Wanita Sang CEO

Wanita Sang CEO
CH 127- Bangun Sayang!


__ADS_3

Sore hari Bram bukannya segera pulang dan beristirahat ia malah harus membeli sebuah kelinci.


Pesan Hans


“Istriku ingin dibelikan kelinci. Cari yang paling imut, yang gemuk juga berbulu lembut dan halus. Bawa sore ini ke rumah! Awas saja kalau tidak ketemu, gajimu sebagai taruhan!” Membubuhi tanda seru memang sengaja, agar si pembaca tau bahwa itu kata perintah.


Bram pun mencari tempat yang pemeliharaan kelincinya paling baik dan terkenal.


“Permisi.”


“Selamat datang Tuan.” Sambut seorang pria paruh baya.


“Saya ingin membeli kelinci, pak. Kelinci yang paling baik, yang gemuk... terus bulunya halus dan bersih.” Bram mengutarakan permintaan.


“Ha? Kuaci?” Belum sempat Bram menyanggah si bapak malah lanjut bicara.


“Waduh disini tidak menjual kuaci, tuan. Adanya hewan lucu bernama kelinci disini, itu lihat.” Menunjuk ke arah kelinci yang terkurung dalam sangkar berbentuk kubus.


“Iya maksud saya kelinci, pak.” Bram meninggikan suaranya.


Lah si bapak malah tampak makin mengibaskan tangan.


“Duh tuan sudah dibilang tidak ada jual kelinci, malah kekeh.”


Bram menahan kesal, si bapak rupanya budek. “ Iya maksud saya Ke-lin-ci, pak! Kelinci yang imut, gemuk, yang bulunya halus, putih bersih saya mau yang seperti itu.” Suara Bram diperlambat dengan intonasi jelas.


Tiba-tiba dari arah dalam seorang wanita datang dengan membawa kelinci yang berada di dalam sangkar.


“Ini pak kelincinya.”


“Oh iya terima kasih, nona.” Si bapak pergi. Astaga Bram dibuat terpelongo, tenyata si bapak yang budek tadi juga pembeli! Kalau tau begitu dia tidak perlu menarik bibirnya lebar agar si bapak jelas mendengar.


“Mau beli kelinci tuan?” Tanya si wanita.


“Iya mbak.” Bram pun meminta kelinci sesuai dengan ciri yang diberikan Hans. Akhirnya ia mendapatkannya. Lucu juga jika mengingat hal tadi. Membayangkan jika si bapak pembeli kelinci tadi benar-benar pemilik tempat. Mungkin semua pelanggan akan dibuat emosi karena si bapak tidak mendengar jelas.


***


Angel memakai pakaian langsung berbahan lembut, tangannya tertutup. Imut sekali, si imut itu sedang mondar mandir menunggu kelinci yang diinginkan.


Ting tong...


Terdengar Bel dari arah luar rumah, matahari sudah kembali ke tempat peraduannya. Menyisakan gelap gulita, malam.


“Apa itu Bram?” Melepaskan diri dari pelukan Hans. “Tunggu disini! Aku yang akan mengambilnya.” Berucap tegas.


“Biar Aku saja sayang.” Mau berdiri lagi, tapi mendapat pelototan tajam dari Hans.


“Baiklah aku mengunggu disini.” Mengalah namun raut wajah memberengut.


Hans melarang Angel keluar, karena tidak mau keimutan istrinya terlihat di manik mata Bram.


Pintu sudah dibuka oleh pelayan. Bram menunggu dengan duduk di bangku depan rumah.


Bram menoleh ketika suara Hans menyentaknya.


“Kau membawanya, Bram?” Tanya Hans segera.


“Iya, pak. Seperti permintaan Anda.” Mengangkat keranjang kubus yang berisi kelinci.“Saya juga membeli beberapa wortel.” Bram menenteng satu kresek lain.


“Bagus, terima kasih Bram. Tunggu saja bonusmu, akhir pekan nanti nolnya akan bertmbah 1.” Hans menepuk pelan bahu Bram.


“Terima kasih, pak.” Sahut Bram lekas, dia tidak naif mendengar angka yang tertera di buku tabungannya akan bertambah satu nolnya membuatnya girang sekali. Meskipun Hans sering memberikannya perintah dadakan, semuanya sebanding dengan bonus yang diberikan.


***


“Imut sekali sayang.” Langsung senyum, dibalas dengan ciuman di kening oleh Hans. Semua keluarga berkumpul dan duduk santai di karpet bercorak Hans, dengan bahan super lembut.


“Iya imut sekali ya, kak. Gemuk banget ini.” Hana berkomentar dengan tubuh sama merundukknya dengan Angel. Mama dan papa hanya bisa menggeleng pelan. Timbul sedikit rasa curiga di diri mama, apakah menantunya saat ini sedang hamil? Katanya jika wanita hamil karena pengaruh hormon menjadi memiliki mood yang jungkir balik. Namun kecurigaan itu ia simpan dalam, takut jika harapan besarnya akan menjadi beban jika nanti diketahui bahwa Angel tidak hamil. Maka itu akan menjadi kekecewaan bukan hanya untuknya, kekecewaan lebih dalam akan ada dalam diri Angel.


