Wanita Sang CEO

Wanita Sang CEO
Ch 137- Tersingkir?


__ADS_3

Matahari sudah sejak tadi meninggalkan peraduannya. Namun Hans tak sedikitpun meninggalkan tempat peraduan dirinya dengan Angel. Sejak tadi Angel dipeluk dengan erat sementara tangan nakalnya mulai bergerilya.


“Sayang, lepas aku mau bangun.” Angel kembali merengek, berusaha menjauhkan diri.


Hans bukannya melepaskan malah mendekap dan menciumnya lama.


“Nanti saja bangunnya, nanti kamu dikuasai Nara dan Ken. Kalau begitu aku tersingkirkan.” Mulai lagi mode merajuknya. Memang Hans mulai tersingkir keberadaanya. Jika dulu saat makan ia akan dengan mesra menyuapi Angelnya. Maka saat ini Angelnya malah menyuapi putri kecil mereka.


Angel mengernyit.


“Tersingkir bagaimana, ada-ada aja kamu ini. Sudah ayo bangun.” Ingin bangun lagi. Eh Angel terkejut karena Hans berguling dan dirinya ada di atas tubuh Hans.


“Hans!” Memukul keras.


“Auu, kenapa sih suka sekali memukul.” Berekspresi pura-pura kesal.


“Kamu juga yang salah, cepat bangun. Lihat itu matahari sudah sejak tadi terlihat.” Tujuk Angel ke arah jendela, matahari mulai mengintip dari balik gorden.


Hans kembali menjauhkan arah pandangnya pada Angel.


“Biar saja, sudah kubilang kan kalau kamu lekas keluar nanti aku tersingkir. Kamu nanti hanya memperhatikan Nara dan Ken. Aku malah tersingkir jadinya."


Rajukan Hans membuat Angel tergelak lepas.“Kamu harus mengerti, sayang. Kamu juga kan yang membuat mereka hadir. Mereka ada aku yang mengurusnya, sedangkan kamu sudah mandiri jadi cepat bangun jangan terus mengeluh.” Pukulan lagi di bahu. Hans masih mode wajah menekuk.


Sebenarnya Hans tidak pernah mengira posisinya selama tergeser karena hadirnya Nara dan Ken. Sudah cukup ia tidak mau lagi membuat Angel hamil. Cukup dua orang itu saja, yang membuatnya cemburu setengah mati.


“Cium aku kalau mau lepas.” Mulai lagi mencari kesempatan. Angel memasang senyum kesal.


“Baiklah sini.” Angel memajukan tubuhnya hingga bagian tubuh mereka saling bergesekan.


Hans langsung menyergap bibir istrinya. Yang dulunya tipis sekarang mulai terlihat seksi karena turus saja dicium dengan bringas olehnya. Mata Angel melotot saat lidah Hans mulai ikut nakal juga bermain di mulutnya.


“Bahaya ini, kalau dia begini kapan selesainya. Biasanya kan kalau sudah begini artinya dia sedang ingin mengawali.”


Angel berusha melepaskan diri. Memukul Hans, tampaknya sang suami malas menanggapi buktinya masih terus saja ******* bibir Angel.


Saat terlepas mata Angel melotot kesal. Dengan nafas yang ter-engah.


“Hans benar-benar ya, sudah. Katanya mau melepaskan kalau dicium.”


“Haha, aku memang mengatakan itu tapi tidak mengatakan akan menepatinya.” Hans tertawa kemenangan. Lalu poisii berubah, kaki Angel diangkat kebahunnya permainan panas kembali dimulai. Membuat Angel mengusap wajahnya, dan mengigit bibir karena arus gairah.


“Hah kapan kita keluar dari kamar, kau sudah memulainya sejak sore kemarin kenapa tidak ada sepuasnya sih. ”


***


Di lantai bawah, Mama sedang repot mengurus si putri kecil. Mengucir, mamakaikan baju. Wajah Nara sudah dipenuhi bedak.


