
Reza merasa Diana sangat sibuk akhir-akhir ini, bahkan pekerjaanpun Diana tak punya, jadi wajar saja Reza merasa aneh dengan sikap Diana yang tiba-tiba banyak alasan untuk bisa pergi.
"Kamu pergi kemana lagi?" Tanya Reza saat Diana hendak pergi bahkan dia melewatkan sarapan paginya.
"Aku harus bertemu Nina, maaf om jadi sarapan sendiri." Jawab Diana yang kemudian mencium kening Reza, sebelum pergi.
"Nanti siang kita harus ke butik, kamu tidak lupa kan?" Tanya Reza yang sontak saja menghentikan langkah Diana.
Diana mengambil nafas dalam, sebelum berbalik menghadap Reza.
"Kenapa dia harus ingat sih." gerutu Diana dalam hatinya.
"Apa harus hari ini? Kita tunda dulu, aku sudah ada janji siang ini." Jawab Diana berusaha membujuk Reza dengan senyumannya.
"Kamu sadar kita sudah menundanya tiga kali." Ucap Reza yang kemudian menyudahi sarapannya dan berjalan mendekati Daian. Refleks Diana mundur, jantungnya tiba-tiba berdetak cepat, Berkali-kali dia mengerejapkan kedua matanya, karena Reza semakin mendekat dengan menatapnya tajam kearahnya.
"Kamu tidak sedang merencanakan sesuatu untuk pergi dariku bukan?" Tanya Reza yang membuat Diana berdiri gemetar.
Perlahan Reza mengusap lembut pelepis sampai ke pipi Diana.
"Kamu melupakan sesuatu sayang, Jangan buat aku melakukan itu." Lanjut Reza dengan pandangan semakin menusuk.
Nafas Diana tercekat, dia shock melihat sifat asli Reza, Reza yang dulu selalu menuruti kata-katanya. Reza yang dulu selalu lembut kepadanya, kini berubah total.
Diana mendorong Reza sekuat tenaga, kemudian dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Om membuatku takut." Ucapnya sambil mulai terisak.
Melihat Itu Reza merasa bersalah, dia pikir Diana akan menentangnya balik, dia tidak berpikiran seorang Diana akan menangis. Kemudian Reza memeluk erat Diana mengucapkan maafnya.
"Maafkan aku telah membuatmu takut." Ucap Reza mengusap pundak Diana, dia menyesal telah melakukan itu.
"Aku tidak pernah berpikir untuk pergi dari Om, hanya saja memang hari ini aku sudah berjanji untuk mengganti mama menjaga Lexa." Ucap Diana menyembunyikan senyum di balik punggung Reza.
__ADS_1
"Lagi-lagi aku membuat kesalah." Ucap Reza semakinmemeluk erat Diana.
"Tidak Om, aku mengerti." Jawab Diana yang kemudian melepas diri dari pelukan Reza lalu melihat jam di tangan kirinya. "Aku harus pergi sekarang." lanjutnya dengan tatapan menyesal.
"Ya, jangan buat Lexa menunggu."
Dianapun berhasil pergi dan menunda rencana yang sudah Reza buat untuk pernikahannya. Selama dia menjadikan Lexa sebagai semua alasannya, maka Reza masih berada di genggamannya.
Setelah Diana Pergi, Reza kembali duduk di meja makannya, kemudian dia merasa telah kalah lagi dari Diana. Reza yang kesal menyapu semua yang ada di meja dengan tangannya.
"Kenapa aku tak bisa berkutik?" Tanyanya dengan berteriak. Saat ini Reza marah kepada dirinya sendiri, yang selalu lemah di depan Diana. Selalu saja dirinya yang harus mengalah.
...****************...
Aura meraba tenggorokannya, dai merasa sangat haus, dia mencoba meraih gelas yang berada di meja samping ranjangnya, namun tangannya tak cukup untuk meraih gelas itu, kemudian sia melirik kearah Seteven yang sedang fokus dengan posnelnya, dia ingin meminta bantuannnya, Namun Aura merasa sangat cangung.
