Wanita Sang CEO

Wanita Sang CEO
Ch 20~ Amarah Yang Menggelegak!


__ADS_3

Pulau Maldaves


Pulau dengan luas berkilometer itu, menjadi tempat reuni oleh Ken dan kawan-kawan. Hampir keseluruhan teman datang, semua datang atas kemauan sendiri ingin saling bertemu dan bertegur sapa.


Dibalik itu ada juga keinginan untuk menyombongkan diri. Membusungkan dada dengan senyum angkuh.


"Apa pekerjaanmu?"


"Berapa gajimu?"


"Kau masih belum menikah ya?"


"Kok masih belum punya anak?"


Lontaran tanya itu malah begitu mengusik satu sama lain. Apa tidak bisa reuni dijadikan acara saling mengingat-ingat masa SMA saja? Saling dukung, saling tukar kontak. Dasar sifat manusia ya, merasa ingin dilambungkan, ingin dipuji setinggi-tingginya. Kalau dihempaskan baru tau rasa.


Ken cukup merasa kesal, ternyata reuni malah seperti ini. Belum lagi keberadaan si Sivia itu yang tidak mau terpisah dari kelompoknya.


Silvia itu tidak tahu malu sekali terus saja mengajak Ken bicara meski tak ditanggapi. Si pawang, Yayan sejak tadi mengajak Silvia untuk bergelut dalam adu nyolot.


"Eh ulat bulu sana-sana, ck, membuat pemandangan rusak saja. Suaramu juga membuat telingaku sakit. Tolong lah aku ini suka kesenyapan." Yayan mengibas-ngibas tangannya. Lalu bersedekap memasang wajah arogan.


Kesenyapan kamprettt! Mulut udah kayak cewek! Yang paling ribet juga dia kebanyakan. Haduhhh sungguh memutar balikkan fakta.


Dev mendelik, menggeleng pelan. Terhibur juga dengan pertikaian Yayan dan Silvia.


"Kalau suka kesenyapan, kesana saja. Di hutan itu senyap sekali. Sana-sana" Balas Silvia dengan ketus.


"Hei kau ini benar-benar." Kehabisan kara-katam "Sudahlah kehadiranmu tidak diinginkan disini sana-sana."


"Apaan sih! ngusir-ngusir dari tadi, bukan kamu juga yang aku ajak ngobrol...aku ngajak Ken buat ngobrol kenapa sewot aja dari tadi." Geram dengan Yayan.


Padahal Ken juga sejak tadi tidak peduli drnagnnya. Hah dasar. Dev


"Pfttt, ngobrol dari mana sih? Dari sudut tiga puluh derajat lintang barat sampe sudut ..."


"Yan tidak perlu memakai sudut segala, kau akan membuat perhitungan matematika menjadi kacau." Ken menyela. Membuat Yayan mengerucut.


"Dengarkan saja lah Ken." Berdecak. Sedang Silvia mengangkat dagu tinggi-tinggi merasa dibela. Padahal yang Ken tanggapi di sini adalah kaitan ucapan Yayan dengan perhitungan matematika. Dia tidak mau Yayan membuat perubahan abstrak yang tidak bisa dipertanggungjawabkan dalam dunia matematika.


Tugas matematika aja kebanyakan nyontek Ken dari dulu. Pakai acara bahas sudut segala. CK, bahkan sudut istimewa saja kau tidak hapal Yan. Dev


"Ken apa bajuku bagus Ken." Silvia berusaha menarik perhatian Ken.


Namun bukannya menanggapi Ken malah memunggunginya dan sedikit menjauh, tangannya memegang ponsel di dekat telinga. Laki-laki itu melakukan panggilan telepon sekarang.


"Hallo, kenapa kau lamban sekali Lex! Cepat ke sini! Atau jangan -jangan kau sedang menikmati waktu ya?" Silvia coba-coba mencuri dengar. Siapa yang dihubungi Ken sampai-sampai menjauh dari mereka.