“Mama akan terus memantau kamu, nak. Mama tidak akan terasa dalam bertindak, semoga saja kecurigaan mama benar adanya.”


***


Satu Minggu setelah meminta kelinci, sikap sang istri semakin membuat Hans terheran. Contohnya saat Hans selesai olahraga tidak diperbolehkan mandi dan membersihkan diri.

__ADS_1


“Aku suka bau tubuhmu, tidak usah mandi sayang.” Hans pun mengikuti kemauan si istri.Lalu suka makan keju, sampai dikamar juga ada keju yang tersedia.


Sekarang akhir pekan, istrinya kekeh mau pergi ke pasar malam. Bayangan pasar malam yang ramai membuat Hans mengekang keras.


“Hiks! jahat aku mau pergi! Huuu...Ma Hans tidak mau menginjinkan Angel pergi.” Mengadu pada mama dan memeluk mama.


“Hans, Angel mau pergi kok dilarang. Ijinin ih, sampe nangis gini menantu mama.” Mama mengelus lembut Angel.


“Tapi pasar malam itu banyak kerumuman mah, bagiamana kalau Angelku nantinya terjatuh karena sering bertabrakan. Tidak boleh!” Kembali menegaskan suara. Ini juga untuk kebaikan Angelnya, sudah cukup dulu dia super extra waspada ketika berada di pasar malam. Sekarang Hans tidak mau mengulang kejadian itu lagi.


Angelnya semakin menangis memukul lantai kuat. “Huuu...Hans jahat!”


“Sayang, jangan memukul lantai. Tanganmu memerah sekarang.” Langsung duduk dan mengusap tangan Angel. Benar saja tangan putih mulus Angelnya mulai memerah.


“Mau pergi ke pasar malam sayang.” Memeluk erat Hans, merayu dengan memberi ciuman-ciuman di semua permukaan wajah Hans.


“Cup...cup...cup...cup...Ya, ya ,ya...” Pasang wajah imut, meskipun sembab akibat menangis.


“Huff, baiklah.” Mengalah juga pada akhirnya, memang akhir-akhir ini jika Angel dikekang, maka akan ada drama tangis menangis.


“Wah, terima kasih sayang.” Cium cium cium lagi. Tertawa dengan tangis yang mereda. Diusap Hans lembut sisa jejak air mata tadi.


***


Angel sudah seperti berada di negara yang memiliki musim salju. Lihat saja pakaian tebal sekali, sampai pipi yang sekarang mulai mengembul terlihat penuh karena memakai topi jaket.


“Sudah siap sayang, ayo.” Mengandeng tangan Hans lekas.


“Baiklah, ingat jangan lepas dariku. Jangan sembarang pergi, pokonya mau kemana-mana bilang.” Ultimatum lagi.


“Iya sayang, iya.” Sahut lekas.


“Lama benget sih kak.” Si bungsu cemberut, sudah tampil memakai jaket juga, tapi memakai jaket berwarna hitam jadi nuansa yang ditampilkan Hana menjadi keren.


“Menggerutu saja, bersyukur sudah diperbolehkan ikut.”


“Ya ya ya ya.” Sahut Hana malas.


“Lho, Bram ikut juga?” Bertanya dengan suara polos.


“Bram?” Mendengar respon Hans Bram sudah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya.


“Sejak kapan kau mengubah penggilannya. Biasanya memanggil, Asisten bram.” Suara Hans terdengar kesal.


“Wah drama lagi, kalau begini saya kapan istirahatnya pak. Sudah jangan cemburu lagipula hanya panggilan saja.”


“Ha? Eh kan, aku sudah tidak kerja dikantor lagi sayang. Jadi aku spontan memanggilnya bram.”


“Ck, tetap saja kau memanggilnya Bram karena merasa sudah akrab iya kan?”


“Apasih sayang. Jangan salah paham begini.”


“Makanya jangan mengubah panggilannya, tetap panggil dia asisten bram.” Hans menafsirkan ada sedikit bentuk spesial dari perubahan panggilan istrinya terhadap Bram. Dan dia merasa kesal untuk itu.


***


Seperti yang dibayangkan Hans, semua sudut tempat dipenuhi keramaian.


“Sayang mau coba? Enak lo.” Memajukan satu tusuk sosis bakar ke depan Hans.


“Tidak, kau saja yang makan sayang.” Mengulas senyum tipis.


“Aaa, coba sayang.” Memasang raut wajah polos.


Hap satu gigitan, masuk dalam mulut Hans.


“Sayang mau itu.” Menunjuk permen kapas.


“Iya.” Merogoh kocek untuk yang kesekian kalinya.


“Sayang, mau itu.”


“Mau itu?”


“Mau ini!”

__ADS_1


“Mau ini, itu ,ini, itu, ini, itu.”