Aura terkejut saat gelas yang ingin diraihnya, tiba-tiba terangkat, kemudian dia mendongkakan kepala, ternyata Seteven sudah mengambil gelas itu.
"Apa sulit meminta bantuanku?" Tanyanya yang kemudian memberikan gelas yang berisikan air putih itunkepada Aura.
"Justru erangan kamu yang menggangguku." Jawab Seteven membuat Aura tersedak.
Uhuk...uhukk....
Dengan sigap Seteven mengambil tisue dan menyeka bibir Aura. Tatapan keduanya saling beradu, membuat jantung Seteven tiba-tiba berdegup kencang.
"Aku bisa sendiri." Ucap Aura mengambil tisue dari tangan Seteven.
Seteven pun berdehem, memecah kecangungan, lalu dia duduk kembali.
"Sampai kapan kamu disini? Apa kamu tidak akan pulang?" Tanya Aura, Karena Seteven belum meninggalkannya sedetik pun.
"Aku tidak akan pergi. karena kamu tidak tahu apa yang terjadi di luar sana." Ucap Seteven yang membuat Aura bungung.
__ADS_1
"Kamu lihat!" Ucap Seteven menyalakn berita di televisi yang masih memberitakan tentang dirinya.
"Itu..." Ucap Auravyang tak bisa meneruskan kata-katanya setelah melihat berita tentang dirinya di televisi, meskipun identitasnya belum di ketahui.
"Apa rencana kamu?" Tanya Aura kemudian. dia sadar ini semua adalah salahnya, jadi dia harus mencari jalan keluarnya.
"Kita harus menikah." Ucap Seteven membuat Aura sangat terkejut.
"Menikah? Kamu gila, aku tidak mau." Tolak Aura tanpa mempertimbangkannya.
"Mereka tahun kamu hamil."
"Aku sudah punya kekasih, bisa saja ini adalah anak dari kekasihku." Ucap Aura dengan pasti, dia yakin bahwa yang ada di kandungannya adalah anak dari kenzo.
"Apa ada bukti bahwa itu, anak kekasihmu,Bagaimana jika itu anakku?" Tanya Seteven yang membuat Aura langsung terdiam.
Aura sangat putus asa, dia tidak ingin menyakiti Kenzo lagi. Jika Kenzo mendengar kabar bahwa dia menikah dengan Seteven, aura tak tahu akan sesedih apa Kenzo.
"Aku yakin ini adalah anaku dengan kekasihku, karena aku tidak merasa melakukannya dengan kamu." Ucap Aura yang membuat Seteven tersenyum simrik.
"Apa aku harus melakukannya lagi agar kamu merasakan kehebatanku?" Tanya Seteven yang mendekatkan jaraknya dengan Aura.
"Ini tidak lucu Seteven Gerald." Ucap Aura penuh penekanan, menyebutkan nama lengkap pria yang saat ini hanya berjarak beberpa centi saja dengannya.
"Maka dari itu ikuti saja permainanya. Lagi pula ini demi citra baiku, dan juga perusahaan. Dan twins grup pasti akan menikmati keuntungannya."
Aura tertawa di balik wajah dinginnya. "Jadi hanya untuk citra baik mu saja." ucap Aura pelan namun masih terdengar.
"Baiklah, dengan satu syarat." Lanjut Aura, membuat Seteven tersenyum penuh kemenangan. Kemudian Seteven duduk dan menyilangkan kakinya.
"Apa syaratnya?"
"Aku ingin identitas baru. bukan Aura yang menikah denganmu tapi orang lain." Ucapan Aura yang menarik perhatian Seteven.
__ADS_1
"lalu wajah kamu?"
"Itu akan jadi urusanku." Jawab Aura yang sudah memiliki ide di kepalanya.