Wanita Sang CEO

Wanita Sang CEO
CaH 55-Membuat kenangan Indah


__ADS_3

Mobil sudah terparkir rapi di depan Rumah Sakit terdekat, tidak menunggu waktu lagi Hans segera keluar setengah berlari saat masuk. Bahkan Bram tertinggal langkahnya .


Baru saja masuk dan melewati pintu Hans Sudah berteriak di sepanjang lorong.


“Dokter dokter....dimana dokter?! Tolong rawat Angel ku..!!!..” Teriaknya frustasi .


“Dokter!!!”


"Dokter!!...Dokter!!"


Perawat yang mendengar suara teriaknya itu segera mengambil tindakan.


Tidak sedikit para pasien maupun orang-orang sedang mengunjungi kerabat mereka, tersentak dengan teriakan Hans.


“Tunggu sebentar pak. Serahkan kepada kami .”


Kecemasan Hans masih belum menyurut.


“Tolong bantu Agelku, dia terluka ...” Pinta Hans, matanya masih menyoroti Angelnya yang terkulai lemas.


“Kami akan melakukan yang terbaik, sebaiknya Anda mengurus proses administrasi “


Perlahan tubuh Angel dialihkan ke bankar rumah sakit itu. Dokter pun datang untuk mengecek keadaan Angel.


Hans hanya bisa melihat Angel. Dia mengusap wajahnya kasar. Sangat ingin berteriak sekarang menumpahkan kekesalan karena bajingan itu!


Bram sudah berada disamping sang atasan. Hans langsung menyentuh lengan Bram. Dapat Bram rasakan getaran di tangan Hans.


“Bram bereskan proses administrasi, siapkan ruangan VIP. Pinta mereka mengecek keadaan Angel dengan teliti. Jangan sampai Angelku mengalami luka dalam juga. “ Hans memberikan perintah wajahnya tampak kusut karena kecemasan yang berlebih.


“Baik pak.” Bram segera menyahuti, berlalu dan menyelesaikan proses administras. Tidak semudah itu dia harus bolak balik hotel rumah sakit membawa keperluan berkas. Untuk menyelesaikan proses administrasi. Pembayaran rumah sakit sepenuhnya ditanggung Hans .


Hans menunggu dengan mengusap wajahnya kasar. Laki-laki yang selalu bersikap tenang itu, sekarang sedang dilanda kecemasan.


***


Dokter ahli itu segera memeriksa Angel. Melihat dan memeriksa dengan teliti. Ada beberapa luka luar yang didapat dan segera mendapatkan perawatan dengan semestinya.


Bagian dahinya tak lagi bersih, sekarang wanita yang terkulai orang itu harus rela sebagian dahinya di kenakan perban. Hingga luka yang tadi mengucurkan darah sekarang terhambat.


Angel sudah di gantikan bajunya oleh perawat. Wanita itu sekarang menggunakan baju pasien. Ruangan yang ditempati begitu nyaman. Sesuai dengan instruksi Hans yang menginginkan kekasihnya berada di kamar VIP .


“Lukanya tidak terlalu parah, kami sudah melakukan pemeriksaan dalam. Tidak ada yang bermasalah .” Ucap Dokter itu. Hans ternyata juga meminta melakukan pemeriksaan dalam. Takut jika Angelnya juga mendapatkan siksaan lebih dari bagian luar yang terlihat .


“Baik dokter, terima kasih.” Ucap Bram.


Hans laki-laki itu terus saja menyoroti kekasihnya. Dia masih bisa menangkap pembicaraan dokter tadi. Mulutnya malas untuk banyak bicara.


Angel masih tak sadarkan diri. Hal itu semakin menyulut rasa sesak di dada. Kecupan kecil ia berikan di permukaan tangan sang kekasih. Dengan begitu kalut.


Luka Angel memang tidak terlalu serius, tapi perempuan ini syok dengan kejadian tadi hngga pingsan tak sadarkan diri. Dia hampir dilecehkan dan kembali disuguhkan dengan Hans yang membabi buta memukul pria itu. Tentu saja dia syok ,merasa terkejut sekaligus takut .


Bram ,dia kembali ke hotel untuk mengambil keperluan sang atasan seperti pakaian.


"Saya akan mengambilkan baju ganti untuk Anda, pak. " Ucap Bram .


Hans menoleh sekilas dan memberikan anggukan kepala .


Mata Hans tak lepas rasa cemasnya masih belum berkurang sebelum benar-benar melihat Angelnya sadar .


