
Aura yang hendak mengunjungi tempat peluncuran produknya, tiba-tiba di panggil dari arah belakangnya, diapun menoleh dan melihat Hani yang tengah berlari mengejar dirinya.
Dengan sisa nafas yang tersia Hani menghentikan bosnya.
"Maaf bu, sepertinya anda tidak bisa menghadiri peluncuran produk baru kita, karena ada klien penting yang meminta bertemu." Ucap Hani.
"Maksud kamu, kita di acc?" Tanya Aura, dengan wajah sumuringah, menunggu jawaban dari Hani.
"Iya, selamat bu." Jawab Hani penuh haru. karena dia tahu bagaimana Aura berjuang untuk mendaptkan klien kali ini. Bahkan sang kakek yang merupakan bos sebelumnya tak mampu melakukan itu, winston berkali-kali ditolak untuk bekerja sama. itu yang mendasari Aura yang gigih mendaptkan kepercayaan klien barunya. Dia ingin membuktikan kepada kakeknya bahwa dia mampu dan bahkan bisa lebih dari sang kakek.
Aura memeluk Hani menyalurkan rasa bahagianya. Dia tidak percaya harinya akan tiba.
"Dimana pertemuannya?" Tanyanya kemudian
"Kebetulan klien kita sedang menginap di salah satu hotel di dekat sini."
"Baiklah, kamu gantikan saya menghadiri peluncuran produk baru kita, dan saya akan menemui klien penting itu."
"Baik bu." Jawab Hani yang kemudian berangkat.
Sementara Aura kembali keruangannya, dia akan melihat penampilannya terlebih dahulu, dia tidak ingin di pertemuan pertamanya mendapatkan kesan buruk.
Setelah mengecek semuanya, Aura mengendari mobilnya menuju alamat hotel tempat kliennya menginap.
Aura sebenarnya tidak begitu mengenal siapa CEO yang akan ia temui, dia hanya pernah bertemu beberapa utusannya saja, namun kali ini dia akan bertemu langsung dengan seorang yang amat penting dan jadi pembicaraan di setiap halaman surat kabar.
Aura di minta menunggu di resto hotel tersebut, dan disana sudah tersedia beberapa menu sarapan,Aura bepikir mereka akan membicarakan bisnis sambil sarapan bersama.
__ADS_1
Aura sudah berkali-kali menggeser duduknya, dia merasa gugup, bahkan tangannya pun terasa sangat dingin. Kembali melihat jam di pergelangan tangannya, baru saja lima menit ia duduk menunggu, tapi rasanya dia sudah menunggu sangat lama.
Aura sedikit berdehem, saat seorang pria masuk melalui pintu kaca, seorang pria dengan pakaian santainya, hanya menggunakan kaus putih dan juga celana panjangnya,namun terlihat sangat menyilaukan. Mungkin karena ada matahari pagi di sekitar mereka, namun bukan itu, memang pria ini terlihat sangat berkharisma.
"Selamat pagi!" Ucapnya mengulurkan tangan.
Aura terdiam sesaat, dirinya sangat terpukau, tak lama diapun berdiri, menjabat tangan si pria yang diketahu ternyata bisa berbahasa Indonesia, Aura tidak berpikir bahwa kliennya berasal dari negara yang sama dengannya.
"Selmat pagi, saya Aura winston, dari twins grup." Jawab Aura, kemudian membuang semua bayang fantasi tentang pria tampan di depannya.
"Seteven Gerald, silahkan duduk!" Ucapnya menyebutkan nama dan mempersilahkan Aura untuk duduk kembali.
Aura di buat semakin meleleh karena senyum yang memamerkan gigi putihnya yang berbaris rapi. Namun dia sangat berusaha menyembunyikan semuanya.
Tak lama datang seorang wanita yang sepertinya sekretaris yang merangkap sebagai kekasih ataupun hal lainnya, membawa beberapa berkas milik perusahaan aura.
"Baiklah, saya mengerti. Anda dapat melihat lebih jauh lagi."
Ternyata tak mudah, Aura pikir dia aka membicarkan langkah kerjasama lebih dalam lagi, namun ternyata belum samapi sejauh itu, perusahaannya belum benar-benar dapat kepastian.
...****************...
Hani mendapat kepanikan, beberapa orang yang mencoba produk baru perusahaanya tiba-tiba mengeluhkan sakit diperutnya. Hani di buat kelimpungan dengan semua keluhan yang ada, bahakan dirinya hanya seorang diri disana bersma tim yang ditugaskan, Reza yang semula akan menemaninya pun tak juga datang.
"Panggil petugas medis." Ucap Hani sedikit berteriak kepada kepala tim.
Hani pun tak memiliki jalan keluar lain selain melaporkan keadaan kepada Aura yang saat ini sedang bersmaa klien pentingnya.
__ADS_1
Namun berkali-kali dia mencoba menghubungi Aura tak satupun panggilannya di terima Aura.
Tak sampai disana Hani pun menghubungi Reza, dan ternyata ponsel Reza tidak aktif.
"Aku harus bagaimana?" Ucapnya semakin Panik.
"Anak saya kesakit, bagaimana tanggung jawab kalian." Teriak dari beberpa pelanggan yang barusaja dapat produk gratis dari promosi produknya.
"Ibu mohon di tunggu, dokter sedang menuju kemari." Jawab Hani mencoba menenagkan.
Suasana pagi yang cerah berubah menjadi ricuh, bahkan semua yang orang yang berniat berbelanja menjadi penonton yang menyaksikan kekacauan itu dengan ikut saling berteriak dan berkata kasar.
Tak lama beberpa paramedis datang dan melakukan pertolongan pertama, dan juga sebagian pelanggan yang kesakitan di larikan ke rumah sakit terdekat.
Hani sedikit tenang karena beberapa orang sudah diamankan, bahkan kerumunanpun sudah di bubarkan oleh petugas keamanan supermarket tersebut.
"Bu Aura tolong angkat telphonnya." Jerit Hani dalam hatinya.
Dia baru kali ini menangani hal semacam ini, membuat jantungnya seakan copot, karena ini menyangkut nyawa orang lain.
Tak hanya sampai disitu, Hani tiba-tiba di beritahukan oleh salah satu anggota timnya, bahwa ada wartawan yang meliput kericuhan ini. dan itu membuat Hani menjadi panik kembali, dia berusaha bersembunyi, karena bukan wewenangnya menangani pers.
Hani bersembunyi di sekitar parkiran mobil, dengan maksud menemukan mobilnya dan pergi dari supermarket itu, karena sebagian besar korban produknya sudah di larikan ke rumah sakit.
"Bukankah ini mobil pak Reza?" Tanyanya dalam hati, saat dia bersembunyi tepat di belakamg mobil milik Reza.
"Ternyata Pak Reza sedari tadi ada disini." Ucap Hani menjadi curiga, karena di situasi seperti ini tidak mungkin Reza tidak mendengar kericuhan di tempat miliknya sendiri sedangkan dirinyapun berada di tempat yang sama.
__ADS_1