["Astaga, tidak seperti itu tuan muda. Saya malah sedang dikerumuni nyamuk sekarang. Saya menunggu persis di depan kamar Nona Ayana sekarang."] Alex menjawab jelas sekali. Bahkan kengenesan situasinya juga dia bicarakan. Takut jika tuan mudanya itu salah paham. Satu geplakan terdengar sepertinya Alex memang dikerubungi nyamuk.


"Baguslah, tetap seperti itu. Ingatkan lagi dia untuk memakai baju yang tidak kurang bahan, anginnya berhembus kencang sekarang. Tidak perlu menyiksa diri dengan tampilan bermodel, pakai yang nyaman saja. Peringatkan itu padanya." Silvia menatap tampilannya, baju merah marun dengan bagian belakang berbuka juga lengan terbuka.


Tawa Yayan tiba-tiba saja membuatnya melotot tidak perlu ditanyakan lagi apa arti tawa itu. Yayan pasti memang sedang menertawakan dirinya.


Sejak SMA Yayan memang tidak suka dengan Silvia ini. Perempuan ini sering kali menganggu ketengan mereka dalam berbagai hal. Yayan ingat sekali kalau saja mereka sedang makan di kantin maka Silvia ini akan berusaha menjejal diri masuk ke lingkungan mereka.


Gayanya sudah sok, seperti pamer karena bisa lebih dekat dengan kelompok mereka. Padahal Silvia itu malah diacuhkan. Ken bahkan tidak peduli sama sekali dengan keberadaan Silvia. Sedang Dev biasa-biasa saja.


Bagi Dev perempuan seperti Silvia bukanlah tipenya. Karena dia tidak suka perempuan yang begitu agresif. Sedang Yayan sangat-sangat tidak suka! Perlu digaris bawahi dan perlu digaris kreasi. Yayan tidak suka.


Setelah Ken selesai mengangkat telepon Ken kembali wajahnya datar sekali. Tidak ada ssnyum-sneyumnya.


Silvia menghembus nafas kasar. Dia menghadap Ken lalu tersenyum.


"Ken aku mau ambil minuman dulu ya." Ujarnya terkesan pamit. Namun Ken bahkan tidak menggapai dan malah menatap layar ponselnya.


Sial! benar-benar! dia tidak memperhatikan ku sama sekali...Padahal aku sudah berdandan dengan gaun paling terbuka sampai-sampai tubuhku merinding karena angin kencang. Tapi dia malah acuh!


Memejamkan mata Silvia kemudian berbalik.


"Eh dadah, jangan kembali lagi ya. Tidak kembali jauh lebih baik." Yayan pasang senyum selebar lima jari. Melambai lima jari juga pada Silvia.


Silvia lagi-lagi mendelik sebelum melangkah lebar-lebar menjauhi Ken dan kawannya.


Setelah Silvia menjauh baru Dev buka suara.


"Yan, sedangin lah yan, mulut pedasnya, kau tidak takut apa nanti ...kalau-kalau dibuat jatuh cinta sama si Silvia itu."


Uacapan Dev sontak membuat Yayan menggrpalak kepala Dev kuat-kuat.


"AMIT AMIT! AMIT! AMIT. Jangan sembarangan ngomong! Jatuh cinta kamprettt lah, aku tidak suka modelan perempuan seperti itu. Mending Silvia buat kau saja." Sodor Yayan.


Dev mengusap kepalanya yang tadi dipukul Yayan. Berdecak kesal.


"Sorry terima kasih, aku tidak mau... buat Ken aja. lah" Dev malah menyoodrokan pada Ken.


Ken mendelik tajam, tampaknya meski terlihat acuh tapi telinganya masih bisa mengkap pembicaraan mereka.


"Haha becanda Ken, utang nonggak jangan ditagih dulu ya." Lah malah takut utangnya ditagih. Ken kan memang begitu kalau kesal sering sekali membahas hutang Yayan. Ya bukannya Yayan tidak mampu membayar, tapi memang lagi dalam mode nunggu hasil investasi turun.


Perhatian mereka teralihkan ketika Ayana datang dengan Alex yang berada di sampingnya. Ayana terlihat memegang lengan Alex. Hal itu mendapat hunusan tatapan tajam dari Ken.