“Angel sayang kenapa belum bangun Hem?...Bagun cepat aku menghawatirkanmu. Buka matamu.” Suara Hans terdengar sangat lirih. Ada nada kesedihan mendalam yang tersirat disana.


“Angel sayang...cup..cup..”. Hans memberikan rangsangan di tangan Angel, berupaya agar Angel menyadari di alam bawah sadarnya .


Menit berlalu, detik berlalu hanya hembusan nafas yang sedikit meredakan sesak dada Hans. Setidaknya dia tau bahwa sang kekasih masih bernyawa, hanya tidak sadarkan diri saja.


“Sayang aku sangat cemas sekarang. Jadi cepat bagun.” Suara Hans terdengar lirih lebih dalam hingga tertelan rasa sesak.


Sekelebat ingatan akan Angelnya yang terkulai di sudut toilet membuatnya murka.


“Sialan! berani sekali dia menyentuhmu. Angel bangun kau sudah aman. Ada aku disini.” Satu tangan Hans terulur mengurai rambut Angel.


Pergerakan kecil Hans tangkap. Kelopak mata Angel bergerak lambat.


“Angel.” Dia bangun mendekatkan wajahnya.


Angel mulai perlahan membuka kelopak matanya, retina matanya menyesuaikan dengan cahaya ruangan. Matanya langsung bersibobrok dengan mata sang kekasih. Rambut Hans tampak acak-acakan, bahkan bekas darah Angel masih menempel di bagian depan bajunya .


“A-Angel...Ka-kau sa-sadar.” Hans teegugu, lega mendera segera.“ Aku akan memanggilkan dokter. Jangan bergerak “ Serunya senang, sekaligus memperingati.


Dia beranjak dan menekan tombol untuk memanggil dokter. Tidak seberapa lama dokter beserta satu perawat datang, mengecek kondisi Angel. Setelah merasa semuanya baik-baik saja dan tidak ada yang dipermasalahkan dokter dan perawatnya itu pamit undur diri.


***


Angel berusaha bangun hendak bersandar pada ranjang rumah sakit.


“Jangan bangun berbaring saja.” Seru Hans dengan nada tak mau dibantah. Matanya masih memperlihatkan kecemasan.


Angel menurut dan berbaring .


“Sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri?”


"Hanya beberapa jam."


"Aku ingin minum." Pintanya dengan suara halus.


Mata Hans segera mencari letak keberadaan air minum, setelah menemukan letaknya dia segera beranjak dan mengambil satu gelas air putih untuk Angel.


Hans membatu Angel untuk duduk agar lebih leluasa meneguk minuman .


“Ini.” Angel mengambil gelas tadi mulai meneguk dan membasahi kerongkongannya yang terasa kering.


“Pelan-pelan tidak akan ada yang merebutnya.” Seru Hans. Angel terus meneguk minuman hingga habis tak bersisa .


“Mau lagi?” Tanya Hans saat gelas sudah di serahkan Angel. Perempuan itu menjawab dengan gelengan pelan.“Ayo berbaring lagi.”


Angel menurut dan kembali berbaring Sikunya tidak sengaja bergesekan dengan ranjang rumah sakit. Hingga menimbulkan rasa nyeri .


Kening Hans mengernyit mendapati raut wajah Angel yang tiba-tiba mencebik. Bibir Angel tiba-tiba mencebik, tidak sampai disana ternyata air mata di pelupuk matanya mulai penuh. Tangisnya pecah. Bukan karena rasa sakit yang dirasa di bagian siku. Tapi karena kejadian tadi. Kejadian tadi begitu menakutkan baginya. Bagaimana jika Hans tidak datang? Apa yang akan terjadi pada dirinya? Akankah ada orang yang menolongnya?


“Akhh...Hiks.” Angel menelungkup kan kedua tangannya menutupi tangis yang berderai.


Hati Hans berdesir ketika mendengar tangisan perempuannya. Serta Merta dia mengikis jarak mereka dan melabuhkan tubuhnya untuk memeluk Angel .


“Hei tenang-tenang. Semuanya sudah beres, jangan menangis “Hans berusaha menepuk pelan bahu Angel agar tenang. Posisi Angel yang berbaring menyulitkannya untuk melingkarkan tangannya sempurna .


“Dia...di-dia mengajaku bersenang-senang, padahal aku tidak mau...hiks aku bukan anak kecil...Kenapa dia ingin mengajakku bersenang-senang.“ Angel mengungkapkan kejadian yang ia alami beberapa saat lalu. Dia meluapkan emosi kesedihan dan ketakutan dari tangisnya .