“Duh cucu Oma sudah cantik, udah wangi.” Memeluk Nara lalu mencium. Harum bedak baby masuk ke Indra penciuman mama.


Nara terlihat tertawa senang.“Oma, Nara mau ketemu daddy.” Rajuknnya ini sudah yang kesekian kalinya.


“Daddy belum bangun sayang, ini akhir pekan Daddy Bobonya lama.” Jelas Mama. Padahal pikiran mama Aisha bisa menebak apa yang dilakukan Hans di dalam kamar sana.


“Ih kok malah tidur sih Oma. Nara aja udah bangun, udah mandi udah wangi kayak gini.” Uajrnya bicara dalam satu tarikan nafas. Dengan gaya gemasnya.


Mama tidak tahan mencubit pelan hidung mancung Nara.“ Iya tuh Daddy kalah sama Nara artinya. ”


“Iya.” Bersedekap dada.


Si putra kecil tiba-tiba datang dan langsung mencibir.


“Ck, kamu malah kalah sama aku. Masa pakai baju aja Oma yang bantu, aku dong mandi sendiri, pakai baju sendiri, sisiran sendiri.” Ya memang, Ken melakukan sendiri kegiatannya. Anak ini sungguh pintar sekali.


Nara mencebik.“Biarin, Wek Oma kan baik mandiin Nara.” Peluk Hana pada Mama.


“Dasar manja.” Cibir Ken lagi. Memang Ken suka sekali menjahili kakaknya itu.


“Udah-udah, Ken emang pinter banget.” Mama melerai dan memuji duplikat dari Hans itu.

__ADS_1


“Nara juga pinter Oma, kemaren Nara dapat bintang lima.” Membanggakan diri.


“Haha iya, pokonya cucu Oma pinter-pinter semua. Udah yuk Ken kita ke rumah Kakek Yoto.” Memang mereka


***


~Sore hari


Angel sudah siap, rambutnya dikucir rapi dengan sedikit helaian rambut yang jatuh di depan, menambsh kecantikan dengan senyum yang melekat.


“Kenapa sih dia secantik ini, bagiamana jika banyak yang melirik nantinya.” Kesal.


Hans mengenakan kaos hitam dengan celana training, rambutnya mengunakan pomade sehingga terlihat rapi dalam balutan sederhana.


“Sayang sudah siap, yuk.” Ajak Angel dengan senyum. Tangan kanan dan kirinya menggiring Ken dan Nara.


“Kenapa wajahmu bersinar sekali, kamu berdandan ya?” Nada kepalanya tak disembunyikan.


“Bersinar bagaimana sih? Aku saja tidak pakai bedak, coba saja pegang.” Angel mendekatkan wajahnya agar Hans bisa melihat jelas.


Hans masih saja menautkan alisnya. “ Tapi kenapa kau terlihat bersinar sih.” Masih gusar.


“Daddy sampai kapan Daddy mau memasang wajah kesal begitu? Kapan kita ke tamannya.” Ken kesal cemberut, sudah terbiasa jika dengan Daddy Hans nya itu kalau mau jalan-jalan maka harus ada perhentian. Ya seperti saat ini perhentian karena Angelnya begitu bersinar.


“Iya Daddy ayo, mau ketaman daddy.” Nara ikut merengek.


Melihat kedua anaknya, Hans mengalah. Dan merelakan kali ini kecantikan istrinya harus dinikmati orang lain.


“Ya sudah ayo. Nara di depan.” Langsung menggendong Nara. Angel kemudian menaikan Ken di belakang lalu ia naik juga.


Keluarga harmonis itu saat ini sedang menaiki motor metik bermerek. Hans dengan santainya melajukan motor metik tersebut.


Terus melaju menuju taman yang berada di dekat persimpangan rumah.


“Sudah kubilang kan pakai mobil saja.” Bicaranya mulai masih mengendarai motor dengan baik.


