
Suara mesin Ekg jantung jelas terdengar di dalam ruangan yang sangat dingin dan juga hening. Tepat di sebuah ranjang VVIP sebuah kamar dalam rumah sakit yang sangat besar, berbaring seorang pria yang sudah hampir dua bulan lamanya tak sadarkan diri, bahakan hidupnya kini di bantu dengan mesin-mesin yang ada di sekitarnya.
Sejak kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya, kecelakan besar jatuhnya sebuah pesawat yang menewaskan setengah dari penumpangnya.
Flashback
Seteven yang sudah tak sabar menunggu pesawatnya yang akan mendarat sekitar dua jam lagi, mengambil majalah untuk mengisi waktu. Tiba-tiba Seteven merasakan sesuatu yang aneh di dalam pesawat, apa lagi ia melihat beberapa pramugari berlalu lalang melewatinya. Meskipun terlihat tenang, namun dengan aktivitas pramugari yang sering menuju kokpit membuat Seteven merasa curiga. ia sudah mempunyai insting bahwa pesawat yang ia naiki sedang dalam masalah.
Seteven beranjak dari tempat duduknya menuju toilet, dan di sana ia melihat dua orang pramugari dengan wajah tegang seperti sedang mendiskusikan sesuatu.
Namun begitu Seteven datang kedua wajah itu berubah ketegangan yang semula terlihat nampaknya segera di sembunyikan.
"Apa kita dalam masalah besar?" Tanya Seteven yang sedikit banyaknya tahu tentang dunia penerbangan dan bahkan dia mempunyai lisensi pilot, dan itu ia dapatkan untuk menerbangkan helikopter miliknya.
Kebetulan pramugari yang di tanyai Seteven mengenalnya, dan memberitahukan Seteven apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Seteven sangat terkejut,dia tidak bisa membayangkan yang akan terjadi untuk beberpa menit kedepan. Semua harapan untuk bertemu dengan Aura juga anaknya musnah seketika. Jangankan memikirkan hal itu, nasib hidupnya saja tidak bisa di prediksikan.
Seteven dengan wajah pucat kembali duduk di kursinya. Kemudian ia mengeluarkan ponselnya untuk memberi misi terakhir kepada orang suruhannya sebelum sinyal wifi di pesawat menghilang.
Beberapa saat kemudian terdengarlah suara teriakan dari ratusan orang yang tepat di area belakang tempat duduknya. Kepanikan, ketegangan melebur jadi satu, doa-doa juga permohonan tak luput di teriaki para penumpang. Pesawat semakin bergoyang tak terkendali, semua pasrah dengan kehidupan yang beberpa saat lalu di nikmati. Sampai terdengar dentuman keras yang menyebabkan semua teriakan yang semula terdengar kini hilang. Hening, seperti pesawat yang tak berpenghuni.
Flashbeck end.
__ADS_1
Kreeekkk.....
Suara pintu di dorong dengan pelan. Ini jadwal Abigail untuk membersihkan tubuh Seteven. Setelah kecelakaan itu, Abigail sebagai orang yang paling dekat dengan Seteven di berikan tugas untuk mengurusnya, karena Seteven hanya seorang diri, dia tidak memiliki keluarga selain para paman yang tinggal jauh. Dan tidak mungkin mengurus Seteven, karena mempunyai kehidupannya masing-masing.
Seperti biasa Abigail akan membasahi handuk dan di usap perlahan ke bagian tangan dan kaki Seteven.
"Kamu lihat, disini hanya ada aku saja. wanitamu tidak pernah datang sedetik pun. Tidak mungkin dia tidak tahu tentang kecelakaan pesawat yang cukup menggemparkan itu." Omel Abigail. Abigail masih merasa kesal karena Seteven mengejar-ngejar Aura, sampai dia harus mebgalami hal seperti ini.
Abigail banyak membicarakan sesuatu kepada Seteven, meskipun ia sadar dia takakan mendaptkan respon. Namun dia yakin Seteven tetap mendengarkan.
...****************...