Alex lekas-lekas melepas secara perlahan tangan Ayana.


Saya paham tuan muda, maaf sekali maaf...Alex meringis dalam hati. Sedang Yana yang tidak tau hanya mengerjap saja.


"Kenapa kau baru datang?!" Tidak bisa mencegah nada ketusnya.


Ken menunggu Ayana mendekat ke arahnya, namun matanya terbelalak! Ayana bukannya mendekatinya... Ayana malah berdiri di samping Yayan.

__ADS_1


"Hai, Ayana," Yayan menyapa Ayana begitu ceria. Tidak sadar bahwa Ken sudah digalyuti awan mendung.


"Eh hai."


Mati! Yayan Supratman! jangan pasang cengir lima jari. Dev komat-kamit.


Mata Yayan berbinar, semakin dilihat lebih jelas Ayana terlihat sangat manis. Dev menarik-narik lengan Yayan. Membuat Yayan kesal dan mendelik.


Apaan sih si Dev ini! Ngiri bilang nggak bisa dekat sama Ayana. Hah pamor pelyaboy Dev tampaknya mulai redup. Tertawa jahat dalam hati.


"Dari mana tadi, kok baru ke sini?"


Dev semakin tepuk jidat. Malah basa-basi si Yayan dengan Ayana. Dia harus menendang keras-keras sampai terjungkal sepertinya.


Habis ini, dasar apa dia tidak memahami situasi? Alex melirik singkat pada Ken. Dan jangan ditanya bagaimana ekspresi wajah tampan itu.


"Oh tadi ada keperluan makanya baru ke sini. Lagian kan ini acara kalian, kalau saya terlambat pun tidak akan berpengaruh bukan." Ayana senyum lagi, senyum kecil yang tampak begitu manis.


"Berpengaruh Ayana." Yayan meliirk pada Silvia yang tadi menjauh entah melakukan apa.


"Hah?" Tidak mengerti.


"Kalau saja sejak tadi kamu ada di sini maka si ulat bulu itu tidak akan merasa di atas awan-awan. Dia pasti akan minder." Ayana tidak paham dengan apa yang Yayan katakan. Ulat bulu? Apa maksudnya? Pikiran polosnya malah memang memikirkan hewan berbulu itu.


"Ehm!" Ken berdehem keras. Membuat Yayan dan Ayana segera menoleh ke arah mereka.


"Kau datang kemari denganku, kenapa kau malah menghampriri Yayan! Kemari." Ken berdecak. Mata Yayan menyipit melihat Ken.


Yayan berani sekali menggunakan kata kamu pada Ayana. Ken.


Ayana menurut dan mendekat ke arah Ken. Tinggi tubuhnya hanya sebatas bahu Ken.


Ken berdecak dan tanpa banyak bicara menarik tangan Ayana hingga berpegangan pada lengannya.


"Apa kau menginginkan sesuatu Ayana biar kuambil kan."


"Yan aku juga ingin diambilkan sesuatu kalau begitu." Dev menyipitkan mata masih berusaha kode-kode keras. Tangannya seperti menyilang jangan-jangan.


Hentikan gayamu yang sok perhatian itu. Situasi ini tidak cocok! Kau salah langkah sekarang.


"Bodo! Ambil sana sendiri." Menjawab ketus pada Dev.


"Kalau ingin sesuatu Alex yang akan mengambilkan." Ken buka suara. membuat Yayan bungkam tidak menawarkan lagi pada Ayana.


"Ehm, iya." Sahut Ayana.


"Kenapa kau lama tadi?"


"Eh itu, ada beberapa telepon yang harus kuangkat. Mengenai pekerjaan. Karena itu aku perlu banyak waktu sebelum kemari." Ayana menjalaskan dengan lembut dan sedikit terkekeh.


Ken berdecak. Gadis ini perkja keras sekali.


"Ken aku membawa...Eh..." Silvia mengerjap mendapati sesosok mungil yang sedang lengket dengan Ken. Dia juga bisa melihat tangan Ken yang seperti menyapu permukaan tangan perempuan itu. Seperti memang sengaja bermaksud menghangatkan di tengah angin malam yang bertiup kencang.


