
Langkah Ayana baru saja mencapai pintu lift, ketika sebuah tangan menyentaknya dengan cepat. Lalu tubuhnya direngkuh dengan erat.
Ken memeluk Ayana dengan jantung yang berdebar penuh ketakutan.
“Kenapa kamu pergi sayang, kita bisa bicara baik-baik.” Ken memundurkan tubuhnya namun Ayana masih masuk dalam rengkuhanya menghadap dirinya.
“A, aku tidak bisa Ken. Kumohon jangan memaksaku.” Ayana menggeliat ingin terlepas.
Ucapan Ayana malah memicu bara api kekesalan dan frustasi pada diri Ken. 'Aku tidak bisa, jangan memaksaku'
Ken menatap Ayana lurus-lurus menarik dagu itu agar terangkat dan menjangkau manik matanya yang kelam dan penuh luka. Sungguh Ayana tak bisa berlama-lama menatap manik mata itu.
“Tatap aku Ayana.” Pinta Ken. Namun Ayana keras kepala, sehingga Ken harus memaksa Ayana menatapnya dengan melabuhkan kedua tangannya di sisi pipi Ayana.
“Apa semua hari yang sudah kita lewati tidak mengubah sedikitpun hatimu? Tidak menggoyahkan sedikitpun?” Ken mengguncang tubuh Ayana dengan tatapan frustasi.
“Iya! Tidak ada yang berubah Ken, kau tau sebenarnya aku hanya ingin mencoba saja merasakan sebentar. Bagaimana rasanya memiliki kekasih yang dulu kuidamkan. Ternyata rasanya biasa saja.” Terkekeh, Ken merasa tawa Ayana penuh kepalsuan. Namun jujur saja perkataan Ayana cukup membawa guratan sakit, menghantam dada Ken.
“Bohong!” Ken bersuara lirih, dia tercekat dan terluka. Penolakan Ayana begitu jelas.
__ADS_1
“Jangan berkata menyakitkan begini sayang. Jangan...” Ken menatap Ayana dengan penuh permohonan. Matanya menunjukkan sisi kerapuhan. Sekuat tenaga Ayana mengingat bibir dan mengepalkan tangannya.
“Oh apa aku terlalu tergesa-gesa? Apa harusnya aku memberikan lamaran begitu? Kamu mau begitu? Tenang saja sayang, akan ku lakukan. Kamu mau dilamar dimana?” Ken mulai meracau tidak jelas.
“Di Korea selamat? Kamu ingin begitu? Atau kita ke Paris? Jepang? Tahiland? Singapore...”
“Ken...”
“Oh apa kita perlu ke Korea Utara?”
“Ken! Ken! Ken!” Ayana menghentikan racauan Ken yang tidak jelas. Pikiran laki-laki itu tidak pernah sekacau ini.
“Dengar Ken...” Mohon Ayana, ingin menurunkan tangan Ken yang terus berlabuh di kedua sisi pipinya. Namun Ken menggeleng keras.
“Jangan, jangan begini. Pikirkan juga perasaanku...” Ken mengecup lama kening Ayana. Dengan penuh rasa antisipasi, takut jika saja Ayana meledak-ledak dan meluapkan emosi penolakan padanya. Jika hal itu terjadi Ken sungguh tak bisa menahannya.
“Untuk kali ini, aku merasakan jatuh cinta dengan kamu sayang. Aku tidak bisa kalau kamu meninggalkanku. Jangan berkata menyakitkan begini.”
“Aku tidak masalah kamu tenyata hanya ingin mencoba, baiklah itu tidak masalah sama sekali. Aku tidak dirugikan, jadi mari kita tetap bertahan. Sampai kamu merasa siap. Hem?”
__ADS_1
Ayana menggeleng keras.
“Ken...Kurasa, semuanya cukup sampai di sini saja.”
“Tidak! Tidak akan! Tidak ada perpisahan!” Tenggorokan Ken hampir tercekat.
Ayana mulai tidak bisa menahan air matanya, gadis ini sejenak menunduk, menyembunyikan air matanya yang jatuh.
“Kamu gagal ken. Kamu tidak membuat hatiku goyah sama sekali. Jadi perjanjiannya, dan semua permainan menjadi pasangan satu bulan ini ... harus kita akhiri.”
“Kita...Akhiri hubungan ini.”
Berakhir, tubuh Ken tegang dan tak bisa bergerak. Ken terluka, dia sungguh terluka dan dilanda rasa patah hati. Dadanya berdenyut, dan bibinya mengatupkan rapat.
Ayana melangkah menjauh masuk ke dalam lift, saat pintu lift hendak tertutup Ken melihat itu, tatapan penuh kasih sayang dari Ayana.
Sontak dia berlari ingin mengejar Ayana. Mata dan mulut gadis itu berbeda.
“Maafkan aku Ken, ini lebih baik. Aku tidak mau kamu kesusahan karena aku.” Ayana teringat dengan pertemuan singkatnya dengan sosok masa lalunya itu. Mungkin dia, memang harus meniti takdir yang sukar.
__ADS_1
Dia tidak boleh mengacau kehidupan Ken yang sempurna. Cukuplah kehidupannya saja yang kacau.