Sialan! seharusnya aku mengajaknya bersenang-senang juga tadi .


“Lupakan-lupakan berhenti memikirkannya .” Desis Hans, hatinya terenyuh sakit melihat buliran air mata yang membasahi pipi Angel. Laki-laki itu sejenak melepaskan pelukannya dan menatap wajah kekasihnya .


Tapak wajah Angel sudah penuh dengan air mata. Hans menggerkan tangannya untuk menghapus buliran air mata yang jatuh di wajah Angel .


“Hiks...Auu..huu...hiks.”Angel memakik masih menangis .


Mendengar rintihan kesakitan Angel Hans berhenti menggerakan tangannya .


“Maaf...sialan seberapa kuat dia memukulmu!! Aku bahkan hanya mengusap lembut pipimu .” Seru dengan geramanya yang begitu menakutkan. Tatapan matanya tiba-tiba menajam, menyoroti pipi Angel.


Angel tidak menjawab dia takut sekarang. Takut jika kemarahan Hans semakin meluap-luap. Tangisnya mulai reda, dia terdiam bayangan kejadian beberapa waktu lalu masih di ingatnyanya dengan sangat jelas .


"Jangan terlalu dipikirkan ya." Itu bukan sesuatu yang bisa kau sikapi biasa saja ketika mengingatnya.


Angel menatap Hans dengan tatapan kekosongan. Melihat itu ada rasa sakit di dada Hans. Kekosongan itu iya tidak mau melihat itu. Manik mata itu seharusnya memperlihatkan keceriaan seperti yang selama ini ia lihat.


“Aku berharap bisa melupakannya tapi otakku tidak bisa. Kejadian tadi begitu membekas di ingatanku. Tidak tau sampai kapan ingatan ini akan terus melekat .” Angel membatin.


“Sudah berhenti menangis. Semuanya sudah aman. Aku ada disini.” Hans berusaha kembali menghapus jejak air mata Angel. Kali ini dia melakukannya dengan sangat perlahan.


Ketukan pintu meregangkan pelukan mereka. Angel segera menghapus air matanya .


Tok tok tok


Bram muncul dari balik pintu membawa paper bag, mungkin itu berisi keperluan Hans .


Mata Bram langsung melihat keadaan Angel sudah sadar, dan itu membuat dia ikut bersyukur.


“Syukurlah anda sudah sadar.”


“Iya.” Angel menanggapi.


“Angel tidak boleh banyak bicara Bram.”


Hans menyela takut Bram akan terus berbasa-basi dengan Angelnya.


Kapan?Kapan dokter mengatakan itu .Apa aku sempat pingsan lagi tadi dan baru tersadar?


Baiklah jika atasannya ini memperingati itu merupakan titah untuk Bram. Bram tidak akan melewati batas yang diterapkan atasannya ini .


“Ini pak pakaian Anda.”


“Terima kasih Bram.”


“Kau bisa kembali ke hotel. Aku akan menemani Angel disini .” Imbuhnya.


“Tidak apa-apa pak saya bisa menemani di sini. Jika Anda perlu sesuatu saya bisa langsung membantu .” Bram menyerukan pikirannya, merasa tidak enak kembali ke hotel. Menguasai kamar hotel sendiri. sedangkan atasannya berada di rumah sakit .


“Jangan membantah Bram. Tunggu aku di luar aku akan menemuimu.” Seru Hans, nada suaranya tidak mau dibantah.


“Kenapa tidak duduk di sofa saja.” Saran Angel. Saran itu mendapat tatapan mata tidak suka dari Hans. Mana mungkin dia membiarkan Angelnya berada di satu ruangan berdua dengan laki-laki lain .


Bram setuju dengan pemikiran Angel tapi...


“Tidak! Tidak! Bram tunggu diluar!” Seru Hans setengah bernada tinggi.


Bram terpaksa mengiyakan perintah Hans. Kalau begini kan dia jadi enak. upss. Enak mengusai kamar hotel sendirian.


Dia berjalan keluar dan menunggu .


“Aku akan berganti pakaian dulu .” Ucap Hans, menatap Angel yang masih setia berbaring. Tidak melanggar perintahnya untuk bangun .


Angel menanggapi dengan anggukan kepala .


***


Setelah selesai berganti pakaian Hans segera keluar dan menemui Bram.


“Bram.”


“Iya pak .”


“Kau urus pria tadi! lakukan pembatalan kerja sama juga.”


Bram menghela nafas berat. “Anda yakin pak?"

