
"Sayang, aku ikut mobil kamu ya sampai supermarket depan, kebetulan diapers lexa habis." Ucap Diana, dengan menggandeng tasnya menghampiri Keanu yang hendak masuk kedalam mobilnya.
"Kamu bisakan minta antar supir." Jawab Keanu sinis.
"Tapi, kita jarang sekali keluar berdua." Ucapnya lagi, dengan tangan kanan menahan pintu mobil Keanu agar tidak tertutup.
"Aku sudah katakan jangan berharap lebih dariku." Jawab Keanu menarik pintu mobilnya agar tertutup.
Dengan sekuat tenaga Diana masih menahan pintu itu.
"Tapi, Nu..." Ucap Diana terpotong karena kehadiran Kenzo yang juga hendak menaiki mobilnya.
"Kalian ini pagi-pagi sudah membuat drama saja." Ucap kenzo melewati pasangan suami istri yang sedang bersitegang.
Saat sudah menaiki mobilnya, Kenzo menurunkan setengah kaca mobilnya, kemudian menengokan sedikit kepalanya keluar kearah adiknya.
"Lagi pula apa susahnya mengantar istri sendiri. sedangkan kamu, dengan mudahnya mengantar wanita lain." Ucapnya dengan senyum simrik.
Keanu berdecih, merasa kesal dengan apa yang baru saja diucapkan kakaknya. Saat ini kakaknya terang-terangan ingin mengejeknya.
Diana menatap kepergian kenzo, kemudian beralih menatap suaminya dengan penuh tanya, meski di dalam otaknya mengerti akan ucapan Kenzo bahkan sudah mendugannya, namun Diana menolak untuk mempercayainya.
"Apa maksud ucapan kak kenzo?" Tanya Diana menahan amarahnya.
"Sudahlah, tidak penting juga kamu tahu." Ucap Keanu menutup kasar pintu mobil lalu meninggalkan Diana yang masih berdiri menahan rasa sakit dihatinya. Menatap nanar kepergian Keanu, padahal akhir-akhir ini dia sudah berusaha untuk baik melayani suaminya, namun Keanu tetap tidak berubah. Membuatnya lelah dengan kehidupan yang ia jalani, sementara ada jalan lain yang menunggu kedatangannya, namun Diana masih enggan melangkahkan kaki berbelok kearah lain, dia masih ingin menunggu suaminya kembali mencintainya seperti dulu, meskipun tidak sepenuhnya. setidaknya Keanu tidak membencinya seperti sekarang.
"Oh tuhan, aku harus bagaimana?" Jerit hatinya. Diana menyeka sudut matanya yang mulai basah, dia tidak ingin mertuanya melihat wajahnya yang bengkak karena menangis.
"Kamu tidak jadi ke supermarket Di?" Tanya Siska saat Diana kembali masuk kedalam rumah.
Diana menarik nafas, sebelum menjawab pertanyaan mertuanya, dia tidak ingin mertuanya menjadi pelampiasan kemarahannya.
"Jadi mah, tapi nanti agak siangan." Jawab Diana, menahan senyumnya.
"Ya sudah kalau begitu, mama ikut ya Di, karena ada beberapa persedian dapur yang habis."
"Iya mah." Jawab Diana singkat, niat hati ingin berduaan dengan sang suami justru ia Lagi dan lagi berduaan dengan mama mertuanya.
...****************...
Seperti biasa Hani akan mengantarkan Aura menuju kantor dengan mengendarai mobil suv milik bosnya, namun Hani kebingungan karena kunci mobil tidak ada di tempatnya, sedangkan mobilnya madih ada di parkiran.
"Maaf bu, saya tidak menemukan kunci mobilnya." Ucap Hani mendatangi Aura dengan kepala yang ia tundukan, karena sejak pagi tadi mood Aura sedang berantakan. Apalagi dirinya sempat menggoda bosnya itu.
__ADS_1
Ah...
Aura ingat semalam kunci mobilnya diambil paksa oleh Keanu.
"Pakai mobil kamu saja. setelah itu kamu pergi ke kantor Keanu untuk mengambil kunci mobil saya." Ucap Aura masih asik menikmati sarapan paginya.
Hani meras lega, karena mood bosnya seperti ya sudah membaik.
"Baik bu, saya tunggu di bawah." Kemudian Hanipun pergi dari hadapan Aura.
Sepanjang perjalanan Aura hanya menatap layar padnya, mengecek pekerjaannya untuk hari ini. Tiba-tiba satu pesan masuk, yaitu dari Reza yang mengajaknya bertemu, karena pesan itu masuk di padnya itu berarti Reza akan membicarakan tentang pekerjaan.
"Nanti di pertigaan depan belok kanan." Ucap Aura kepada Hani.
Hani mengerutkan keningnya, karena jalan menuju kantor adalah belok kearah kiri.
"Kita mau kemana bu?" Tanya Hani kemudian.
"Saya akan bertemu pak Reza. kamu bisa lanjutkan pekerjaan kamu." Jawab Aura singkat. Diapun kembali fokus kelayar padnya.
Tibalah mereka di sebuah supermarket yang cukup besar di daerah itu.
