
Aura hanya Diam sepanjang perjalanan pulangnya bersama Seteven, dia kesal karena tujuannya menemui dokter untuk menanyakan tentang kemajuan kondisinya, dan itu hanya untuk kepentingan Seteven semata.
"Aku tidak ingin hadir di pesta itu." Ucapnya saat sudah turun dari gendongan Seteven. karena meski sudah dinyatakan kondisinya baik-baik saja, Seteven masih belum memperbolehkannya untuk banyak bergerak.
Seteven pun menoleh saat mendengar ucapan Aura itu. Dan mencoba tetap tenang, menahan diri, meskipun dirinya sudah tahu mengerti kemana arah ucapan Aura itu.
"Apa maksud kamu?"
"Kamu tahu bagaimana perasaanku saat aku menghadiri pesta kamu sebelumnya? Aku harus membohongi publik, dan bahkan menjadi orang lain." Ucap Aura Penuh penekanan.
Aura hanya tidak mau berpura-pura lagi di depan banyak orang, apa lagi pesta yang akan ia hadiri lebih besar dari sebelumnya yang pernah ia datangai, maka akan lebih banyak lagi orang yang hadir. dan itu membuat Aura tertekan.
Seteven mengerti dan paham dengan apa yang aura rasakan, karena dia selalu saja gugup jika menghadapi orang banyak maupun awak media. Namun acara pesta nanti sangatlah penting, dan tidak mungkin Seteven hanya datang seoarang diri, Bisa-bisa, berita tentang rumah tangganya akan tersebar keesokan harinya.
"Aku tidak pernah meminta kamu untuk berpura-pura, untuk menyembunyikan semua indentitas kamu. Kamu yang memutuskan itu semua." Ucap dengan tatapan tajam, bahkan hanya melihat tatapannya saja, sudah membuat Aura ketakutan.
"Memang aku menyarankan itu, tapi itu semua karena kamu yang memohon bantuan dariku. Dan kamu hanya memanfaatkanku."
"Aku memanfaatkan kamu?" Tanya Seteven menujuk kearah dirinya sendiri, kemudian ia terkekeh.
"Tidak Aura. Aku seperti ini karena kamu adalah istriku." Seteven mendekatkan jaraknya dengan Aura, bahakn deru nafas Aura sangat terasa di wajahnya.
Dengan sekuat tenaga Aura mendorong tubuh Seteven, memberi ruang untuk dirinya bernafas. Bodohnya lagi Jantung Aura berdetak kencang karena ulah Seteven.
"Jangan ngasal kamu, diantara kita tidak pernah adapq9o pernikahan." Ucap Aura memalingkan tubuhnya.
"Mari kita menikah!" Ucap Seteven mampu membuat Aura mengalihkan pandanganya lagi, saat ini Aura sedang menatap Seteven yang berdiri dengan sorot mata yang berbinar menatap kearahnya.
Entah itu serius atau hanya candaan yang Seteven lontarkan, namun Aura merasa Seteven mengucapkannya dengan tulus.
Aura menatap bingung kearah Seteven, seolah dia terjebak dengan pembicaraan ini. Aura perlahan bangun dari duduknya dan mendekat kearah Seteven.
__ADS_1
"Baiklah-baiklah aku datang. Jangan serius begitu." Ucap Aura menepuk lembut dada Seteven, berusaha menghindari semuanya pembicaraan serius yang di mulai oleh dirinya sendiri.
Namun Seteven menahan tangan Aura, dan itu membuat Aura tercengang. Aura merasakan hawa panas keluar dari tubuhnya bahakn aliran darahnya pun sangat deras terasa. Dia menutup kedua bola matanya berharap Seteven tak melakukan hal apapun kepada dirinya, kara Aura sadar ia telah membangunkan macan yang sedang beristirahat.
"Jangan banyak bergerak, sampai harinya tiba." Ucap Seteven mengangkat tubuh ringan Aura lalu di baringkan di atas kasur.
Seketika Jantung Aura seakan berheti, karena ia sudah membayakan hal buruk yang akan Seteven lakukan kepadanya.
