
Seperti biasa Abigail sudah ada di dalam kamar rawat Seteven untuk sekedar menyapa dan membersihkan tubuh Seteven, sebelum dirinya berangkat ke kantor.
Abigail merasa ada pergerakan saat ia membersihkan jari jemari Seteven. Abigail yang terkejut segera meletakan tangan bosnya dan melihat dengan seksama apa yang di rasakannya tadi.
"Ayo, aku mohon." Teriak dalam hatinya, meminta seteven agar segera sadar.
Abigail sangat bahagia karena ia melihat jari jemari Seteven bergerak meskipun sangat lemah. ia pun segera memijit bell untuk memanggil dokter.
"Dok, saya liht jarinya bergarak." Ucap Abigai begitu dokter datang.
Dokter pun segera memeriksa Seteven.
"Tuan Seteven, apa anda mendengar saya?" Tanya dokter mencoba membangunkan Seteven.
"Anda bisa membuka mata anda perlahan."
Seteven yang mulai sadar, perlahan mengikuti intruksi yang dokter berikan.
"Kaki saya, saya tidak bisa merasakannya." Ucap Seteven panik karena tak dapat merasakan apapun di bagian bahwanya.
Abigail merasa tegang, dia takut jika Seteven mengamuk saat tahu kondisi tubuhnya setelah kecelakaan pesawat itu.
"Anda datang dengan kondisi yang sangat tidak baik. bahkan anda menjalani banyak oprasi, itu semua demi menyelamatkan nyawa anda. Untuk sementara anda tidak bisa menggunakan kedua kaki anda. Anda harus menjalani fisioterapi agar bisa berjalan kembali, meskipun tidak akan sama seperti dulu. anda akan memakai alat bantu."
Seteven sangat shock, separah itu kondisi dirinya. Namun ia sudah menyadari semua itu, karena kakinya tertimpa benda berat saat kecelakan itu terjadi.
"Baiklah, saya permisi." Dokterpun pamit meninggalkan kamar Seteven.
"Tuan, akhirnya anda bangun. saya sangat senang." Abigail duduk mendekat, tak terasa ia menetes kan airmatanya.
"Sudah berapa lama saya tak sadarkan diri?"
"Tiga bulan, waktu yang cukup lama bukan."
"Mana ponsel saya?" Tanyanya kemudian, dan cukup membuat Abigai kesal, karena saat terbangun yang ia cari adalah ponselnya, sedangkan dirinya yang sudah tiga bulan ini menemani, diabaikannya.
"Ponsel anda hilang saat kecelakan itu." Jawab Abigail.
"Arrgghh.... Belikan saya ponsel baru." Pinta Seteven yang segera di setujui Abigai.
Begitu sadar yang Seteven ingat adalah Aura, dia ingin tahu keadaan Aura selama tiga bulan ini. Dia juga ingin tahu keadaan anak yang Aura lahirkan. Menanyakan misi terakhir yang ia berikan kepada orang suruhannya. Apakah gagal atau berhasil. Banyak sekali yang ia pikirkan sampai ia tak memperdulikan kondisi tubuhnya sendiri.
__ADS_1
...****************...
Kesibukan baru Aura setelah memiliki anak, yaitu mengurusi sang bayi dari mulai bangun sampai tidur lagi. Aktivitas yang cukup menguras energi namun Aura sangat menikmati, karena dia tak hanya sendiri ada Kenzo yang setia mendampingi, saat dirinya terbangun karena tangisan Kezara, justru Kenzo lah yang lebih cepat, sigap menengkan sang bayi.
"Kamu tidur saja, bukan kah besok kamu harus memimpin rapat." Ucap Kenzo dengan sedikit berbisik karena dirinya tengah menidurkan kembali Kezara yang terbangun.
Memang besok Aura dijadwalkan untuk rapat mengenai perkembangan perusahaan selama di tinggal olehnya. Karena kinidirinya telah kembali, maka sudah menjadi tanggung jawabnya kembali memimpin perusahaan.
Melihat kenzo, Aura tak tega jika membiarkannya begadang mengurus Kezara sementara dirinya tidur. karena sama, Kenzo pun besok harus bekerja.
"Sepertinya kantukku hilang, mau aku buatkan kopi?" Tanya Aura, hendak keluar kamar untuk membuatkan kopi agar bisa menemani calon suaminya begadang mengurus bayi mereka.
"Boleh." jawbnya disertai anggukan kepalanya.
Aura segera beranjak keluar dari kamarnya, menuju dapur untuk membuatkan kopi.
Saat sedang menyeduh kopi, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Agak aneh karena tidak biasanya ada orang menghubunginya di tengah malam. Aurapun melirik kearah ponselnya, ia melihat nomor tanpa sebuah nama menghubunginya.
"Siapa sih, tengah malam begini." Gerutunya, mengabaikan deringan ponselnya.
Karena Aura tidak mengenal nomor tersebut, ia pun tak ambil pusing, dan melanjutkan menyeduh kopi untuk calon suaminya itu.
