dulu...” Papa sudah mau bercerita mesum.


“Jangan dilanjutkan, masih ada yang dibawah umur! Lagian malu juga! Sudah cukup kata-kata mama. Papa jangan terlalu menimpali lagi.” Langsung benar-benar bungkam, ia menyadari bahwa ia berlebihan karena ingin memberikan pemikiran positif kepada sang menantu.


“Dengar kata mama, kita hanya perlu bersabar sayang. Lagi pula kita baru menikah 3 bulan masih banyak waktu...” Hans mengecup tepat di dekat pelipis dekat mata Angel, hingga mata Angel menyipit sebelah.


“Iya Aku paham.”


Sedangkan Ibu memberikan beberapa obat herbal yang baik untuk meningkatkan kesuburan.


“Ayah pulang ya nak.”


“Iy ayah.” Sahutnya lalu memeluk ibu yang bersisian dengan ayah.


***


Sore harinya Angel dan Hans menghabiskan waktu di dalam ruang olahraga.


“Apa ini baik-baik saja sayang, Aku beratkan aku turun saja ya.” Cemas dengan dirinya yang dipaksa duduk bersila di atas tubuh Hans yang sedang push up.


Hans mengunakan sikunya untuk bertahan, dia menoleh ke arah sang istri yang ikut menurun mengikuti gerakan tubuhnya. “ Apanya yang berat, kamu sangat ringan, sampai-sampai aku berpikir tidak memiliki beban sedikitpun di atas punggungku.”


“Pe-pembohong besar! Mana ada seperti itu, kalau begitu aku bukan manusia karena kamu tidak merasakan sedikitpun berat tubuhku.” Cemberut, bercampur dengan malu Hans terlalu berlebihan.


“Mau bagaimana lagi, aku memang merasa seperti itu.” Mulai kembali melakukan push up. 10 menit push up cukup menguras tenaganya. Beralih lagi dengan beban Angel dibawah kukuhnya seperti anak koala. Tentu saja pergeekannya terbatas.


“Sayang mana ada orang melakukan push up dengan seperti ini.” Bergantung dengan memeluk erat Hans.


“Sekarang kita melakukannya.” Jawaban pintar lagi. Olahraga sore cukup menguras tenaga, Hans membawa Angel berkeliling melihat dan mencoba semua alat olahraga yang dimilikinya. Tentu saja treadmill yang paling mudah untuk Angel coba.


Sudah puas olahraga mereka pun duduk.


“Sayang sini lihat kamera.”


“Untuk apa.” Menatap tajam.


“ Ya mau foto sayang.” Jawab Angel polos tidak paham makna tanya 'untuk apa' yang dimaksud Hans.


“Dengan tampilan begini? tidak-tidak.” Menolak keras.


“Memangnya kenapa sayang.”


“Tampilanmu begitu menggoda, lihat ini... leher jenjangmu terlihat menggoda ini juga lekuk tubuhmu begitu jelas.”

__ADS_1


“Tapi aku berkeringat begini dari mana sisi menariknya.” Begitu polosnya menyahuti.


Hans semakin menutkan kedua alisnya.


“Justru itu, karena kamu bekringat kamu semakin terlihat menggoda, sudah naik ke level sexy.” Berucap menggebu, pipi Angel merona. Dikatakan sexy oleh sang suami.


“Be-berlebihan sekali, sayang.”


“Itu semua kenyataan.” Kekeh Hans.“Sudah tidak ada foto segala.” Angel dibuat memekik kala tubuhnya singkat dengan enteng oleh Hans.


“Sayang, jangan tidak mau!” Menolak keras. Hanya beberapa langkah dari ruang olahraga, sudah disajikan dengan kolam renang. Ini maksudnya mau basah-basahan.


“Sesekali main di kolam renang.” Tergelak lepas. Membawa tubuh sang istri becebur di kedalaman yang cukup dangkal, untuk dirinya.


“Tuh kan aku tau maksudmu.” Menelan rasa kesal di batin. Karena tubuhnya sudah mulai dibubuhi ciuman, juga tangan Hans yang mulai bergerilya.


^


Malam hari pun tiba. Seusai makan malam Hans menghampiri sang istri yang sedang duduk di ruang tengah, layar televisi terlihat menyala menampilkan sebuah acara yang mengusung 7 hal dalam satu tema.


“Sayang ini.” Meletakkan puding yang sangat disukai snag istri. Hal itu ditanggapi dengan senyum oleh Angel.


“Terima kasih, sayang.”


“Iya, aku ke ruang kerja sebentar ya.” Pamitnya, tidak seperti biasanya Angel yang selalu mengaguk sekarang, terlihat tidak mau Hans pergi.


“Duh imutnya, Hanya sebentar. Aku segera kembali.” Memberikan ciuman dengan kekehan pelan. Angel mendengus.


Setelah Hans berlalu dia menghitung menit, rasanya Hans sudah lama sekali di ruang kerja.


“Astaaaga!!...”


“Kenapa ma?” Angel lekas berdiri begitu terkejut dengan teriakan mama.


Tatapan mata keterkejutan itu melekat ke arah Angel. Mata Angel dibuat membuat sempurna dengan lontaran tanya mama.


“Sayang kamu sakit?”


“Angel baik mah.” Sahutan dengan polosnya.


“Kalau baik, Kenapa pudingnya tidak habis dimakan!” Astaga sumber kehebohan mama ternyata puding. “Kamu kan suka sekali dengan puding, tidak pernah menyisakan sekditpun puding yang ada. Pasti kamu sakit nak, astaga! Hans, pah.” Berteriak dari lantai bawah. Angel sampai gelagapan.


“Eh ini, Angel hanya tidak berselera mah.” Berusaha menghentikan kepanikan mama, yang mengundnag datangnya para pembantu.


“Kenapa sayang.” Hans begitu terkejut dengan suara Mama, papa yang sudah masuk awan-awan mimpi pun tampak masih mengantuk turun ke bawah.


“Hans, bawa dokter sekarang! Angel tidak memakan pudingnya sama sekali!”


“APA!” Respon Hans lebih heboh lagi dari mama, mengendong sang istri menuju kamar dengan wajah cemas.


“Ini kenapa sih, aku hanya tidak makan puding. Apa perlu seheboh ini, tapi kenapa aku tidak memakannya ya tadi? Aaaaaa Harusnya pudingnya kumakan tadi.”


.


.


Happy reading

__ADS_1


~Tyatyut


__ADS_2