__ADS_1


“Jangan mempertanyakan keputusan ku Bram!” Hans tidak mau dibantah suaranya terdengar sangat tegas, bahkan terdapat kilatan mata tajam .


“Aku tau yang terbaik .” Imbuhnya lagi masih dengan sorot mata yang tajam .


Jika kita melanjutkan kerja sama, maka itu artinya Angelku akan mendapat kemungkinan kesempatan lagi untuk bertemu dengan si berengsek itu. Dan itu tidak akan kubiarkan. Dia Sudah Berani menoreh ingatan buruk di kepala Angelku. Maka Aku perlu juga melakukan hal yang sama .


Bersenang-senang aku akan menujukkan bersenang-senang yang sebenarnya.


Senyum smirik menakutkan muncul dari sudut bibir Hans .


Bram mulai faham arti senyum menakutkan itu. “Maaf pak ...baiklah akan saya bereskan semuanya .” Bram tersentak, tidak berani mempertanyakan lagi.


“Baguslah.”


Hans berlalu dan menutup pintu. Bram diam dia sedang memikirkan cara untuk melakukan pembuatan kerja sama serta memberi pelajaran lagi...iya lagi...pada pria yang berani menyentuh wanita CEO nya .


Apa aku akan ikut bersenang-senang juga nantinya?


***


Hans membaringkan tubuhnya disamping Angel, mendekap erat dan memberi kehangatan. Menyalurkan rasa perlindungan dari dirinya .


Angel dengan patuh menyusupkan lebih dalam dirinya kedalam pelukan Hans. Dia merasa nyaman dan tenang dalam dekapan Hans.


“Jangan terlalu dipikirkan. Pikirkan aku saja, pikirkan cara melimpahkan cinta pada kekasihmu ini.”


Hans berusaha mengalihkan perhatian Angel, dia menyisipkan candaan disana .


Angel mendongakkan kepalanya melihat raut wajah kekasihnya itu. Ia memberikan cubitan di tubuh Hans.


“Au..kenapa kau mencubitku .” Seru Hans, ekspresinya berpura-pura kesal.


“Cup...cup...cup..cup...cup...” Hans Menghadiahkan ciuman bertubi-tubi di area wajah Angel. Yang mendapat kecupan merasa gelagapan. Hans mengecup lembut berusaha tidak menekan bagian pipi Angel yang terkena tamparan tadi.


Angel memejamkan matanya, menunggu Hans berhenti menghadiahkan kecupan-kecupan. Tatapan mata Hans begitu tidak dapat dijelaskan .


“Aku hampir gila.” Ungkap Hans. Angel terdiam ucapan itu terdengar sangat dalam. Hidung mereka saling bersentuhan. Hans berbicara tepat di depan bibir Angel, sesekali bibir mereka bersentuhan karena Hans berbicara, suaranya terdengar parau .


Angel mengelus pipi Hans lembut berusaha meredakan emosi yang bergejolak di dalam diri Hans sat ini. “Jangan pernah lagi mengalami kejadian seperti tadi. Duniaku rasanya berhenti .” Lirih Suara Hans terdengar sangat dalam mengandung sebuah kepiluan yang mendalam disana. Laki-laki ini begitu takut akan kehilangan Angel. Rasa cintanya begitu besar untuk Angel.


“Angel ...” Nada suaranya sangat rendah .


“Hm..” Angel menyahut dengan gumaman kecil .


“Agelku sayang...”


“Iya aku disini “ Sahut Angel, sudut matanya rasanya sudah tergenang cairan bening. Dia dapat merasakan cinta yang begitu dalam yang dilimpahkan Hans kepadanya. Benarkah dia pantas mendapatkannya ?


Hans merengkuh Angel dalam pelukannya, mengecup rambut Angel .


"Kau harus bisa melindungi dirimu. Aku takut jika kejadian tadi kembali terulang."


Aku tidak tau bagaimana hidupku jika kau pergi .Angelku sayang...


Angel terdiam tidak menjawab. Hans sedang dalam mode cemas sekarang.


"Mau nonton tv?" Tawar Hans. Mungkin saja hal itu dapat mengaalihakan perhatian Angelnya dari ingatan buruk.


"Tidak, mataku mengantuk sekarang." Sahut Angel.


"Baiklah tidurlah sayang." Hans mengusap lembut rambut Angel.


Sayang .Gumam dalam hati.


Sudut-sudut bibir Angel terangkat dan membentuk sebuah senyum lebar .


Mata Perempuan itu perlahan menutup. Menangis membuat matanya berat dan cepat tidur. Hans masih setia menyoroti wajah kekasihnya itu.


