
Seteven menoleh kearah pintu yang terbuka, dia dikejutkan dengan kedatangan Abigail. Karena dia sempat bepesan untuk tidak ada yang mengganggunya selagi dirinya masih di rumah sakit.
"Kenapa kamu datang kesini?" Tanya Seteven dengan wajah tak suka.
Abigail sudah terbiasa dengan sikap Seteven yang selalu berubah-ubah terhadapnya.
"Aku bawakan baju ganti juga sedikit makanan untuk tuan." Jawabnya mengitari belakang Seteven dengan tangan yang membelai punggungnya.
Seteven hanya membuang nafas kasar dengan apa yang di lakukan Abigail. kemudian berbalik kearah Abigai yang kini berada di samping Aura yang masih tak sadarkan diri.
"Apa yang terjadi antara Tuan dan wanita ini?" Tanyanya menatap Aura dengan tatapan kemarahannya.
Saat mendengar berita Seteven kecelakaan bersama seorang wanita membuatnya sangat kesal, karena ada seorang wanita yang lolos dari pantawannya. Namun saat dia tahu bahwa wanita itu adalah Aura, Abigail menjadi tak terkontrol. Dia sangat marah bahkan berharap Aura tak akan pernah selamat.
Bahkan saat ini dalam kepalanya dia sedang membayangkan dirinya sedang mencekik Aura.
"Bukan urusan kamu. Silahkan pergi!" Ucap Seteven mengusir Abigail.
Sebisa mungkin Abigail tahan rasa kesalnya, karena dia merasa Seteven lebih memilih wanita asing itu dari pada dirinya yang telah setia menemaninya.
Lagi-lagi Abigail mendekati Seteven, bahkan tangannya menyusup kesela ketiak Seteven sehingga Abigail memeluknya dari belakang.
"Tuan yakin tak membuthkan ku disini?" Bisik Abigail di telinga Seteven.
Seteven mengusap lembut pipi Abigial yang tepat di sebelah kanan kepalanya,lalu mengusap sampai ke rambutnya.
"Pergi dari sini!" Ucapnya dengan rahang yang mengeras. Juga tangan yang menarik rambut Abigail.
Abigail meringis kesakitan, kemudian dia melepas pelukannya dari tubuh Seteven, dan pergi dengan membawa kemarahannya.
__ADS_1
Setelah melihat Abigail keluar, Seteven melepaskan jas yang iabapakai dan melemparkannya sembarang, dia sangat kesal karena Abigail datang tanpa tahu kondisi apa yang tengah ia hadapai.
Disaat dirinya tengah mengontrol amarahnya, tiba-tiba dari sudut matanya terlihat jari jemari Auravyang bergerak, iapun segera duduk disampingnya dan mencoba memanggil-manggil nama Aura.
"Aura, kamu sudah bangun?" Tanya Seteven yang kemudian memijit tombol untuk memanggil dokter.
hanya dengan hitungan jari, para dokter dan perawat datang ke kamarnya. dan kemudian mencoba mengambil alih Aura untuk di periksanya.
"Saya ada dimana dok?" Tanya Aura saat kesadarannya sudah kembali. Kemudian dia meraba perutnya. "Bayi saya...?" Tanyanya dengan wajah tegang.
"Anda tenang dulu, semuanya baik-baik saja, anda beruntung, karena datang dan di tangani dengan cepat." Jawab dokter. Kemudian beralih kepada Seteven.
"Kami masih harus memantau Ny Aura." Ucap dokter kepada Seteven yang kemudian pergi setelah menyampaikan semuanya.
Seteven membalikan badannya, dia menatap Aura yang saat ini juga menatap kearahnya.
"Bagaimana keadaan kamu? Tanya Seteven yang kemudian meraih tangan Aura untuk di genggamnya. "maaf telah membuat kamu seperti ini." Lanjutnya lagi.
"Aku yang menyebabkan semua ini, terimakasih sudah menyelamatkan ku." Ucap Aura yang kemudian meneteskan air matanya.
...****************...
Kenzo kini sudah kembali, dia kembali dengan hati yang senang, meskipun diasana tak bertemu dengan Aura, setidaknya sebentar lagi dia akan bertemu, melepaskan rasa rindu dan juga mulai menata hubungannya kembali.
Dengan masih membawa kopernya, Kenzo mengendarai mobilnya sampai di kawasan Apartment milik Aura. Dengan langkah riang, Kenzo berjalan menuju Apartment Aura.
Namun sudah berkali-kali ia memijit bell, tak ada respon apapun dari dalam. dia kemudian merogoh sakunya untuk mebgambil ponselnya.
Dan ponsel Aura masih belum aktif. bahkan Aura bekum membaca pesan yang ia kirimkan beberapa hari lalu.
__ADS_1
"Kamu kemana Ra?" Tanyanya cemas.
Saat dirasa Apartment Aura kosong iapun menuju resto Denis dengan harapan Melly tahu keberadaan Aura. Sebelum itu diapun menghubungi kontor Aura bhakan Hani pun tak luput dari sasarannya mencari Aura. Namun semuanya mengatakan bahwa Aura belum kembali dan mereka pun belum mendaptkan kabar terbaru dari Aura.
Dia menginjak gas, dan jarum kecepatan terus menaik. dia ingin segera sampai di tempat Denis.
"Den, Melly mana?" Teriak Kenzo dari luar resto mencari Melly.
"Kapan kamu datang?" Tanya Denis yang terkejut dengan kehadiran Kenzo.
"Melly mana?" Tanyanya lagi.
"Diatas!" unjuk Densi dengan wajah tegang. Karena Kenzo terlihat sangat serius.
Denispun mngekori Kenzo sampai masuk kedalam rumah untuk menemui istrinya.
"Kamu tahu diaman Auar?" Tanya Kenzo langsung tanpa menjelaskan permasalahnnya lebih dulu.
"Dia di inggri, bukannya kamu pergi untuk mencarinya disana?" Ucap Melly terheran-heran dengan kehadiran Kenzo dan tiba-tiba menanyainya tentang Aura. Jelas-jelas dia yang pergi untuk menemui Aura disana.
"Aura tidak ada. dia tidak ada dimana pun." Ucap Kenzo merasa frustasi. kemudian duduk tertunduk.
Melly dan Denis sontak saja menghamoiri dan duduk di samoing kanan dan kiri Kenzo.
"Bagaimana bisa begitu?" Tanya Denis kemudian.
"Aura sudah pulang, itu yang dikatakan maminya. Tapi di rumah dan di kantornya, Aura tidak ada. mereka mengatakn bahwa bosnya itu belum pulang. Jadi Aura dimana?" Ucap kenzo menjelaskan kepada sahabatnya.
"Ini aneh, atau jangan-jangan Aura diculik." Ucapan Melly yang membuat Denis melototinya. Melly bukan sembarng berbicara, dia mengatakan hal itu karena rekan bisnis baru Aura, Seteven Gerald. menurut gosip-gosip yang beredar ada kemungkinan Seteven Gerlad terlibat.
__ADS_1
"Kita tunggu saja, ini baru beberapa hari dari terakhir Aura menghubungi. Kamu tenang, Aura akan baik-baik saja." Ucap Densi menenangkan sahabatnya.