
Diana merasa sudah sangat bosan sudah beberpa hari berada di dalam villa, tak ada kegiatan lainnya selain berkeliling mengitari kawasan vill dan juga udara yang dingin membuatnya hanya ingin berada di dalam kamar saja.
"Sampai kapan kita disini?" Tanya kesal Diana, menghampiri Reza yang sedang menyiapkan sarapan pagi untuknya.
"Tunggu beberapa hari lagi. kamu sabar ya sayang." Ucap Reza menghampiri Diana dan memeluknya.
Bukan ini yang Diana inginkan, kemudian Diana mendorong tubuh Reza, melepaskan pelukan yang Reza berikan.
"Aku ingin pulang sekarang." Teriak Diana yang sudah tak bisa menunggu lagi.
"Apa ada yang kamu sembunyikan?" Tanya Diana mulai menaruh curiga kepada Reza.
Reza memang belum mengatakan alasannya berada di villa beberapa hari terakhir ini. Dan memang Diana tidak boleh mengetahuinya.
"Oke, kita pulang sekarang." Ucap Reza kemudian pergi dari hadapan Diana.
Reza terpaksa menuruti keinginan Diana, demi lepas dari kecurigaannya. Reza segera mencari ponselnya dan ia mengetikan nama Haris di layar ponselnya. Sebelum kembali ke jakarta, Reza ingin memastikan semua keaadaan disana terlebih dahulu.
"Hallo, Bagaimana keadaannya sekarang? sampai kapan aku harus bersembunyi disini?" Tanya Reza dengan suara pelan, dia takut percakapannya terdengar oleh Diana.
"Semuanya sudah Aman. Tuan sudah membereskan semuanya." Jawab Haris. Memang semua sudah di tangani oleh kakek winston. dan tak dapat di pungkiri bahwa kakek winston sudah tahu bahwa Reza dalang di balik semuanya.
Setelah memastikan semuanya Aman, Reza merasa sedikit lega, dan dia tidak lagi mengkhawatirkan Diana yang mulai mencurigainya.
...****************...
Suara ketukan pintu terdengar dari luar apartemen Aura. Siapa lagi kalau bukan Kenzo yang sudah berjanji akan mengantarnya sampai bandara. Aura yang sedang berdandan dan masih menggunakan handuk kimononya bergegas untuk membukakan pintu untuk Kenzo.
"Silahkan masuk!" Ucap Aura mempersilahkan Kenzo untuk masuk kedalam apartmentnya.
__ADS_1
Kenzo terpana, melihat keadaan Aura yang masih berbalut kimononya, tak bisa di pungkiri sebagai seorang lelaki normal melihat pemandangan yang sudah jarang di lihatnya.
Kenzo menelan ludah, nafasnya pun mulai tak beraturan, jika diteruskan seperti ini bisa-bisa Kenzo mengakhiri paginya berada di ranjang milik Aura.
Jiwa lelakinya memang sedang meronta-ronta. Diapun mencari peralihan dengan menoleh kearah dapur Aura yang masih terlihat bersih.
"Kamu pasti belum sarapan!" Ucap Kenzo berbelok menuju arah dapur.
"Iya, kamu mau buat sarapan untuk aku?" Tanya Aura, sebab jarang sekali dia melihat Kenzo memasak.
"Iya. kamu lanjut saja." Jawab kenzo tanpa melihat lawan bicaranya. Jelas Kenzo sedang menahan untuk tidak melihat Aura.
"Ya sudah, aku kekamar dulu." Ucap Aura yang kemudian masuk kedalam kamarnya.
Setelah tak ada lagi sosok Aura di dekatnya, Kenzo merasa lega, dia segera membuang nafas yang sedari tadi berusaha ia tahan.
"Bisa-bisanya kamu biasa saja di depanku?" Gerutunya sambil mengiris bawang untuk menu yang akan dibuatnya.
Kenzo tetap berusaha mencari sambil kepala terus berpikir. Tidak mungkin dia mengetuk kamar Aura, bisa-bisa dia melihat penampilan Aura yang menurutnya sangat menggoda.
"Dimana kamu menyimpan Kecap?" Teriak Kenzo agar aura yang berada di dalam kamar mendengarnya.