"cup...cup...cup" Dia mencuri kecupan dibibir Angel. Perempuan itu hanya mengeliat pelan tidak terbagun.Hans tersenyum tipis dengan respon Angel .


Mata ini kenapa sangat indah. Rambut ini kenapa begitu harum aku tidak bisa berhenti untuk mendekat dan menciumnya. Bibirmu kenapa menggoda sekali sayang .


Angelku ...kau wanitaku .Wanita milik Hans. Akan ku berikan pelajaran untuk dia yang berani menyentuhmu tanpa seijin ku. Tunggu saja cara bersenang-senang ku.


Hans menarik tubuh Angel agar lebih mendekapnya .Tubuh Angel dengan patuh menelusup lebih dalam ke dalam pelukan Hans.


Lucu sekali


***


Keesokan Harinya di rumah sakit


Hari ketiga ini Angel tidak diperbolehkan Hans ikut dalam pekerjaan mereka. Laki-laki itu masih cemas dengan kondisi Angel dan juga Hans takut jika kejadian kemarin akan terjadi lagi


Tentu saja Angel mengalami rasa cemas jika hal itu akan terjadi tapi dia ingin bersikap profesional.


“Kau tidak bisa bersikap profesional. Dari awal niatmu juga sudah salah. Mana ada orang bekerja niatnya sambil menyelam minum air,” Ucapan Hans tepat sasaran. Membuat geram kecil tercuat dari Angel akibat sindiran itu.


Kenapa bicara sejelas itu sih.


Bram hanya menahan tawanya mendengar penuturan bosnya itu.


“Istirahat disini ya...kita tidak akan bangkrut hanya karena kau tidak ikut. Aku takut traumaku akan muncul nanti.”


Bicara Hans lembut namun tidak mengurangi suara beratnya yang begitu menawan.


Ternyata Hans yang mengalami gejolak terdalam atas kejadian beberapa waktu lalu. Dia trauma, trauma melihat Angelnya bercucuran darah lecet di bagian siku .


Kenapa dia yang trauma. Aku yang mengalaminya. Sebenarnya seberapa dalam perasanmu. Jangan begitu melimpahkannya.


Angel mengangguk .


"Kalau ada perlu langsung hubungi. Jangan berkeliaran, istirahat oke."


"Iya"Ya Ya berapa kali kamu mengatakan itu .Aku juga tidak berniat pergi kesana-kemari .


"Bagus aku pergi. Ayo Bram." Ajak Hans


"Iya pak"Sahut Bram .


Angel ditinggalkan sendiri di dalam ruangan VIP yang begitu luas. Ruangan ini terasa nyaman, namun sepi mendominasi .


Matanya menatap ke arah kaca jendela besar memeperlihatkan bangunan-bangunan tinggi di Jepang.


Oh bunga sakura yang indah, sekarang tak seindah rasa was-was nya.


***


Untuk kali ini baru kali ini Bram menerima dengan lapang dada mendapatkan limpahan kerja yang berlebih dari sang atasannya itu. Dia juga memahami bahkan sangat dengan kondisi Angel saat ini.


Hans laki-laki ini bisa tampak begitu tegas dan berwibawa jika berhadapan dengan para karyawan dan rekan bisnisnya. Laki-laki ini akan tampak sangat bersahabat dan banyak bicara jika bersama orang terdekatnya. Dan satu lagi laki-laki ini akan sangat kejam, jika ada orang yang berani menyentuh miliknya.


Entah apa yang dia lakukan tanpa sepengetahuan Angel terhadap asisten kliennya yang berani menyentuh Angel. Yang pastinya sebuah kekejaman yang bahkan tidak akan bisa kalian bayangkan.Dan jangan salah sangka dengan asisten Bram. Laki-laki ini terlihat ramah di luar, namun jika bersama Hans pertunjukkan mengerikan terasa biasa dilakukan.


Setelah mereka melakukan pertemuan bisnis. Langkah selanjutnya bukannya kembali ke hotel. Melainkan memberikan pelajaran lagi iya lagi kepada asisten kliennya. Jadi ini maksud Hans dengan membereskan.


***


Angel di jemput Hans mereka kembali ke hotel. Perjalanan bisnis telah selesai dan mereka hanya perlu pulang.


Hans sekarang berada di dalam kamar hotel Angel .


“Sini bar ku bantu.”


Hans mengambil alih untuk membantu Angel mengganti perban. Angel tak bisa menahan senyumnya, perhatian Hans begitu menyentuh hatinya. Rasanya dia sudah jatuh sekali dalam pesona Hans.