Angel mengusap tangan Hans yang menggenggam tangannya sementara Ken diapit di belakang.


“Tapi mereka juga melihatmu, lihat itu kenapa semua orang terus melihat kita tadi.” Tentu saja semua orang melihat kalian. Kalian itu pasangan serasi yang begitu bersilau. Ibu-ibu yang melihat sampai berbisik apa benar itu adalah menantu ibu Rina yang katanya sudah melahirkan dua orang anak. Tidak terlihat seperti ibu-ibu sama sekali. Malah seperti wanita muda pada umumnya. Maka itu mata mereka seakan tak lepas melihat kalian.


“Tapi aku kan melihat kamu.” Hans berdehem pelan merasa melambung, hal itu cukup membuat ia bungkam.


“Haha aku tau kau pasti senang kan. Sekarang kan aku tau cara meladeni kekesalanmu.”


Sampai di taman, Hans memarkir mobilnya. Satu tangannya menggending bara sedang tangan kiri menggandeng Angel. Sedangkan Angel mengandeng Ken.


Keramaian sore tampak terlihat. Setiap sudut taman tampak dipenuhi manusia-manusia pencari penghiburan. Terlihat ada yang duduk di kursi, ada pula yang bergerombol melihat permainan layangan.


Disudut lain terlihat ada yang sedang berlari-lari kecil, tampaknya sedang olah raga sore.


“Daddy Nara mau itu.” Si putri kecil langsung menunjuk ke arah permen kapas yang berbentuk layaknya kepala Doraemon.


“Iya sayang, jangan banyak gerak. ” Menuruti kemauan Nara, mau menarik Angel.


“Mommy Ken mau beli itu.” Tunjuk Ken ke sebuah gerobak kecil yang bertuliskan cilok mang alay.


“Tidak mau yang seperti Nara?” Tanya Angel.


“No, mom. Ken mau kesana.” Mulai menarik Angel.


“Ya sudah kita ke sini dulu.” Hans tidak mau melepaskan istrinya, masih dalam mode penjaga gan ketat dari mata-mata yang suka melirik.


Angel yang paham dengan sikap Hans pun mengecup pipi pria itu.“Kamu ke sana ya, nanti Nara rewel nunggu lama. Aku sama Ken kesana.” Wajah Hans terlihat malu-malu. Sial sikap spontan Angel masih saja membuat ia malu.


“Ya sudah sana.” Senyum senang karena dapat ciuman dadakan.


Nara tertawa senang semakin lincah di pelukan daddy-nya. Sementara itu Angel menghampiri cilok mang alay.


“Ayo datang ke sini, cilok mang alay paling enak.” Suara itu berasal dari tip milik mang alay. Berulang kali itu terdengar.

__ADS_1


“Duh neng mau beli cilok?” Sambut si mang cilok.


Angel mengulas senyum.“Iya mang, Ken ayo liat mau yang mana.” Angel mengangkat tubuh sang putra kecil.


“Loh anaknya neng?” Tanya si mang cilok memastikan. Tentu saja tadi pikirnya wanita bersinar ini datang bersama adiknya. Tenyata anaknya membuat dia terkejut.


“Iya, ini dia yang mau beli tadi. Yang mana sayang pilih.” Ulang Angel lagi. Ken pun menunjuk nya.


Mang cilok melayani sambil bicara.“Saya pangling tadi neng, saya pikir tadi adeknya. Lah ternyata mamynya.” Angel menanggapi dengan tertawa. Tidak tau bahwa di sudut sana sebuah mata menatap tajam tawa itu sembari menghentak kesal.


“Haha ini anak saya mang.” Sahut Angel. Mang cilok mulai menusuk cilok tadi.


“Mom, nama ciloknnya lucu ya, cilok mang alay.” Ken berkomentar.