Kenzo hanya berdiri di dapur dan menatap pintu kamar yang tertutup, dengan telinga yang di pasang setajam mungkin, kalau-kalau Aura menjawab dengan berteriak juga.
Tiba-tiba pintu kamar Aura sedikit terbuka, dan dia mengeluarkan kepalanya saja.
"Itu di dalam lemari sebelah kanan." Tujuknya dengan satu tangan yang juga ikut keluar dari balik pintu.
Kenzo melihat tangan halus Aura sampai ke bahunya yang tak tertutuop satu helai kainpun. Melihat itu semakin pusinglah kepala Kenzo.
__ADS_1
Kemudian Kenzo berusaha menyadarkan dirinya, membuang pikiran-pikiran kotornya dan ia pun mengikuti arahan dari Aura untuk menuju lemar yang ada di sebelah kanannya.
"Ngga ada Ra!" Jawab kenzo saat tak menemukan apapun di lemari yang di tunjukan Aura.
"Bukan disitu Ken." Teriak Aura kesal. Dia tidak bisa hanya menggunakan mulutnya, lama-lama mulutnya berbusa dan si Kecap tidak akan pernah ketemu.
"Tunggu, aku pakai baju dulu." Ucap Aura yang kemudian menutup pintu kamarnya kembali.
Benar saja dugaan Kenzo, bahwa Aura memang tak memakai sehelai benang pun.
Tak lama keluarlah Aura menggunakan kaus yang kebesaran, bahakn Aura terlihat tanpa menggunakan bawahan.
Aura bergegas menuju dapur dan membuka lemari temapt ia meletakan kecap. Saat Akan berbalik untuk memberikannya kepada Kenzo, tubuh mereka tak sengaja bertabrakan, sehingga Aura akan terjatuh, untung saja dengan sigap kenzo menarik pinggang Aura sehingga tubuh Aura menempel di tubuh Kenzo, seperi orang tengah berpelukan.
Tak bisa di hindari kedua Mata mereka saling bertemu, deru nafas yang semakin naik turun tak beraturan, terdiam cukup lama, seolah hati mereka yang tengah berbicara, sementara bibir mereka tetap diam.
Namun semua situasi canggung itu segera berakhir, karena nasi goreng buatan Kenzo mengeluarkan asap dan berbau gosong.
"Yah... gosong!" Ucap Aura melepaskan diri dan segera mematikan kompor.
Aura berusaha keluar dari situasi cangung itu, dan perlahan menjauh dari Kenzo.
Namun tidak untuk Kenzo. Dia masih terdiam, memikirkan tindakan yang selanjutnya akan ia lakukan, apakah akan berdampak baik atau buruk bagi hubungannya dengan Aura.
Namun ia segera menyingkirakn kebimbangan hatinya dan mulai meyakini diri untuk mempercayai dirinya sendiri.
Kenzo kemudian mendekati Aura dan menariknya sedikit menjauh dari dapur. Tanpa melepaskan genggaman tangannya, Kenzo berbalik mengahdap Aura kenudian dia menarik tekuk Aura, dan dia mulai mendekatkan bibirnya, bermain di benda kenyal milik Aura. Kenzo sempat ragu dan ingin menyudahi, karena tak ada balasan yang sama dari pemilik benda kenyal itu. Namun tanpa terduga Aura perlahan menyambutnya, dan itu adalah pertanda bahwa dia tak sepihak menikmati itu semua.
Kenzo bermain semakin dalam, dia sangat merindukan itu semua. Menangalkan kaus yang kebesaran di tubuh Aura. Kini mereka tak bisa menahan dinding yang selama ini mereka pertahankan.
__ADS_1
Mereka melupakan siapa diri mereka saat ini, bahwa mereka bukan lagi pasangan seperti dulu, Namun akal sehat memang sudah jauh mereka kesampingkan, yang ada hanya suara-suara merdu, juga deru nafas yang saling saut menyaut, memenuhi seisi ruang Apartment Aura. Mereka hanya berharap tidak ada yang masuk kedalam apartment. Karena mereka melakukan semua itu di sofa ruang tengah Apartment.