“Ukhh...” Angel meringis kala Hans meberikan obat di dahinya .


"Maaf apa itu sakit?"


"Sedikit."


Hans melakukannya lebih pelan sekarang mulutnya sesekali memberikan tiupan-tiupan kecil berusaha untuk menyamarkan rasa sakit Angel. Setelah selesai dengan dahi dia juga membantu mengganti perban di siku Angel .


"Apa kau ingin jalan-jalan dulu. Besok kita sudah kembali." Tawar Hans.


Kita harus banyak membuat kenangan indah. Supaya kau tidak terbayang -bayang kejadian tadi. Jangan sampai kau murung ketika mengingat kejadian itu .


Mata Angel melebar senang dia mengangguk-angguk semangat.


“Baiklah ayo. Gunakan pakaian yang tertutup jangan berdandan!" Peringat Hans.


"Iya." Sahut Angel.


Mereka hanya pergi berdua jalan-jalan layaknya pasangan kekasih. Hans merapatkan jari-jemari mereka tidak memberikan celah sedikitpun.


Mereka menyusuri negara Jepang berdua. menikmati makanan khas Jepang dan bejalan-jalan santai .


"Kau menyukainya?" Angel mengangguk ceria.


"Sangat." Sahutnya nadanya juga terdengar sangat ceria .


Syukurlah kalau begitu. Ku harap bagian ini menjadi kenangan yang paling kau ingat .


Mereka terus berjalan beriringan mata Angel menangkap sesuatu yang indah. Langkahnya terhenti hingga membuat Hans juga ikut berhenti. Hans mengikuti arah mata Angel. Perempuan ini memperhatikan sebuah kalung yang dipajang di toko dengan begitu cantik.


"Kenapa?" Tanya Hans pura-pura tidak tau.


"Oh tidak apa-apa ayo jalan." Angel membuyarkan rasa kagumnya dengan kalung tadi .


Hans tersenyum kecil matanya menangkap nama toko tersebut dan menyuruh otaknya untuk mengingat .


***


Mereka kembali ke hotel perasaan Angel sangat bahagia kerena puas menikmati negara Jepang.


Hans kembali ke kamar hotelnya .


"Bram" Panggilnya


"Ya pak "


"Pergi ke toko Lili Week sekarang dan beli kalung yang terpajang cantik di sana.Tidak usah banyak bertanya dan segera pergi kesana. ini bawa kartuku kodenya xxxxxx"


Kalian yang mengalami kisah romanse. Kenapa aku yang disusahkan di sini .


Baiklah tetap aja Bram menurut dan pergi menuju toko yang disebutkan Hans .


***


~Keberangkatan


Saat nya kembali perjalanan bisnis telah berakhir. Yang tadinya perjalanan bisnis ini terasa begitu manis. Malah berakhir dengan ingatan yang begitu buruk. Bukan kenangan ,karena kejadian itu tidak pantas untuk dikenang .


Hans, kali ini dia menelpon pilot jet pribadinya untuk menjemputnya di Jepang .

__ADS_1


Alasan utamanya untuk kenyamanan dirinya. Seharusnya dari awal dia melakukan ini , tapi karena mereka berbisnis jadi dia tidak membawanya .


Mereka duduk saling bersampingan .


Angel perempuan ini terus saja melarikan matanya ke sana kemari. Matanya tampak kagum melihat jet pribadi, namun dengan kualitas yang begitu mewah.


*Hebat sekali dia. Hanya dengan satu kali telpon jet pribadi langsung tiba.


Lihat ini fasilitasnya begitu mewah. Tunggu apa ini berlian*? Fokus pada salah satu gelas yang tersusun.


“Angel ...”


“Ya..” Langsung tersentak, tidak jadi meneliti apa tadi berlian.


“Kemari ...duduk disini “ Hans memberikan sedikit ruang di tempat duduknya .


Angel langsung menatap waspada.


“Haha...tidak-tidak.” Tolak Angel dengan iringan senyum manis.


Hans memberikan tatapan tidak suka, namun kemudian dia menepiskan senyum di sudut bibirnya .


Astaga kenapa dia tersenyum seperti itu. Apa yang dipikirkannya ?


“Sayang sekali.”


Apanya yang sayang pikir Angel


“Padahal jika kau duduk disini tadi...aku bisa mempertimbangkan untuk kita pergi ke Korea .”Mata Angel membulat, langsung beranjak dari tempat duduknya dan duduk di pangkuan Hans. Korea disana ada banyak artis ternama yang dia sukai, di mungkin punya kesempatan untuk bertemu.