Hans dibuat lelah kemauan istrinya tidak ada habisnya sama sekali. Ingin sekali dia menutup mata istrinya agar tidak tertarik lagi tersadap beragam hal yang disajikan. Bukan karena dia sudah kehabisan uang, ia hanya cemas dengan kondisi perut istrinya yang terus diisi dengan makanan sejak tadi.


“Kenapa sayang.” Segera berhenti saat istrinya duduk di sebuah bangku panjang.


“Aku lelah, kakiku sakit.” Mengeluh dengan tampang meringis


“Yang mana sakit?” Segera bertanya, menekuk kakinya membuka snekers yang membalut kaki istrinya.


“Kak Angel kenapa kak?” Hana mendekat, disusul Bram yang menentang beberapa paper bag.


“Kakak iparmu kelelahan.” Sahut Hans singkat, sementara tangannya masih memijat pelan kaki si istri.


“Apa sudah lebih baik sayang?” Tanya Hans kembali. Angel menanggapi dengan megangguk.


“Iya sayang, sudah lebih baik.”


“Wajah kak Angel kok pucat gitu.” Komentar Hana. Segera Hans berdiri dan melihat lebih jelas wajah istrinya.


“Sayang, kenapa wajahmu pucat begini?! Apa karena kau makan banyak tadi?!” Suara Hans meninggi karena cemas.


“Pucat?” Angel bertanya heran? tentu saja dia tidak tau karena dia pun tidak melihat tampilan dirinya, keringat juga mulai membasahi keningnya tidak tau sejak kapan.


“Iya, wajahmu pucat sayang. Apa tidak ada minuman? Hana, Bram?” Menengadahkan tangan.


“Ini kak.” Hana segera menyerahkan botol kemasan berisi air.


“Minum dulu sayang.” Hans menyerahkan botol minum tadi. Angel menyebutnya dan mereguk sedikit.


“Apa ada yang tidak nyaman?” Menyeka keringat di kening istrinya menggunakan lengan jaket.


“Aku mau ketoilet.” Ucap Angel. Wajahnya masih tak berkurang pucatnya sedikitpun.


“Baiklah, Bram kita pulang saja setelah ini. Kau siapkan mobil.” Suruh Hans.


“Baik pak.” Sahut Bram.


Hana ikut bersama Hans dan Angel. Istrinya masuk ke dalam sebuah toilet umum. Tas yang tadi dipegang Angel sekarang beralih padanya.


Hans masih mencemaskan kondisi istrinya, wajah pucat pasi istrinya meninggalkan rasa cemas yang semakin menjalar di setiap detiknya.


10 menit berlalu, Angelnya masih balum keluar.


“Hana, masuk sana. Kakak cemas, kenapa dia belum keluar.” Hans mendorong pelan tubuh si bungsu.


“Duh gak usah dorong segala kali kak.” Hana cemberut.


“Sudah cek saja sana!” Kali kedua memerintah dengan wajah serius.


“Ck...” Hana pun menuruti permintaan Hans. Ia masuk dan memeriksa toilet. Tidak ada seorang pun di toilet. Satu bilik toilet terlihat tertutup rapat. Itu pasti kakak iparnya pikirnya.


“Kak...”


“Kak Angel, apa sudah selesai?” Tidak ada sahutan. Suara sekecil apa pun tidak ada. Hana pun lekas mendobrak pintu. Matanya dibuat membulat saat melihat kakak iparnya tersandar tak sadarkan diri.


“Kak Hans! ” Teriakan Hana, segera membuat langkah Hans berlari.


“Kenapa berteriak?!” Baru bertanya namun dia dibuat tersentak dan membuat degupan jantungnya tak beraturan.


“Sayang!” Teriaknya keras, hingga memenuhi seisi toilet. “Sayang, sadar! apa yang terjadi.” Nafasnya dibuat tak beratur karena cemas yang melanda.


“Sayang, bertahanlah.” Ucapnya kemudian membawa istrinya dalam pelukan erat penuh kecemasan. Dia membelah kerumunan dengan sumpah serapah.


“Minggir, beri jalan! istriku pingsan! beri jalan.” Teriaknya, segera semua orang menyampingkan diri dan memberi jalan. Hana pun mengikuti dengan tak kalah cemasnya.


“Kenapa ini, pak?” Bram betanay ketika Hans baru saja masuk dengan raut wajah pucat, juga melihat Angel tak sadarkan diri.


“Ini bukan waktunya bertanya Bram! cepat pergi ke rumah sakit.” Tubuh Hans bergetar ketika mengucapkan itu, ia cemas dengan kondisi Angelnya yang tak sadarkan diri. Hantaman sesak teras di dada, ia membelai lembut pipi istrinya yang beberapa waktu lalu masih terlihat ceria dan banyak makan malah sekarang tak sadarkan diri.


“Bangun sayang, kenapa matamu terpejam begini.” Mencium kelopak mata Angel dengan perasan resah. Dia merasa gagal menjaga istrinya, semoga saja istrinya segera sadar.


.


.

__ADS_1


Happy reading


~Tyatyut


__ADS_2