Dengan membawa dua cangkir kopi kembali menuju kamarnya, ia melihat Kenzo sudah berhasil menidurkan kembali Kezara.
Duduk berdampingan,sambil menyeruput kopi, membawa ketenangan malam yang sangat mereka butuhkan, setelah seharian bergelut dengan aktivitas padatnya.
"Kamu sedang mengerjakan apa?" Tanya Aura yang mengetahui suaminya sudah tengah malam namun belum juga tidur.
"Kamu lihat ini!" Kenzo memperlihatkan isi laptopnya .
"Dari tadi kamu membuat ini?" Aura terperangah, karena Kenzo begadang bukan urusan pekerjaannya,melainkan membuat undangan pernikahan mereka.
"Iya. Bagaimana? Apa ada yang kamu suka diantara ke lima contoh undangan itu?
"Aku bingung, ini bagus semua."
Aura sangat tersentuh, Kenzo berusaha mewujudkan pernikahan sempurna untujnya, bahkan dari hal terkecil seperti undangan ia buat sendiri.
"Kamu pasti lelah membuat semua ini?" Tanya Aura masih memilah-memilih undangan yang terpapang jelas di layar laptop.
"Aku sangat menikmatinya, aku ingin pernikahan kita sesuai dengan yang kita inginkan."
__ADS_1
Aura sudah mendaptkan apa yang ia sukai dari kelima contoh undangan yang Kenzo buat.
"Semuanya sangat cantik. Tapi, sepertinya ini lebih cocok dengan tema pernikahan kita nanti." Unjuk Aura kepada contoh undangan nomor 3.
"Baiklah, sepakat kita pilih yang ini." Kenzo kemudian mengirim sampel undangan kepada orang yang ia percaya untuk mengurus pernikahannya.
Ditengah-tengan Aura yang sedang berbincang mesra dengan Kenzo, ponsel Aura berdering lagi. Kemudian Aura melirik ponselnya dan kembali melihat nomor asing yang tadi kembali menelphonnya. Aura pun segera mengabaikan dengan mematikan ponselnya.
"Siapa?" Tanya Kenzo yang melihat Aura seperti terganggu dengan panggilan di ponselnya.
"Tidak tahu, mungkin telphon iseng." Jawab Aura segera mengalihkan pembicaraannya.
Kenzo pun tak lagi mempedulikannya, meskipun dalam pikirannya sedang menerka-nerka siapa yang menghubungi Aura di tengah malam begini.
...****************...
Ini adalah hari pertama bagi Aura masuk kerja lagi, dia sudah di sibukan dengan Kezara yang tiba-tiba terbangun, dua jam lebih Awal dari biasannya.
"Iya sayang tunggu sebentar." Ucap Aura yang sedang berpakaian sementara Kezara sudah neminta Asi.
"Cup...Cup.... sini papa gendong." Aura menoleh dan tersenyum karena Kenzo berlari masuk kedalam kamar untuk menenangkan sang bayi.
Kezara terlihat sangat nyaman berada dalam gendongan papanya. Dia segera menghentikan tangisannya.
"Anak pintar, kita tunggu mama di depan ya." Ucap Kenzo lagi kepada sang bayi.
"Kamu santai saja sayang, Biar aku yang memberikan Kezara Asi." Aura memang sudah menyiapkan banyak stok asi untuk Kezara di kulkas. antisipasi jika Kezara ia tinggal untuk waktu yang cukup lama.
"Terimakasih sayang." Jawab Aura melanjutkan bersiap.
Banyak perubahan yang ia lihat dari Kenzo, sekarang ia terlihatblebih dewasa, penuh kasih , juga bertanggubg Jawab. Wanita mana yang tidak ingin memiliki suami seperti itu.
"Sini, biar aku ambil alih Kezara, giliran kamu siap-siap." Ucap Aura begitu keluar dari kamar.
Kenzo pun memberikan Kezara kedalam pangkuan Aura, sementara dirinya harus bersiap juga menuju kantor.
Mereka Awalnya bingung, harus mempelerjakan orang untuk merawat anak mereka atau merawat Kezara secara bergantian, karena kesibukan masing-masing yang tidak mungkin di tinggalkan, Meskipun sudah menjadi ibu, Aura juga tetap harus bertanggung jawab kepada perusahaannya.
Kenzo yang memilki ide untuk menitipkan Kezara kepada sang nenek Akhirnya menelphon Siska untuk bergantian mengurus Kezara l, sementara Aura pergi kekantor. Meskipun Aura hanya akan beberpa kali saja dalam sebulan pergi kekantornya.
Dan tanpa mereka duga, Siska dengan mudahnya menyetujui itu, dan mereka sangat bersyukur dan lega mendengarnya.
__ADS_1
"Kamu sudah siapkan keperluan Keyzara?" Tanya Kenzo memastikan tak ada yang tertinggal satu pun.
"Sudah, ayo kita berangkat."