“Siapa yang tidak mau ...aku mau duduk disini .” Dia berujar bersikap imut.


Hans tergelak lepas.


“Wah sayang sekali...Aku sudah menimbangnya tadi ,dan hasilnya kita tidak pergi ke Korea .”


Angel mendadak lesu, matanya mendelik ke arah Hans, dia sudah hendak berdiri namun Hans menahan bagian pinggangnya .


Apa-apaan menimbang omong kosong .


“Mau pergi kemana Hem ...duduk disini .”


"Kau berbohong." Protes cemberut.


"Itu umpan sayang. Kau memakannya "


Memangnya aku ikan .


Gerutu Angel dalam hatinya .


Angel pasrah wanita itu duduk patuh di pangkuan Hans. Matanya masih mendelik .


Mata Hans menyoroti lebih dekat dan lebih dalam luka luar di bagian wajah Angel.


“Sebaiknya kau istirahat dulu, tidak perlu bekerja besok .”


“Eh tidak -tidak aku bisa bekerja ... aku sudah baikan...lihat-lihat ini .” Angel menggerakkan tangannya ,berusaha menunjukkan dia baik-baik saja, tapi wajahnya menunjukkan ringisan kesakitan.


Dengan cepat Hans menangkap lengan Angel, menahannya agar tidak melakukan pergerakan lagi.


“Kau ini ...jangan banyak bergerak. Apanya yang baik. Kau tidak pandai berbohong. Sudah turuti saja apa susahnya .” Seru Hans, kata-katanya menekan.


Angel menggigit bibir bawahnya pelan. Dan itu malah begitu menggoda di mata Hans .


“Tapi asisten Bram akan kewalahan nanti .” Berusaha memberikan penolakan lain.


“Kenapa kau peduli dengan Bram “ Kening Hans berkerut, tidak suka ada makna kepedulian dari ucapan Angel .


“Eh eh bu-bukan begitu maksudku ...tapi aku rasa sudah terlalu banyak cuti. Mungkin saja asisten Bram keberatan.”


Bram dengan jelas menangkap pembicaraan dua orang itu.Rasanya dia yang paling kesepian tidak punya teman untuk bicara di dalam jet ini.


Ya benar aku tidak merasa ringan sekretaris Angel.Bram mengeluh dalam hatinya .


Hans memanggil Bram tanpa menoleh ke arah kursi belakang. Keningnya masih berkerut dalam .


“Ya pak .”


Sahut Bram tanpa beranjak dari tempat duduknya, hanya memasang telinga baik-baik. Apa yang akan di ucapkan oleh Hans.


“Kau keberatan jika Angel ku suruh cuti?” Ucapnya, ada nada tidak suka di sana. Yang tentu saja Bram menangkap jelas.


Kenapa Anda melimpahkan kekesalan ke saya. Kalau saya bilang iya apa anda akan keberatan dengan ucapan saya?


“Tentu saja tidak pak. Itu terserah Anda .” Sahut Bram cepat tidak ingin mendapatkan spekulasi lain di otak bossnya itu.


“Kau dengar .” Berbicara dengan Angel yang berada tepat beberapa centi di depannya .


“Iya” Sahut Angel pasrah. Sudah tau dari awal mana mungkin Bram berani berkata keberatan pada Hans. Dasar si tuan berkuasa.


“Nah kalau nurut begini kan bagus,” Ucap Hans, merasa menang sekarang.


Astaga kenapa nada bicara pak Hans seperti itu. Bram


Hans merengkuh lebih dalam Angel ke dalam pelukannya. Mengusap lembut rambut Angel.


“Angel ...”


“Ya.


“Angel ku Agelku Angelku ...aku akan memanggilmu begitu. Jadi segera berikan panggilan romantis untukku,” Ucapnya dengan begitu bersemangat.


Angel menggigit bibir bawahnya. Panggilan romantis rasanya dirinya masih merasa belum siap untuk memanggil Hans dengan panggilan romantis. Rasanya begitu canggung untuk itu.


Hans menaikkan dagu Angel agar melihat ke arahnya, tangannya yang satu masih setia melingkar di area pinggang Angel.


“Kenapa?”


“A-aku...ra-rasanya agak canggung untuk itu .Nanti ya .” Bujuk Angel .


Perempuan ini melakukan kesalahan dengan menggigit bibir bawahnya .


Mata Hans menyoroti bibir yang digigit Angel matanya menatap penuh sensual.


“Jangan menggigit bibirmu.” Seru nya dengan suara yang berubah parau.