"Jadi ini tempatnya." Ucap Aura saat sampai di depan supermarket, ternyata supermarket ini yang biasa ia datangi, karena tempatnya tak jauh dari rumah mantan mertuanya. Dan Aura baru tahu bahwa Reza adalah pemiliknya, dan sebagian besar produk perusahaannya di jual disana.
"Selamat siang?" Sapa Reza begitu Aura masuk kedalam ruangannya.
"Bagaimana menurut anda? pasti anda belum pernah datang kesini sebelumnya."
"Anda salah pak Reza, saya cukup sering berbelanja disini. justru saya baru tahu bahwa anda adalah pemiliknya."
"Karena anda pengganti pak Winston, jadi saya ingin mengajak anda melihat secara langsung bagaimana barang anda sangat di minati di tempat ini."
Reza mengajak Aura berkeliling mengitari supermarketnya, Diapun dengan jelas menjabarkan semuanya. Bahakan Reza bercerita bagaimana pertama kali bekerja sama dengan kakeknya.
"Saya ingin perbuahan di sisi sebelah sini." Unjuk Aura kepada beberpa produknya. Kemudian dia menjentikan jarinya berulang-ulang, sambil berpikir.
"Bagaimana jika diarahkan keseblah sini, supaya lebih terlihat, dan lebih memudahkan konsumen mencarinya. apa lagi produk ini sangat dibutuhkan."
"Baik, silahkan anda lihat-lihat dahulu, jika ada yang kurang pas lagi anda bisa langsung mengatakannya."
Aurapun terus melangkah maju, melihat kembali beberapa produk milik perusahaannya, sementara Reza tertinggal jauh dibelakangnya.
"Mama." Gumam Aura saat melihat siska berjalan mendekat kearahnya.
__ADS_1
Namun Aura sedikit terlambat untuk bersembunyi menghindari mantan mertuannya itu. Karena Siska sudah terlanjur melihanya.
"Sedang apa kamu di daerah sini?" Tanya siska menatap tak suka.
Aura berusaha tetap tersenyum ramah, menanggapi pertanyaan siska yang cukup sinis.
"Aku ada pekerjaan dekat sini, bagaimana kabar mama?"
Namun rupanya pertemuan mereka akan berujung dengan salah paham, karena Reza tiba-tiba sudah berada di belakangnya.
Siskapun beralih menatap pria di belakang Aura. dia merasa telah di khianati oleh orang yang sempat ia sayang juga banggakan.
"Ooh... ini namanya pekerjaan, bertemu pria ini adalah pekerjaan kamu sekarang. saya selalu penasaran mengapa kamu ingin bercerai dengan Kenzo, dan ternyata pria ini alasannya." Ucap Siska terdengar oelh beberpa pengunjung di sekitarnya.
Aura menoleh arah kanan dan kirinya, beberpa orang kini melihat kearahnya, bahakan saling berbisik.
"Bukan seperti itu mah." Sela Aura menyangkal semuanya.
"Sudahlah, sekarang saya tahu bahwa asal usul seseorang itu sangat penting, pantas saja kakek kamu tidak menerima kehadianmu." lanjut Siska yang kemudian pergi meninggalkan Aura.
Kini Aura hanya terdiam, ucapan siska sangat melukainya. dia tidak menyangka orang yang sebelumnya sangat baik kepadanya kini berubah. Terlebih lagi bukan hanya ada dirinya saja, tapi Reza menyaksikan itu semua.
"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Reza memegang kedua bahu aura, membantu menyadarkannya. karena sudah cukup lama Aura diam termenung.
"Maaf pak Reza, kita lanjutkan nanti." Jawab Aura melangkah menjauh drai Reza. Dia sudah kehilangan muka karena telah di rendahkan di depan rekan Kerjanya.
Saat Hendak mengejar Aura, tiba-tiba tangannya di tarik dari arah belakang dan ia di bawa ketempat yang cukup sepi pengunjung.
"Kenapa om masih bersmaanya?" Tanya Diana menahan kesalnya, karena dia harus melihat lagi Reza bersama Aura.
Reza merasa hari ini benar-benar beruntung, terlepas dari apa yang menimpa Aura. Karena selain bisa bertemu Diana, dia juga bisa membuat Diana kembali merasa cemburu.
"Justru itu yang seharusnya om katakan, kapan kamu akan datang kerumah dengan membawa anak kita?" Tanya Reza tersenyum jahat. Kemudain Reza teringat wanita yang tadi bersama aura dia baru menyadari bahwa itu mertua dari Diana.
"Atau om harus mengatakan yang sebenarnya kepada mertua kamu? kebetulan om tadi melihanya." Ancamnya kemudian.
Diana mencengkarm tangan Reza sangat Keras, dengan sorot mata tajam menatap Reza.
"Jangan om. jangan pernah mengancamku seperti itu." Ucapnya penuh penekanan.
Reza terkekeh, melihat ketakutan di mata Diana. Kemudian Reza mendekatkan bibirnya di telinga Diana.
"Om masih menunggu kedatangan kamu sayang, tapi saat ini om harus mengejar wanita baru om dulu." Bisiknya, kemudian berjalan mundur dengan senyum jahatnya, sementara Diana membelak menatap kepergian Reza.
__ADS_1