Yayan tersenyum puas dan merangkul Dev.


"Eh ada yang melongo..." Sidir lagi Yayan.


Ditatapnya lagi lebih lama perempuan itu. Ketika alisnya naik, itu tanda kain dari pemahaman.


"Aku membawakan minuman Ken." Slivia menghampiri Ken dengan senyum, nampan berisi beberapa minuman dibawakannya.


"Eh kebetulan lagi haus." Yayan segers menyerobot satu gelas minuman.


"Eh-eh! Jangan ambil yang itu!" Silvia mencegahnya dengan suara begitu keras. Membuat mereka semua menatapnya curiga.


Kenapa begitu bersikap berlebihan?


"Ehm, itu spesial untuk Ken." Kilahnya, dalam hati merutuki sikpanya yang begitu spontan.


"Ken kau ambil ini saja." Dev tidak bisa melepas kecurigaannya hingga mengambil alih pembagian minuman.


Dev seiring kali mendapati hal begini. Jangan bilang perempuan ini sedang melakukan sesuatu yang sesuai pikirannya.


"Yang spesial itu untuk Silvia saja." Dev menyerahkanya pada Silvia.


Wajah Silvia menegang.


"Eh mana bisa begitu! ini kan untuk Ken!"


"Apa yang sedang kau rencanakan sekarang?" Ken menatap penuh perhitungan pada Silvia. Direbutnya paksa gelas yang dikatakan Silvia tadi spesial.


Ken memang mencoba mengamati sikap Silvia tadi. Gerak-gerik Silvia yang sering lirik-lirik pada gelas tadi menimbulkan tanda tanya besar baginya.


"Cek ini Lex! Kalau dia benar-benar memiliki niat jahat! Maka aku perlu membuat perhitungan." Suara Ken menggelegar, menyentak Ayana dan hampir menjauh.


Silvia melebarkan matanya. Tubuhnya termundur.


Sial! Rencana Silvia tidak berjalan mulus sepeti jalang kebanyakan. Keningnya sudah dipenuhi keringat. Teman-teman sekitar juga tampak menunjukkan perhatian pada mereka. Karena suara Ken yang mengeras.


Bagaimana ini?


Padahal pikirny rencananya akan berhasil.


Tidak menyangka Ken punya radar antisipasi.


"Aku...aku..." Silvia kehabisan kata-kata. Matanya kemudian menatap Ayana.


"Ken! Apa kau tidak jijik dengan wanita ini?" Ucapnya. Matanya tersorot pada Ayana. Dev, Yayan dan Alex mengerut kening heran.

__ADS_1


"Apa maksudmu!" Suara Ken membentak. Tidak tanggung-tanggung.


"Dia ini penguntit Ken! Sejak SMA aku selalu menemukan dia yang mengikutimu apa kau tidak merasa jijik dengannya? Kau paling tidak suka dengan penguntit bukan?"


Wajah Ayana memucat. Dia tidak menyangka Silvia masih mengingat dirinya. Dulu dia memang senpat hampir diringsek oleh Silvia. Silvia dulu mengancamnya agar tidak menatap Ken dari jauh. Karena Ken miliknya. Karena Ayana memang lemah Ayana hanya menuruti saja.


"Apa pun penilaian yang kuberikan pada Ayana kau tidak perlu tau itu!" Ken menggeram, manik matanya menyorotkan kegelapan. Tegapnya tubuhnya sepertinya menunjukkan laki-laki itu sedang menahan diri. Kalau sampai Ken sudah lepas.


Bahaya!


Perempuan itu sedang dalam bahaya!


Alex saling pandang dengan Dev dan Yayan. Mereka mengenal sekali sikap Ken.


Tapi Silvia tdiak dasar akan hal itu. Malah semakin menyulut bara api.


"Ken! Sadar Ken! Dia sampai berada di dekatmu sekarang, bukankah membuktikan dia punya ambisi besar! Dia pasti memang sengaja menargetakanmu. Dia itu anak dari wanita gila Ken!"