Tubuh Angel membunyikan alarm peringatan. Gawat ,dan terlambat. Walaupun Angel sudah berhenti menggigit bibir bawahnya. Malah bagian bibirnya yang terbuka itu langsung disambut Hans .


“Emmphh...” Berusaha mendorong Hans karena terlalu terkejut. Dia juga menghawatirkan kondisi di bagian belakang kursi mereka ada Bram yang pasti mendengar decakan tautan lidah dan bibir mereka.


Hans semakin menekan tekuk Angel, juga merengkuh tubuh Angel lebih dalam. Lebih mendekat ke arah bibirnya. Tidak mempedulikan situasi rasanya bibir Angel begitu menggoda.


Dia terus saja menyesap tak berkesudahan matanya terpejam, lidahnya bermain-main di dalam rongga mulut Angel. Gigitan kecil juga di berikan oleh si tuan lihai.


“Hah hah hah.” Nafas Angel terengah-engah, berusaha menghirup oksigen sepuasnya Menetralkan proses pernafasannya yang tertahan akibat ciuman yang begitu panas dari Hans .


Laki-laki ini sangat pandai berciuman. Tanpa di sangka respon tubuh Angel setelah mendapat ciuman tadi berhenti memberontak! dan hanyut dalam permainan. Angel juga lupa dengan otaknya yang terusik dengan Bram yang berada di bagian belakang mereka .


“Salahkan bibirmu yang begitu menggoda .” Suara Hans masih terdengar parau.


Rona pipi Angel terlihat jelas.


“Asisten Bram pasti mendengarnya tadi.”(Merujuk pada decakan pertautan lidah mereka )


Garis alis Hans tiba-tiba melukis tajam, merasa masih ada siratan perhatian Angel kepada Bram .


“Ternyata kau Memang peduli dengan pendapat Bram iya?”


“Aku malu!” Angel bersungut-sungut ,tidak sedikit pun dia memiliki kepedulian lebih untuk Bram. Mungkin ada kepedulian ,tapi hanya dalam konteks sesama manusia. Bukan ikatan lebih dari itu.


Kamu selalu saja menciumiku tidak kenal tempat .Coba tadi kita di pesawat umum .Mungkin kita kan menjadi viral .Di dapati sedang mesum di dalam pesawat.


Respon Angel yang membantah begitu keras, menghilangkan opininya. Tentang Angel yang memiliki perhatian lebih dengan Bram .


“Tidak perlu dengan suara keras. Aku mendengarnya. Sini tidur, perjalanan kita masih panjang .”


Menarik kembali Angel dalam pelukannya. Pun bibir Hans yang menepiskan senyum tipis.


Campuran rasa malunya ,dan kesal menjadi satu. Angel menurut dan mulai memejamkan matanya. Tidak ingin banyak bicara lagi. Dia memutuskan untuk tidur tenang.


Hans menempelkan pipi mereka sambil berdiam menikmati ketenangan .


“Angel.”


Kenapa memanggil bukannya dia juga yang menyuruhku tidur tadi. Ah pejamkan mata saja.


"Angel jangan tidur! aku bosan bukan matamu! "Hah kamu bercanda .Tadi menuyuhku tidur sekarang aku sudah mulai mengantuk dan sekarang kamu menyuruhku untuk bangun.


Cup cup cup


Hans mengecupi kelopak mata Angel. Masih tidak ada respon dia mengigit pipi Angel.


“Auu.” Mata Angel langsung terbuka, kesal dengan kelakuan Hans yang menggigit pipinya.


"Sudah kubilang bangun aku bosan "


Seenaknya sekali kamu ini.


"Tadi kamu menyuruhku tidur." Kekeh Angel .


"Tapi sekarang tidak sayang. Bangun buka matamu lebar-lebar."


Jadilah rasa kantuk Angel hilang apalagi Hans terus saja menggangunya terkadang memberi kecupan. Terkadang pelukannya semakin erat .


Mereka hanyut dalam obroaln-obrolan kecil tak berkesudahan .


.


.


.


Epilog


Beberapa detik sebelum aksi ciuman panas Hans dan Angel .


Bram hanya diam dan sibuk melihat ke arah luar melihat awan-awan .


Astaga ,telingaku...aku mohon ,jangan mencemari telingaku. Sudah cukup kalian mencemari penglihatan ku.


Batin Bram menjerit ,telapak tangannya spontan menutup telinganya berusaha merendam pendengarnya .


Happy reading


~Tyatyut

__ADS_1


__ADS_2