“Haha biar lebih mudah di sebut jadinya gitu.” Sahut mang cilok, eh sekarang jadi penasaran. Apa mang cilok ini namanya mang alay? Namun belum sempat bertanya sebuah lengan sudah merengkuh posesif pinggangnya. Hingga mengharuskan Angel mendongak, lalu ciuman di pipi di berikan.


“Habis kau tertawa dengan laki-laki lain.” Suara Hans tampak menggeram di telinganya.


Sedangkan mang cilok dibuat membuka mata lebar terkejut. Silau dengan penampilan laki-laki di depannya itu. Lah dia? Beda jauh lah.


Angel digiring menjauh, sedang mang cilok tadi sempat mendapat sorot mata tajam. Langsung berpikir apa salahnya.


“Ken jaga Nara ya.” Pesan Hans, hal itu diangkut Ken sembari memakan satu cilok. Dia menggiring Angel menuju sebuah kursi.


“Kenapa kau tertawa senang dengan laki-laki lain?” Langsung melontarkan kekesalan yang di tahan tadi.


“Kapan sih sayang.” Menyangkal.


“Tadi! Tidak mau mengaku aku melihatnya kau tertawa ketika bersama laki-laki itu.” Sekarang nadanya semakin kesal.


“Tadi itu bahas nama gerobaknya sayang. Makanya lucu.”


“Apa bahas? Jadi kau terlibat pembicaraan dengan laki-laki itu?!”


“I-iya hanya sedikit sayang. Aku tidak bicara banyak kok.” Langsung memeluk berusha meredam kekesalan sang suami. Malu dilihat semua mata namun Harau ditahan karena perlu meredam kecemburuan sang suami dulu.


“Tidak banyak tapi kau tertawa begitu. Berani sekali dia melihatmu dengan tatapan penuh kekaguman!”


“Kagum bagaimana sih? Kamu salah sayang.” Tangannya masuk ke dalam baju Hans mengusap perut. Harus bersikap nakal supaya perhatian Hans teralihkan. Terbukti didengarnya Hans menggeram.


“Awas saja kalau nanti bicara dan tertawa dengan laki-laki lain!” Ultimatum keras langsung memeluk dan melabuhkan bibirnya di leher sang istri.


“Iya” Untuk saat ini akan kupatuhi. Lanjut dalam hati.


Tangan Angel tidak boleh lepas terus saja mengusap perutnya. Sore yang nyaman. Dengan kecemburuan seorang agen yang tidak pernah pudar. Mereka melihat anak mereka begitu ceria berlarian bermain. Memandang langit yang dipenuhi dengan layang-layang.


Memiliki anak tampaknya tidak merubah besar perilaku Hans. Dia masih laki-laki pencemburu yang tidak suka miliknya di sentuh orang lain. Sedang Angel memiliki beban lain menjaga dan mendidik anaknya. Semoga saja mereka menjadi orang tua yang berhasil mendidik dua anak mereka.


***


Epilog


Bibir Hans menekuk saat ini. Matanya kemudian melirik lagi ke arah sana dibawah kakinya.


Ceklek pintu dibuka. Angel hadir disana. Dilihatnya Angel tertawa lepas. Pantas saja Angel tertawa melihat keadaan Hans.


Rambut Hans di kucir kuda. Sementara putri kecil mereka sedang tertawa senang karena mengecat kuku kaki Daddy nya.


“Jangan tertawa.” Melotot kesal. Ia kemudian bangun berusaha menggerakan diri.


“Daddy jangan gerak, ini belum selesai.” Si tuan putri menahan kaki Hans.


“Iya sayang jangan gerak.” Tambah Angel juga.


Beginilah keseharian Hans, dunianya rasanya jungkir balik. Sudah tidak ada acara manja-manja seharian di dalam kamar. Karena pasti ada saja yang menghalangi entah itu datangnya Ken ataupun Nara.


.


.

__ADS_1


Happy reading


__ADS_2