Seteven pergi meninggalkan Aura dengan kebisuannya. Karena Aura tak mengucapkan apapun lagi setelah itu. Seteven masuk keruang kerjanya, dia melempar benda yang tak jauh dari tempatnya berdiri kearah dinding. Dia melampiaskan seluruh amaranya.
Pprrraannnng....
Suara dari patung hiasan yang ia lempar dan jatuh berkeping-keping di lantai.
Aaarrgghhh.....
Triaknya kemudian.
Seteven sangat marah, karena sampai saat ini dirinya belum bisa menyentuh hati Aura. setelah apa yang ia lakukan, tak ada satupun yang membuat Aura tersentuh.
"Siapa sebenarnya pria yang coba kamu pertahankan?"
Kini Seteven sangat penasaran, dengan sosok pria yang mampu membuat Aura tak merliriknya, membuat Aura tak tergoda olehnya. Disaat semua wanita menginginkannya, justru hanya Aura yang tak menoleh kearahnya.
Ajakan menikah darinya pun hanya di jadikan lelucon, Kalimat yang tak pernah ia ucapkan kepada wanita manapun, kalimat yang butuh usaha untuk di ucapkannya, semua itu tak berarti apapun untuk Aura.
Setelah sedikit mereda, Seteven memanggil para pelayan untuk datang.
Semua pelayan nampak terkejut, karena ruang kerja Seteven sangat berantakan, beberpa benda sudah tergeletak dinlantai.
"Kalian bersekan semua ini." Ucap Seteven yang kemudian pergi keluar dari ruang kerjanya.
__ADS_1
...****************...
Gea masih berada di rumah sakit menemani sahabatnya yang baru saja melahirkan bayi perempuannya. Sosok mungil yang membuat semua orang merasakan kebahagiaan saat melihat dirinya.
"Andai Aura ada disini, dia pasti sangat bahagia." Ucap Gea menatap bayi suci itu.
"Ya, kamu benar." Ucap Melly meneteskan airmata, saat mengingat Aura. Betapa dirinya sangat merindukan Aura.
"Ge kamu tahu, kepergian Kenzo memenuhi undangan itu semata-mata karena dia berharap ada Aura disana." Ucap Melly membuat Gea terbelak.
Gea terkejut, dia pikir itu hanya undangan biasa, namun ada misi di balik itu semua. Karena tak hanya Kenzo, keanupun ikut menemani kakaknya menghadiri undangan itu.
"Kamu yakin Aura ada disana?" Tanya Gea lagi.
"Kamu ingat berita yang kita lihat, dan kamu menyangka wanita itu adalah Aura, Kenzo berpikiran demikian, tak hanya Kenzo Denispun demikian." Jawab Melly menjelaskan.
Entah mengapa ada kekhawatiran tersendiri bagi Gea, Gea tidak tahu bahwa tujuan sebenarnya Keanu menemani Kenzo adalah untuk menemukan Aura. Dan Semua itu demi Aura.
Gea mengpalkan tangannya, mencoba menahan emoainya Agar tidak terlihat Melly.
"Kamu kenapa Ge?" Tanya Mellya, karena Gea tiba-tiba terdiam.
"Tidak apa-apa. Mell seperti aku harus pulang." Ucap Gea yang tiba-tiba pamit pulang, padahal dia berjanji menamani Melly dampai Denis datang.
Meli mengerutkan keningnya, merasa heran dengan perubahan sikap Gea.
Emosi Gea meledak-ledak saat dirinya hanya seorang diri di dalam mobil. Dia marah karena Lagi-lagi Keanu tak mengatakan dengan jujur alasan kepergiannya. Keanu sama sekali tidak membicarakan tentang Aura sedikitpun dan sampai akhir dia terus menyembunyikannya.
Gea memukul setir berulang, dia merasa tersakiti. Dia merasa selalu di bohongi.
"Benar yang dikatakan Diana. Aku hanya akan jadi yang kedua setelah Aura." Ucapnya teringat dengan apa yang pernah Diana utarakan.
__ADS_1