"CUKUP! KUMOHON!" Ayana merasa sangat dipermalukan. Haruskah Silvia sampai membahas tentang ibunya sekarang.


Ayana melepaskan tangannya dari lengan Ken. Semua orang begitu memperhatikan mereka.


"Aku...aku minta maaf sekali Ken. Aku tidak punya maksud dan tujuan jahat denganmu. Sejak dulu sampai sekarang...Maaf sekali aku sepertinya tidak punya rasa malu." Suara Ayana terdengar lirih, Ken ingin menahan Ayana namun iblis perempuan di depannya itu masih saja berbicara.


"Ya, kau memang tidak punya rasa malu! Apa yang sudah kau lakukan sampai-sampai membuat Ken bisa bersikap hangat padamu! Apa kau menjual tubuh...."


Silvia berhenti bicara dan terkesiap. Tangan Ken sudah mencengkram lehernya kuat-kuat. Mata Ken membara, menunjukkan betapa laki-laki itu sedang begitu marah.


"Ken, dia perempaun Ken!" Dev menyela.


Silvia terbatuk-batuk Tubuhnya bahkan terjengkit karena Ken membuat tubuhnya terangkat.


Dilemparnya tubuh Silvia hingga jatuh terbatuk-batuk keras.


"Kau sadar dia perempuan, tapi dia tidak menyadarinya. Dia malah menyakiti sesama perempuan!"


Mereka semua membekap mulut kuat-kuat. Pekikan keras terngar karena mereka takut dengan Ken. Laki-laki itu sepertinya akan menghancurkan Silvia.


"Alex! Kau urus Perempuan ini! Kalau sampai terbukti dia yang malah ingin berbuat jahat padaku. Maka aku tidak akan segan-segan membuat perhitungan !"


Ken kemudian berlalu berusaha menyusul Ayana yang tadi menangis, perempuan itu menjauh dengan perlahan. Ken mengusap wajahnya kasar lalu berlari lekas.


Wajah Silvia pucat pasi. Pikirnya dengan dia mempermalukan Ayana maka ia akan terbebas dari masalahnya. Tidak dia harus kabur sekarang!


"Mau kemana kau!" Dev menahan tubuh Silvia.


"Lepas!"


"Tidak akan!"


"Ayo Lex!"


Acara reuni itu menjadi kacau balau.


***


"Ayana!" Ken mengetuk keras-keras pintu ruangan melik Ayana.


Ayana sungguh takut sekarang. Laki-laki itu pasti marah besar padanya. Dia yang hanya si Upik abu pasti dinggap begitu buruk bagi Ken.


"Aku...aku ingin pulang Ken...Sekali lagi aku minta maaf." Dibalik kamar itu dengan bersandar pada daun pintu Ayana menangis dan membekap mulutnya.


"Buka pintunya."


"Aku minta maaf, aku...aku ingin pulang..." Ayana menangis, Ken bisa mendengar suara perempuan itu. Rasanya amarah dalam dadanya menggelegak.


.


.


.


Selamat Hari Raya Idul Fitri 1442 H


Mohon Maaf Lahir dan Batin...


Maaf-maaf kalau-kalau ada salah kata selama ini, atau tindakan-tindakan yang tidak sengaja membuat kalian merasa kesal...


Mohon maaf lahir batin ya...


Semoga dukungan kalian terhadap Ayana dan Ken semakin besar...


Ini adalah awal mula dari keseruan cerita mereka...


Puas nggak bacanya panjang benget partnya ini, nulisnya sampe 3 jam lebih dengan banyak jeda-jeda...


Karena itu mohon kalian untuk membeikan apresiasi dengan komen yang banyak....


Penuhi kolong komentar...


Juga like jangan lupa...


Apresiasi seperti itu sudah cukup bagi saya...🤗🤗


Terima ksish juga jikalau ada yang bersedia ngsish vote...


Yang mau masuk grup yok masuk...


Klik saja profilku nanti ada keliatan grupnya....

__ADS_1


🤗🤗


__ADS_2