Pembicaraan tentang pernikahan berjalan dengan lancar, meskipun Siska masih terlihat kesal, namun selama pembicaraan berlangsung, Siska tak mencoba untuk mengganggu atau memberatkan rencananya. Karena walau bagaimanapun pada akhirnya Kenzo mendapatkan apa yang di inginkannya. Juga adanya pernikahan, memang sangat dinantikannya.
"Kita pulang saja pah, Karena Kezara tidak bawa perlengkapan banyak untuk menginap." Jawab Kenzo, Aura memang hanya membawa perlengkapan milik Kezara seadannya, karena dia tidak berencana untuk menginap.
"Di sini ada perlengkapan milik lexa, Kezara bisa pakai itu." Lanju Rian lagi, Rian merasa pertemuannya dengan sang cucu hanya sekejap, meskipun banyak hari-hari esok untuk menemuinya lagi.
Karena kedua anaknya laki-laki, saat mengetahui bahwa cucunya adalah seorang perempuan, Rian sangat senang, karena dia sering mendengar cerita dari teman-temannya yang memiliki anak perempuan.
"Tidak pah, perlengkapan itu tidak boleh di pakai Kezara, mama akan buang semua. Kalian pulang saja." Siska menyela, ini adalah kaliamat pertamanya yang di ucapkan. Karena sedari tadi Siska diam dan hanya mengagguk saat di mintai persetujuan.
Rian mengerenyit, karena perlengkapan Lexa sangat banyak dan itu akan di buang istrinya, bahkan banyak yang hanya terpakai sebentar.
__ADS_1
"Kenapa di buang mah, itu masih sangat bagus."
"Mama tidak akan membiarkan Kezara memakai bekas anak itu. Mama akan ganti semuanya." Sikap protektif Siska akhirnya ada untuk Kezara. Siska bersikap demikian karena sudah terbukti bahwa Kezara memang cucunya. Dan dia tidak sudi jika cucunya memakai barang bekas.
Aura dan Kenzo saling melirik dan melemparkan senyuman, mereka bahagia karena Siska ternyata peduli kepada Kezara.
"Aku dan Aura pulang dulu ya mah, pah." Pamit Kenzo menyalami kedua orang tuanya, dengan Aura mengikuti di belakangnya. Tak lupa Siska dan Rian menggendong Kezara sebentar secara bergantian.
"Hati-hati membawa mobilnya. Ingat sekarang ada bayi di dalam mobil." Rian mengingatkan, karena dia tahu bagaimana cara anaknya mengendarai mobil.
Kenzo dan Aura pun akhirnya meninggalkan pekarangan rumah, mereka sangat senang karena akhirnya mendaptkan restu dengan mudah, meskipun tetap saja ada sedikit permasalahan tapi semuanya sudah selesai. Dan juga Keanu mengambil pernannya untuk menyelesaikan masalahnya.
"Aku tidak sadar Keanu mengambil sobekan kertas itu dari tempat sampah.Dan dia menyusunnya kembali." Ucap Aura saat mereka sudah di perjalanan pulang.
"Kita harus berterimakasih kepada Keanu." Kenzo memikirkan sesuatu untuk ia berikan kepada Keanu.
"Iya kamu benar." Jawab Aura yang kemudian menguap dan segera menutup mulut dengan tangannya.
"Kamu pasti lelah." Kenzo melirik kearah Aura, yang menahan kantuk. "kamu bisa tidur dulu." Kemudian Kenzo menyandarkan kepala Aura di pundaknya.
"Aku sangat bahagia sekali, bisa merasakan bagimana menerima restu, membicarakan pernikahan, dan rencana-rencana kedepannya yang dulu tidak sempat aku rasakan saat kita akan menikah." Aura akhirnya bisa merasakan perasaan yang wanita umumnya rasakan, Karena pernikahan pertamanya, memang tidak begitu ia inginkan.
"Karena dulu kita di jodohkan, aku pun menyerahkan semuanya kepada papa. Kini aku bisa merasakan seperti pria pada umumnya."
__ADS_1
Mereka larut dalam obrolan ringan, membahas masa depan juga sedikit mengintip masa lalu, di sepanjang perjalanan pulangnya.